NovelToon NovelToon
Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Disfungsi Ereksi / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rossy Dildara

Tampan, baik dan banyak uang saja itu tidak cukup menurut Rama. Buat apa mempunyai semua itu jika burungnya tidak bisa berdiri? Semua perempuan pasti tidak akan mau dengan pria impoten sepertinya.

Namun, suatu ketika, dia tak sengaja bertemu dengan gadis mabuk yang tengah berjalan sempoyongan seorang diri di sisi jalan raya.

Niat hati ingin menolongnya, sebab dia tengah diganggu oleh pria yang hendak melecehkannya. Akan tetapi, saat sudah berhasil dia bantu dan membawanya masuk ke dalam mobil, Rama justru merasa tergoda ketika melihat gadis itu mulai melucuti seluruh pakaian di tubuhnya.


Rama sendiri merasa bingung pada dirinya, mengapa dia memiliki nafsu yang tinggi hingga membuat miliknya tegak berdiri. Alhasil, tanpa disadari, akibat terbuai oleh kemolekan tubuh dan kecantikan gadis itu, Rama telah menggagahinya dalam semalam.

Siapakah gadis itu? Dan apakah dengan menggagahinya penyakit impoten Rama sudah sembuh?

Yuk, baca kisahnya sekarang juga~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossy Dildara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Nggak boleh naksir Sisil

"Astaghfirullah, Sisil!" pekik Gugun seraya berlari menghampiri. Kantong plastik yang dia tenteng berisi makanan itu dia jatuhnya begitu saja. Kemudian berjongkok seraya meraih tubuh adiknya. Tetapi sebelum dirinya berdiri, dia mengambil sebuah botol obat yang entah obat apa itu. Yang jelas, beberapa butirnya berserakan di lantai.

Setelah mengantonginya ke dalam saku jas, Gugun lantas berdiri. Kemudian berlari cepat keluar dari kamar hingga apartemen dengan menggendong Sisil.

'Apa lagi yang terjadi padamu, Sil? Apa yang kamu lakukan?' batin Gugun dengan bola mata yang berkaca-kaca. Hatinya begitu terenyuh sekali, melihat kekacauan yang terjadi pada hidup adiknya.

***

Rama menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Angga. Kemudian dia lantas menurunkan kaca mobilnya dan menatap satpam rumah.

"Pak. Apa Om Angga ada di rumah?" tanya Rama sambil tersenyum.

"Ada. Bapak ini siapa?"

"Namaku Rama, anaknya Yahya temannya Om Angga. Boleh aku masuk dan menemui Om Angga?"

"Sebentar. Saya telepon Pak Angga dulu untuk memastikan." Pria berseragam hitam itu lantas mengambil ponselnya di dalam kantong celana, kemudian menghubungi sang bos.

Tak menunggu waktu yang lama, seseorang dari rumah mewah itu keluar dari pintu. Seorang pria paruh baya, dia adalah Angga.

"Buka saja gerbangnya!" titah pria itu.

Satpam rumahnya mengangguk. Kemudian membukakan pintu gerbang dengan lebar untuk mobil Rama yang akan masuk.

"Kamu saja yang turun sendirian, dan jangan kasih tahu Angga kalau kamu datang sama Daddy, ya?" pinta Mbah Yahya pada saat Rama mematikan mesin mobilnya. Dia juga memberikan kertas gambar Sisil dan sebelah sepatu kepadanya.

"Kenapa memangnya?" Rama mengambil apa yang Mbah Yahya berikan. Kemudian membuka pintu mobil.

"Daddy malas ketemu sama dia. Sudah cepat turun, Ram!" titahnya.

Rama mengangguk, lantas turun dari mobil dan menutup pintu kembali.

"Pagi Om Angga. Maaf aku menganggu," ujar Rama sembari mencium punggung tangan Angga.

"Pagi juga. Ayok masuk ke dalam," ajaknya seraya merangkul bahu. "Ada apa kamu ke sini? Sendirian saja?" Angga mengajak Rama melangkah menuju rumahnya. Tetapi pria itu langsung menghentikan langkahnya di depan kursi teras.

