NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 ~ Jejak Dihapus

Evelyn terdiam beberapa saat.

Ia tahu Damian bukan tipe pria yang mudah mengubah keputusan.

Dengan tenang, ia membuka map yang sejak tadi dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Ini surat panggilan dari universitas di London. Sebagai bukti jika saya tidak sedang berbohong, Tuan..." ucap Evelyn lirih. "Mohon Tuan melihat ini terlebih dahulu."

Damian mengulurkan tangan, lalu menerima dokumen tersebut. Tatapannya segera menyapu setiap halaman, surat penerimaan dari sebuah universitas di London. Program pendidikan bisnis. Beserta bukti pendaftaran yang dilakukan hampir satu tahun lalu.

Rahang Damian perlahan mengeras. Artinya... Keberangkatan Evan memang telah direncanakan sejak lama, bukan keputusan yang dibuat karena kegagalan proyek hari ini.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk," titah Damian dingin.

Cklek. Pintu ruang kerja terbuka.

Haris melangkah masuk dengan wajah serius. "Permisi, Tuan," ucap Haris sopan.

Damian mengalihkan pandangannya. "Ada apa?"

"Saya sudah menanyakan satu per satu kepada seluruh orang yang terlibat dalam proyek kerja sama ini," lapor Haris. "Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana Harley Group bisa memperoleh informasi tersebut."

Damian tetap diam. Beberapa detik kemudian, ia menatap Haris dengan sorot mata tajam.

"Kami sedang mencoba untuk menghubungi tim IT untuk memeriksa seluruh komputer yang memiliki akses terhadap dokumen proyek dan merinci setiap riwayat aksesnya."

"Lakukan apapun. Aku ingin tau.. siapa orang yang berani mengkhianatiku! Aku tidak akan pernah memaafkannya begitu saja." desisnya lirih penuh ketegangan.

"Baik Tuan." Haris berbalik, keluar dari ruangan tersebut untuk menyelesaikan tugasnya.

Ruangan kembali sunyi. Damian masih menatap dokumen penerimaan universitas yang berada di tangannya.

Untuk pertama kalinya ia mulai menyadari bahwa kepergian sekretarisnya itu mungkin memang bukan keputusan yang dibuat secara mendadak.

Namun entah mengapa... Nalurinya masih terus mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Evan.

Saat itulah, ponsel Evelyn yang berada di saku jasnya bergetar.

Bzztt....

Bzztt....

Evelyn melirik sekilas layar ponselnya. Nomor dari pihak universitas.

Dengan ragu, ia mengangkat kepalanya.

"Maaf, Tuan," ucapnya pelan. "Boleh saya menerima panggilan ini? Sepertinya ini panggilan penting dari pihak universitas."

Damian tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk tipis.

"Angkat."

"Terima kasih, Tuan."

Evelyn segera menerima panggilan itu.

"Halo."

["Selamat siang. Apakah saya sedang berbicara dengan Tuan Evan Hold?"] terdengar suara seorang wanita dari seberang.

"Benar."

["Kami ingin mengonfirmasi keberangkatan Anda. Sesuai jadwal, penerbangan Anda menuju London berangkat sore ini. Mohon memastikan Anda sudah berada di bandara paling lambat dua jam sebelum jadwal keberangkatan."]

"Saya mengerti. Terima kasih."

Panggilan pun berakhir. Evelyn perlahan menurunkan ponselnya.

Damian yang sejak tadi mendengar percakapan itu akhirnya mengembuskan napas panjang.

Ia berjalan kembali ke balik meja kerjanya. Tatapannya jatuh pada surat pengunduran diri yang masih tergeletak di sana.

Beberapa saat kemudian, ia mengambil sebuah pena.

"Evan," panggilnya tanpa mengangkat kepala.

"Ya, Tuan."

"Aku tidak suka kehilangan sekretaris terbaikku."

Kalimat itu membuat Evelyn terdiam.

"Tapi..." lanjut Damian seraya membubuhkan tanda tangannya di atas surat tersebut, "...aku juga tidak berhak menghalangi masa depanmu."

Goresan pena itu berhenti. Damian menutup map tersebut, lalu mendorongnya pelan ke arah Evelyn.

"Mulai detik ini..." ucapnya datar. "Pengunduran dirimu kuterima."

Evelyn mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Tuan."

Damian mengangkat kepalanya. Meski surat itu telah ditandatangani, sorot matanya tetap tajam.

"Tapi ingat satu hal... Kalau suatu hari nanti aku menemukan siapa dalang di balik kebocoran proyek Foster Group..." Damian menghentikan ucapannya sejenak. "...aku akan memastikan orang itu membayar semuanya."

Jantung Evelyn kembali berdegup keras. Ia hanya mampu mengangguk pelan.

"Dan kau... Masih berhutang satu hal padaku." ucap Damian, mendorong tubuhnya lebih dekat.

