Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satrio
Hasan kesulitan untuk memejamkan mata, Ia masih ingat senyum Sya ketika Ia memergokinya berbicara dengan seseorang di telpon.
" Ish, ada apa sih denganku. " Hasan gelisah.
Ia berbalik dan nampak wajah cantik Istrinya yang sepertinya sudah terlelap tidur.
" Lihatlah, dia bahkan bisa tidur dengan nyenyak sementara aku, ah..... !"
Hasan benar- benar frustasi, Ia jalan mondar-mandir di dalam kamar. Akhirnya Ia memutuskan kembali ke ruang kerjanya.
Pagi hari Sya terbangun, Ia melihat suaminya masih tertidur. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Hasan sebatas bahu.
sampai semua pekerjaannya beres suaminya tak kunjung bangun, Ia menghampiri suaminya yang masih tertidur.
" Mas, bangun sudah siang. "
Karena Hasan tak kunjung membuka mata, Sya jongkok di samping ranjang dan mengamati wajah suaminya.
" Ada apa dengannya ya, tumben jam segini belum bangun. Mana banguninnya susah lagi, apa dia kelelahan. "
Hasan perlahan membuka mata dan terkejut ketika melihat wajah Sya begitu dekat dengan wajahnya.
" Astagfirullah Sya, apa yang kamu lakukan. "
Hasan langsung panik, Ia bangun dan membuka selimutnya. Hasan menghela nafas lega, ternyata Ia masih menggunakan pakaian lengkap.
" Mas yang apa- apaan, lihat Istri saja kaya lihat hantu. Memang apa yang Mas pikirkan, Mas kira kalau aku akan melakukan hal yang tak senonoh begitu, hadehh..... lihat nih, sudah jam berapa Mas. Bukankah Mas ada janji pagi ini. "
Hasan melirik jam tangan di pergelangan tangannya dan langsung lari ke kamar mandi.
" Aduh aku telat, Lusi pasti marah padaku. " Gumam Hasan.
Hasan segera menyelesaikan mandinya, di kamar Sya sudah menunggunya siap - siap. Sya membantu memasangkan dasi dan sepatu seperti biasa.
" Sya, aku sarapan di kantor saja ya. "
Meskipun sedikit terkejut dan kecewa namun Sya hanya bisa mengangguk.
" Sya, mau nggak siapkan bekal untuk ku, aku ingin makan di kantor saja karena ini sudah hampir telat. "
Sya mengangguk dan kembali tersenyum, akhirnya tidak sia- sia Ia bangun pagi hanya untuk membuatkan sarapan bagi suaminya.
" Ini Mas, semoga Mas suka masakannya. Kalau Mas tidak suka, Mas bisa kasih pada sekertaris Mas atau yang lain. "
Hasan mengangguk dan mengulurkan tangannya lebih dulu, Sya menyambut tangan itu seperti biasa meskipun sedikit bingung karena kali ini Hasan yang lebih dulu mengulurkan tangan.
Pukul tiga sore, Sya mendapatkan pesan dari seseorang. Ia hanya melihat sekilas saja lalu meletakkan nya kembali.
Tidak berselang lama ponsel itu berdering dan terpaksa Sya menerimanya.
" Iya halo Assalamualaikum Mas. "
" Ah gimana ya. " Sya merasa ragu.
" Baiklah, Mas tunggu di sana saja dulu ya. "
Sya memandang ponselnya, pikirkan nya bimbang. Sya mencoba menghubungi Hasan namun ponselnya tidak aktif, akhirnya Ia memutuskan mengirim pesan.
Setelah mengirim pesan Sya mengambil tas dan juga kunci mobilnya, Ia mengemudikan roda empatnya dengan santai sambil terus mencoba menghubungi suaminya.
Sampai Ia tiba di sebuah tempat, suaminya tidak kunjung menerimanya panggilan telponnya.
" Ya sudah, tidak apa- apalah. Mungkin Mas Hasan sedang sibuk. " Gumam Sya.
Ia melangkah perlahan mencari seseorang yang Ia kenal, dari jauh seseorang melambaikan tangannya. Sya pun menghampiri orang itu.
" Maaf Mas Satrio, aku telat. "
Satrio hanya menjawabnya dengan senyuman, di hadapan mereka sudah tersedia dua gelas minuman.
" Teh hijau kesukaan mu, silahkan di minum. "
Sya tersenyum dan meneguk minuman yang sudah di pesankan Satrio untuk nya.
" Apa benar kamu sudah tidak ada niatan lagi untuk kembali bekerja. " Tanya Satrio.
Sya menunduk Ia bingung harus menjawab apa.
" Untuk saat ini aku memang belum kepikiran untuk bekerja, aku ingin mengabdikan hidupku sebagai seorang Istri pada suaminya. " Jawab Sya sembari menatap lurus ke depan.
