Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Bisikan di Tengah Malam
"Aku masih selalu mencari bayang-bayang yang lama... tapi anehnya, setiap kamu muncul, aku lupa kalau aku sedang mencari."
...***...
Rayna dan Ben tiba di rumah. Rayna masuk duluan sambil berseru, "Malem, Ma!"
Mama Rayna langsung menoleh, wajahnya panik. "Rayna! Ya ampun, kamu dari mana aja? Mama teleponin nggak nyambung, khawatir tau!"
Rayna nyengir. "Hehe, sorry, Ma. HP-ku mati kayaknya, lagian tadi nggak sempet buka HP."
Ben muncul di belakang Rayna, menyapa sopan, "Malem, Tante."
Mama Rayna kaget sekaligus lega. "Loh, ada Ben? Ya ampun, Nak, kirain Rayna pergi sendiri. Tadi bilangnya mau ke taman sendiri, mana HP-nya nggak aktif, udah malem, hujan lagi. Untung ada kamu, Ben." Mama Rayna menatap Ben penuh terima kasih.
Ben tersenyum canggung. "Iya, Tante, tadi Rayna sama Ben kok dari tadi."
"Mama tenang aja, Rayna udah gede, baik-baik aja kok. Oh iya, Ma," Rayna menoleh ke arah Ben, "Ben mau izin nginep di sini, boleh?"
Ben langsung menimpali, "Iya, Tante, Ben izin buat nginep di sini, soalnya kita lupa kalau ada tugas kelompok yang harus selesai besok."
Rayna menambahkan dengan nada memelas, "Bener, Ma, kita belum ngerjain sama sekali, jadi kayaknya bakal sampe malem banget ngerjainnya. Kasian kalau Ben harus pulang malem banget."
Mama Rayna bergantian menatap mata Rayna dan Ben, diam beberapa saat, lalu berkata, "Ya boleh dong, kenapa enggak. Tapi kamu tidurnya di kamar tamu ya, Ben, jangan sama Rayna."
"Ih, Mama, apa sih! Iya lah di kamar tamu, masa sama aku," Rayna memprotes sambil terkekeh.
"Hehe, iya, siapa tau kalian pengen sekamar, nonono ya. Kalau belum nikah nggak ada tidur sekamar," goda Mama Rayna.
"Yaudah, kalian ganti baju dulu aja, tuh sedikit basah nanti masuk angin. Habis itu makan ya, mama udah siapin makanan di dapur, kalian makan aja. Mama tadi udah selesai makannya, mama mau masuk kamar ya, soalnya dingin banget nih pengen selimutan," ucap Mama Rayna sambil beranjak pergi.
"Udah sana gih, ganti baju! Gue juga mau ganti nih. Kamar tamunya di situ," kata Rayna sambil nunjuk kamar kosong.
Rayna jalan ke kamarnya, terus nengok lagi ke Ben. "Ngapain bengong? Keburu masuk angin!"
"Ya ampun, Ray, lo lupa apa gimana? Gue ganti pake apaan? Pake kain gorden?" Ben nyengir.
"Oh iya, ya... Lo kan nggak bawa apa-apa. Yaudah, tunggu bentar, pinjem baju gue aja," Rayna nawarin.
"Eits, ogah! Ntar gue jadi kemayu, nggak level deh pake baju cewek," tolak Ben sambil masang gaya jijik.
"Idih, udah untung ditampung, masih aja ngeyel! Udah nurut aja, napa!" Rayna mulai sewot.
"Jadi nggak rela nih gue di sini?" Ben godain.
"Nggak gitu! Udah ah, tunggu bentar, gue ambilin dulu," Rayna langsung ngibrit ke kamarnya.
Nggak lama, Rayna balik sambil bawa kaos yang dulu dia beli tapi kegedean. "Nih, pake ini aja, kayaknya pas deh di lo. Lagian nggak terlalu cewek juga, kok."
"Serius nih?" Ben masih ragu-ragu.
"Iya, Ben! Udah ah, buruan! Gue mau mandi, mau makan, udah laper stadium akhir!" Rayna nyodorin kaos itu ke Ben.
Setelah berganti pakaian dan menyantap makan malam, Rayna dan Ben berpura-pura mengerjakan tugas di ruang tamu. Padahal, kenyataannya tidak ada tugas yang menanti. Waktu terus berjalan hingga jam dinding menunjukkan pukul 11 malam, dan keduanya sudah tampak sangat mengantuk, dengan mata yang hampir terpejam.
Tiba-tiba, Mama Rayna keluar dari kamarnya, memperhatikan mereka berdua yang sedang berakting seolah-olah sedang fokus. "Lho, tugasnya belum selesai juga? Ini sudah larut malam, Nak! Sudah waktunya untuk tidur," tegurnya dengan nada lembut.
