Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Margareth nampak terkesan pada Nadi yang menghadiahkannya tas brand ternamaan dunia seharga 800 juta. Tak hentinya Margareth memuji Nadi di depan Aaron, mulai dari kecantikannya hingga kecerdasaannya, ia menyuruh Aaron untuk cepat-cepat dan tidak melewatkan wanita seperti Nadi.
Aaron hanya tersenyum, ia tak begitu nyaman membicarkan soal masalahnya pribadinya dengan orang lain.
Selesai makan malam, Pak Gunawan mengajak Aaron ke ruang kerjanya untuk membicarakan urusan bisnis, sementara Margareth mengajak Nadi ke walk in closet miliknya.
Nadi cukup tercengang melihat deretan tas ternamaan dunia terpajang di lemari kaca yang begitu besar dan mewah. "Tas dari mu menambah satu koleksiku, kebetulan aku ingin membelinya, tapi kau sudah membelikannya. Terima kasih ya."
"Sama-sama, Nyonya."
"Panggil nama saja, kita kan sudah sering ngobrol."
Nadi tersenyum semabri menganguk, ia menelusuri lemari mewah itu. Secara tak sengaja ia menemukan tas era tahun 80an. "Sepertinya anda sudah lama menjadi kolektor tas branded," ucap Nadi, ia begitu mengagumi kenindahan tas tersebut.
"Ya, sudah sejak kecil," jawabnya. "Orangtuaku juga kolektor tas branded, hitung-hitung untuk investasi. Tas branded semakin lawas, semakin meningkat harganya."
Nadi pernah mendengar soal investasi tas branded, namun ia belum tertarik untuk melakukannya. " Tapi tas lawas memerlukan perawatan yang extra. Apa anda tidak tertarik dengan investasi lainnya?" tanya Nadi. "Misalnya saham." Nadi menjelaskan jika ada perusahaan yang hampir mengalami kebangkrutan sebab, yang sudah bisa di pastikan nilai sahamnya akan mengalami penurunan.
Namun perusahaan itu memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa bangkit kembali. Nadi tersenyum karena ia melihat sepertinya Margareth tertarik dengan penawarannya.
"Apa kamu berani jamin jika, kamu bisa mengembalikan kondisi perusahaan itu setelah kita mengambil alih?"
"Aku memiliki kemampuan yang cukup mumpuni," ia menceritakan mengenai kondisi perusahaan milik Sofia yang semula hanya memiliki satu dua client dengan nilai project masih di bawah dua ratus juta, kini perusahaan itu memiliki lebih dari dua puluh client besar hanya dalam waktu beberapa bulan setelah ia pegang.
"Aku sedang mengembangkan relasiku, untuk mempermudah memulihkan perusahaan itu dengan cepat."
Margareth tertawa melihat Nadi yang begitu berambisi. "Kau ini wanita yang sanggat ambisius yang pernah aku kenal, biasanya wanita yang memiliki suami atau kekasih pengusaha sukses, dia akan manja dan cenderung malas karena dia sudah menerima banyak uang dari prianya tanpa harus bersusah payah."
'Termasuk aku,' batin Margareth.
Nadi pun ikut tertawa. "Menurutku pasangan yang idela adalah pasangan yang seimbang. Wanita bukan lagi hanya duduk diam di rumah menunggu hasil, tapi harus sama-sama bekerja untuk menaikan velue."
"Ikutlah, ke Bogor weekend ini. Mereka akan berkuda dan di sana akan ada banyak pengusaha yang tengah bersantai, kau bisa mengembangkan relasimu."
Itu juga yang di pikirkan Nadi, tapi Aaron justru memintanya untuk mengasuh anaknya di villa. 'Aku harus menemukan acara agar aaron membolehkan aku berkuda dengannya.'
"Aku pasti akan datang," Nadi menoleh ke arah pintu saat Aaron sudah memanggilnya dan mengajaknya pulang.
"Aku tunggu di sana," bisik Margareth, ia bersama suaminya mengantar Nadi dan Aaron hingga ke teras kediamannya.
"Sering-sering main ke sini ya, ajak Alyssa jika perlu," dengan hangat Margareth memeluk dan mencium kedua pipi Nadi.
"Sebetulnya tadi kami mengajak Alyssa, tapi sayangnya dia tertidur. Mungkin kelelahan karena habis latihan balet."
