NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:93.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBODOHAN MEMBERIKAN KEBAHAGIAAN

Matahari mulai merangkak naik pada pukul delapan pagi. Cahaya keemasannya menyusup di antara dedaunan, menyinari sosok Alvarez yang tengah berbaring santai di atas ayunan yang tergantung di antara dua pohon kelapa. Suara ombak yang tenang berpadu dengan semilir angin laut, menciptakan suasana damai yang jarang ia nikmati.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Alvarez langsung bangkit, mengambil ponsel dari atas meja kecil di samping ayunannya. Layar menampilkan nama yang sudah dikenalnya—Max.

“Halo, Max. Ada apa?” sapa Alvarez sambil berjalan ke bawah rindangnya pohon.

“Kak! Kakak lagi di rumah nggak?” tanya Max dari seberang, suaranya terdengar semangat, namun agak malu-malu.

“Iya, kebetulan lagi santai. Kenapa?”

“Jadi begini… Hari ini kan hari libur. Aku berencana mau pergi mancing sama temanku.”

Alvarez tertawa kecil. “Terus kenapa kamu nelpon aku? Pergi aja sana.”

“Bukan itu, Kak. Aku mau mancingnya di pulau Kakak… Boleh, nggak?”

Alvarez menghela napas, lalu bergumam dalam hati, “Hmm… lagi nggak ada kerjaan juga, ya sudah lah.” Ia lalu menjawab, “Boleh, tapi bawa alat pancing yang lengkap ya. Punya saya tidak lengkap disini.”

“Siap, Kak! Pokoknya kami bawa semuanya. Alat pancing, makanan, minuman. Ohiya, kirim juga lokasi rumah Kakak, ya.”

Setelah menutup telepon dan mengirim lokasi, Alvarez langsung bersiap. Ia menuju ke tambak kerangnya untuk mengumpulkan kerang mutiara. “Tinggal bulu babi lagi… oke, aku akan cari dulu dan mulai buat umpannya,” gumamnya.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan satu ember bulu babi. Ia mulai menumbuk mutiara hingga halus, lalu membuka bulu babi satu per satu, mengambil isinya. Setelah semuanya dicampur, aroma tajam khas laut menyebar ke udara.

Marshu, seekor lumba-lumba sahabat Alvarez, muncul dari permukaan air dan melompat-lompat kegirangan mencium aroma umpan tersebut. Alvarez menghampirinya dan memberinya sedikit.

“Hei, Marshu. Temanku mau ke sini, jadi jangan muncul dulu, ya. Tetaplah di air. Aku takut mereka akan melihatmu. Setelah mereka pulang, aku akan beri kamu makanan ini lagi,” ucap Alvarez dengan nada lembut.

Marshu mengangguk pelan, seolah mengerti, lalu menyelam kembali ke laut.

Pukul sembilan pagi, Max dan temannya tiba di dermaga. Alvarez segera menuju ke sana.

“Max, mana barang-barangnya?” tanya Alvarez.

“Ada di mobil, Kak. Oh iya, kenalin ini Toni, temanku,” kata Max.

“Halo, Kak!” sapa Toni dengan sopan.

“Ah, halo. Aku Alvarez,” balasnya ramah.

Setelah berkenalan, Alvarez meminta Max membawa mobilnya lebih dekat ke dermaga. Saat bagasi dibuka, Alvarez terperangah melihat tumpukan barang yang begitu banyak.

“Eh, ini mau mancing atau liburan?” celetuk Alvarez.

“Kak, bukannya mancing itu juga liburan?” jawab Toni santai.

Alvarez hanya menggeleng pelan. “Kita butuh perahu yang lebih besar. Kalau pakai perahuku, bisa-bisa karam.”

Max langsung panik. “Kalau gitu, kita bawa barang seperlunya aja, deh.”

“Loh, tapi bukannya semuanya perlu?” balas Toni.

“Sudah, sudah. Jangan ribut. Aku akan pikirkan solusinya. Kalian tunggu di warung sebelah sana.”

Setelah menunjuk arah warung kecil di dekat dermaga, Alvarez pergi menuju ke suatu tempat. Beberapa menit kemudian, ia tiba di sebuah rumah sederhana dan mengetuk pintu.

“Permisi... Paman Sam, apakah Paman ada di dalam?”

Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya keluar sambil tersenyum. “Ada apa, Al?”

Nama aslinya adalah Samuel—nelayan tua dari desa Mosuh. Dialah orang pertama yang menemukan Alvarez terdampar dan tak sadarkan diri di pulau ini, 20 tahun yang lalu. Perahu yang kini Alvarez miliki sebenarnya pemberian dari Paman Sam.

“Paman, hari ini mau ke laut nggak?”

“Nggak, Al. Paman mau istirahat dulu. Capek beberapa hari ini terus di laut.”

