NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Terabaikan

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Terabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Emma tak pernah menyangka akan mengalami transmigrasi dan terjebak dalam tubuh istri yang tak diinginkan. Pernikahannya dengan Sergey hanya berlandaskan bisnis, hubungan mereka terasa dingin dan hampa.

Tak ingin terus terpuruk, Emma memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa berharap pada suaminya. Namun, saat ia mulai bersinar dan menarik perhatian banyak orang, Sergey justru mulai terusik.

Apakah Emma akan memilih bertahan atau melangkah pergi dari pernikahan tanpa cinta ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pukul sembilan malam, Eleanor baru saja tiba di kediamannya. Ia memarkirkan mobilnya di garasi mobil, Eleanor sedikit heran saat melihat mobil Sergey sudah ada di garasi.

"Tumben pria itu sudah di rumah jam segini?" gumamnya heran.

Eleanor keluar dari mobil, lalu menutup pintunya tidak lupa mengunci mobil sport tersebut.

Ia melangkah menuju pintu depan dengan langkah santai. Biasanya, Sergey baru pulang larut malam atau bahkan tidak pulang sama sekali. Eleanor menarik napas panjang sebelum membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Begitu memasuki ruang tamu, ia melihat Sergey duduk di sofa dengan wajah serius, tangan kirinya memegang segelas minuman sementara tangan kanannya mengetuk-ngetukkan jari di sandaran sofa.

"Kamu pulang lebih awal," kata Eleanor tanpa basa-basi, ia berjalan menuju dapur berniat untuk mengambil air putih.

Sergey mengangkat pandangannya perlahan, menatap Eleanor dengan mata yang sulit ditebak.

"Aku ada urusan yang harus kuselesaikan lebih cepat hari ini," jawabnya singkat.

Eleanor mengangkat alis, merasa ada sesuatu yang aneh. Biasanya, pria itu tidak pernah merasa perlu menjelaskan ke mana saja ia pergi.

"Begitu? lalu, ada keperluan apa sampai kamu menungguku di sini?" tanyanya sambil melepas mantel dan menggantungkannya di kursi.

Sergey menghela napas sebelum meneguk minumannya. "Kita perlu bicara, bisakah kamu duduk di sini?"

Nada suaranya terdengar serius, membuat Eleanor merasakan firasat tidak enak. Ia berjalan mendekat, namun tetap menjaga jarak aman.

"Bicara soal apa?" tanya Eleanor yang kini sudah duduk di sofa seberang pria itu.

Sergey meletakkan gelasnya di meja, lalu menatap Eleanor tajam. "Soal keadaan kita."

Jantung Eleanor berdegup lebih cepat. Ia sudah menduga percakapan ini akan terjadi suatu hari nanti, namun tetap saja mendengarnya secara langsung terasa berbeda.

"Apa maksudmu?" tanyanya bingung.

Sergey menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap Eleanor tanpa ekspresi. "Aku rasa kita berdua tahu kalau ini tidak bisa terus seperti ini. Pernikahan kita... sudah terlalu dingin."

"Jadi, apa yang kamu inginkan?" tanyanya santai.

Eleanor menatap Sergey dengan penuh selidik saat pria itu menuangkan minuman ke dalam dua gelas kristal.

Aroma alkohol yang kuat memenuhi udara, namun bukan itu yang membuatnya terkejut melainkan sikap Sergey yang malam ini terasa berbeda dari biasanya.

"Minumlah ini dulu," ujar Sergey santai, mendorong salah satu gelas ke arah Eleanor.

Eleanor menyilangkan tangan di dada, menatap gelas itu tanpa niat mengambilnya.

"Aku tidak tertarik," ujarnya dingin.

Sergey tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. Ia sendiri mengangkat gelasnya, menyesap sedikit sebelum kembali menatap Eleanor dengan ekspresi penuh perhitungan.

"Kamu menolak menemaniku minum bahkan untuk malam ini saja?" tanyanya, suaranya terdengar tenang.

Eleanor mendengus pelan. "Apa pentingnya aku minum denganmu?"

Sergey mengangkat bahu. "Mungkin aku hanya ingin ditemani. Atau mungkin..." Ia menatap Eleanor dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Aku bisa memberikan sesuatu sebagai imbalannya."

Eleanor mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Sergey menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu memainkan gelasnya dengan santai. "Lima persen saham lagi atas namamu. Jika kamu setuju menemaniku minum malam ini."

