Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Flashback
"Dimana Abhi?" tanya Ares sambil memakan makanannya.
Ara yang sedari tadi hanya mempermainkan minumannya saja mengendikkan bahu cuek.
Sebelah alis Ares terangkat naik dengan heran. "Kenapa? Kalian bertengkar?"
"Tidak."
Ares mengangguk lalu menatap Ara lagi. "Aku penasaran dengan sesuatu."
"Apa?"
"Kau dan Abhi pacaran?"
Hening.
Gadis itu terdiam bingung harus menjawab apa karena sebenarnya ia pun tidak tahu. Meski Abhi mengatakan terang-terangan bahwa mereka sepasang kekasih, tapi Ara tidak yakin dengan hal itu.
"Entahlah," jawabnya.
"Hah?"
Ara mendengus dan memutar matanya malas. "Cepat habiskan makanmu. Aku ingin kembali kekelas."
"Sensitif sekali. Lagi PMS?" cibir Ares pelan tapi Ara mengabaikannya. Kemudian seolah teringat sesuatu Ares langsung melihat Ara lagi. "Oh iya. Apa Abhi sedang sakit akhir-akhir ini?" tanya Ares lagi.
"Kurasa tidak. Kenapa?"
"Kau tahukan kalau bibi-ku masuk rumah sakit? Dan sudah hampir seminggu ini juga aku selalu menjenguknya sehabis pulang sekolah."
"Lalu?"
"Kupikir awalnya aku salah lihat, tapi setelah ku perhatikan lagi. Aku yakin itu Abhinara yang aku lihat dirumah sakit sudah hampir seminggu ini," lanjut Ares lagi dengan raut wajah serius.
"Yang benar? Kau yakin tidak salah lihat?" tanya Ara memastikan.
Ares mengangguk yakin. "Iya! Aku yakin 100% itu Abhinara!"
Langsung saja Ara berdiri dari tempatnya dan membuat Ares terheran-heran. "Kau mau kemana?"
"Mencari Abhi. Mungkin dia memang sedang sakit, setidaknya aku harus tahu sakit apa," jawab Ara kemudian mulai memacu langkahnya kembali kekelas.
Setibanya dikelas, Ara tidak melihat sosok yang dicarinya. Dimana anak itu?
"Nia, kau lihat Abhi?" tanya Ara saat melihat Nia sedang bercanda dengan kekasihnya.
"Tidak. Kupikir dia bersamamu," jawab Nia.
"Oh..baiklah," Ara kembali memacu kakinya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dimana Abhi berada.
Ini hanya tebakannya saja tapi sepertinya Abhinara senang sekali memandang ke arah langit akhir-akhir ini.
Berarti hanya satu kemungkinan.
Atap sekolah.
Dengan semangat, Ara berlari menuju atap sekolah.
Nafasnya mulai tersengal-sengal saat ia menaiki tangga yang ketiga. Sial! Ia merutuki orang yang membangun sekolah ini hingga bertingkat 5.
Setidaknya buatlah lift! Bisa berotot betisnya nanti lama-lama.
Setelah sampai tepat di pintu atap, Ara menghapus keringatnya dan mengatur nafasnya. Tangannya hendak menggenggam kenop pintu kalau saja ia tak mendengar pekikan dari balik pintu atap tersebut. Keningnya mengernyit bingung, perlahan tangannya membuka pintu itu sedikit hingga ia bisa melihat Abhi tengah menelpon seseorang. Samar-samar ia mendengar percakapan mereka.
"Apa?! Abhi sudah sadar?!"
Huh? Apa maksudnya itu?
"Iya, bu. Aku akan kerumah sakit sekarang."
Tepat saat Abhi memutuskan panggilannya ia langsung berlari menuju pintu dan membuat Ara kaget. Untung saja ada lemari besar yang diletakkan disitu, hingga ia dapat segera bersembunyi.
Setelah merasa aman, perlahan gadis itu keluar dari persembunyiannya dengan wajah blank. Pikirannya masih mencerna ucapan yang ia dengar tadi.
"Apa maksudnya Abhi sudah sadar? Kenapa ia menyebut namanya sendiri?"
Dengan perasaan bingung dan campur aduk, Ara kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya
(Dikelas)
"Hey, darimana kau?" tanya Ares heran saat melihat sahabatnya itu kembali dengan raut wajah bingung.
"Ares, kau melihat Abhi dirumah sakit apa?"
"Dirumah sakit XXX. Kenapa?"
"Tolong ijinkan aku sakit, oke?" ujar Ara dan langsung mengambil tasnya kemudian melesat ketempat parkir. Beruntung ia memutuskan membawa motor hari ini.
Ara memacu motornya secepat mungkin menuju rumah sakit yang disebutkan Ares tadi. Hingga hanya membutuhkan waktu 15 menit ia sudah tiba. Ia memarkir motornya agak jauh, sembari matanya mencari sesuatu ditempat parkir.
Matanya berhenti pada mobil lamborghini yang sering dipakai Abhi dan sepupunya. Jadi benar Abhi kerumah sakit ini.
Ara ingin masuk dan mencari tahu tapi ia takut ketahuan. Ia takut Abhi akan marah padanya karena mencampuri urusannya. Tapi dia khawatir, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja di cafe seberang jalan. Ia mencari posisi yang nyaman agar bisa terus memantau Abhi.
Hingga satu jam berlalu, akhirnya sosok yang ditunggunya pun keluar dari dalam rumah sakit tersebut. Ia berjalan santai diikuti seseorang dari belakang yang terlihat seperti bawahannya.
Bawahan?
Bukankah mereka bilang Abhinara dari keluarga biasa saja? Tidak bermaksud menghina hanya saja, hal ini mulai terasa janggal. Ditambah lagi Ara melihat pria yang sepertinya berumur 40-an itu menunduk hormat pada Abhi. Seolah-olah Abhi adalah majikannya.
Keningnya kembali berkerut heran. Pikirannya kembali melayang ke saat Abhinara yang telah kembali setelah menghilang 3 hari. Saat itu sikap dan cara bicaranya berubah 100%, bahkan ia jarang sekali tersenyum tidak seperti dulu.
Selain penampilannya yang terlihat berbeda, Abhi juga jadi lebih berani untuk membalas setiap siswa yang membullynya. Dia bahkan membawa mobil ke sekolah. Bukankah aneh seorang anak biasa saja yang bahkan dikategori penerima beasiswa mampu membeli mobil edisi terbatas yang harganya pasti mahal bukan main?
Jadi dengan begitu kesimpulan yang diambil Ara adalah:
1. Abhinara bukan anak dari kalangan biasa saja seperti yang orang-orang kira selama ini.
2. Abhinara mungkin anak orang penting yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
3. Apa mungkin dia bukan Abhinara?
Oke, kesimpulan yang ketiga terdengar tidak masuk akal. Tapi jika mengingat kejadian tadi di atap sekolah, hal itu bisa saja kan?
Tapi tunggu,
Jika Abhinara bukanlah Abhinara yang sebenarnya. Lalu dia siapa? Masa iya dia punya kembaran.
Setahu Ara, Abhi itu anak tunggal. Tapi ada kemungkinan juga jika Abhi punya kembaran, kan?
Tapi bisa juga—
"Aaaaaarghhhh! Sial! Memikirkannya terus membuat kepalaku serasa akan pecah!" Gerutu Ara sebal sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Flashback End
***
"Berkali-kali aku terus memikirkannya, berkali-kali pula aku selalu sampai pada kesimpulan yang sama. Aku berusaha menolak logikaku yang mengatakan kau bukanlah Abhinara, tapi tidak bisa. Kau terlihat seperti Abhi tapi kau bukan Abhi! Ini gila sungguh! Aku bahkan menertawakan diriku sendiri karena berimajinasi terlalu jauh. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak sebodoh itu. Jadi, katakan padaku siapa kau sebenarnya?"
Biyan yang tadinya terkejut kini menormalkan ekspresinya kembali. Ia menarik nafas panjang, berfikir jalan apa yang harus diambil. Memberitahukan yang sebenarnya pada gadis itu atau meneruskan kebohongan ini?
Karena sejujurnya ia belum berencana untuk memberitahu Ara perihal identitasnya yang sebenarnya.
Tapi sudah terlanjur ketahuan begini, mengelak pun akan sama saja akhirnya.
Biyan menimbang-nimbang konsekuensi apa yang akan dihadapinya nanti jika ia mengambil keputusan berbeda.
"Beritahu aku. Agar aku bisa terus percaya dan membantumu, Abhi," lirih Ara pelan. Dan tepat setelah itu Biyan telah memutuskan.
"Ikut aku," kata Biyan tiba-tiba dengan raut waja datar sambil menarik tangan Ara menuju tempat parkir, membuat Ara keheranan setengah mati.
Kali ini kemana lagi ia dibawa?
"Hey! Kita akan kemana? Kau belum menjawabku!" protes Ara sambil berusaha melepaskan genggaman Biyan tapi percuma.
Ara terus saja menggerutu dan berbicara tanpa henti bahkan ketika mereka sudah tepat berada disamping mobil Biyan, membuat remaja itu jadi panas sendiri.
"Abhi! Kenapa kau diam saja! Setidaknya ka—Hmmmmmpppt!" Biyan langsung membungkam bibir manis itu dengan bibirnya. Membuat Ara terkejut setengah mati, matanya bahkan membola kaget.
Biyan melepas ciuman singkatnya itu sambil menatap simanis yang masih dalam mode syok.
"A-Apa yang kau lakukan?! Kau gila?! Ini dilingkungan sekolah, bodoh!" umpat Ara kesal dan malu. Wajahnya bahkan sudah memerah.
"Aku mendiamkanmu dengan cara yang sexy," jawab Biyan santai.
"Apa?!"
"Kalau kau terus mengoceh. Akan ku kawini kau disini sekarang juga hingga kau tak bisa berjalan selama sebulan," ancam Biyan yang langsung membungkam Ara telah dengan wajah yang semakin memerah. Shit! Tidak bisakah dia mencari kata lain yang tidak vulgar?
"Anak pintar. Sekarang ayo masuk," kata Biyan yang telah membuka pintu mobilnya menunggu si manis masuk. Setelah itu ia menutup pintunya dan berlari kecil menuju jok kemudi. Biyan menstater mobilnya lalu mulai berjalan meninggalkan pekarangan sekolah.
"Tas kita bagaimana?" cicit Ara pelan.
Heck..! Ia masih takut dengan ancaman Biyan tadi.
Biyan sendiri tertawa dalam hati melihat reaksi gadis manisnya ini yang jadi begitu penurut, membuatnya semakin gemas dan ingin memakannya sekarang juga.
"Kak Dean akan membawanya," sahut Biyan datar.
Setelah itu hening, Ara lebih memilih melihat keluar jendela sementara Biyan sibuk fokus kejalan, meskipun sesekali ia melirik gadis manisnya ini.
20 menit kemudian.
Ara mengernyit heran. Untuk apa Biyan membawanya kerumah sakit ini lagi?
"Ayo turun," titah Biyan yang langsung diikuti oleh Ara. Kemudian Biyan kembali menarik tangan Ara—tidak! Lebih tepatnya menggenggam tangan Ara menuju Lift.
Setelah didalam lift, Ara melihat Biyan menekan angka 7.
Loh? Itukan lantai VIP? Batin Ara heran.
"Kenapa kita kerumah sakit? Kau sakit?" tanya Ara penasaran meskipun ia mulai cemas.
"Kau akan tahu nanti," ucap Biyan lalu memasukan tangannya yang masih menggenggam tangan Ara ke saku celananya. Membuat gadis itu kini menempel sempurna pada tubuh Biyan.
Ara harus berusaha ekstra untuk menormalkan detak jantungnya yang sebentar lagi meledak. Ugh! Kenapa remaja itu senang sekali membuat dirinya berdebar-debar seperti ini?
Ting!
Pintu lift terbuka dan Biyan langsung kembali menarik Ara masih dengan posisi tangan didalam saku celananya.
Ara sampai harus menundukkan wajahnya malu ketika berpapasan dengan beberapa suster yang juga memandangi mereka.
"Le-lepaskan tanganku," pinta Ara pelan. Ia bahkan berusaha melepaskan genggaman Biyan tapi tangannya di genggam terlalu erat.
"Tidak."
"Tapi, aku malu!" desis Ara gemas dengan suara seperti berbisik.
"Abaikan saja mereka."