“Kalau begitu, aku pinjam kapal Paman ya, buat mancing. Perahuku terlalu kecil buat bawa dua orang plus barang-barang mereka.”

Paman Sam mengangguk mengerti. “Ambil saja. Kapal Paman ada di dermaga barat. Tunggu di sini, Paman ambilkan kuncinya dulu.”

Beberapa saat kemudian, Alvarez kembali ke warung dengan kunci di tangan. Ia menyampaikan bahwa ia sudah meminjam kapal yang lebih besar. Max dan Toni mengangguk senang.

Catatan: Kapal dan perahu memang berbeda. Kapal berukuran besar, menggunakan mesin besar, dan biasanya beroperasi di laut dalam. Sedangkan perahu lebih kecil, mesinnya pun ringan, dan digunakan di perairan dangkal seperti sungai atau pesisir.

Alvarez segera menuju ke kapal, sementara Max dan Toni bergegas menuju mobil dan menunggu disana. Sepuluh menit kemudian, mereka mulai menaikkan perlengkapan ke atas kapal. Keduanya tampak antusias, seperti anak kecil yang hendak piknik ke tengah laut.

“Kapten, semua barang sudah naik!” teriak Max sambil ber cosplay jadi bajak laut.

Toni ikut masuk ke dalam permainan. “Siap, Kapten! Kita siap berlayar!”

Alvarez tertawa, lalu mengangkat suara dengan gaya dramatis. “Kalau begitu, angkat jangkar! Kita berlayar menuju lautan luas!”

Dan kapal pun perlahan meninggalkan dermaga, mengarah ke hamparan biru yang menanti petualangan mereka.

Laut membentang luas di hadapan mereka, berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Angin bertiup lembut, membuat bendera kapal yang terpasang bergoyang pelan. Suasana itu seolah memanggil semangat petualang dalam diri mereka—dan dalam waktu singkat, ketiganya larut dalam khayalan.

Max berdiri di ujung kapal dengan tangan terangkat, dadanya membusung seperti seorang pemimpin armada. Ia mengenakan topi jerami milik Alvarez yang ditemukannya di kabin dan meletakkan tangan di atas mata, seakan sedang mengintai kapal musuh.

“Semua awak! Pegang posisi kalian! Kita akan menjarah kapal dagang dari Selatan!” teriak Max dengan suara berat yang dibuat-buat.

Toni, tak mau kalah, mengambil gagang serokan ikan dan menaruhnya di pinggang seperti pedang. “Aye, Kapten! Meriam sudah siap! Kalau ada yang coba mendekat, akan kuledakkan!”

Alvarez hanya bisa tertawa geli melihat dua anak muda seperti anak kecil larut dalam peran. Tapi ia ikut masuk ke dalam permainan, mengambil tombak ikan dan menjadikannya tongkat komando.

“Diam, kalian berdua! Aku Kapten Alvarez Si Petir Lautan! Kalian hanya kru rendahan di kapal ini!” katanya sambil berpose gagah.

Max pura-pura panik. “Ampun, Kapten! Jangan lempar aku ke laut!”

Toni ikut merunduk dan berbisik ke Max, “Dia benar-benar jadi kapten, nih. Kita kudeta aja yuk nanti malam!”

Alvarez mendengar bisikan itu dan langsung menodongkan dayung ke arah mereka. “Pengkhianat! Akan ku paksa kalian berjalan di atas papan menuju hiu-hiu lapar!”

Max langsung menjatuhkan diri dan memohon. “Tolong, Kapten! Jangan lempar aku! Aku belum sempat makan ransum terakhir!”

Suara tawa pun pecah di antara mereka. Laut menjadi saksi kebodohan kecil yang membuat perjalanan itu terasa lebih hangat. Tidak ada tekanan, tidak ada beban—hanya tawa, angin laut, dan khayalan yang mereka ciptakan bersama.

Setelah puas bermain peran, mereka akhirnya mulai mempersiapkan alat pancing. Tapi semangat bajak laut masih membara.

“Kalau kita dapat ikan gede, kita namakan dia Harta Karun Lautan!” seru Toni sambil membuka rangkaian kail pancing.

“Setuju!” sahut Max. “Dan kalau kita dapat ikan buntal, kita jadikan maskot kapal bajak laut kita!”

Di dalam kursi kemudi Alvarez hanya menggeleng sambil tersenyum. Dalam hati, ia bersyukur bisa berbagi momen seperti ini—di tengah laut, bersama teman, di atas kapal, dan dengan sedikit kegilaan yang membuat hidup terasa lebih hidup.

1
sakura
...
Ita Xiaomi
Alhamdulillah ceritanya dilanjutkan. Semangat berkarya Kk. Berkah&Sukses selalu. 👍👍👍
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!