Satrio menghela nafas panjang, ada rasa sesak Ia rasakan namun coba Ia tahan.
" Ya, padahal sayang. Kamu punya kinerja yang baik selama bekerja, tapi sudahlah tidak apa- apa, kamu sudah memutuskan ini. Oh ya, selamat untuk pernikahan mu. "
Satrio mengulurkan tangannya mengucapkan selamat pada Sya, wanita itu nampak ragu menerima uluran tangan Satrio.
" Maaf, kemarin pas acara mu aku tidak datang, itu semua karena aku ada kerjaan mendadak, sekali lagi selamat. "
Sya yang tidak tega akhirnya menerima uluran tangan Satrio, Satrio tersenyum karena Sya masih mau menjabat tangannya.
Ia mengingat kembali ketika acara pernikahan Sya, Satrio turut hadir namun hanya melihat dari jauh dan memutuskan untuk pulang ketika melihat Hasan mencium kening Sya untuk yang pertama kali.
" Oh ya Sya, kamu masih ingat sama Sinta nggak. "
Sya mengangguk, bagaimana Ia bisa lupa dengan sahabatnya itu.
" Kamu ini aneh, dia kan adik mu. Dia juga sahabatku, dimana dia sekarang. Terakhir kemarin ikut suaminya di Makassar kan . "
Satrio menggeleng pelan, ada kesedihan di raut wajahnya.
" Nggak Sya, ternyata kamu belum tau ya."
Sya memandang Pria di sampingnya, Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Ada apa Mas Satrio. " Tanya Sya.
" Sinta ada disini Sya, tapi di rumah sakit. Ia juga sudah pisah dengan suaminya, suaminya memilih menikah lagi karena..... karena Sinta mengidap tumor ganas. Kami terlambat mengetahuinya, karena dia menyembunyikan semuanya dengan baik sehingga kami tidak mengetahuinya. "
Sya terkejut, bagaimana bisa Ia tidak tau mengenai kondisi sahabat nya itu.
" Rumah sakit Mas, rumah sakit mana. Apa Mas bisa bawa aku kesana sekarang. "
Sya panik dan juga khawatir, Satrio mengangguk.
" Dia ada di rumah sakit Medistra, kita akan pergi sama- sama kesana kalau kamu mau, tapi apa suami mu tidak marah kalau kamu kesana. "
Sya lagi- lagi terkejut, ternyata sahabatnya di rawat di rumah sakit yang sama dengan sang Ayah yang juga mengidap penyakit yang sama.
" Aku akan menghubunginya di jalan, kebetulan Ayahku juga di rawat di sana. " Ucap Sya.
Keduanya memutuskan pergi dengan mengendarai mobil masing-masing, Sya kembali menghubungi suaminya namun tetap sama, nomornya tidak aktif. Ia kembali mengirim pesan pada suaminya.
Sya menjenguk Sinta, langkahnya terasa berat ketika memasuki ruang rawat Sinta. Ruangan yang sangat luas dan terdengar bunyi alat- alat yang terpasang di tubuh sahabatnya.
" Tante. "
Sya memeluk seorang wanita yang tak lain adalah orang tua dari Satrio dan Sinta.
" Nak Raisya, apa kabarnya Nak. Lama tidak jumpa. "
Orang tua Satrio begitu menyayangi Sya seperti mereka menyayangi Putrinya sendiri.
" Sya baik Tante, Alhamdulillah. Maaf Tan, Sya baru tau kalau Sinta sakit. "
Susi tersenyum dan menggeleng pelan
" Tidak apa-apa Nak, bukan hanya kamu Nak. Tante dan juga Om pun baru tau mengenai penyakit Sinta. "
Sya memeluk tubuh wanita di depannya.
" Yang sabar ya Tan, Insyaallah Sinta akan sembuh. Sinta adalah anak yang kuat, dia pasti mampu melewati ini. "
Di luar Satrio mengusap sudut matanya, tak terasa Ia menangis melihat interaksi Sya dan juga Ibunya.
Setelah dari ruangan Sinta, Sya memutuskan ke kamar rawat Ayahnya, di ruangan itu juga sang Umi sedang setia menunggu Ayahnya yang juga hidup hanya dengan bantuan alat medis.
" Nak, kamu disini. Sama siapa, ini sudah hampir malam loh Nak. "
Umi selalu merasa khawatir pada Sya, selama Putrinya itu menikah.
" Sya baru menjenguk teman Sya yang sakit Umi, sekalian mau tengok kondisi Ayah. Soal Mas Hasan, tadi sudah ijin sebelum kemari. "
Umi akhirnya bisa menarik nafas lega, Ia takut kalau Hasan akan mencari Putrinya itu.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan