"Om tidak melarang kalian menikah. Kalian boleh tetap pada keyakinan masing - masing. Tapi Om tanya pada kamu, kalau kalian punya anak. Anak kamu akan membawa nama keluarga siapa?" Tanya Abraham Papanya Malik.
Aluna hanya diam menunduk.
"Tentu membawa nama besar keluarga Abraham. Apa kamu setuju dengan permintaan Om? Pikirkan baik - baik Aluna" Pinta Pak Abraham.
*****
"Aku tidak bisa ikut kamu Aluna. Aku satu - satunya anak laki - laki orang tuaku. Aku dan keturunanku kelak yang akan membawa nama keluarga. Tidak mungkin aku ikut keyakinan kamu" Ujar Malik
"Tapi aku juga tidak akan mungkin Malik. Aku anak sulung, Papaku sudah meninggal sedangkan Mamaku sakit - sakitan. Kalau aku ikut keyakinan kamu Mamaku pasti akan mati" Sahut Aluna.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Malik
Akankah cinta mereka bersatu dengan pertentangan dua keluarga? Apakah jodoh akan berpihak pada mereka?
Selamat membaca...
catatan : Novel ini saya ambil dari pengalaman pribadi beber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar
Pagi ini Aluna mengantar Mamanya ke stasiun Bus. Mereka naik taxi dari rumah tantenya Aluna.
"Aluna kamu harus pintar atur keuangan kamu ya. Sekarang kan kamu sudah selesai kuliah jadi tidak perlu bayar uang kuliah lagi. Uangnya harus kamu tabung dan jangan sering - sering turutin permintaan adik - adik kamu. Kamu harus pintar simpan uang" pesan Mama Aluna.
"Aku kan ingin senangin adik - adik Ma" sambut Aluna.
"Iya tapi kamu sampai lupa sama diri kamu sendiri. Hati - hati berteman ya Nak, ingat Papa kamu sudah meninggal. Kamu harus pintar jaga diri jangan sampai berjalan di jalan yang salah. Kasihan Papa di sana tersiksa karena anaknya berbuat yang tidak - tidak. Kamu juga harus rajin shalat dan doakan Papa di sana" sambung Mama Aluna.
"Iya Ma" jawab Aluna singkat.
Tak lama mereka sudah sampai di stasiun bus. Untung saja hari ini hari minggu jalanan tidak begitu ramai. Mereka sampai dengan tepat waktu.
Bu Maysaroh langsung berpamitan dengan Aluna sebelum dia naik ke dalam bus.
"Kamu yang baik ya tinggal di sini. Mama do'ain semoga secepatnya kamu dapat pekerjaan yang lebih baik" ucap Bu Maysaroh.
"Aamiin... Mama juga hati - hati di jalan ya dan salam buat adik - adik. Ini oleh - oleh untuk mereka" Aluna menyerahkan bingkisan yang sudah dia beli beberapa hari yang lalu bersama Malik untuk adik - adiknya.
"Tuh kamu kirimin mereka apa lagi kali ini?" tanya Mama Aluna.
"Hanya buku - buku dan novel Ma" jawab Aluna.
"Ya sudah Mama pergi ya sayang" pamit Bu Maysaroh.
Aluna berpelukan erat dengan Mamanya sebelum berpisah. Bu Maysaroh langsung naik ke dalam bus. Tak lama kemudian mobil bergerak meninggalkan stasiun.
Tin.. tiiiiiin...
Terdengar suara klakson motor. Aluna langsung melirik ke arah suara.
"Malik, kamu kok tau aku di sini?" tanya Aluna terkejut.
"Kan tadi malam kamu yang bilang kalau Mama kamu pulang pagi ini naik Bus. Masak kamu lupa, udah tua ya Non makanya pikun" goda Malik.
Aluna hanya tersenyum tipis. Dia memang lupa karena sibuk memikirkan tentang hubungan mereka berdua yang sepertinya sudah membuat Mama dan Tante Aluna curiga.
"Ayo naik" ajak Malik.
Aluna naik ke atas motor Malik dan mereka jalan keluar dari area stasiun.
"Baru pulang ibadah?" tanya Aluna.
"Iya baru aja dan langsung kemari" jawab Malik.
"Ooo" sahut Aluna.
"Mampir makan dulu yuk. Kamu kan mau kerja" ucap Malik.
"Oke" sambut Aluna.
Malik dan Aluna akhir makan di restoran ayam geprek tempat Malik kerja pertama kali dulu. Letak restorannya tak jauh dari toko ponsel tempat Aluna bekerja.
"Mulai besok cari kerja yang baru Al, biar kamu gak pulang malam lagi" ujar Malik begitu perhatian.
"Iya, Mama dan Tante juga pesan begitu" jawab Aluna tak semangat.
Malik heran melihat sikap Aluna seperti ini, tak biasanya. Aluna biasanya kan selalu ceria dan semangat melakukan apapun.
"Kamu kenapa Al, kok gak semangat gitu? Kamu sakit?" tanya Malik.
Aluna menarik nafas panjang.
"Yang aku takutnya akhirnya terjadi juga Lik. Mama dan Tante tau kalau kita tidak seiman dan mereka sepertinya curiga dengan hubungan kita" ungkap Aluna.