"Aku hanya ingin bertanya tentang gambar gadis ini, Om. Om kenal dia nggak?" Rama menunjukkan kertas tersebut kepada Angga. Pria itu mengambil dan langsung memperhatikannya.

"Dari wajahnya sih seperti familiar." Angga manggut-manggut. Mencoba mengingat-ingat wajahnya. "Kayaknya dia salah satu temannya Dedek Gemes deh," tebaknya.

"Dedek Gemes itu siapa?"

"Si Citra, istrinya Steven."

"Si Citra namanya Dedek Gemes, Om?"

"Panggilan kesayangan Om saja. Sebentar ... Om panggil si Citra dulu, ya, mumpung dia belum berangkat kuliah. Apa kamu mau ikut masuk ke dalam?"

"Aku tunggu di sini saja, Om." Rama langsung menarik kursi teras, lalu duduk.

"Ya sudah." Angga melangkah masuk. Tak berselang lama dia pun kembali dengan Citra. Gadis itu memakai dress berwarna merah maroon.

"Pagi, Cit," sapa Rama sambil tersenyum dan langsung berdiri.

"Pagi." Citra mengulas senyum sambil memperhatikan wajah Rama. "Om ini Om Rama, kan?"

"Iya, aku Rama. Aku ingin tanya gadis pada gambar ini, Cit. Kata Om Angga dia temanmu." Rama menunjuk kertas gambar yang dipegang Angga. Citra pun segera memperhatikannya.

"Ini Sisil teman kuliahku, Om," ujar Cita.

"Teman kuliah?" Bola mata Rama sontak berbinar. "Berarti dia kuliah di kampusku dulu dong, ya?"

"Iya. Tapi sejak kemarin-kemarin Sisil nggak masuk kuliah. Terakhir hanya setengah hari."

"Lho, kenapa? Apa dia sakit?" tanya Rama penasaran.

"Kata Om Gugun sih sakit. Ini rencananya sebelum kuliah aku mau pergi ke apartemennya, mau lihat keadaannya."

"Om Gugun itu siapanya?"

"Kakaknya Sisil. Dia tinggal berdua dengan Kakaknya."

"Boleh aku minta nomornya Sisil padamu? Pasti kamu punya, kan?"

"Mau buat apa? Eh, tapi Om sebenarnya ada keperluan apa tanya-tanya Sisil?"

"Si Rama naksir Sisil kayaknya, Cit." Angga menyahut.

"Tapi Sisil sudah punya pacar, Om."

"Pacar?" Dada Rama seketika sakit mendengar kata itu.

"Iya." Citra mengangguk. "Namanya Arya. Om nggak boleh naksir Sisil."

"Tapi 'kan mereka baru pacaran, Cit. Belum menikah. Kecuali sudah menikah," ujar Rama.

"Bener tuh." Angga ikut menimpali. "Sebelum janur kuning melengkung tetap hajar ya, Ram."

"Tetap saja nggak boleh." Citra menggeleng cepat. "Kalau mau temenan saja."

"Aku sebenarnya mau ketemu sama dia karena mau balikin sepatu ini, Cit." Rama memberikan sebelah sepatu yang sejak tadi dia pegang kepada Citra. "Tapi aku punya urusan pribadi juga sama dia. Kalau bisa, kamu kasih tahu aku nomor dan alamat apartemennya, Cit."

Citra terdiam, dia tampak bimbang untuk memberikan informasi. Sebab kalau belum izin rasanya tidak enak.

"Kasih saja, Dek," ujar Angga. "Rama itu pria baik-baik. Dia nggak mungkin macem-macem sama Sisil. Lagian Sisil 'kan ada Kakaknya."

"Aku kasih tahu apartemennya saja deh, ya, Om. Kalau nomor kayaknya nggak bisa," jawab Citra dengan ragu.

"Nggak apa-apa. Di mana alamatnya? Coba tuliskan." Rama merogoh kantong jasnya. Kemudian memberikan ponselnya kepada Citra. Gadis itu segera menuliskannya.