Setibanya didepan sebuah kamar bernomor 2016, Biyan mulai menarik nafasnya pelan dan Ara yang menatap pintu itu heran.
Biyan membuka pintu tersebut tapi tidak beranjak masuk, perlahan ia melepas genggamannya dan membuat Ara semakin heran.
"Masuklah dan kau akan menemukan jawabanmu," kata Biyan pelan.
Perlahan Ara melangkahkan kakinya masuk, awalnya ia ragu-ragu tapi rasa penasaran yang sudah menumpuk sejak kemarin sudah tak bisa ditahannya lagi.
Jadi dengan yakin ia meneruskan langkahnya masuk dan sedetik kemudian ia mematung ditempat. Matanya membulat seketika saat ia melihat siapa yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit itu.
Nafasnya tercekat sedetik kemudian. Otak kecilnya masih berusaha mencerna semua ini. Lagi-lagi logikanya berdebat dengan hatinya.
"Dia Abhinara yang sebenarnya dan dia adikku," kata Biyan yang sudah berada tepat dibelakang Ara.
Ara masih terlalu terkejut sampai tak bisa merespon perkataan Biyan sama sekali. Matanya terus saja menatap ke arah sosok yang katanya adalah Abhinara yang sebenarnya.
Ini sungguhan?!
Yang benar?!
Kok bisa?!
Kenapa Abhinara ada dua?!
Dan yang lebih mengejutkan, kenapa orang yang disebut sebagai Abhinara yang asli itu terbaring dirumah sakit?
Langkahnya semakin mendekat untuk melihat lebih jelas, memastikan bahwa matanya tidak menipu otaknya.
Sial! Itu benar-benar Abhinara. Lalu yang selama ini bersama mereka itu siapa?
Maka Ara langsung berbalik menghadap Biyan dengan raut wajah tak terbaca, "Jelaskan.
***
"Haishh! Sialan!" geram seorang wanita dengan kulit pucat bak porselen yang masih fokus mengendalikan laju mobilnya. Ia melirik kaca spion sekilas memastikan dimana posisi si pengejar.
Jalanan kota yang begitu ramai tidak menghentikan wanita itu untuk memelankan laju mobilnya. Lagipula ia memang sudah ahli dalam hal seperti ini jadi tak masalah.
Ia membelok masuk ke jalanan yang lebih kecil masih terus melajukan mobilnya. Hingga ia terkejut dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Membuatnya mau tidak mau langsung menginjak rem tiba-tiba.
Bunyi roda yang beradu dengan aspal begitu memekakkan telinga. Si wanita menutup matanya takut-takut, berharap ia tidak menabrak orang tersebut. Bisa panjang urusannya jika sampai ia membunuh seseorang. Apalagi ia baru saja tiba di kota ini.
Karena merasa tidak ada pergerakan, wanita itu turun dari mobilnya dan menuju ke arah depan untuk melihat keadaan orang tersebut. Kemudian ia menarik nafas lega saat melihat orang yang hampir ditabraknya hanya terduduk dengan ekspresi syok.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanyanya hati-hati. Orang yang hampir ditabrak tadi mengalihkan pandangannya pada si wanita. Mulutnya yang masih ternganga, membuat wanita itu cukup cemas. Jangan-jangan kepalanya sempat membentur bemper mobilnya hingga otaknya bergeser dan sekarang dia gila. Tidak masuk akal, tapi bisa jadikan?
Tapi bemper mobilnya tidak penyok atau tergores— fiuhh~ syukurlah.
"HEY! KAU GILA! KAU HAMPIR MEMBUNUHKU, BODOH!" teriak orang itu dengan wajah memerah, sepertinya ia marah bercampur syok.
Si wanita berjengit kaget saat mendengar suara melengking itu tapi sedetik kemudian ia menghembuskan nafas lega. Jika dia bisa berteriak sekencang itu, berarti otaknya masih normal kan?
Belum sempat ia menjawab, Wanita itu sudah mendengar suara beberapa mobil yang mendekat.
"Sial!" Tanpa basa-basi ia langsung menarik orang tadi untuk masuk kedalam mobilnya, kemudian ia sendiri masuk dengan buru-buru dan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"ASTAGA! KAU BENAR-BENAR GILA!" pekik orang itu lagi dengan histerisnya. Tapi si wanita tak memperdulikannya, ia masih fokus untuk melarikan diri dari para pengejar sialan itu.
Lagian kenapa pula ia menarik bocah ini untuk ikut serta ? Aishh! masalah baru lagi.
Aksi kejar-kejaran menggunakan mobil itu terus terjadi hingga satu jam lamanya, membuat si wanita mulai jengah.
Tidakkah mereka lelah?
Ia melarikan tangan kirinya mulai mencari sebuah nomor pada ponsel yang melekat di depannya lalu menunggu nada sambung, dan tidak lupa meloudspeakernya tentu saja.
"Halo—"
"Hey, bodoh! Bantu aku, cepat! Aku baru saja menginjakkan kaki di kota ini dan sekarang malah dikejar-kejar begini!" protesnya kesal.
"Hahhahha! Sial sekali sih nasibmu temanku."
"Berhenti tertawa atau ku bunuh kau, Neo! Sekarang bantu aku, carikan rute aman untuk kabur!"
"Okey sweety~sekarang dimana posisimu?"
"Mana aku tahu, bodoh! Lacak saja ponselku!"
"Aishh! Dasar pemarah. Pantas saja kau jomblo terus."
"Neo, Bicara omong kosong sekali lagi maka kau akan berjalan hanya dengan satu kakimu!"
"Astaga! Okey! Sabar! Aku sedang melacakmu sekarang! Ck! Wajah manismu itu tidak cocok dengan sifat galakmu tahu!"
Si wanita hanya mendengus jengkel dan memutar bola matanya malas.
"Wow..dia benar."
Shit! Ia lupa jika tak sendirian.
"Diam kau bocah!"
"Siapa yang kau bilang bocah?! Umurku sudah 17 tahu!"
"Yeah, dan aku 23."
"Hah?! Yang benar?! Tapi kau terlihat lebih muda dariku."
"Tch..berhenti sok akrab denganku."
"Hah! Kau sudah hampir menabrak ku dan sekarang kau menculik ku. Lalu apa masalahmu?!"
"Eve, kau tidak sendirian? Aku mendengar suara seseorang tadi."
Arghh! ?Double sial! Wanita yang dipanggil Eve itu lupa jika panggilannya masih tersambung. Maka ia langsung mengaktifkan headset wireless yang sedari tadi sudah melekat ditelinga kirinya. Memastikan kali ini pembicaraan mereka tidak terdengar.
"Jadi namamu Eve? Aihh manisnya~"
"Diam kau! Dan kau Neo, kenapa lama sekali?!" bentak Eve mulai kesal.
"Haishh! Sebentar lagi ada belokan. Kau masuklah kesana. Sisanya biar aku yang urus!"
"Oke."
Panggilan langsung terputus.
Seperti ucapan temannya tadi, Eve langsung berbelok masuk kedalam gang kecil tersebut dan memarkirkan mobilnya disana. Sesekali matanya melirik kaca spion, memastikan jika sahabatnya itu benar-benar bisa diandalkan.
Hingga setengah jam kemudian ia menarik nafas lega.
"Turunlah," perintah Eve pada pemuda yang masih duduk disampingnya ini.
"Enak saja! Kau sudah seenaknya menculikku setidaknya antarkan aku pulang!"
Eve memutar matanya malas. "Tch! Baiklah, dimana rumahmu?"
Setelah menyebutkan alamat rumahnya, Eve kembali menjalankan mobilnya menuju rumah pemuda itu.
"Kenapa kau dikejar-kejar?"
"Bukan urusanmu!"
"Aku hanya bertanya, galak sekali. Untung kau manis," gumamnya pelan.
"Kau bilang apa?!"
"Ti-tidak! hehehe."
Hampir 15 menit dan akhirnya mereka sampai disebuah gedung apartment.
"Turunlah."
"Iya..iya..ya ampun! Oh, iya. Hanya ingin kau tahu saja. Namaku Antares, panggil aku Ares saja," kata Pemuda itu yang ternyata adalah Ares sambil turun dari mobilnya.
"Aku tidak bertanya," jawab Eve dingin kemudian kembali melajukan mobilnya meninggalkan Ares yang mematung sambil senyum-senyum sendiri.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!