Zalika Azzalea adalah gadis cantik yang berusia dua puluh dua tahun, dirinya memutuskan untuk menikah dengan sang kekasih Arga Pramana diusia muda dengan harapan sebuah kebahagiaan
Pil pahit harus ia telan, karena pernikahan tak berjalan seperti yang dirinya impikan. mimpi sederhana untuk biduk rumah tangga yang sempurna nyatanya harus ia kubur dalam-dalam
Pernikahan yang hanya berlangsung tiga hari itu berakhir dengan menyisakan trauma mendalam, mengubah gadis ceria menjadi seorang yang takut akan cinta
Akankah ada pria yang dikirim tuhan untuk menyembuhkan lukanya? lalu Cinta yang akan memberinya kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Dari Zayyan
Makan siang itu berlalu dengan begitu hangat, dua keluarga berkumpul guna untuk memberi semangat pada Zalika yang mereka ketahui dalam keadaan tidak baik-baik saja, namun cara gadis itu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja perlu diacungi jempol
Zalika tertawa kala Rayn melempar candaan, ia merajuk kala Akbar menjahilinya. Dari luar ia tampak seperti Zalika yang lama, yang ceria dan manja
"Bagaimana kalau setelah ini kita bikin acara barbeque di taman belakang!" Akbar memberi saran
"Itu bagus, kita sekalian kemping terus bangun tenda" Rayn menimpali
"Ide yang bagus"
"Aku suka kemping" Gadis bermata biru itu tampak lebih antusias
"Lo nggak diajak, bule!" Sarkas Rayn, membuat gadis itu merengut
"Issh"
"Kamu masih suka gangguin Diandra, Ray. Itu nggak bagus!" Omel Zalika
"Tuh denger apa kata kak Zal!" Diandra merasa menang atas pembelaan Zalika
"Ck"
"Gimana dek? Kamu mau kan ikut kemping?" Tanya Akbar pada Zalika
"Ya mau lah. Kapan kita bikin?" Tanya Zalika mencoba terlihat antusias
"Setidaknya tunggu sampai Arm Sling kamu dilepas, sayang!" Zayyan angkat bicara
"Itu kelamaan ayah" rengek gadis cantik itu
"Ayah bener dek, kalau kamu masih pake Arm Sling seperti itu, aktivitas kamu juga akan terbatas!" Akbar menimpali
"Ya udah deh" Ucapnya pasrah
Setelah makan siang itu, semuanya terpisah. Zalika tengah bersama Tari, disana juga ada Sabrina serta Akbar yang seolah tak ingin jauh dari sang adik
Sementara tiga remaja itu tengah berada dimeja makan sembari menikmati makanan penutup yang manis
"Oh ya Ryan, kamu punya buku Odyssey?" Diandra memulai pembicaraan, tatapannya malu-malu pada lawan bicaranya
"Ada, kamu mau?" Tanya Ryan
"Aku boleh pinjam? Ada tugas tentang sastra dari Yunani kuno dan aku butuh itu sebagai referensi!" Ujarnya
"Akan aku ambilkan!"
"Aku boleh ikut? Maksud ku aku ingin lihat yang lain juga, siapa tau dapat yang lebih menarik!" Gadis cantik bermata biru itu tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang rapi
"Baiklah, ayo kekamar!" Ajak Ryan, pemuda tampan itu memang tidak begitu pandai dalam hal basa-basi
"Gue juga ikut!" Potong Rayn, membuat gadis cantik itu meredupkan senyumannya
"Kamu kan nggak suka baca buku!"
"Gue mau jagain adek gue dari perempuan yang coba buat merenggut kesuciannya!" Mulut frontal Rayn memang mengganggu
"Kamu pikir aku perempuan seperti apa?" Tidak menjawab, pria itu malah berjalan lebih dulu menuju kamar saudara kembarnya
"Issh. Nyebelin!"