"Aku belum menemukan wanita dikapal itu.. Hanya kamu saksi terakhir disana. Jika kamu bisa membantuku mengingatnya, maka surat ini akan langsung aku serahkan padamu detik ini juga."

Evelyn terdiam sejenak. Bagaimana mungkin ia membantu Damian mencari wanita itu...

Sedangkan wanita yang selama ini dicarinya adalah dirinya sendiri?

Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan. "Maaf, Tuan," jawabnya tenang. "Saya rasa saya tidak bisa membantu."

Alis Damian bertaut.

"Kalau begitu.. Lupakan tentang surat pengunduran dirimu." ucap Damian seolah seperti sebuah ancaman.

Tatapan Evelyn melebar, dia harus berpikir keras saat itu juga.

"Saya memang sempat melihat wanita itu," jelas Evelyn cepat. "Tepat setelah saya mengantarkan anda ke kabin."

Evelyn berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Dia seorang pelayan kapal.. Saya pikir dia hanya akan membantu anda untuk beristirahat. Saya.. Saya tidak tau jika akan terjadi hal semacam itu. Karena setelah pelayan tersebut masuk, saya juga langsung pergi.."

"Pelayan?" ulang Damian.

Evelyn mengangguk.

"Iya, Tuan. Pakaiannya sederhana. Saya juga tidak melihat wajahnya dengan jelas karena pencahayaan saat itu sangat minim. Tapi saya bisa pastikan dari seragam yang dia pakai."

Damian menatapnya lekat, mencoba membaca apakah sekretarisnya sedang berbohong.

Namun ekspresi Evan tetap tenang.

"Kalaupun benar dia seorang pelayan," lanjut Evelyn, "besar kemungkinan setelah kapal itu bersandar, dia sudah kembali bekerja di tempat lain. Akan sangat sulit menemukannya."

Ruangan kembali hening. Beberapa saat kemudian, Damian mengembuskan napas pelan.

"Baiklah."

Ruangan kembali hening. Pria itu melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Evelyn. Tatapan tajamnya seolah menembus hingga ke dasar hati.

"Tapi ingat satu hal."

Evelyn menelan ludah.

"Jika ternyata kau berbohong kepadaku..." ucap Damian perlahan, "...aku akan menemukanmu."

Suara pria itu tetap tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat ancamannya terdengar jauh lebih mengerikan.

"Ke mana pun kau pergi. Sejauh apa pun kau bersembunyi. Aku akan mencarimu... sampai ke ujung dunia sekalipun."

DEG. Jantung Evelyn seolah berhenti berdetak. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik.

Evelyn berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meski telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin.

Saya tidak punya alasan untuk berbohong, Tuan. Karena memang itulah yang saya ketahui." jawabnya setenang mungkin.

Damian tidak segera membalas. Ia terus menatap Evelyn beberapa saat, seolah memastikan tidak ada sedikit pun kebohongan yang terpancar dari wajah sekretarisnya itu.

Akhirnya, pria itu mengulurkan surat pengunduran diri yang telah ditandatanganinya.

"Pergilah."

Evelyn menerima surat tersebut dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Tuan."

Ia membungkukkan badan singkat, lalu berbalik melangkah keluar. Evelyn melangkah keluar dari ruang kerja Damian tanpa menoleh sedikit pun.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya.

Tanpa membuang waktu, Evelyn berjalan menuju ruang sekretaris. Ia membuka laci mejanya, lalu mulai memasukkan barang-barang pribadi ke dalam sebuah tas. Beberapa buku catatan, sebuah bingkai foto keluarga, dan beberapa perlengkapan kerja yang selama ini menemaninya.

Tatapannya sempat menyapu ruangan itu untuk terakhir kalinya.

Hampir empat tahun. Begitu banyak kenangan yang ia tinggalkan di tempat itu.

Dengan langkah mantap, Evelyn mengangkat tasnya, lalu berjalan keluar. Beberapa karyawan yang berpapasan masih menyapanya seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa hari itu adalah hari terakhir Evan Harley bekerja di Foster Group.

Sesampainya di luar gedung, Evelyn tatapan Evelyn langsung tertuju pada mobil keluarga yang telah terparkir tidak jauh dari sana.

Dengan cepat Evelyn menyebrang dan masuk kedalam mobil tersebut.

"Semua barang-barang sudah ada didalam bagasi Tuan. Kita tinggal berangkat." ucap sang supir pribadi.

"Baik."

Mobil pun melaju meninggalkan Foster Group. Baru beberapa menit perjalanan, ponsel Evelyn bergetar pelan.

Sebuah pesan masuk dari Tuan Harley.

[Jejakmu sudah Ayah hapus. Pergilah. Damian tidak akan menemukan apa pun. Fokuslah pada kehidupan barumu di London.]

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!