NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku juga bisa lelah

Merasa diabaikan oleh Nyonya Margaretha, Olivia berusaha mencari perhatian. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

”Nenek sudah siap? Kapan kita berangkat?” tanyanya lembut.

Nyonya Margaretha membalas dengan senyuman tipis. Namun, alih-alih menjawab Olivia, ia justru menoleh ke arah Luna.

“Luna.”

“Ya, Nyonya.”

Luna segera menghampiri sambil membawa tas milik Nyonya Margaretha.

“Ayo,” ucap Nyonya Margaretha singkat.

Tanpa berkata apa pun lagi kepada Olivia, Nyonya Margaretha melangkah keluar mansion, diikuti Luna yang berjalan mengantarkan samapai didepan.

Sementara itu, setelah menyelesaikan sarapan, Damian bangkit dari kursinya. Tanpa sepatah kata kepada Valerie, ia langsung meninggalkan meja makan dan melangkah keluar untuk berangkat ke kantor.

Valerie hanya memandangi punggung pria itu hingga menghilang dari pandangan. Kini ia memahami, kehangatan yang Damian tunjukkan tadi hanyalah untuk menyenangkan hati Nyonya Margaretha. Begitu sang nenek tak lagi berada di dekat mereka, Damian kembali menjadi sosok yang dingin dan menjaga jarak.

Valerie menunduk sejenak, ia tak ingin lagi membiarkan hatinya berharap. Ucapan Damian yang pernah menyakitinya masih membekas, cukup untuk mengingatkannya agar tidak kembali menaruh harapan pada pria yang belum mampu membuka hatinya.

“Hanya enam bulan saja.”

“Setelah itu, aku bisa memulai hidupku yang baru.”

Valerie bangkit dari tempat duduknya, lalu ia keluar dari mansion. Mobil yang telah menunggunya perlahan melaju meninggalkan halaman rumah, mengantarkannya menuju kampus.

Matahari mulai condong ke ufuk barat. Cahaya keemasannya menyelimuti halaman kampus, sementara angin sore berembus sejuk, mengantikan panas yang sejak siang menyengat.

Valerie baru saja menyelesaikan praktik di laboratorium. Setelah berpamitan dengan dua sahabatnya di halaman kampus, mereka berpisah dan berjalan menuju tujuan masing-masing.

Seperti biasa, Valerie melangkah ke depan gerbang untuk menunggu Pak Boby yang akan menjemputnya.

Namun, baru beberapa saat berdiri, seseorang tiba-tiba muncul dari belakang. Sehelai saputangan menutup rapat hidung dan mulutnya.

“Mmph...!”

Valerie berusaha memberontak. Tangannya mencoba melepaskan saputangan itu, tetapi aroma menyengat yang terhirup membuat kepalanya seketika terasa pusing. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya kehilangan tenaga, hingga semuanya berubah gelap.

Melihat Valerie tak lagi sadar, beberapa pria bertopi dan bermasker bergerak cepat. Mereka mengangkat tubuh Valerie, lalu memasukkannya ke dalam sebuah mobil berwarna hitam yang telah menunggu di tepi jalan.

Pintu mobil ditutup rapat.

BRAK!

Mesin segera dinyalakan, lalu mobil melesat meninggalkan area kampus dengan kecepatan tinggi.

Di dalam mobil, salah seorang pria mengambil tas Valerie. Ia mengeluarkan ponsel gadis itu, lalu meraih tangan Valerie yang masih tak sadarkan diri. Dengan memanfaatkan sidik jari Valerie, layar ponsel berhasil terbuka. Pria itu segera mengetik sebuah pesan.

‘Pak Boby, saya keluar bersama teman saya. Bapak pulang dulu saja, nanti saya pulang sendiri.’

Pesan itu langsung dikirim menggunakan ponsel Valerie.

Tak lama kemudian, Pak Boby tiba di depan gerbang kampus. Ia menghentikan mobilnya dan mencari sosok Valerie di antara mahasiswa yang mulai meninggalkan area kampus.

“Nona Muda kemana ya, biasanya sudah menunggu disini?” gumamnya pelan.

Saat itulah ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.

Pak Boby membaca isi pesan dari Valerie. Keningnya langsung berkerut. Selama ini Valerie tidak pernah pergi tanpa memberi tahu secara langsung atau tanpa diantar olehnya. Ini adalah pertama kalinya hal seperti itu terjadi.

Meski perasaan tidak enak mulai mengusik hatinya, Pak Boby tidak memiliki alasan untuk mencurigai apa pun. Setelah menunggu beberapa menit dan memastikan Valerie tidak kunjung muncul, ia akhirnya masuk kembali ke dalam mobil.

Dengan hati yang masih dipenuhi kebingungan, Pak Boby pun memutuskan pulang terlebih dahulu, mengikuti pesan yang dikirim dari ponsel Valerie, tanpa menyadari bahwa gadis itu telah diculik.

Rasa dingin yang menyentuh wajahnya membuat Valerie tersentak, air mengalir dari pipinya hingga membasahi lehernya. Dengan napas memburu, ia membuka mata perlahan.