Malik sedikit terlonjak karena terkejut.
"Bapak juga curiga melihat kita" sambut Malik.
Aluna menatap wajah Malik.
"Lalu kita gimana Lik?" tanya Aluna.
"Ya gak gimana - gimana" jawab Malik.
"Gak gimana - gimana apanya? Kita sudah pacaran lebih tiga tahun Lik, masak mau gini - gini aja? Kalau tidak ada masa depan untuk apa kita jalani? Atau kamu mau menjalani hubungan yang saling menguntungkan? Kita sudah selesai kuliah jadi sudah tidak ada lagi gunanya kita bersama, gitu maksud kamu?" tanya Aluna sedikit emosi.
Malik terkejut mendengar pertanyaan Aluna yang sedikit dengan nada tinggi. Dia tau Aluna sedang panik saat ini. Pantas Aluna tadi lupa saat dia jemput ke stasiun pasti karena masalah mereka saat ini.
Tiga tahun setengah pacaran dengan Aluna membuat Malik mengenal gimana sifat wanita itu. Aluna tipe wanita yang kalau ada masalah selalu memikirkannya. Dia suka panik dan terus akan berpikir sampai masalah itu selesai.
"Ya bukan begitu maksud aku. Kita jalani aja sampai bagimana ujungnya. Mereka kan baru curiga, belum pada tahap melarang kan?" tanya Malik.
"Ya karena mereka tidak tau kalau kita pacaran. Kalau mereka tau yang sebenarnya mereka pasti akan melarang Lik" sambut Aluna semakin panik.
"Al tenang dulu Al" ucap Malik mencoba menenangkan Aluna yang sudah mau menangis.
Mata Aluna terlihat berkaca - kaca. Tiga tahun setengah hubungan mereka jarang bahkan hampir tidak pernah mereka lalui dengan pertengkaran.
"A.. aku takut ujungnya akan mentok Lik. Untuk apa kita jalani hubungan yang sia - sia? Atau kamu hanya main - main dengan hubungan kita?" tanya Aluna.
Air mata Aluna tak terbendung lagi. Kini mulai jatuh membasahi pipi Aluna.
"Siapa bilang aku main - main, perasaanku tulus kepada kamu. Aku benar - benar mencintai kamu Aluna" jawab Malik.
Malik menarik tangan Aluna dan menggenggamnya. Dia berusaha menghibur dan menenangkan Aluna.
"Terus mau dibawa kemana hubungan ini Lik? A.. aku takut kedepannya akan lebih menyakitkan?" tanya Aluna.
"Kamu tenang saja ya, mudah - mudahan ada jalan keluar untuk kita" jawab Malik.
Aluna hanya bisa menatap wajah Malik. Untuk sesaat mereka saling tatap. Aluna mengerti saat ini belum ada jalan keluar untuk mereka. Mereka sudah terjebak dalam hubungan tanpa masa depan.
Tapi untuk mengakhirinya mereka berdua belum sanggup. Jalan satu - satunya hanya bisa menunggu bagaimana akhir hubungan ini nantinya.
"Untuk saat ini aku memang belum bisa mencari jalan keluar untuk kita. Kita hanya bisa jalani saja seperti air mengalir. Kita ikuti kemana nasib membawa hubungan ini. Kemana akhirnya kisah kita ini akan bermuara" lanjut Malik.
"Ta.. tapi aku takut Lik. Aku takut keluargaku tau tentang hubungan kita? Mereka pasti menentangnya. Bagaimana dengan keluarga kamu?" tanya Aluna.
Malik menarik nafas panjang.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin buat mereka mengerti tentang perasaanku" jawab Malik
"Tapi tetap tidak ada jalan keluarnya Lik? Hanya ada dua jawaban, salah satu dari kita mengalah atau kita berdua menyerah" ungkap Aluna.
"Tapi belum saatnya Al, jalan kita masih panjang" ucap Malik.
"Tapi untuk apa kita jalani hubungan tanpa masa depan, sia - sia?" tanya Aluna mulai putus asa.
Malik menghapus air mata Aluna.
"Tidak ada yang sia - sia. Percayalah Tuhan pasti akan kasih jalan terbaik untuk kita" jawab Malik berusaha meyakinkan Aluna.
Aluna hanya bisa pasrah dengan keadaan mereka saat ini. Bagaimanapun juga dia belum siap untuk berpisah dengan Malik. Tapi tak bisa juga ikut dengan Malik.
Dua langkah yang sangat berat. Aluna hanya bisa pasrah dan tetap jalani hubungan mereka seperti kata Malik sebelumnya. Jalani saja sampai mana nasib akan membawa mereka.
.
.
BERSAMBUNG
menerima lamaran orang lain karena ga enak m ortu, mengesampingkan perasaan sendiri hanya untuk berbakti PD ortu.
ortu tau anknya blm saling mencintai berharap bisa saling mencintai.
apalah daya sebagai anak menurut kemauan ortu,tapi ternyata pilihan ortunya tidak baik, diperlakukan buruk oleh suami sendiri.
mau ngadu sama siapa???
ini penggambaran novelnya.