Apa jadinya jika dua orang sahabat memiliki perasaan yang sama, tapi sama-sama memilih untuk memendam perasaan itu daripada harus mengorbankan persahabatan mereka? Itulah yang saat ini dirasakan oleh dua orang sahabat, Bulan dan Bintang.
Bulan, sahabat sejak kecil seorang Bintang, menyukai pemuda itu sejak lama tapi perasaan itu tak pernah terungkap. Sementara Bintang, baru menyadari perasaannya terhadap gadis cantik itu setelah dirinya mengalami kecelakaan.
Keduanya terjebak dalam perasaan yang tak terungkap. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Keduanya hanya tahu bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tapi, akankah persahabatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih?
---------------------------------------------------------------------------
"Lo keras kepala banget! Lo gak tau apa gue khawatir, gue sayang sama lo." gumam gadis itu lirih, bahkan hampir tak terdengar.
"Lo ngomong apa tadi?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Tak dianggap anak
Beberapa hari berlalu, akhirnya kini Bintang sudah bisa dibawa pulang dari rumah sakit. Selama di rumah sakit, orang yang ditunggu-tunggu Bintang sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya sedikitpun. Jelas saja membuat Bintang kecewa.
Ayahnya tidak ada di saat-saat ia rapuh, padahal ia sedang sangat terpuruk. Bahkan, teman-temannya dan kekasihnya pun tak ada yang datang untuk menemani atau sekedar menjenguk Bintang selama berada di rumah sakit.
Hanya Zai dan Bulan yang selalu ada untuknya, serta keluarga Bulan yang benar-benar memperdulikan Bintang. Bintang merasa kosong, ia merasa tidak ada yang memperdulikan dirinya. Bahkan, sedari tadi tatapannya kosong seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Are you okay, Bintang?" Ujar Bulan memecah lamunan Bintang.
"Oh, I'm oke but..." Bintang menghela nafas seakan tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.
Bulan yang memahami, langsung menepuk pundak Bintang dan tersenyum seolah meyakinkan Bintang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bintang mengangguk singkat, meskipun ia sendiri merasa berat melihat kondisinya sekarang.
Bulan pun mendorong kursi roda Bintang keluar dari koridor rumah sakit menuju area parkir, karena ia sudah memesan taksi online sebelumnya.
Setibanya di area parkir, supir taksi itu sudah menunggu mereka. Supir itu membantu Bintang untuk duduk di dalam taksi, diikuti Bulan yang duduk di sampingnya.
Taksi melaju membelah jalanan, tapi suasana di dalam taksi terasa hening karena tidak ada sedikitpun perbincangan di antara mereka. Bintang hanya memandangi keluar jendela, menatapi langit malam. Kilasan matanya masih terlihat sedih dan kecewa dengan keadaannya yang sudah tidak normal lagi.
Sementara Bulan, hanya memandangi Bintang dengan perasaan simpati, tapi hatinya tiba-tiba saja bergetar ketika melihat paras tampan Bintang dari samping. Tanpa sadar, seutas senyum samar terukir di bibirnya. Bulan yang menyadari itu langsung menggelengkan kepalanya, ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar dengan perasaannya sendiri.
"Kayaknya cuma Zai temen yang dekat sama lo." Ujar Bulan mencoba mengalihkan perasaan yang baru saja menyerang hatinya. Ia pun sebenarnya tidak tahu kenapa tiba-tiba saja mengatakan itu, pasalnya ia sendiri pun tidak menyukai Zai karena pengaruhnya terhadap Bintang.
Bintang tidak menoleh ke arah Bulan, pandangan masih terfokus pada pemandangan kota dari dalam taksi. Tapi, anggukan kepalanya sudah menunjukkan bahwa ia mendengarkan perkataan Bulan.
"Hmm, seperti yang lo liat. Menurut gue dia itu beda dari Farhan atau pun Bryan. Entahlah gue juga gak tau, intinya gue ngerasa Zai itu bener-bener kawan bagi gue." Ujar Bintang.
Bulan mengangguk perlahan, ia bisa melihat bahwa Bintang sangat menghargai Zai. Tapi tetap saja Bulan masih tidak menyukai pemuda itu karena ia merasa berubahnya Bintang ada sangkut pautnya dengan Zai juga. Tapi Bulan tidak ingin menyinggung perasaan Bintang, ia hanya hening tanpa memberikan komentar apapun.
