Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.
Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.
Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Rempong
Suasana rumah kembali sepi. Helen dan Michael sudah berangkat ke Amerika. Arsen dan Mark juga pergi entah ke mana. Tertinggal Amey dan para pelayan di rumah besar itu. Tapi tetap saja Amey merasa sepi, pasalnya para pelayan itu tidak suka berbaur dengan majikannya karena sadar akan posisi mereka.
Siang itu Amey selesai mengelilingi taman belakang yang dipenuhi dengan berbagai bunga yang cantik. Ia hendak menuju ruang tamu, namun lagi-lagi foto di dinding mengingatkan Amey dengan almarhum Arka. Ia mencoba mengalihkan pikirannya agar tidak bersedih.
"Hmm, benar telvon nenek!" gumamnya menarik ponsel di saku celananya.
(Percakapan di telepon)
"Halo Nek."
"Ameyyyyyy Cucuku!" teriak Soffy nyaring sehingga membuat Amey menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Nek, aku bisa dengar suara Nenek. Jangan teriak-teriak ihhh."
"Hiyahiyaa. Ada apa menelpon Nenek?"
"Nenek lagi apa? Nenek lagi sibuk?"
"Lagi baca curhat orang-orang di pacebook." mengeja kata Facebook dengan ejaan tulisan asli.
"Cara sebutnya Feisbuk Nek, bukan p a c e b o o k."
"Terserah Nenek! Mulut-mulutku, jangan sewot!"
"Baik ... baik. Terserah Nenek saja." ucap Amey mengalah.
"Nah begitu dong."
"Nek, apa Nenek mau aku ajak tinggal di sini?"
Soffy melonjak dari rebahannya. "Ngana bilang apa? Tinggal di rumah keluarga Winston?" ucap Soffy antusias.
"Iya, Nek. Mau nggak?"
Mata Soffy mengeluarkan binar bening berlian. Ia sangat senang diajak Amey tinggal di rumah besar tersebut. "Siapa yang tidak suka tinggal di istana? Jelas maulah. Baiklah Nenek siap-siap dulu."
"Mau di jemput Nek?"
"Jika kau punya akal sehat, ya jemput Neneklah!" ketus Soffy.
"Baiklah. Telpon Amey jika sudah selesai siap-siapnya."
"Okeyyyy zeyenkkk." menutup panggilannya.
***
Di rumah Soffy.
"Huhuyyyy senangnya jadi horangg kayahh," gumam Soffy sembari mengepak seluruh barang-barangnya.
Selesai mengepak barang, tak lupa juga Nenek itu mengabadikan momen dengan berfoto. Berbagai gaya telah ia tampilkan. Dari gaya jadul sampai pada gaya kekinian sudah ia lakukan. Ia mengerucutkan bibirnya yang berwarna merah, serta menutup mata setengahnya dan Cekrekkkk.
"Cantiknya aku." pujinya melihat hasil jepretannya.
Ia mengunggah foto-fotonya itu di akun Facebook dan Instagram miliknya.
Caption : "Priperrr istana. Tinggal menunggu cucu Cantiqqu dan cuszzzzz. Salam sehat dari Soffy Imut."
Selasai memposting Soffy segera menelepon Amey. "Nenek sudah siap."
"Aku datang, Nek."
"Jangan membuat Nenek menunggu. Nanti luntur kecantikkan Nenek."
"Siap."
Tut ... tut ... tut
***
Beberapa menit kemudian tibalah Amey.
Tin ... tin ...
"Sebentar Nenek, datang!" teriak Soffy dari dalam rumah.
Amey melihat Soffy yang kewalahan membawa ke empat koper. Ia pun turun dan membantu Nenek rempong itu.
Soffy tersenyum dan memeluk Amey dengan erat. "Sayangku, Amey." tersenyum.
"Sini Nek, Amey bantu bawahin," tawar Amey sembari menarik kopernya.
"Amey, apa keluarga Winston sudi menerima Nenekmu yang miskin ini?"
"Hussss, Nenek bicara apa sih. Tentu saja. Lagi pula di rumah hanya ada aku dan para pelayan."
"Mertua dan Suamimu ke mana?"
"Mama Papa berangkat ke Amerika tadi pagi. Suamiku ..." menjeda kalimatnya. Sudah meninggal Nek. timpal batin Amey.
"Suamimu ke mana?"
"Ke kantor Nek."
"Huhh dasar menantuku itu. Selain tampan ia juga pekerja keras. Hari cuti pun masuk kerja. Sangat bangga Nenekmu ini." ucap Soffy menepuk dadanya.
"Ayo, Nek masuk." ajak Amey sembari membukakan pintu untuk Soffy.
Dalam perjalanan mereka tidak banyak bicara. Amey tenggelam dalam lamunannya, sedangkan Soffy sibuk bermain gadjet-nya.
Tanpa disadari Soffy, mereka telah tiba di mansion keluarga Winston.
"Nek sudah sampai." ucap Amey melepas seat belt.
Soffy menganga saat melihat rumah besar dan mewah itu. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Winston.
"Amey ..." panggil Soffy yang tidak memalingkan matanya dari pemandangan indah mansion itu.
"Ayo Nek masuk." ajak Amey.
"Sebentar ... ambilkam gambar Nenek. Jangan lupa perlihatkan pemandangan rumah ini di belakang Nenek." menyodorkan ponselnya.
Amey menepuk jidatnya. "Ada yang salah dengan Nenek." gumam Amey.
