Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup Digital Di Menteng
Indikator merah di sudut kanan bawah layar laptop Arkan berkedip dengan ritme yang konstan, memantulkan pendar cemas di kornea mata hijau zamrud sang CEO. Di dalam ruang rapat yang baru saja menyaksikan kejatuhan Baskoro Mahardika, atmosfer kemenangan korporat seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang dibawa oleh ancaman tak kasat mata.
Kinanti langsung bergerak mendekat, mengabaikan tumpukan berkas yang baru setengah dirapikannya. Otak sekretarisnya yang merangkap Direktur Operasional langsung mengenali jenis enkripsi yang tertera pada layar.
"Ini bukan peretasan biasa, Pak Arkan," desis Kinanti, jarinya menunjuk pada baris kode yang terus berjalan mencoba menjebol dinding pertahanan digital rumah Menteng. "Sistem pertahanan di rumah Menteng dirancang menggunakan teknologi militer berkode biometrik-dual. Tidak ada orang luar yang bisa memicu peringatan kegagalan enkripsi ini kecuali mereka memiliki salinan kunci sandi kuno dari dalam."
Arkan tidak membalas dengan kata-kata. Ia langsung menyambar ponselnya, menekan nomor panggilan cepat menuju kediaman Menteng. Panggilan pertama... hanya menyisakan nada sambung yang panjang. Panggilan kedua... nihil. Baru pada percobaan ketiga, suara Eyang Widya terdengar di seberang lini, namun suaranya terdengar tidak se-stabil biasanya.
"Arkan..." suara wanita tua itu berbisik, sangat lirih hingga Arkan harus menekan alat komunikasi di telinganya lebih dalam. "Jangan pulang lewat gerbang utama. Ada... ada yang mematikan sirkuit pemutus arus di paviliun belakang."
"Eyang? Apa Eyang aman?" tanya Arkan, rahangnya mengetat sempurna.
"Eyang aman di kamar dalam, terkunci dengan sistem manual. Tapi kotak beludru hitam itu... kitab Serat Jayaning Mahardika... getarannya mendadak lenyap, Arkan. Seolah ada sesuatu yang menekan energinya dari luar ruangan," setelah kalimat itu selesai diucapkan, sambungan telepon mendadak terputus dengan suara desis statis yang tajam.
Arkan menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya kini sedingin es di puncak kutub. Ia menatap Kinanti, dan tanpa perlu satu kata pun terucap, Kinanti sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Saya akan siapkan mobil di basemen khusus, Pak. Kita gunakan jalur belakang lewat memotong area Cikini agar terhindar dari kemacetan siang," ujar Kinanti taktis.
Perjalanan menuju Menteng terasa seperti perlombaan melawan waktu yang melambat. Arkan menyetir dengan kecepatan yang nyaris melewati batas aman jalanan kota. Di sampingnya, Kinanti terus memantau pergerakan data di tabletnya.
Tanda lingkaran konsentris di pergelangan tangan kanan Kinanti mulai terasa hangat kembali. Hangat yang berbeda dari malam di depan perapian; kali ini rasanya seperti denyutan peringatan. Sebuah alarm mistis yang terikat langsung dengan detak jantung Arkan.
"Pak, peretasnya berhasil mengisolasi ruang penyimpanan bawah tanah," lapor Kinanti dengan nada mendesak. "Mereka tidak mencuri data lewat jaringan internet luar. Mereka menundukkan sistem dari dalam (on-site breach). Artinya, si penyusup saat ini benar-benar sedang berdiri di dalam perpustakaan bawah tanah rumah Eyang."
Arkan memukul kemudi dengan tangan kanannya. "Baskoro hanya pengalihan isu. Dia sengaja membuat kegaduhan di dewan komisaris agar perhatian seluruh tim sekuriti internal kita tertuju ke Mahardika Tower, meninggalkan Menteng dalam kondisi penjagaan minimal."
"Tapi siapa yang tahu tentang letak perpustakaan itu selain keluarga inti, Pak?" tanya Kinanti, matanya masih terpaku pada layar tablet yang menampilkan denah rumah Menteng yang perlahan-lahan kehilangan indikator hijau penanda aman.
Arkan terdiam. Sumpah Darah 1845 tidak hanya mengikat satu orang, melainkan seluruh cabang silsilah. Jika Baskoro bergerak demi uang dan takhta korporat, maka ada pihak lain yang bergerak demi kekuatan mistis murni di dalam kitab tersebut. Pihak yang mungkin selama ini berpura-pura tidak peduli pada saham perusahaan, namun mengincar kendali atas kutukan itu sendiri.