Setelah berpamitan, Aaron dan Nadi pun pulang. Aaron mengantar Nadi kembali ke apartementnya. Sebelum Nadi turun dari mobil Aaron,ia mengatakan bahwa dirinya bersedia untuk menemani Alyssa dalam acara sekolahnya. ONE DAY WITH MOM.
"Benarkah?" Aaron merasa bahagia sekali, tadinya ia pikir akan putrinya tidak akan masuk ke sekolah sebab Sarah, ibu kandungnya Alyssa menolak untuk hadir. "Tapi bukankah kau ada meeting di kantorku bersama Harry?"
"Alyssa lebih penting," ucap Nadi sembari melepas sabuk pengamannya. "Sofia akan baik-baik saja, kan sudah ada Harry," Nadi tersenyum sebab ia tahu Aaron tengah menjodohkan Sofia dengan Harry.
Aaron menarik Nadi ke dalam pelukannya. "Terima kaih ya, Die. Aku beruntung banget punya kamu."
Nadi membalas pelukan hangat Aaron. "Sama-sama, aku turun dulu ya," ia melepaskan pelukan Aaron dan turun dari mobil kekasihnya, ia tak menunggu Aaron pergi, dan langsung masuk ke apartementnya sebab firasatnya mengatakan Surya tengah mengintainya.
...****************...
Keesokan harinya Nadi menepati janjinya, pagi-pagi sekali ia sudah ada di sekolah Alyssa, ia datang lima menit sebelum Alyssa dan Aaron datang. Nadi memanfaatkan waktu lima menit itu untuk menghubungi Sofia. "Pokoknya loe tenang aja Sof, kita liat apakah Surya sanggup untuk menyelesaikan pekerjaannya atau tidak," ucap Nadi sembari menyemprotkan minyak wangi ke pakaiannya, kemudian ia mengaduk-aduk tasnya dan menemukan bedaknya.
"Kalau seandainya Surya menyanggupi ya sudah kita selesaikan pekerjaan kita seperti biasa," Nadi mentoch up sedikit bedak ke wajahnya, setelah di rasa puas ia menutup kembali bedak itu dan menyimpannya di tas, barulah ia keluar dari mobil.
"Tapi kalau Surya tidak sanggup, kita ambil alih pekerjaannya," dari seberang parkiran ia melihat Alyssa berlari ke arahnya, ia pun melambaikan tangannya. "Nanti Pak Harry akan menanyakan kesediaan kita untuk menyelesaikan pekerjaan Surya, dan kau harus menyanggupinya. Gue udah menghitung dana kita, semua sempurna." Kurang dari satu menit Alyssa sudah ada di pelukannya. "Morning, babe." Nadi mengecup kedua pipi Alyssa, lalu kembali ke handphonenya. "Pokoknya begitu. Nanti loe kabarin gue kalau ada apa-apa. Bye." ia mematikan teleponnya saat Aaron berada di hadapannya mengecup pipi Nadi.
"Pagi-pagi dah sibuk banget," ucap Aaron.
"Aku titip Sofia ya," Nadi memasukan handphonenya ke tas dan ia menggandeng Alyssa.
"Dia aman bersama Harry," Aaron mengalungkan id card ke leher Nadi, agar dia bisa masuk ke sekolah putrinya. "Terima kasih banyak ya, Die. Sudah mau menemani Alyssa di acara sekolahnya."
"Sama-sama," Nadi meminta Alyssa untuk pamit dengan papanya sebab mereka harus segera masuk ke sekolah.
Sebetulnya ini hanya kebetulan saja, Nadi memang tidak berniat bertemu dengan Surya. Ia sudah memperdiksikan jika Surya akan mengamuk setelah mengetahui tagihan kartu kreditnya membengkak, dan Nadi tak ingin kena amuk Surya sehingga ia memilih untuk menemani Alyssa ke sekolah.
"Bye..." Nadi dan Alyssa melambaikan tangannya ke arah Aaron, kemudian mereka berdua masuk ke sekolah.
Aaron sendiri baru masuk ke mobil setelah Nadi dan putrinya masuk ke sekolah, ia berharap dengan kegiatan ini Nadi bisa lebih dekat dengan putrinya.
Alyssa menghentikan langkahnya ketika hendak masuk ke lapangan indoor. "Ada apa sayang?"
Alyssa menatap Nadi dengan lenuh harap. "Apa aku boleh memanggil Aunty dengan sebutan Mama?"
Nadi tersenyum sembari mengelus kepala Alyssa. "Tentu saja sayang, kau holeh memanggilku Mama."
Alyssa tersenyum senang dan menggandeng Nadi masuk ke lapangan.