"Iya, Ma, sebentar lagi selesai kok. Tinggal beresin buku-buku dan laptop aja, setelah itu kita bakal langsung beristirahat," jawab Rayna sambil menguap lebar.
Ben sudah tidak mampu lagi menahan kantuknya. Ia menyandarkan kepalanya di kursi sambil memejamkan mata, menunjukkan betapa beratnya kelopak matanya.
"Yaudah, buruan ya, udah malem banget ini. Mama juga udah mau terbang ke alam mimpi," kata Mama Rayna sambil balik badan dan ngeloyor ke kamarnya.
"Yaudah, gue mau tidur ah, capek banget ini," kata Rayna sambil berjalan menuju kamarnya.
"Oke deh, gue juga mau ke kamar tamu," sahut Ben sambil beranjak menuju kamar tamu.
Rayna langsung merebahkan diri di kasur begitu sampai di kamar. "Akhirnya..." gumamnya lega. Setelah cuci muka dan sikat gigi, dia mengenakan piyama bergambar beruang kesayangannya. Lampu kamar dimatikan, hanya lampu tidur yang menemani. Belum lama Rayna memejamkan mata, sekitar jam satu malam, terdengar suara ketukan pelan di jendela kamarnya.
Tok... tok... tok...
Samar-samar juga terdengar suara memanggil namanya, "Rayna... Rayna..."
Rayna langsung terbangun dan mengerutkan kening. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Dengan ragu, dia bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari balik gorden. Matanya membulat kaget. Ternyata Ben!
Tanpa pikir panjang, Rayna membuka jendela kamarnya. "Ben? Lo ngapain di sini malem-malem?!" bisiknya kaget.
"Gue nggak bisa tidur," kata Ben dengan nada pelan. Tanpa menunggu jawaban, dia langsung masuk ke kamar Rayna melalui jendela.
Rayna melotot. "Kenapa nggak lewat pintu aja sih? Ngapain juga lewat jendela kayak gini?" tanyanya heran.
Ben menyengir. "Udah, nggak papa. Biar kayak di sinetron-sinetron gitu," jawabnya santai.
Rayna mendengus. "Ihh, lo ngapain juga sih ke kamar gue? Kalau Mama tau, nanti dia marah," bisiknya kesal.
"Makanya jangan berisik, nanti nyokap lo denger," balas Ben sambil menutup mulut Rayna dengan tangannya.
"Terus lo mau ngapain?" tanya Rayna dengan nada curiga.
"Gue mau tidur di sini aja, sama lo," jawab Ben santai.
"Ihh, nggak, nggak, ah! Ntar ketahuan Mama lagi," tolak Rayna cepat.
"Nggak akan. Nanti subuh, sebelum nyokap lo bangun, gue pindah ke kamar tamu lagi. Jadi aman," bujuk Ben.
Rayna memutar bola matanya. "Lo tuh aneh-aneh aja tau nggak!" gerutunya.
Ben menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rayna. "Udah, suutt, jangan berisik," bisiknya.
Rayna menghela napas. "Ya udah deh, tapi lo tidur di karpet situ ya," ucapnya pasrah.
"Iya, iya, tapi minta bantalnya dong," kata Ben sambil tersenyum lebar.
Rayna akhirnya memberikan bantal kepada Ben, lalu membalikkan badan dan mencoba untuk kembali tidur.
Rayna memperingatkan, "Awas ya lo, jangan aneh-aneh di sini!"
"Iya, iya, bawel banget sih lo," balas Ben dengan nada bercanda.
"Ya lagian aneh banget tiba-tiba kesini," gumam Rayna pelan sebelum akhirnya terlelap.
Beberapa menit berlalu, Ben tak kunjung bisa memejamkan mata. Padahal matanya sudah sangat berat dan kantuk menyerbu. Akhirnya, ia melirik ke arah Rayna yang sudah terlelap di alam mimpi.
Perlahan, Ben bangkit dan berjalan menghampiri Rayna. Selangkah demi selangkah ia mendekati tempat tidur Rayna. Ia menatap wajah Rayna yang tampak damai dalam tidurnya.
"Ternyata kalau lagi tidur gitu dia tampak cantik sekali ya," gumam Ben lirih, hampir tak terdengar. Ia terus mendekat, menatap wajah Rayna dengan tatapan yang serius dan penuh perhatian.
Jantung Ben berdegup kencang saat ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rayna. Sekarang, jarak antara mereka sudah sangat dekat, hanya beberapa senti saja.
Ben terpaku, ia terus menatap Rayna dengan tatapan kagum, seolah sedang mengagumi sebuah lukisan indah. Ia bisa merasakan hembusan napas Rayna yang lembut di wajahnya.
"Kayaknya kalau cuma sekali ini aja, nggak papa mungkin ya..." gumam Ben pelan, hampir seperti bisikan.
Wajahnya menunjukkan ekspresi misterius, antara ragu dan keinginan yang kuat.
Bersambung...
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget