Sanaya dan Jordy terjerat cinta jarak dekat karena bertetangga sebelah rumah. Namun, mereka sulit untuk bersatu karena warisan kebencian turun temurun dari para leluhur keduanya. Sampai suatu saat mereka digrebek warga karena tanpa sengaja berada di dalam toilet mushola, yang akhirnya menyeret mereka dalam nikah dadakan.
Jordy mencari cara agar pernikahan mereka selesai dan terjadilah hal yang ajaib. Tiba-tiba Carla jatuh dan kejang-kejang menuju sekarat. Permintaan terakhir Carla adalah perceraian Sanaya dan Jordy saat itu juga. Keputusan apa yang akan diambil Jordy sebagai suami? Mampukah Sanaya menghadapi ibu mertuanya yang super ajaib itu?
Kisah ini menceritakan tentang percintaan dengan kemasan komedi, semoga bisa membuat kita yang membacanya terhibur dan mendapatkan hikmah dari setiap perjalanan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Camer Saling Hasut
Di rumah mama Carla.
"Jordy, mama gak mau kamu bawa perempuan itu ke rumah ini setelah kalian menikah nanti, ya. Pokoknya kamu aja yang pindah ke rumah dia," ucap mama Carla sambil bersiap.
Walaupun pernikahan Jordy tidak dia inginkan, tapi mama Carla tidak mau terlihat berantakan. Dia ingin tampil lebih cantik dari musuh bebuyutannya, itulah yang diinginkan mama Carla sekarang.
"Ya nggak bisa gitu lah Ma, apa kata dunia kalo aku tinggal di rumah Sanaya? Masa iya seorang laki-laki numpang hidup di rumah istrinya, yang benar sajalah, Ma? Yang ada nanti bukan hanya Emak Maya yang mencemoohkan keluarga kita tetapi semua warga akan ikut membuat Mama malu karena membiarkan anak tampan Mama ini pindah ke rumah istrinya." Jordy memprotes sang mama sambil memakai jas hitamnya.
"Dasar kamu ini terlalu memikirkan omongan orang lain! pokoknya kamu harus ingat akan satu hal kalau mama nggak mau si cenayang itu sampai makan nasi kita, trus lauk dan sayurnya juga. Gak sudi, gak rela dan gak redo deh pokoknya," kekeh Mama Carla mencerocos panjang dengan mulut berwarna merah menyala.
Ungkapan hati mama Carla sungguh membuat Jordy kesal, dia berpikir akan segera mencari rumah kontrakan untuk mereka tinggali sementara. Semoga saja Sanaya mau, itulah harapan Jordy. Hanya saja sepertinya waktu singkat di malam hari pula sangat tidak mungkin untuk mendapatkan rumah kontrakan yang ideal sesuai harapan. Belum lagi nanti setelah acara akad nikah, sudah pasti orang-orang akan sibuk makan di rumah Sanaya yang memang akan mengadakan syukuran karena Gadis itu mendapatkan kerja.
Persiapan mereka sudah selesai, kini mereka sudah siap untuk ke rumah sebelah tepatnya rumah calon besan lima langkah – Emak Maya.
Di rumah Emak Maya.
Sanaya hanya melamun pasrah, dirinya yang sudah lelah menangis kini merasakan lapar yang tak terhingga. Walaupun tatapannya kosong, tapi mulut gadis itu tidak berhenti mengunyah. Satu piring nasi dengan porsi jumbo sudah tandas dihabiskan, kini cemilan di toples yang tadinya penuh pun sudah habis setengah.
Berdasarkan kesepakatan, pernikahan ini digelar sederhana. Bu Dewi di minta untuk merias pengantin, dan disinilah wanita berstatus janda dan sahabat kedua orang yang akan jadi keluarga itu berada.
"Ya Allah Sanaya, kamu cantik banget … maklumlah ya gaes, periasnya Dewi gitu looh," narsis Bu Dewi penuh kepedean tingkat RT.
Tawa pun pecah di kamar Sanaya yang kini sedang dirias, gara-gara semua yang serba mendadak maka riasan pun terpaksa ala kadarnya tapi hasilnya masih tetap kece membahana untuk dilihat oleh mata kamera ponsel yang menyala.
"Iisshh tante Dewi ini, muji Aya atau muji diri sendiri, sih?" tanya Sanaya sambil mencebikkan bibir. Lipstik masih belum dipasang karena gadis itu belum selesai dengan kunyahannya demi mengisi sumatera bagian tengah yang selalu siap mengolah apa saja makanan yang ada.
Gadis itu memang sedikit berbeda karena setiap memiliki masalah maka mulutnya sangat pantang untuk berdiam tanpa kunyahan. Bahkan rasanya kalau bisa sirih yang menghasilkan warna merah darah pun mau ia kunyah. Kapan perlu cairan dari hasil kunyahan sirih itu disemburkan pada sang calon mertua yang pelitnya na’udzubillah.
"Loohh ini tante endorse loh, jadi wajar dong kalo kalimat promosi harus dipertegas. Tapi asli, Sanaya cuuuaantik bangeett, Jordy pasti bakalan ngangak mulutnya ampe lupa bernapas ini, pas ngelihat wajahnya Sanaya hehehe …," lanjutnya sembari mengacungkan dua jempol ke udara.
Dewi takjub dengan hasil karyanya sendiri, sementara Mak Maya tidak mengomentari apa pun juga karena jauah di dalam lubuk hati paling dalam … ia yakin anak gadisnya bukan perempuan murahan yang mau melakukan hal memalukan di dalam toilet mushola. Wanita itu sejak tadi hanya sibuk memijit kepalanya yang cekot-cekot tak berhenti.
Lama terdiam, akhirnya Emak Maya pun terpaksa mengeluarkan kata-kata demi memberikan sedikit petuah untuk putrinya sebelum menikah.
"Aya, kamu jangan mau ya kalo si Jordy itu numpang hidup sama kita. Kamu harus tegas, kamu yang harus ke rumah dia. Keruuuk semua hartanya, kalau bisa sampai mertuamu yang sok kaya itu jadi kere!" titah Mak Maya dengan mata yang mendadak berbinar.
Wanita itu sudah mendapatkan ide cemerlang, dia akan gunakan putrinya untuk memindahkan harta keluarga sang musuh ke rumahnya. Itulah ide brilian yang tadi keluar dari ujung otaknya yang paling dalam. Ternyata dua wanita paruh baya sama-sama memiliki pemikiran yang sejalan yaitu tidak mau menerima sang menantu di rumahnya.
"Mak, itu ide ori apa jiplakan, sih? Tumben aja emang ngajarin Ayah yang nggak bener, biasanya juga ngasih nasehat yang lurus-lurus aja biar dapat tiket masuk ke surga!" Sanaya bertanya tanpa ekspresi. Gadis itu sedang enggan untuk tersenyum, dia sudah kalut dengan pikirannya sendiri. Membayangkan malam ini si Jordy pasti bakalan langsung minta jatah gawangnya dijebol sampai bolong dan itu sungguh membuat hatinya nyeri, hingga bulu kuduknya sampai berdiri.
"Ya jelas ori lah, mana bisa otak cerdas Emakmu ini mengeluarkan hasil karya plagiat. Mak gak sudi kalo si Jontor itu makan dan tinggal ongkang kaki di rumah kita, bisa gempar kayangan dibuatnya. Leluhur kita akan turun semua ke bumi untuk berduka cita, Aya," omel mak Maya bak artis drama India. Bahkan Sanaya sendiri membulatkan mata melihat kejanggalan sikap emaknya saat ini.
“Emak, jangan ngomong kayak gitu napa? Anakmu ini sedang berduka karena terpaksa harus menikah dengan anak tetangga malam ini juga, padahal Aya inginnya dilamar oleh pria tampan yang datang berkuda putih lalu membawakan buket bunga ma–” Belum selesai Sanaya mengucapkan kalimat halunya terhadap sang Emak tercinta tetapi wanita paruh baya itu langsung menyambung kalimat putrinya.
“Lalu si Jontor datang ke sini membawa buket bunga kuburan!” sambung Mak Maya sinis.
Dewi yang menjadi pendengar hanya bisa geleng-geleng kepala, mana ada kayangan geger segala, disana kan udah pada tenang, kan? Belum lagi omongan Sanaya yang terlihat seperti seorang gadis frustasi ditinggal pergi sang kekasih. Padahal jelas-jelas malam ini Sanaya bakal diperistri tetangganya sendiri.
Pembicaraan super absurd pun terus berlangsung antara ibu dan anak itu, mereka berdua sudah sepakat akan membuat Jordy tidak betah berada di kediamannya. Sanaya pun sudah bersiap untuk menghadapi mertuanya dan menyelesaikan misi pemindahan harta keluarga Jordy.
Saat ini Sanaya sungguh merasa menjadi sosok keren ala agen rahasia internasional, dia menatap bayangan dirinya di cermin.
"Bersiaplah menyambut menantu tersayangmu ini mama Carla, hahahaha!" Tawa menyeringai mirip devil di film horor pun menghiasi wajah Sanaya.
"Assalamualaikum." Terdengar suara seseorang yang sangat familiar di telinga Sanaya. Gadis itu cepat keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang, wajahnya kaget saat orang itu sedang tersenyum padanya.
"Abang!”
lanjutkan
lanjut thor