Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: TEMAN LAMA YANG HAMPIR MEMBOCORKAN RAHASIA
Keesokan paginya, suasana kantor pusat Grup Arka kembali sibuk seperti biasa. Namun ada satu kejadian tak terduga: seseorang yang tak ada dalam daftar janji temu berdiri di lobi, meminta izin menemui Nadia dengan alasan pertemanan pribadi. Itu adalah Siska—sahabat lama Nadia yang dulu sering berkunjung ke rumah kecil mereka, satu-satunya orang yang tahu betul betapa sabarnya Nadia merawat Rian saat pria itu belum memiliki apa-apa.
Petugas keamanan ragu mengizinkannya masuk, namun saat Siska menyebutkan nama panggilan kesayangan yang dulu hanya ia dan Nadia yang tahu, berita itu langsung disampaikan ke ruangan kerja utama. Tak lama kemudian, Siska dipandu naik ke lantai paling atas.
Saat pintu terbuka dan mereka berhadapan, tak ada kata yang terucap sejenak. Siska menatap Nadia lekat-lekat—melihat sahabatnya yang dulu sering tertunduk malu-malu kini berdiri tegak penuh wibawa di balik meja pemimpin perusahaan raksasa. Air mata bahagia sekaligus haru langsung mengalir di pipi Siska.
"Aku hampir tidak percaya," ucap Siska terbata-bata, melangkah mendekat. "Semua orang berbisik-bisik tentang CEO baru Grup Arka, tapi tak ada yang menyangka itu kamu, Nad. Tak ada yang menyangka wanita yang dulu diremehkan begitu, kini memegang kendali atas segalanya."
Nadia bangkit berdiri, menyambut pelukan hangat itu dengan senyum tipis yang tulus. "Aku hanya berusaha bangkit, Sis. Dulu aku berpura-pura menjadi orang lain demi dicintai, tapi ternyata aku justru melupakan siapa diriku sendiri."
Mereka duduk berbincang sejenak, mengisi kekosongan dua tahun yang terpisah. Namun tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan—Rian masuk membawa berkas laporan yang harus segera ditandatangani. Saat matanya bertemu dengan wajah Siska, darah seolah berhenti mengalir. Wanita itu adalah saksi hidup dari masa lalunya yang paling menyakitkan.
Siska menatap Rian dengan pandangan tajam yang tak bisa disembunyikan. Ia masih ingat betul hari saat Rian datang pulang membawa surat perceraian, masih ingat betul tangis panjang Nadia yang tak kunjung usai.
"Jadi... kalian memang sudah saling kenal sejak awal?" tanya Siska tajam, tak peduli betapa kaku suasana seketika itu. "Kau tahu siapa dia sebenarnya sejak hari pertama kau datang memohon kerja sama, Rian?"
Rian menelan ludah dengan susah payah. "Aku... aku baru menyadarinya belakangan. Dan aku sungguh menyesal, Siska. Aku benar-benar menyesal."
"Menyesal?" Siska tertawa getir. "Menyesal saat kau sudah tahu dia adalah wanita yang bisa memberimu segalanya? Kalau dia masih hidup susah seperti dulu, apakah kau akan tetap datang menyesal? Atau kau akan terus membiarkannya menderita sendirian?"
"Siska..." tegur Nadia pelan, meski hatinya pun teriris mendengarnya. "Jangan begini. Ini bukan cara yang benar."
"Kau terlalu baik, Nad," balas Siska tak berpaling. "Dia membuangmu seperti sampah saat kau tak berguna baginya, dan sekarang dia datang merendahkan diri hanya karena kau memegang kekuasaan. Kalau aku, aku takkan pernah membiarkannya menginjakkan kaki di sini lagi!"
Rian terdiam tak berdaya. Kata-kata Siska seperti cambuk yang memukul setiap sisi nuraninya. Ia tahu betul bahwa tuduhan itu hampir benar—bahwa jika Nadia tidak menjadi seperti sekarang, mungkin ia takkan pernah berani kembali menghadapinya.
"Aku tidak menyangkal kesalahanku," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Tapi aku berjanji, penyesalanku bukan karena harta atau kekuasaannya. Aku menyesal karena telah menyakiti hati wanita yang paling tulus mencintaiku."
Siska hendak meledak lagi, namun Nadia berdiri dan memotong pembicaraan itu. "Cukup. Masa lalu tidak akan berubah meski kita berteriak sekeras apapun. Sekarang, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kalau dia memang pantas mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri, biarkan waktu yang menjawab. Kalau tidak, takdir akan mengurusnya sendiri."
Siska akhirnya menghela napas panjang, menahan amarahnya demi sahabatnya. Namun sebelum ia pamit, ia menatap tajam ke arah Rian. "Ingat satu hal: rahasia ini belum diketahui banyak orang. Bukan karena Nadia takut, tapi karena dia masih menghargai harga dirimu. Tapi jika kau berani menyakitinya lagi, aku sendiri yang akan memastikan semua orang tahu betapa kejamnya kau dulu."
Setelah Siska pergi, ruangan kembali sunyi. Rian berdiri terpaku, merasa makin kecil dan tak berharga di hadapan wanita yang pernah ia lukai sedalam itu.
"Maafkan dia," ucap Nadia pelan, kembali duduk di kursinya. "Dia hanya tidak ingin aku terluka lagi."
"Aku yang seharusnya meminta maaf pada kalian berdua," jawab Rian lirih. "Aku sadar sekarang, betapa beruntungnya aku dulu, dan betapa bodohnya aku membuang keberuntungan itu."
(Lanjut ke Bab 16?)