Eleanor membeku sejenak. Lima persen saham bukan jumlah yang kecil. Itu berarti kendalinya dalam perusahaan semakin besar sesuatu yang Sergey tidak pernah berikan tanpa alasan.

Ia menatap Sergey curiga. "Kenapa tiba-tiba kamu begitu murah hati?"

Sergey tersenyum samar. "Anggap saja aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda malam ini. Dan aku ingin kamu ada di sini, duduk bersamaku, minum, dan mengobrol seperti dua orang dewasa tanpa harus bertengkar, Lea."

Eleanor masih ragu. Namun, godaan lima persen saham terlalu besar untuk diabaikan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya mengambil gelas yang tadi ia tolak.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jangan pikir aku akan dengan mudah percaya pada niat baikmu."

Sergey tertawa pelan, lalu mengangkat gelasnya. "Aku tidak pernah berharap kamu percaya, Eleanor. Aku hanya ingin menikmati malam ini tanpa perlu berpikir terlalu banyak."

Eleanor mengetukkan gelasnya pada gelas Sergey, lalu menyesap minumannya.

Waktu berlalu dengan keheningan, mereka berdua sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.

"Lea... apa kamu akan meninggalkan aku suatu hari nanti?" cetus Sergey tiba-tiba.

Eleanor menghentikan gerakan tangannya, gelasnya masih berada di dekat bibir. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, begitu tidak terduga, hingga ia harus menatap Sergey untuk memastikan ia tidak salah dengar.

Sergey menatap minumannya, bukan Eleanor, seolah pertanyaannya hanyalah gumaman yang tak terlalu penting. Tapi Eleanor tahu lebih baik dari itu.

Ia menurunkan gelasnya perlahan. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

Sergey mengangkat bahu, masih belum menatapnya. "Aku hanya penasaran."

Eleanor menghela napas, matanya menelusuri wajah pria di hadapannya, mencari sesuatu atau mungkin niat tersembunyi, tapi yang ia temukan justru kejujuran yang jarang sekali pria itu tunjukkan.

"Kalau memang penasaran, jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar?" tanya Eleanor balik.

Sergey akhirnya mengangkat kepalanya, menatapnya langsung. Matanya gelap, sulit ditebak, seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.

"Aku tidak tahu," jawab Sergey akhirnya. "Mungkin sesuatu yang bisa menenangkanku."

Eleanor tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak membawa kehangatan. "Aku tidak berpikir untuk pergi sekarang. Setidaknya, belum."

Kata terakhir itu menggantung di udara, seperti ancaman yang samar tapi nyata.

Sergey menatapnya beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Itu bukan jawaban yang terlalu meyakinkan."

Eleanor mengangkat bahu. "Aku hanya berkata jujur."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Malam semakin larut, dan alkohol mulai menghangatkan tubuh mereka, tapi ada sesuatu yang jauh lebih dingin di antara mereka, sesuatu yang tidak bisa dihangatkan oleh sekadar percakapan ringan atau tawaran saham.

Sergey menyesap minumannya perlahan, lalu berbisik hampir tak terdengar, "Kamu tahu, kadang aku merasa kamu sudah meninggalkanku sejak lama, meskipun tubuhmu masih ada di sini."

Eleanor mendengar kata-kata itu, tapi ia memilih untuk tidak menanggapinya. Ia hanya memandang cairan keemasan di dalam gelasnya, lalu meminumnya hingga habis.

Sergey menatap gelasnya yang hampir kosong, pikirannya melayang jauh. Kata-kata Eleanor barusan seharusnya membuatnya kesal, atau setidaknya membuatnya berpikir lebih keras tentang pernikahan mereka.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya... benaknya tidak bisa lepas dari sosok lain, seseorang yang beberapa jam lalu berdiri di hadapannya, melemparkan kata-kata yang kini terasa seperti gema di dalam kepalanya.

"Jika aku bukan bagian dari hidupmu lagi, kenapa kamu tidak bisa mengatakan kalau kamu mencintai Eleanor?"

Sergey menghela napas panjang, jari-jarinya mencengkeram gelasnya lebih erat. Aria benar. Ia tidak bisa mengatakannya. Ia tidak bisa berbohong, tidak hanya pada Aria, tapi juga pada dirinya sendiri.

"Sergey?" suara Eleanor membuyarkan lamunannya.

Ia mengangkat kepala, menatap istrinya yang kini tengah meneliti wajahnya dengan sorot mata penuh selidik.

"Kamu melamun," lanjut Eleanor.

Sergey tersenyum kecil, menutupi kegelisahannya dengan kepalsuan yang sudah ia latih bertahun-tahun. "Hanya memikirkan pekerjaan."

Eleanor tidak langsung menjawab, tapi dari ekspresinya, jelas ia tidak percaya begitu saja. Meski ia baru mengenal Serge, ia cukup tahu kapan pria itu menyembunyikan sesuatu.

"Kamu yakin?" tanyanya pelan.

Sergey tertawa pendek. "Sejak kapan kamu peduli dengan apa yang ada di kepalaku?"

Eleanor tersenyum tipis. "Aku tidak peduli," ucapnya santai. "Aku hanya ingin tahu apakah pikiranku benar."

Sergey mengernyit. "Apa maksudmu?"

Eleanor menyandarkan punggungnya ke kursi, mengangkat gelasnya, dan mengamatinya seolah sedang membaca sesuatu dalam cairan emas di dalamnya.

"Aku penasaran... apakah wanita itu yang ada dalam pikiranmu sekarang?"

Sergey menegang. "Wanita siapa?"

Eleanor tertawa kecil. "Jangan bermain bodoh denganku, Sergey." Ia meletakkan gelasnya dengan lembut di atas meja. "Aku melihat ekspresimu berubah sejak tadi. Dan aku cukup mengenalmu untuk tahu kalau ekspresi seperti itu bukan karena pekerjaan."

Sergey terdiam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, banyak bantahan yang bisa ia lontarkan. Tapi anehnya, ia hanya bisa menatap Eleanor, lalu kembali diam.

Eleanor tersenyum miring. "Jangan khawatir," katanya dengan nada tenang yang justru terasa menusuk. "Aku tidak akan menanyakan lebih jauh. Aku sudah cukup tahu jawabannya."

Sergey menelan ludah, merasa udara di ruangan itu semakin berat.

Eleanor mengambil botol di atas meja, menuangkan lebih banyak alkohol ke dalam gelasnya.

"Lucu, ya," gumamnya. "Kita menikah, hidup bersama, tapi tetap saja... ada bagian dari dirimu yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku."

"Lea..."

"Aku tidak ingin mendengarnya," potong Eleanor cepat. "Dan, aku sudah memutuskan untuk tidak peduli dengan urusanmu."

Sergey mengalihkan pandangannya, menatap gelasnya sendiri, tapi pikirannya masih terjebak dalam kata-kata Eleanor dan gema suara Aria di kantornya tadi.

_________

: Jangan lupa komen, subscribe, like, ya makasih....

1
Murni Dewita
next
Kim nara
Lea selalu Keren y thor
Zee✨: Hooh, harus dong hehe
total 1 replies
Murni Dewita
double up thor
Zee✨: Bsk yak kalo senggang hehe
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪lea
Murni Dewita
👣
Dsy_Sagitariuzz
mantap lea👍🤣
🍏A↪(Jabar)📍
next
🍏A↪(Jabar)📍
dilepaskan dengan cara di DORR
Zee✨: biar nggak jadi beban mulu kak🤣
total 1 replies
Kim nara
Sargey tuh sebenar nya cinta ga sih thor sama lea ak tak paham sama si sargey
Zee✨: oke, nanti yak aku bikin dulu 😉
Kim nara: Iya Pov sargey thor sebenar nya dia cinta apa ga ama si lea
total 3 replies
rachma yunita
emang ada apa antara Sergey dan Nikolay?
Zee✨: ada masalah hoho
total 1 replies
🍏A↪(Jabar)📍
next
Wahyuningsih
Menyeblkn sekli aria, thor buat buat aria menderta biar nyakho dia n buat noah jga sma2 mendrita d t nggu upnya kmbli thor yg buanyk n hrs tiap hri sellu jga keshtn seeeeeeemaaaangaaaaaaaaaaat
thor 😄😄😄😄😄😄
Dsy_Sagitariuzz
naoaaaaaah kau dlm bhy 😎
Dsy_Sagitariuzz
suruhan siapa tuch🤔
Zee✨: siapa ya??? masih misteri wkwk
total 1 replies
Kim nara
Keren Lea keren
ika yanti naibaho
Luar biasa
Cahaya yani
hadur othor mmbawa kopi utkmu,.
Zee✨: selamat datang kakak🥰🥰
total 1 replies
Aretha Shanum
ko lama bngt kpn pisahnya, jadi bosen alurnya
Kim nara
Lea kamu keren love u lea😘😘😘
Dsy_Sagitariuzz
ajak cerai aja lea 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!