Pandangannya masih buram. Saat penglihatannya mulai fokus, ia mendapati Damian, Nyonya Margaretha, dan Olivia berdiri di depan ranjang. Di tangan Olivia tergenggam sebuah gelas yang kini telah kosong.

Valerie mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya masih terasa berat.

“Kalian?”

“Apa yang terjadi?” gumamnya lirih.

Ia menoleh ke sekeliling. Ruangan itu sama sekali tidak dikenalnya. Dinding mewah, aroma pengharum ruangan yang asing, serta tempat tidur berukuran besar membuat dadanya mulai dipenuhi kegelisahan.

Belum sempat ia memahami keadaan, matanya membelalak saat menyadari seorang pria asing tengah tertidur di sisi lain ranjang.

“AAA...”

“Siapa kamu?”

“Kenapa aku disini?!”

Dengan panik Valerie segera turun dari tempat tidur. Tubuhnya gemetar hebat. Ia memandang Damian dengan wajah penuh kebingungan.

“Damian?”

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

“A-aku pasti dijebak!”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

Valerie memegangi pipinya yang terasa perih. Air matanya langsung menggenang. Ia menatap Nyonya Margaretha dengan tatapan tak percaya.

“Nenek kenapa...?”

“Valerie?!”

Bentak Nyonya Margaretha.

“Kamu membuatku sangat kecewa!” matanya memerah, tangannya mengepal. “Jadi, begini sifat aslimu?... begini caramu menghargai kepercayaan kami?!”

Suara keributan itu membuat pria yang berada di atas ranjang perlahan membuka matanya. Ia duduk sambil berpura-pura kebingungan, lalu menatap semua orang yang berada di dalam kamar.

“Apa-apaan ini!” protesnya. “Siapa kalian?”

“Kenapa kalian masuk ke kamar ini dan menggangguku dan pacarku?”

Mendengar ucapan itu, wajah Valerie seketika memucat.

“Jangan!”

Valerie menggeleng kuat.

“Jangan dengarkan dia, jangan percaya dia!”

“Aku sama sekali tidak mengenal pria itu! Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa berada di kamar ini.”

”Damian... tolong percaya padaku, aku sudah dijebak!”

Namun, tidak ada seorang pun yang tampak memercayainya.

Damian hanya menatap Valerie dengan sorot mata dingin bercampur kemarahan. Tatapan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun. Sementara Nyonya Margaretha terus melontarkan caci maki yang menusuk hati.

“Dasar... perempuan tidak tau malu!”

“Selama ini kami tertipu wajah lugumu, dan berpura-pura menjadi menantu yang baik.”

“Jadi begini balasanmu terhadap keluarga kami?!”

“Kamu telah merusak reputasi keluarga kami, kamu tidak pantas menjadi istri Damian.”

“Aku tidak ingin melihat wajahmu didepanku lagi, jangan pernah muncul di hadapan ku!”

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Margaretha bagaikan belati yang menghujam hati Valerie. Saat itulah Valerie benar-benar menyadari satu hal, ia kini telah dijebak.

Tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan, Damian berbalik meninggalkan kamar. Nyonya Margaretha dan Olivia mengikuti di belakangnya.

Pintu kamar ditutup dengan keras.

BRAK!

Kini Valerie hanya berdua dengan pria asing itu.

Pria tersebut menoleh ke arah Valerie. Senyum tipis penuh kemenangan terukir di sudut bibirnya, seolah puas karena rencananya berjalan sempurna.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia bangkit dari ranjang, merapikan pakaiannya, lalu berjalan keluar meninggalkan kamar.

KLIK.

Pintu kembali tertutup, keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Kedua kaki Valerie kehilangan tenaga. Tubuhnya ambruk di sisi ranjang. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.

“ARGHH...”

Valerie berteriak prustasi, tangannya menutup kedua telinganya.

“Kenapa...?”

Valerie terisak lirih.

“Kenapa tidak ada yang percaya padaku?”

“Kenapa tidak ada yang mendengarkanku?”

“Kenapa?... kenapa?... KENAPAAA...?”

“Aku sudah kehilangan banyak hal, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. pantaskah aku hidup begini?”

Air mata mengalir tanpa henti.

“Mengapa keberuntungan tidak pernah berpihak kepadaku sekali saja, mengapa?!”

“Aku sangat lelah.”

Dengan tangan yang gemetar, ia memeriksa pakaiannya. Kancing-kancing bajunya masih utuh, rok yang dikenakannya masih rapi. Ia mulai menyadari tidak ada sesuatu yang janggal dan seluruh pakaiannya masih lengkap.

Valerie sedikit mengembuskan napas lega. Ia mulai percaya bahwa pria asing itu belum sempat menyentuh tubuhnya. Namun, kelegaan itu tidak mampu menghapus luka di hatinya. Nama baiknya telah hancur di depan orang-orang yang paling ingin ia yakinkan.

Valerie memeluk kedua lututnya erat. Isak tangisnya semakin keras, menggema di seluruh sudut kamar hotel yang kini terasa begitu dingin dan menyesakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!