Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 12 - Kompensasi
Dan Rou, kini menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Dong Fang, suaranya terdengar bergetar saat menceritakannya. Setelah mendengar cerita cucunya, Dan Ji naik pitam, "Cucu sialan, kau bukannya membuat kakekmu bangga, malah menyusahkan kakekmu!" teriaknya pada Dan Rou yang kini terlihat ketakutan dengan tubuh yang bergetar.
Dan Rou melayangkan sebuah tendangan pada perut cucunya hingga Dan Rou terpental beberapa meter dan tak sadarkan diri.
Setelah melakukan itu, Dan Ji mendekat kearah Xi Lang yang tengah memberikan pil penyembuh pada muridnya, dan membantu Dong Fang untuk menyerap khasiat dari pil itu.
Dan Ji berlutut, kemudian bersujud dihadapan Xi Lang, "Tetua Xi, Mohon tetua melepaskan cucuku yang bodoh dan memberikan semua hukumannya padaku. Aku akan menerima apapun hukumannya."
Xi Lang tak menjawabnya, dia terus mengobati luka Dong Fang. Dan Ji yang tak mendapat respon apapun dari Xi Lang hanya bisa terus bersujud hingga Xi Lang memberinya respon.
Dan Ji merasa takut kepada Xi Lang, karena kekuatan Xi Lang yang digadang-gadang nomor satu di sekte ini, melebihi kekuatan dari patriaknya. Meskipun Xi Lang tak mengakui dirinya yang terkuat, tetapi semua tetua yang ada didalam sekte itu sama-sama berpendapat Xi Lang yang terkuat. Sehingga menjadikan Xi Lang sosok yang ditakuti dan dihormati di sekte ini. Dan Ji bahkan merasakan kekuatan Xi Lang berada jauh diatasnya.
Setelah mengenal Xi Lang dalam waktu lama, Dan Ji juga mengetahui, bagaimana cara Xi Lang memperlakukan orang-orang yang mengusik hidupnya.
Beberapa puluh menit berlalu, Xi Lang akhirnya selesai mengobati Dong Fang, dia kemudian menghela nafas panjang, tatapannya yang tajam mengarah pada Dan Ji yang terus bersujud padanya.
"Bangun. Aku bukan tuhanmu." ucap Xi Lang dengan nasa dingin.
Dan Ji bangkit dari sujudnya, kemudian mengganti posisinya menjadi berlutut pada Xi Lang.
"Kau bilang ingin menanggung semua hukuman cucumu? Termasuk kematian sekalipun?" tanya Xi Lang dengan dingin.
Dan Ji menelan ludahnya, dengan perasaan yang berat dia mengangguk, "Jika begitu, aku akan menyerahkan seluruh nyawaku pada tetua. Asalkan tetua bisa melepaskan cucuku."
Xi Lang melihat kearah Dan Rou yang terbaring tak sadarkan diri, kemudian mengalihkan pandangannya pada Dan Ji kembali, "Kau tahu? Dengan kemampuanku, aku dapat dengan mudah membunuhmu dan cucumu?"
Dan Ji mengangguk, tubuhnya kini bergetar membayangkan hukuman yang diberikan Xi Lang.
"Kau tak memiliki niatan untuk menghadapiku? Bukankah sekarang harga dirimu sedang diinjak-injak? Padahal sebelumnya kau berkata tentang harga diri."
Dan Ji menggeleng keras, "Aku tidak berani, lagipula aku sadar jika aku yang bersalah. Aku juga tak akan bisa menang melawan tetua."
Xi Lang menghela nafas panjang, kemudian bertaka dengan nada yang biasa, seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya, "Kau bisa memberikanku seluruh harta dan seluruh sumber daya milikmu, juga memberikan seluruh bagian sumber daya dari sekte yang diberikan padamu dalam setahun."
Dan Ji tersedak nafasnya, namun dia tak membantah. Dia pikir hukuman itu jauh lebih baik daripada kematiannya dan cucunya, setidaknya harta bisa dicari, berbeda dengan nyawa, "Terima kasih atas kebaikan tetua. Tapi boleh aku meminta pengecualian?"
Pandangan Xi Lang kembali tajam, "Kau kira, kau berada di posisi yang dapat bernegosiasi?" Xi Lang terus menatap Dan Ji beberapa detik, dia lagi-lagi menghela nafas dan berkata, "Apa yang ingin kau minta?"
"Terima kasih tetua!" Wajah Dan Ji terlihat sedikit lebih baik, dia kemudian menyampaikan keinginannya, "Aku tak ingin tetua mengambil bahan untuk membuat racun, racun-racun milikku dan juga senjata-senjata milikku. Sisanya boleh tetua ambil."
"Baiklah, untuk racun milikmu dan senjata milikmu, akan aku jadikan pengecualian. Tetapi untuk sumber daya bahan racun, aku akan tetap mengambilnya." ucap Xi Lang tegas.
Dan Ji terlihat kecewa, namun tak memperlihatkan lebih jauh. Dia sadar tak bisa lagi mengubah jawaban tetua Xi. Dan Ji kemudian mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi. Anggap saja ini tidak pernah terjadi. Aku beri kau satu pesan. Jangan biarkan rasa sayang membutakanmu." Xi Lang kemudian mendekat kearah Dong Fang yang tak sadarkan diri, kemudian menggendongnya, "Oh, ya. Kau bisa membawa kompensasi itu kerumahku besok." Xi Lang kemudian pergi membawa Dong Fang kearah rumahnya berada.
Dan Ji kini melihat Xi Lang yang sedang menggendong muridnya. Xi Lang terus menjauh hingga kini menghilang dikejauhan. Setelah Xi Lang tak terlihat lagi, dirinya menghela nafas lega. Dirinya merasa jika dirinya beruntung karena masih diberi waktu hidup oleh Xi Lang. Padahal dimasa lalu, orang-orang yang mengusik Xi Lang selalu berakhir dengan kematian yang mengerikan.
Dalam hati Dan Ji, tentu saja timbul rasa benci pada Xi Lang, namun dirinya benar-benar tak memiliki cukup kekuatan untuk memperlihatkan rasa bencinya, dia terlalu lemah.