PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Ketiga
BRUK!
Mendengar suara terjatuh, Sam mengangkat kepalanya. Dia terkejut melihat Brenda berada di lantai. Kemudian dari arah luar masuklah Aiza, Haris dan Fildan. Buru-buru Fildan membantu Brenda bangun. Kalau gadis itu bukan anak dari salah satu direktur di perusahaan ini, pria itu juga malas berurusan dengan gadis angkuh seperti Brenda.
Sam bangun dari duduknya, dia segera menghampiri orang-orang yang berkumpul di dekat pintu. Pandangannya langsung tertuju pada Aiza. Dia hampir tidak percaya bisa bertemu lagi dengan gadis yang sudah berhasil memincut hatinya.
“Ada apa ini?” tanya Sam.
“Mohon maaf pak Sam, kalau kedatangan kami menimbulkan keributan. Kenalkan, saya Haris dan ini Aiza. Kami diminta pak Irzal untuk mempresentasikan program promosi yang sudah kami buat.”
Sambil memperkenalkan diri, Haris mengulurkan tangannya. Sam segera membalas uluran tangan tamunya itu. pandangannya kemudian beralih pada Aiza. Gadis itu hanya menangkupkan kedua tangannya saja sambil menganggukkan kepalanya.
“Sam.. kamu usir perempuan ini!” seru Brenda.
“Eh emangnya gue ayam main usir aja. Elo aja yang pergi. Lo tuh udah kaya jailangkung, datang tidak diundang, sana pulang!”
“Yaaaa!! Sam.. dia itu kasar banget. Dia udah dorong aku sampai jatuh,” Brenda mengadu pada Sam.
“Salah sendiri, siapa suruh mejeng depan pintu. Udah tahu ada orang mau masuk.”
“Aiza..”
Haris segera menenangkan sang bawahan. Gadis ini memang sulit diatur. Selalu bersikap semaunya, tidak kenal tempat dan waktu yang pas.
“Kamu kenal dia?” tanya Sam pada Brenda.
“Dia ini orang yang udah mempermalukan aku! Perempuan songong, sombong. Baru kerja di café aja udah belagu.”
“Kamu yang mempermalukan diri sendiri. Udah makan, ngga mau bayar. Malah marah-marah ngga jelas. Masih untung ngga gue suruh nyuci piring sama bersihin sampah!”
“Eh gue itu datang buat mengulas café! Wajar dong kalau gue makan gratis.”
“Wajar kalau diundang. Lo kan datang sendiri, ngga ada info juga ke kita. Pesan makanan banyak ujung-ujungnya ngga mau bayar.”
“Ngapain juga gue bayar? Makanan di café lo, ngga layak buat dibayar. Makanannya ngga enak!”
“Ngga enak, tapi lo habisin. Ngga ada sisanya sama sekali. Kenapa ngga sekalian lo telan piringnya. Biar kaya kuda lumping!”
Fildan menundukkan kepalanya, berusaha menahan tawanya yang hendak meledak. Haris juga menolehkan kepalanya ke arah lain seraya tersenyum. Sam terus memandangi Aiza yang terus mendebat Brenda. Baru sekarang ada orang yang secara terang-terangan melawan Brenda. Dan Sam menyukai itu. Setidaknya apa yang dilakukan Aiza mewakili perasaannya yang memang sudah malas berurusan dengan gadis manja itu. Dia ingin melihat sampai dia mana perdebatan kedua gadis ini.
“Kalau gue kuda lumping, elo kuda liar!”
“Masih bagusan kuda liar. Kan ada susunya tuh, susu kuda liar. Manfaatnya juga banyak. Kalo kuda lumping apa manfaatnya? Bersihin pecahan beling?”
“Yaaaaaaa!!! Rese lo! Harga ngga seberapa tapi gaya lo songong habis!”
“Uang yang ngga seberapa itu, sebagian untuk modal produksi, sebagian untuk membayar gaji pegawai, untuk membayar listrik, air dan lain-lain. buat lo ngga seberapa, tapi buat pemilik usaha, itu berharga. Dan uang yang ngga seberapa itu pun lo ngga mau bayar! Yang songong, elo apa gue?”
“Berapa sih uang yang harus gue bayar? Gue bayar sekarang juga!”
“Ngga usah! Kan gue udah bilang, makanan yang lo makan itu gratis. Anggap aja sedekah. Kapan lagi sedekah sama orang kaya.”
“YAAAAAAA!!!”
Kesal mendengar ucapan Aiza, Brenda merangsek maju. Dia hendak menarik hijab yang dikenakan Aiza. Dengan cepat Sam menahan tangan Brenda lalu melepas sambil mendorongnya.
“Lebih baik kamu pergi. Jangan menganggu pekerjaanku.”
“Usir dia, Sam!! Aku ngga rela dia di sini!!”
“Kamu rela atau ngga, ngga ada urusannya sama aku. Sana pergi.”
“Dia bilang kamu sama dia dijodohin. Emang benar?”
Sam tentu saja terkejut mendengar ucapan Brenda. Refleks dia melihat pada Aiza. Dengan cepat Aiza menundukkan kepalanya. Hatinya ketar-ketir, kalau Sam menyangkal, maka Brenda akan merasa di atas angin dan akan kembali meledeknya.
“Kami memang dijodohkan. Ada masalah?” jawab Sam dingin dan sukses membuat Aiza mengangkat kepalanya. Dia melihat pada Sam tanpa berkedip.
“Kamu bohong, kan, Sam?”
“Fildan, bawa Brenda pergi.”
