Rangga adalah seorang pemuda yang mendapatkan warisan sepasang mata sakti. mata sakti mampu menembus benda apapun, juga memberikan kemampuan medis dan ilmu beladiri.
Namun untuk mendapatkan mata sakti itu, Rangga menjadi bisu selama 5 tahun. tanpa di duga dia menikahi seorang wanita yang sangat cantik. Namun istrinya tidak mencintainya sama sekali.
Namun dirinya selalu di rendahkan oleh keluarga istrinya karena bisu dan tidak berguna.
Setelah 5 tahun berlalu, Rangga akan menggunakan mata saktinya untuk merubah takdirnya dan mendapatkan hati istrinya.
Bagaimana kelanjutannya bisa di baca di novel ini ya !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10 LELANG JUDI BATU
Miranda langsung memaki Rangga tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun darinya.
Seketika Rangga tampak begitu kecewa dengan sikap Miranda ini. Rangga tidak habis pikir sebegitu rendahan nya dirinya di matanya, hingga Miranda berpikir dirinya hendak melakukan perbuatan menjijikan seperti itu.
Walaupun pada kenyataannya hal tersebut bukanlah perbuatan melanggar hukum karena mereka memang pasangan suami istri yang sah.
"Aku tidak melakukannya, terserah kepadamu percaya atau tidak," Rangga berjalan pergi dari sana.
"Dasar brengsek," teriak Miranda.
Rangga pergi dari sana dengan perasaan kecewa terhadap Miranda.
Kini hanya tinggal Miranda sendiri di dalam kamar hotel itu. Kemudian Miranda mulai melihat sebuah kamera yang masih menyala di sudut kamar.
Miranda mengambil kamera tersebut dan memutar ulang rekaman yang tersimpan di dalamnya. Seketika perasaan bersalah muncul di hati Miranda melihat isi rekaman video itu.
Sementara Rangga kini sedang duduk di sebuah kursi di pinggir jalan. Rangga sebelumnya tidak pernah merokok, namun malam ini dia mulai menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya.
Angin malam juga terasa mulai dingin dan kendaraan juga sudah mulai sedikit yang melintas karena waktu sudah masuk sini hari.
Rangga mengeluarkan sebuah kartu bank berwarna hitam dari dalam sakunya. Kartu itu di berikan oleh ayah dari Zainal sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya.
"Di rekening ku ada 20 milyar, di dalam kartu ini juga ada 20 milyar, tidak di sangka aku sudah mempunyai uang sebanyak ini," ucap Rangga dalam hati sambil menghembuskan asap rokoknya.
Rangga kemudian mempunyai rencana untuk mendirikan sebuah toko obat tradisional. Dengan mata saktinya, selain dapat menghasilkan banyak uang juga dapat membantu orang-orang.
Selain itu kini sudah waktunya dirinya untuk bangkit dan merubah takdir hidupnya yang selama ini terus di rendahkan oleh orang-orang.
Sementara itu, waktu sekarang juga sudah menunjukkan pukul setengah 2 dini hari. Terlihat Miranda masih duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
Lampu ruang tamu juga sudah mati hanya saja masih terlihat terang karena cahaya bulan yang masuk menembus kaca rumah.
"Sudah jam segini dia masih belum pulang juga, aku sudah salah paham kepadanya, apa dia marah..." pikir Miranda terlihat gelisah.
Sesaat kemudian pintu rumah terbuka dari luar dan Rangga mulai masuk ke dalam. Rangga melihat Miranda yang masih duduk di sofa, namun Rangga terus berjalan lewat di belakangnya.
"Kenapa kamu baru pulang?" tanya Miranda.
"Aku pergi..." belum sempat Rangga menjawab Miranda sudah memotongnya.
"Anggap saja aku tidak pernah bertanya," potong Miranda.
Miranda sebenarnya khawatir terhadap Rangga atas kejadian sebelumnya. Hanya saja Miranda tidak bisa mengatakan itu.
Rangga sendiri juga langsung diam dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada diri Miranda.
"Em... itu... hari ini..." Miranda terdengar sulit untuk mengatakannya sambil memeluk sebuah bantal sofa.
"Ada apa denganmu hari ini, kamu terlihat aneh," ujar Rangga.
"Itu, sepertinya perusahaan ku akan tutup," ujar Miranda dengan perlahan.
Miranda ingin meminta maaf karena menampar Rangga sebelumnya, tapi mulutnya berat sekali untuk mengatakannya. Jadi Miranda mengalihkannya dengan masalah yang sedang terjadi di perusahaan nya.
"Kejadian sebelumnya berpengaruh pada penjualan produk, kami memiliki pinjaman bank yang harus di bayarkan dan perusahaan sedang tidak memiliki uang untuk membayarnya," sambung Miranda.
Miranda sudah seharian bingung harus membicarakan masalah yang dia hadapi ini kepada siapa.
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir," ujar Rangga.
"Tidak perlu khawatir bagaimana, jika perusahaan bangkrut, siapa yang akan mengurus keluarga ini?" balas Miranda.
