Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA YANG TERSUSUN RAPI.
Keheningan yang damai kembali merayap di dalam ruang tamu mansion setelah kebenaran masa lalu terucap dari bibir sang Kakek. Davina masih berdiri mematung, meresapi setiap kalimat yang baru saja ia dengar. Matanya beralih menatap Barra, mencari konfirmasi atas rahasia besar yang selama dua tahun ini dipendam dengan rapat oleh suaminya.
Barra melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka lalu menggenggam kedua tangan Davina yang terasa hangat.
"Apa yang dikatakan Kakek itu benar, Vina," ucap Barra, suaranya bariton, terdengar begitu lembut dan penuh penyesalan. "Dua tahun lalu, posisi Alfarizi Group belum sekuat sekarang. Asnita dan jaringan keluarganya terus mencari celah untuk menjatuhkanku dari kursi CEO. Jika saat itu aku memperlakukanmu seperti ratu di depan publik, mereka akan langsung membidikmu untuk menghancurkanku."
Davina menghela napas panjang, setitik air mata yang sempat menggenang di sudut matanya perlahan luruh, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. "Jadi... sikap dinginmu, ketidakhadiranmu di rumah ini, dan semua batasan kaku di lembar kontrak itu... hanya sandiwara untuk melindungiku?"
"Benar, cucuku," sahut Sanjaya sambil berjalan mendekati sofa dan mendudukkan tubuh tuanya dengan perlahan. Ia meletakkan tongkat peraknya di samping sandaran tangan. "Barra bahkan menempatkan sepuluh pengawal rahasia di sekitar mansion ini tanpa kamu sadari. Setiap kali kamu pergi ke kantor redaksi, mereka selalu mengawasi dari kejauhan. Kakek yang memerintahkan Barra untuk bersikap kejam di atas kertas kontrak, agar Asnita percaya bahwa pernikahan kalian murni karena keterpaksaan bisnis dan tanpa cinta."
Davina menoleh ke arah Sanjaya, lalu tersenyum tulus. "Davina mengerti sekarang, Kakek. Maafkan Davina yang sempat berpikiran buruk tentang rencana Kakek dan Barra selama ini."
"Kamu tidak salah, Nak. Wajar jika kamu merasa terluka," balas Sanjaya dengan senyuman hangat, lalu melirik ke arah cucunya yang masih menempel ketat di sisi Davina. "Tapi sekarang, monyet-monyet pengganggu itu sudah Kakek bersihkan. Posisi Barra di perusahaan sudah mutlak dan tidak bisa digoyahkan lagi. Itulah kenapa Kakek memberikan lampu hijau bagi Barra untuk menjemputmu kembali dan membakar kontrak bodoh itu."
Barra terkekeh pelan melihat pembelaan sang Kakek untuk istrinya. Ia menuntun Davina untuk ikut duduk di sofa panjang, tepat berhadapan dengan Sanjaya.
"Lalu, bagaimana dengan kedatangan Ayah dan Asnita tadi, Kakek?" tanya Davina, raut cemas kembali sedikit membayangi wajahnya. "Apakah ancaman Barra tentang penghapusan saham itu tidak akan memicu masalah baru di dalam keluarga?"
Barra langsung menyahut sebelum kakeknya sempat berbicara. "Jangan cemaskan pria tua itu, Vina. Ayah tidak akan berani melangkah lebih jauh selama Kakek masih memegang hak veto. Saham yang ia miliki sekarang hanyalah sisa pembagian dari mendiang ibuku, dan ia tahu betul aku bisa membekukannya kapan saja melalui jalur hukum jika ia kembali mengusikmu."
"Barra benar, Davina," timpal Sanjaya sambil mengangguk tegas. "Surya itu hanya besar di mulut, tapi nyalinya sekecil tikus jika berhadapan denganku. Yang perlu kita waspadai sekarang adalah Asnita. Wanita licik itu pasti akan menggunakan putranya, Bagas, untuk mencari simpati dari para pemegang saham minoritas."
Barra mendengus meremehkan, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil merangkul posesif bahu Davina. "Biarkan saja mereka mencoba, Kakek. Ferdi sudah memegang semua data transaksi ilegal yang dilakukan Bagas di kelab malam menggunakan uang operasional anak perusahaan. Begitu mereka bergerak seujung kuku saja, aku akan langsung menyerahkan berkas itu ke kejaksaan."
Mendengar betapa matangnya persiapan Barra dalam melindungi posisinya dan Davina, Sanjaya tampak sangat puas. Pria tua itu tertawa renyah, menepuk lututnya sendiri. "Bagus! Itu baru cucu seorang Sanjaya Alfarizi. Selalu selangkah lebih maju daripada musuh."
Suasana menegangkan yang sempat mendominasi mansion kini telah berubah total menjadi obrolan keluarga yang hangat dan penuh keakraban. Setelah berbincang cukup lama mengenai rencana jangka panjang perusahaan dan janji Barra untuk mengaspal jalanan desa Nenek, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Sanjaya bangkit berdiri dari sofanya, meraih kembali tongkat peraknya dibantu oleh salah satu pengawal setianya.
"Baiklah, Kakek harus pulang sekarang. Tubuh tua ini sudah butuh istirahat di kediaman utama," ucap Sanjaya sambil tersenyum penuh arti menatap Barra dan Davina bergantian. "Lagipula, Kakek tidak mau mengganggu waktu berdua kalian yang sempat tertunda di desa kemarin malam, bukan?"
Wajah Davina seketika merona merah padam mendengar sindiran halus dari sang Kakek. Ia buru-buru menundukkan kepala, pura-pura merapikan gamisnya karena salah tingkah yang luar biasa.
Barra justru tersenyum lebar tanpa rasa malu sedikit pun. Ia ikut berdiri dan menjabat tangan kakeknya dengan takzim. "Terima kasih atas pengertiannya, Kakek. Hati-hati di jalan."
"Jaga istrimu baik-baik, Barra. Jangan buat Kakek menyesal telah memberikan restu penuh," bisik Sanjaya tegas sebelum melangkah keluar meninggalkan ruang tamu, diiringi lambaian tangan hormat dari Davina.
Setelah mobil sedan mewah yang membawa sang Kakek bergerak pergi membelah kegelapan malam, pintu mansion kembali dikunci rapat oleh pengawal dari luar. Ruang tamu yang luas itu kini mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan Barra dan Davina yang berdiri berdua di bawah temaram lampu kristal.
Barra membalikkan badannya, menatap Davina dengan sepasang mata elang yang kini memancarkan kilatan gairah dan kerinduan yang sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. Segala penghalang, mulai dari ancaman Silfany, intervensi orang tua, hingga dinding papan tipis di rumah Nenek, kini telah lenyap tanpa sisa.
Pria itu melangkah perlahan mendekati Davina, membuat jantung Davina kembali berdegup kencang dengan ritme yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya.
"Barra..." bisik Davina lirih, melangkah mundur satu langkah hingga tumitnya menyentuh pinggiran anak tangga pertama menuju lantai atas.
Barra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyergap pinggang ramping Davina, mengangkat tubuh mungil istrinya ke dalam gendongan bridal secara spontan, membuat Davina terpekik kaget dan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Barra.
"Ketahananku sudah habis, Nyonya Alfarizi," bisik Barra dengan suara bariton yang sangat rendah dan serak tepat di depan bibir Davina, sebelum membawa langkah kakinya menaiki anak tangga dengan cepat menuju kamar utama mereka untuk memulai malam yang sesungguhnya.