Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Mama, kenapa Tante menangis? Mama, Papa!" Wanita itu tersadar, segera berlari ke tepi kolam untuk menarik suaminya keluar. Sementara itu anak kecil itu mendekati Clark, lalu memeluknya seolah tahu betapa hancurnya hati pemuda itu. Tangisan Clark semakin pecah.
"Istriku!"
Suara yang begitu ia kenal terdengar dari belakang. Dulu panggilan itu selalu membuatnya bahagia, namun sekarang terdengar begitu perih. Dante segera memeluknya dengan cemas.
"Ada apa, sayang? Kenapa menangis begini?"
"Kau masih bertanya?! Aku begini karenamu, Kak! Kau mengkhianatiku! Aku... aku membencimu!" Clark terisak tak mampu bicara lancar.
"Mengapa kau bicara begitu? Siapa yang mengkhianatimu? Aku? Bagaimana mungkin aku berani melakukannya?" Dante berusaha menjelaskan.
"Kau masih ingin mengelak?! Semuanya membohongiku! Kau, wanita itu, dan anak ini! Kenapa kau menikahiku jika kau sudah memiliki istri dan anak?! Kau tega sekali, Kak! Tega!"
"Clark... apa yang kau katakan? Aku tak pernah menikah selain denganmu. Dan anak ini... dia keponakanku, putra Dokter Hudson."
Hening sejenak. Otak Clark mendadak kosong. Ia menyeka air mata kasar dan menatap suaminya lekat-lekat.
"Kenapa bajumu tidak basah?"
Dante menggeleng. Clark terbelalak. Bukankah tadi ia menendang pria itu sampai masuk air? Lalu siapa yang ada di kolam? Ia menegakkan tubuh, melirik ke belakang Dante dan melihat wanita itu sedang berusaha menolong suaminya yang pingsan.
"Jadi... bukan kau yang ada di dalam sana?" tanyanya ragu.
Dante mengangguk.
"Jadi dia... istri Dokter Hudson? Sepupumu?"
Sekali lagi Dante mengangguk.
"Hah?!" Clark menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aduh, mati aku! Paman Zeck benar-benar telah memainkannya dengan kebohongan keji.
"Dante! Tolong bantu aku mengangkatnya, suamiku terlalu berat!" seru Park Yuna, istri Hudson, yang tampak kewalahan.
"Aku bantu sebentar," pamit Dante. Clark hanya bisa mengangguk kaku.
Sesaat kemudian terdengar suara bersin beruntun. Hudson kini terbaring dengan selimut tebal, hanya wajahnya yang terlihat pucat.
"Minumlah ini untuk menghangatkan tubuhmu," Yuna menyodorkan secangkir teh jahe.
"Sungguh maafkan aku..." Clark membungkuk berulang kali penuh penyesalan. Ia benar-benar malu dan merasa bersalah luar biasa. Yuna menatapnya tajam sesaat, namun Hudson berusaha tersenyum meski wajahnya masih lemas.
"Aku benar-benar minta maaf..." air mata kembali menetes. Ia tak berani menatap suaminya, malu karena sempat berprasangka buruk dan hampir meledakkan amarahnya pada orang yang tak bersalah.
"Tidak apa-apa, Adik Ipar. Kalian boleh kembali ke kamar. Aku butuh istirahat, tubuhku menggigil kedinginan," ucap Hudson lembut.
"Kakak Ipar... maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu... aku..." Clark tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dante mengelus punggungnya perlahan untuk menenangkan. Melihat ketulusan penyesalan Clark, hati Yuna pun luluh. Akhirnya mereka pamit keluar.
Begitu di luar, Dante langsung menggendong istrinya seperti anak kecil. Ia mengusap punggung Clark lembut sambil membisikkan kata penenang. Paman Zeck benar-benar sudah keterlaluan, sengaja memutarbalikkan fakta hanya untuk merusak hari bahagia mereka. Namun untungnya, niat jahat itu tak sampai merusak hubungan mereka. Bagi Dante, hanya Clark lah yang mampu membuatnya bahagia.
Tiba-tiba ponsel Dante yang baru dicas berbunyi notifikasi pesan. Saat dibuka, isinya..
[Bagaimana hadiah dariku? Pasti sangat menyentuh hati kalian, kan?]
"Sudah, jangan menangis lagi," bujuk Dante lembut, tak tega melihat mata bening itu bengkak sembab dan basah oleh air mata.
"Hiks... aku sungguh malu, Kak," isak Clark tertahan. Ia merasa tak berani berhadapan dengan Haikuan dan istrinya setelah kejadian semalam.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