"Aku yang membangunnya dari nol dan kita bergantung hidup di sana," sambung Miranda.
"Maksudku bukan seperti itu," ujar Rangga.
Rangga kemudian mulai duduk di sofa dan mengeluarkan sebuah kartu bank dari dalam sakunya dan meletakkannya di atas meja.
"Bukankah hanya masalah uang, apakah kamu masih ingat sebelumnya aku pernah mengobati ayah dari gubernur Zainal, mereka memberikan ku imbalan uang," ujar Rangga.
"Di dalam kartu bank ini ada 20 milyar, kata sandinya ada di baliknya, kamu bisa menggunakannya, jadi tidak perlu khawatir," sambung Rangga.
"20 milyar," ulang Miranda.
"Aku juga akan membuka sebuah toko obat, dalam waktu dekat ini," ujar Rangga.
Setelah mengatakan itu Rangga juga bangkit dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Membuka toko obat?" Miranda seolah tidak percaya dengan perkataan Rangga ini.
"Aku sebenarnya hanya ingin minta maaf kepadamu karena salah paham sebelumnya, tapi kenapa sulit sekali untuk mengatakannya," ucap Miranda dalam hati.
Esok paginya Rangga sedang menyapu rumah seperti biasanya. Bel rumah juga mulai berdering menandakan ada tamu di luar. Rangga segera membukakan pintu rumah dan mendapati bahwa yang datang adalah Naura.
Naura adalah seorang gadis muda cantik dengan rambut pendek sebahu. Naura merupakan sahabat baik dari Miranda sejak masih di universitas. Rangga juga mengenal Naura, karena Naura ini sering menjahilinya sewaktu di universitas dulu.
"Hei Rangga, kenapa kamu malah bengong, cepat persilahkan aku masuk," ujar Naura.
Dapat di lihat bahwa Naura ini juga tidak suka terhadap Rangga. Naura sungguh tidak bisa menerima, Miranda yang begitu sempurna malah menikah dengan Rangga yang tidak berguna.
"Tidak tahu mengapa Miranda bisa menikah dengan orang sepertimu," sambung Naura.
Rangga hanya diam saja mendapatkan perkataan seperti ini dari Naura. Rangga tahu, walaupun ucapan dari Naura ini cukup pedas, tapi sebenarnya dia adalah orang yang baik.
Miranda kemudian juga muncul dari dalam rumah. Sebelumnya mereka berdua janjian untuk untuk pergi ke suatu tempat. Rangga juga di ajak ikut agar ada orang yang menyetir mobil untuk mereka berdua.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Rangga di kursi depan menyetir, sementara Miranda dan Naura di kursi belakang. Mereka pergi menggunakan mobil Miranda karena sebelumnya Naura datang menggunakan taksi.
"Kita mau kemana hari ini?" tanya Miranda kepada Naura.
"Kamu akan segera tahu bila sudah sampai di sana," jawab Naura dengan bersemangat
Kemudian Naura memberikan instruksi kepada Rangga untuk menyetir menuju ke tempat yang dia arahkan.
Setengah jam kemudian mereka bertiga telah sampai di depan sebuah gedung besar dan tinggi. Terlihat sudah banyak mobil mewah yang terparkir di sana.
"Hanya orang atas saja yang mendapatkan undangan untuk bisa masuk ke acara lelang ini," ujar Naura kepada Miranda dan Rangga.
Naura mulai menarik tangan Miranda dan membawanya menuju pintu masuk gedung. Rangga juga mengikuti mereka dari belakang.
Pintu masuk gedung itu di jaga oleh dua orang pria berbadan besar dan berotot.
"Supir yang di belakang juga ikut bersama kami," ujar Naura sambil menyerahkan selembar undangan kepada penjaga di pintu masuk gedung.
Begitu masuk kedalam, langsung terlihat di dalam sudah ramai dengan orang-orang. Tempat ini ternyata adalah tempat lelang judi batu.
"Ini adalah pelelangan judi batu giok," ujar Naura.
Judi batu giok adalah membeli sebuah bongkahan batu yang kemungkinan di dalamnya terdapat giok.
Judi batu bisa membuat orang kaya dalam sekejap dan juga bisa membuat orang miskin dalam sekejap.
"Rangga, kamu sudah datang kemari, kamu seharusnya membeli batu giok untuk Miranda," ujar Naura memprovokasi Rangga.
Naura hanya ingin mengetes Rangga saja, pada dasarnya batu di tempat lelang ini cukup mahal dan Rangga pasti tidak mampu untuk membelinya.
"Kalau Miranda suka, aku pasti akan membelikannya untuknya," balas Rangga.
Seketika Naura tampak kesal dengan jawaban Rangga ini. Dia pikir harga batu di sini murah, di tambah lagi dirinya hanyalah orang yang menumpang hidup kepada Miranda.
"Memang harus seperti itu, sebagai seorang suami jangan selalu tidak berguna," ujar Naura.
"Kata-katamu pedas juga," balas Rangga.
Di gas ken
Mumpung lagi seru
Tetap Semangat
Bukannya rangga?