Taksi terus melaju, beberapa saat kemudian mereka pun tiba di depan rumah Bintang. Bintang seakan berat menginjakkan kaki di rumah mewah itu, terlebih konflik dengan ayahnya yang tiada ujungnya.
Bintang menghela nafas panjang, lalu menoleh ke arah Bulan yang mengangguk padanya. Dengan berat hati akhirnya ia pun mengangguk menyetujui, kalau ia tidak pulang ke rumah itu ia pun tidak tahu harus tinggal dimana, terlebih waktu sudah mulai memasuki malam. Bisa saja Bintang menginap di rumah Bulan, tapi ia merasa tidak enak karena ia yang sudah merepotkan Bulan beberapa hari terakhir.
"Terima kasih ya, Pak." Ujar Bulan ramah kepada supir taksi itu yang sudah mengantarkan mereka serta membantu Bintang turun dari taksi.
"Sama-sama ya neng." Ujar supir itu dengan senyuman sebelum akhirnya kembali melajukan kendaraan roda empat itu.
"Bintang, lo yakin? Atau mau nginep di rumah gue aja dulu?" Tanya Bulan meyakinkan.
"Gapapa, gue gak enak terus-terusan repotin lo. Thanks sebelumnya." Ujar Bintang.
Bulan mengangguk singkat tapi ia masih mengkhawatirkan Bintang. Ia kemudian mendorong kursi roda Bintang menuju pintu rumahnya. Baru saja sampai di depan pintu, keduanya dikejutkan dengan ayah Bintang yang menyambut keduanya dengan tatapan marah.
"Bagus, kabur dari rumah! Ngapain pulang, pergi aja sekalian!" Bentak ayah Bintang.
Bintang berharap ayahnya akan menanyakan keadaannya, tapi tiada di sangka respon ayahnya justru sangat menyayat kalbu.
Bulan yang ada di sana pun merasa sakit ketika mendengar perkataan ayah Bintang. Ia pun sangat memahami bagaimana perasaan Bintang saat ini.
"Kenapa Pa? Papa jauh berubah sejak Mama pergi, aku anak Papa tapi tak ada kah sedikitpun kasih sayang Papa untukku?!" Ujar Bintang dengan suara yang terguncang oleh emosi.
"Diam kamu Bintang! Kamu gak usah sebut-sebut lagi Mama kamu!" Bentak ayahnya.
"Maaf om, bukannya lancang. Tapi, bagaimanapun Bintang anak om. Dia memerlukan kasih sayang dari ayahnya, Bintang butuh om sekarang." Ujar Bulan yang sedari tadi diam.
Bulan merasa perlu membela Bintang terlebih melihat keadaannya saat ini. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara, meskipun ia sendiri merasa tidak enak dengan ayah Bintang.
Bintang menoleh ke arah Bulan, ia sangat tidak percaya bahwa Bulan membelanya. Terlebih sebelumnya, ia sangat tahu bahwa Bulan terlalu segan terhadap ayahnya.
"Kamu gak usah ikut campur urusan keluarga saya, Bulan! Kamu gak ada hak mengatakan apapun di sini!" Bentak ayah Bintang membuat Bulan langsung menunduk.
"Pa, Bulan gak salah! Jangan bawa-bawa Bulan!" Ujar Bintang yang merasa tidak terima sahabatnya itu dibentak oleh ayahnya.
Ayah Bintang menatap keduanya dengan tatapan marah, bahkan wajahnya sudah merah padam. Ia sudah stres dengan pekerjaan di kantornya, kini harus menghadapi dua remaja yang membuat tensi nya semakin meninggi.
"Pergi kalian dari sini!"
Bulan dan Bintang jelas saja terkejut dengan perkataan ayah Bintang yang terdengar lancang. Bulan tidak masalah jika ayah Bintang tidak menerima kehadirannya di rumah itu. Tapi Bintang jelas saja merasa diusir dari rumahnya sendiri, meskipun ia sendiri tidak betah tinggal di rumah itu.
"Om, Bulan gapapa kalo harus angkat kaki sekarang juga. Tapi Bintang, dia butuh perhatian dari ayahnya, Bintang baru aja kecelakaan om." Ujar Bulan mencoba untuk menenangkan ayah Bintang.