"Nggak usah didengerin! Ayo ambil bukunya!" Ryan mengusap kepala gadis cantik yang tengah kesal itu
Wajah cantik itu seketika memerah, ada hal aneh dalam diri Diandra atas perlakuan manis yang ia terima dari Ryan
Diruangan berbeda tepatnya diruang kerja, Zayyan tengah duduk di kursi kebesarannya sementara Bastian duduk didepannya dengan dibatasi sebuah meja
"Ada kabar tentang keberadaan Maya?" Tanya Zayyan, pria tampan itu sepertinya masih dengan dendamnya
"Saya belum tau pasti, tuan. Tapi ada laporan dari orang-orang yang telah saya utus jika Maya tengah berada di luar negeri!" Jawab Bastian
"Kamu lanjutkan pencarian Maya, saya tidak bisa terlibat terlalu jauh. Kamu yang harus mengurusnya!" Kata Zayyan
"Maksud tuan, tuan akan berhenti balas dendam?" Bastian seolah tak percaya, sejauh yang ia tau Zayyan adalah seorang yang pendendam. Pria itu masih ingat bagaimana dirinya di tugaskan untuk memasukkan beberapa pembunuh bayaran untuk mambunuh Prasetya saat di penjara
"Tari tidak ingin ada dendam lagi"
"Lalu setelah kita menemukan Maya, apa yang akan kita lakukan terhadap perempuan itu?" Tanya Bastian lagi
"Saya hanya ingin dia mengaku jika dia telah menghasut anak tirinya itu untuk membalas dendam pada saya" ujar Zayyan
"Saya hanya ingin Arga menyesal karena telah membenci orang yang salah! Hingga membuatnya kehilangan cintanya" Sambungnya dan Bastian mengangguk tanda mengerti
"Baiklah, saya berjanji akan menemukan perempuan itu!"
"Tapi ingat! Semua orang tidak boleh tahu jika kau masih mencari jala___ itu! Baik istriku maupun istrimu, Bastian!"
Terdapat setitik keraguan dalam diri pria itu, jika Sabrina tidak boleh tahu, itu artinya dirinya harus berbohong pada istrinya itu
"Kamu ragu?"
"Tentu tidak, tuan" Bastian tidak ingin tuannya itu meragukan pekerjaannya
"Saya mengerti, Bastian. Saya juga kesulitan untuk berbohong terlebih itu pada Tari, tapi demi keselamatan rumah tangga saya, kamu harus berbohong pada Sabrina"
Zayyan mengerti akan keraguan Bastian, asisten pribadinya ini memang tak jauh berbeda dari dirinya. Keduanya adalah suami yang begitu mencintai istrinya hingga tidak ada keinginan untuk membohongi wanitanya
"Saya akan lakukan, tuan"
"Terima kasih Bastian. Dan oh, kamu jangan melaporkan apapun jika saya tidak bertanya! Jangan pernah membahas tentang Maya jika kita tidak sedang membicarakannya, mengerti!" Titah Zayyan yang memang tak terbantahkan
"Saya mengerti, tuan"
"Baiklah, ayo turun! Jangan sampai istri-istri kita curiga!"
Keduanya memutuskan untuk ikut bergabung dengan beberapa orang yang tengah duduk diruang keluarga sembari menikmati cemilan yang telah disiapkan
"Kalian dari mana?" Tanya Tari yang ditujukan pada sang suami
"Ada sedikit pekerjaan" jawab Zayyan
"Sungguh?"
"Kamu tidak percaya?"
"Bukan gitu mas, maaf" terbesit rasa bersalah dalam diri Betari, ini adalah kali pertama ia ragu akan jawaban suaminya sendiri
"Tidak masalah, sayang. Maaf karena sudah membuat kamu ragu" Zayyan merangkul tubuh sang istri lalu tanpa ragu mendekatkan wajahnya kearah pipi mulus istrinya itu
"Jangan macem-macem mas, disini banyak orang!" Omel Tari, suaminya ini memang kadang tidak tau tempat
"Memangnya kenapa?" Ucapnya tak peduli
"Emm.. Zalika mau ke kamar, Aku mau istirahat!" Pamit Zalika
"Ayo sayang, mama anter!" Tari telah berdiri lebih dulu
"Nggak pa-pa mah, Zalika bisa sendiri. Mama disini aja" tidak enak hati rasanya jika membuat sang mama meninggalkan tempat tersebut dimana masih ada Bunda serta paman Bastian nya disana
"Kamu tidak masalah sendiri?" Tari hanya ingin merawat putri kesayangannya itu
"Beneran mah, lagian Zalika cuma mau tidur siang kok"
"Yasudah!" Pasrah, Tari membiarkan saja putrinya itu seorang diri
"Dimana Diandra?" Tanya Bastian
"Tadi sih bareng sama Ryan sama Rayn kang, sekarang nggak tau dimana" Sabrina juga tengah mencari keberadaan sang putri
"Kalau gitu kita pulang berdua aja!" Ajak Bastian
"Tapi Diandra? Akbar tadi udah pamit duluan, ada urusan dikantor katanya" ucap wanita itu
"Ya sudah, kamu telepon gadis itu!"
Sementara yang dicari tengah santai memilih buku yang tertata rapi di sebuah rak, dikamar seorang pemuda
"Aku juga mau yang ini ya Ryan, boleh kan?" Sebenarnya urusan gadis itu telah selesai, entah apa yang membuatnya seolah ingin berlama-lama bersama pemuda dingin dihadapannya ini
"Hemm"