***
Masih tidak berhenti memandangi benda-benda mewah yang tertata rapi di dalam rumah itu. "Ameyyy ini guci limited edition. Wow! Nenek sering lihat teman-teman pacebook Nenek yang tajir-tajir mengunggah barang beginian."
"Nek, hati-hati nanti pecah. Nenek tahu berapa harga guci ini?"
"Ya ya, ratusan juta. Tidak! Mungkin miliar." ketus Soffy.
"Nek, aku akan mengantarkan Nenek di kamar barumu."
"Sebentar. Ambil gambar Nenek di sini. Jangan lupa perlihatkan guci emas yang mengkilap ini." perintah Soffy menyodorkan ponselnya kembali.
"Lagi?" memutar bola mata dengan malas. "Nek, sepanjang jalan Nenek selalu saja selfie. Apa belum puas?" lirih Amey tak berenergi.
"Sudah jangan cerewet Ngana. Foto jo kamari, capat!" (Sudah kamu jangan cerewet. Ayo foto, cepat!)
Amey pun mengambil gambar Neneknya. "Sepertinya aku bakal jadi fotografer dan Nenek jadi modelnya." gumam Amey tertawa geli.
***
"Mark! Berikan padaku."
"Ini Tuan." menyodorkan buket.
Arsen meletakkan bunga itu di atas pusara kembarannya. Ia menatap lekat nama yang bertuliskan Arka Winston dengan mata berkaca-kaca. Setelah cukup lama meratapi pusara itu Arsen pun berdiri. "Mark. Ayo!"
Keduanya kembali setelah selesai melakukan ziarah. Mark membukakan pintu untuk Arsen, kemudian keduanya meninggalkan ladang pekuburan.
"Mr. Winston? Ke mana lagi kita akan pergi."
"Pulang."
"Tidak mampir ke kantor dulu?"
"Untuk apa?"
"Setor muka, maybe?"
"Aku masih cuti."
"Oh baiklah Tuan."
Mark dan Arsen segera menuju ke rumah.
***
Sesampainya, seperti biasa Mark mempersilahkan tuannya untuk berjalan di depan. Arsen melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Nenek Amey menghadang jalan mereka.
Arsen melonjak. "GOSH!"
"Halo Anak Muda." sapa Soffy melemparkan senyuman.
"Siapa yang membiarkan Nensi di sini!" teriak Arsen saking terkejutnya.
"Nensi? Siapa Nensi?"
"Nenek Sihir." ketus Arsen dingin.
Plakkkk
Sebuah pukulan melayang di pantat Arsen. Mark yang menyaksikannya pun terkekeh pelan.
"Apa Ngana bilang? Nenek Sihir? Astaga! Tabahkan hatimu Soffy, mungkin menantumu ini salah bicara." gumamnya sembari menyapu dada.
Benar! Ini Nenek yang waktu itu. Nenek yang memukul bokongku waktu di Gereja. batin Arsen menerka.
Soffy mengalihkan pandangnya ke arah Mark. Pria tegap yang berdiri di belakang punggung Arsen. Di mata Soffy laki-laki itu begitu mengkilap dan mempesona. Soffy memandanginya dengan membuka mulut. "Makhluk Tuhan yang paling seksi!" gumam Soffy.
Arsen menatap apa yang dipandangi Soffy, ia melihat ke belakang dan ternyata itu adalah Mark. Soffy segera berlari mendapati Mark dengan binar berbentuk hati di manik matanya.
"Hy Brader, wat yur neim?" lirih Soffy centil.
Mark menepuk jidatnya. "Ha--lo, Grandma?" sapa Mark kaku.
"Stop! Kau bisa bahasa Indonesia 'kan? Gunakan itu!"
"Baik, Nek."
"Enak saja, Nenek! Panggil aku Soffy," ucapnya dengan pelafalan lebay.
Oh God! Please help me! batin Mark.
"Anak Muda." memanggil Arsen. "Ambil gambarku bersama may brader."
Arsen menerima ponsel itu dengan raut yang begitu heran. Bisa-bisanya Nenek itu menyuruh seorang Arsen Winston. Dengan penuh keterpaksaan Arsen menekan tombol potret.
Soffy melakukan beragam pose yang membuat Mark tertindas. Ia memeluk Mark dengan erat dan memonyongkan bibirnya ke arah wajah Mark. Untunglah Mark memiliki postur tubuh yang tinggi, sehingga Soffy sulit meraih wajah Mark.
"Tengkyuu may brader." ucap Soffy.
Soffy mengambil ponselnya dari tangan Arsen dengan wajah girang. Ia tidak sabar melihat hasil fotonya bersama bule tampan itu. Soffy membuka galeri ponselnya namun tak kunjung menemukan fotonya bersama Mark.
"Anak Muda? Kau ke mana kan foto itu?" tanya Nenek mengernyitkan dahi.
Arsen tidak menggubris dan meninggalkan Nenek itu. Soffy terperanjat saat menemukan foto dirinya dan Mark yang hanya separuh badan.
"Kurangasem!!!" pekik Soffy jengkel.
Yang benar saja, Arsen hanya memotret kepala Soffy yang bersandar di atas perut Mark. Jelas hasilnya akan seperti itu karena Soffy terlalu pendek dan Mark begitu tinggi bagai tiang listrik. Sehingga hasil foto itu hanya memperlihatkan kepala Soffy dan bagian perut Mark sampai kepada kepalanya.
"Kepalaku terlihat buntung!" gumam Soffy
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