"Sudah saya katakan, kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan keluarga saya!" Ujar ayah Bintang yang semakin marah.
Bulan menggelengkan kepalanya, ia merasa bahwa ayah Bintang tidak akan berubah pikiran. Sementara Bintang sendiri, terlihat mengepalkan tangannya dan matanya pun mulai memerah karena perasaannya yang campur aduk. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya sama sekali tidak memperdulikan dirinya, apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Dan dia! Bukan anak saya lagi, dia gak pernah mendengarkan kata-kata saya!" Ujar ayah Bintang sambil menunjuk ke arah Bintang.
Bulan sangat terkejut mendengar penuturan ayah Bintang, ia pun refleks menutup mulutnya dengan tangan. Sementara Bintang, ia merasa sangat sakit mendengar perkataan sang ayah. Bintang merasa sangat sedih dan marah, tapi ia tidak ingin membuat ayahnya sakit hati dengan perkataannya jadi ia memilih untuk diam.
Bintang hanya menatap ayahnya dengan nafas yang memburu, dan ia tahu bahwa hubungannya dengan ayahnya tidak akan pernah sama lagi.
"Pergi dari sini! Saya tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Ujar Ayah Bintang yang semakin meninggi sambil melemparkan tas berisi pakaian Bintang ke lantai.
"Baik, Pa. Aku akan pergi. Maaf, kalo aku belum bisa menjadi seperti yang Papa inginkan." Ujar Bintang mencoba untuk baik-baik saja, meskipun dalam hatinya jauh dari kenyataan.
Tanpa kata lagi, ayahnya langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras. Bintang terlihat sangat frustasi dan mengacak-acak rambutnya, ia tidak bisa berpura-pura kuat lagi.
"Aaarghhhh!! Gue lelah Bulan! Gue lelah!!!" Ujarnya sedikit berteriak.
Bulan menitikkan air matanya melihat konflik baru Bintang di depan matanya sendiri. Ia menahan tangan Bintang agar tidak mengacak-acak rambutnya lagi.
"Gue gak tau mau tinggal dimana sekarang, hidup gue benar-benar hancur!!" Ujar Bintang penuh frustasi bahkan air matanya pun menetes membasahi pipinya.
"Lo tinggal aja di rumah gue, keluarga gue juga pasti ngerti kok." Ujar Bulan dengan nada sedih.
"Gue gak enak, Lan. Gue gak mau jadi beban di keluarga lo." Bintang Lagi-lagi menolak, ia merasa tidak enak dengan Bulan dan keluarganya.
Bulan langsung menggelengkan kepalanya, Bintang benar-benar keras kepala terlebih dalam situasi seperti ini.
"Gue sahabat lo, Bintang. Susah senang sudah sepantasnya kita lakukan bersama. Tinggal di rumah gue aja ya? Lo mau kemana coba dengan situasi kayak gini." Ujar Bulan memaksa, terlebih kini keadaan Bintang sudah jauh berbeda, ia harus mengenakan kursi roda untuk kegiatan sehari-harinya.
Bintang menghela nafas panjang, ia pun menyadari bahwa apa yang dikatakan Bulan ada benarnya. Cukup lama ia terdiam, akhirnya ia pun mengangguk perlahan, ia tidak tahu harus pergi kemana dengan kondisi seperti ini.
Bulan pun mengambil tas yang tergeletak di lantai, lalu mendorong kursi roda Bintang menuju rumahnya. Bintang hanya diam tanpa kata, di satu sisi ia benar-benar terpuruk tapi di sisi lain ia tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa kepada sahabatnya itu.
Bintang sempat menoleh ke belakang, berharap ayahnya akan berubah pikiran dan memanggilnya. Tapi, semua itu percuma, Bintang pun sudah tidak dianggap anak lagi oleh ayahnya. Bintang menghela nafas panjang sebelum mengalihkan pandangannya dari rumah itu. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa ayahnya bisa setega ini padanya.
Bintang menyeka air matanya yang menetes dengan lengannya. Ia tidak tahu apakah ia bisa menjalani kehidupannya dengan keadaan seperti ini. Tapi satu hal yang ia ketahui, bahwa bagaimanapun nantinya ia harus bisa beradaptasi dengan keadaan ini.
^^^Bersambung...^^^