SUV hitam itu meluncur senyap memasuki gerbang belakang kediaman Menteng yang pintunya sudah sedikit menganga—sebuah pemandangan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah rumah pelindung tersebut.
Kinanti turun lebih dulu, memegang sebuah alat kejut listrik portabel di saku blusnya, sementara Arkan berjalan di sampingnya dengan langkah yang lebar dan intimidatif. Suasana rumah besar itu sangat sunyi, hanya ada suara gemerisik daun pohon beringin tua di halaman samping yang tertiup angin siang.
Mereka melangkah melewati koridor panjang menuju paviliun belakang, tempat pintu rahasia perpustakaan bawah tanah berada. Begitu mereka sampai di depan pintu kayu jati kuno yang menyembunyikan tangga turun, Kinanti menahan napas. Pintu itu sudah terbuka. Engsel besinya yang berat tampak rusak, seperti dipaksa terbuka menggunakan alat berat pemotong hidrolik.
Arkan melangkah turun lebih dulu ke dalam kegelapan tangga batu, diikuti oleh Kinanti yang terus menjaga jarak sedekat mungkin agar tanda pelindung di tangannya tetap aktif memayungi jiwa manusia Arkan.
Di dalam perpustakaan bawah tanah, suasananya berantakan. Ratusan buku kuno dan gulungan kertas silsilah berserakan di atas lantai marmer hitam. Di tengah ruangan, tepat di atas meja altar tempat kotak beludru hitam biasanya diletakkan, berdiri sesosok bayangan manusia yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan topeng taktis penutup wajah.
Di tangannya, orang itu memegang sebuah perangkat pemindai digital portabel yang sedang menyalin isi halaman-halaman kuno Serat Jayaning Mahardika.
"Angkat tanganmu dan menjauh dari meja itu," suara Arkan menggema di dalam ruangan bawah tanah, dingin dan sarat akan ancaman pembunuhan.
Si penyusup tersentak, namun ia tidak panik. Ia perlahan menurunkan perangkat pemindainya, lalu berbalik menghadapi Arkan dan Kinanti. Di balik lubang topengnya, sepasang mata berwarna cokelat terang menatap mereka dengan kilatan yang penuh dengan ejekan.
"Arkananta Mahardika... dan Sang Penjaga Takdir yang baru," suara si penyusup terdengar aneh, seperti disamarkan oleh alat pengubah suara elektronik (voice changer). "Kalian datang lebih cepat dari perkiraanku. Baskoro benar-benar orang tua yang tidak bisa diandalkan untuk menahanmu lebih lama di ruang rapat."
Kinanti melangkah maju satu langkah, berdiri sedikit di depan Arkan. "Siapa kamu? Untuk apa kamu menyalin isi serat itu?"
Si penyusup terkekeh, sebuah suara mekanis yang tidak menyenangkan. "Isi serat ini adalah cetak biru dari Sumpah 1845, Nona Kinanti. Kalian mengira dengan mengunci Baskoro, ancaman terhadap takhta Mahardika sudah selesai? Bodoh. Sumpah ini adalah sebuah kesepakatan dua arah. Jika garis keturunan utama menemukan pelindungnya... maka faksi penyeimbang harus mengambil alih bagian gelap dari sumpah tersebut."
Dengan gerakan yang sangat cepat, si penyusup melempar sebuah tabung kecil ke atas lantai marmer.
BOOM!
Tabung itu meledak, memuntahkan kabut asap putih yang sangat pekat disertai dengan aroma belerang yang menusuk hidung. Ruangan bawah tanah seketika menjadi gelap gulita karena pandangan yang terhalang total oleh asap tebal.
"Pak Arkan!" teriak Kinanti panik, ia langsung berputar mencoba menggapai tubuh Arkan di dalam kabut asap.
Di tengah kegelapan, Kinanti merasakan sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan kasar—tepat di atas tanda lingkaran konsentris emasnya. Sebuah sengatan dingin yang luar biasa seperti es batu mendadak menjalar masuk ke dalam tubuh Kinanti, mencoba memutus aliran energi pelindungnya.
Meong!!!
Sebuah jeritan kucing yang sarat akan rasa sakit terdengar dari sudut ruangan. Kabut asap mulai membuat kelembapan di dalam ruang bawah tanah melonjak drastis.
Kinanti menyadari dengan horor yang mendalam: si penyusup tidak datang untuk mencuri kitab secara fisik, melainkan untuk menyerang tanda pelindungnya agar Arkan kembali rentan terhadap kutukan. Dan kali ini, musuh mereka tahu persis bagaimana cara menetralisir kekuatan Sang Penjaga Takdir.