“Aku ngga mau pergi! Aku mau di sini!”
“Jangan menguji kesabaranku, pergi!!”
“Sam.. kamu jangan lupa. Kamu bisa duduk di posisi ini karena dukungan papaku! Kalau papaku menarik dukungannya, kamu tidak akan bertahan di sini!!”
Sam membalikkan tubuhnya. Dia berjalan mendekati Brenda seraya menatap tajam pada gadis itu. Melihat pandangan Sam yang begitu menusuk, Brenda takut juga. Dia beringsut mundur. Namun Sam terus mendekatinya sampai gadis itu terpojok ke dekat pintu.
“Ini adalah perusahaan keluargaku. Aku bisa sampai di posisi ini, karena memang aku harus berada di sini dan juga karena kemampuanku. Aku tidak butuh dukungan dari siapa pun, termasuk papamu! Selagi aku masih bersikap baik, PERGI!!”
Brenda terkesiap mendengar suara kencang Sam. Gadis itu segera keluar dari ruangan. Fildan juga keluar dari ruangan. Kini tinggal Haris dan Aiza saja. Aiza menahan nafasnya ketika Sam berbalik dan melihat padanya. Harus Aiza akui aura Sam saat ini begitu menakutkan. Tanpa sadar dia beringsut ke belakang punggung Haris.
“Maaf atas gangguan tadi. Silahkan duduk pak Haris, Aiza.”
“Terima kasih, pak.”
Haris dan Aiza segera mendudukkan diri di sofa. Sam pun menyusul duduk berhadapan dengan mereka. Dia segera mempersilahkan pada Aiza untuk mempresentasikan proposalnya. Aiza mengeluarkan laptopnya, lalu menaruhnya dia atas meja. Dia berdehem beberapa kali sebelum memulai presentasinya.
Dengan serius Sam menyimak apa yang disampaikan oleh Aiza. Beberapa kali pria itu bertanya dan sukses dijawab oleh Aiza. Haris pun harus mengakui kemampuan Aiza dalam presentasi. Pantas saja kalau Elang merekomendasikannya, ternyata gadis ini memang memiliki kualifikasi yang baik di bidangnya.
“Apa menurut pak Sam, ada yang harus diperbaiki lagi? Atau ada yang kurang?” tanya Haris setelah presentasi Aiza selesai.
“Sejauh ini tidak ada masalah. Kalian bisa langsung memulainya.”
“Baiklah, pak. Kalau begitu kami permisi pulang.”
“Silahkan. Tapi saya minta Aiza tetap di sini. Ada hal penting yang mau saya bicarakan dengannya.”
Sejenak Haris dan Aiza berpandangan. Pria itu meminta Aiza tetap tinggal, sedang dirinya segara bangun dari duduknya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Aiza, kamu bisa pulang sendiri kan?”
“Bisa, pak.”
Sam bangun kemudian mengantarkan Haris sampai ke pintu. Setelah Haris pergi, Sam kembali ke tempatnya semula. Untuk sesaat suasana di antara mereka menjadi hening, sampai akhirnya Sam sendiri yang memecah keheningan di antara keduanya.
“Aiza.. apa kamu ingat kita pernah bertemu?”
Sejenak Aiza memandangi Sam. Dia coba mengingat di mana pernah melihat pria itu. Matanya berbinar ketika berhasil mengingat pertemuan mereka.
“Ooh.. bapak yang waktu itu mobilnya mau dibegal, kan?”
“Iya.”
“Ngga nyangka ya, pak. Kita bisa ketemu lagi. Dan di pertemuan kedua kita, ternyata dalam urusan kerja.”
“Ini pertemuan ketiga kita, bukan kedua.”
“Ketiga? Memangnya kita pernah bertemu di mana lagi?”
“Apa kamu ingat pernah menarik ranting pohon dan membuat basah baju seseorang?”
“Ya ampun.”
Refleks Aiza menutup mulut dengan kedua tangannya. Ternyata korban kejahilannya waktu itu adalah Sam. Gadis itu menelan ludahnya kelat. Melihat Sam marah pada Brenda tadi, dia takut terkena semburan juga. Masalahnya dalam hal ini dia jelas-jelas yang bersalah.
“Sekali lagi saya minta maaf, pak. Sebenarnya sasaran saya itu sepupu saya, tapi malah bapak yang kena. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Karena kamu sudah menolong saya waktu itu, saya anggap kejahilan kamu di pertemuan pertama kita impas.”
“Alhamdulillah,” ujar Aiza tenang.
“Tapi soal perjodohan, itu lain soal.”
“Maaf pak, saya keceplosan, hehehe… Dia duluan yang ngaku-ngaku calonnya bapak. Saya cuma mengikuti jejak aja.”
“Kamu ngga percaya kalau dia calonnya saya?”
“Ngga. Ngga mungkin aja bapak mau sama nenek gerandong model dia.”
“Hahahaha…”
Tawa keras Sam terdengar. Aiza tercenung ketika melihat pria di depannya terbahak. Saat sedang tertawa, Sam terlihat begitu tampan. Aiza menggelengkan kepalanya. Jangan sampai dia terpincut pada pria ini. Mau ditaruh di mana mukanya nanti.
“Kalau begitu, kamu ngga keberatan kan, kalau aku minta ganti rugi soal perjodohan yang kamu bilang tadi?”
“Ganti ruginya gimana, pak?”
“Temani saya makan siang. Mau?”
🍄🍄🍄
Widih Sam gercep juga..
BTW ini penampakan Sam versiku