"Ini, Om." Citra memberikan benda pipih itu kembali berikut dengan sepatu. Angga juga memberikan kertas sketsa wajah Sisil kepada Rama.

Rama membaca alamat itu. Nama apartemennya Citra Room, sama seperti apartemen yang tadi dia kunjungi. Hanya saja nomornya 108, tetapi tetap di lantai 2.

"Terima kasih ya, Cit, Om Angga. Ya sudah ... kalau begitu aku permisi." Rama meraih tangan Angga lalu mencium punggung tangannya. Kemudian melangkah menuju mobil.

"Nggak ngopi dulu kamu, Ram?!" teriak Angga. Rama sudah masuk ke dalam mobil.

"Nggak Om," tolaknya. "Lain kali saja, sekali lagi terima kasih, ya!" seru Rama. Kemudian mengemudikan mobilnya berlalu pergi dari rumah Angga.

"Pasti si Angga nggak tahu, kan, Ram?" tebak Mbah Yahya sambil tersenyum miring.

"Tahu kok. Kata dia namanya Sisil dan Kebetulan temannya Citra."

"Namanya Sisil? Jelek amat," komentar Mbah Yahya.

"Orang bagus. Imut-imut kayak orangnya."

"Tapi Sisil 'kan buat rambut, Ram."

"Itu sisir."

"Tapi Sisil bukannya lubang pantaat, ya, Ram?"

"Itu siliit. Jauh banget sih, Dad," kekeh Rama.

"Terus sekarang kamu mau ke mana?" tanya Mbah Yahya.

"Ke apartemennya. Tadi Citra juga memberitahu di mana dia tinggal."

"Berarti kita balik lagi ke apartemen tadi?"

"Iya." Rama mengangguk.

"Tuh 'kan bener, apartemennya memang di sana."

"Iya. Tapi Daddy salah kamar. Harusnya nomor 108. Tapi malah 100."

"Ah Daddy ingatnya 100 kok."

"Bisa saja pindah. Atau Daddy salah lihat nomor."

"Nggak mungkin." Walau sudah salah, tetapi nyata Mbah Yahya masih mengelak. "Daddy 'kan sakti, masa salah."

***

Di rumah sakit.

Setelah satu jam lebih Gugun duduk di kursi tunggu menunggu Sisil yang tengah diperiksa di dalam ruang IGD, lantas dia pun berdiri ketika seorang dokter pria berkacamata membuka pintu.

Ceklek~

"Bapak ini suami atau siapanya Nona Prisilla?" tanya Dokter itu seraya menatap Gugun yang melangkah cepat menghampirinya.

"Aku Kakaknya. Ada apa dengan adikku, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah cemas.

"Adik Anda mengalami over dosis obat tidur, Pak. Sepertinya dia sempat ingin bunuh diri."

"Bunuh diri?!" Bola mata Gugun membulat sempurna. Dia lantas merogoh kantong jas untuk mengambil botol obat kemudian memberikan kepadanya. "Berarti ini obat tidur, Dok?"

Dokter memperhatikan dan membaca nama yang tertera pada botol berukuran sedang itu. Setelahnya kembali menatap ke arah Gugun. "Benar, Pak. Ini obat tidur."

"Tapi sekarang adikku baik-baik saja 'kan, Dok? Aku nggak mau kehilangannya." Bola mata Gugun tampak berair. Terlihat jelas jika dia benar-benar sedih.

"Untung Bapak cepat membawanya ke sini. Kalau tidak, dia akan kehilangan nyawa."

Bola mata Gugun terbuka dengan lebar. Jantungnya berdebar kencang. "Kehilangan nyawa?"

"Iya. Tapi sekarang Bapak berdo'a saja, semoga dia segera sadar."

"Amin, Dok." Gugun mengangguk cepat. Kemudian Dokter itu melangkah masuk lagi ke dalam ruang IGD.

'Sil ... kenapa kamu bisa melakukan hal sebodoh ini?! Bunuh diri nggak akan menyelesaikan masalah,' batinnya sedih. 'Kakak masih ada di sini, Kakak akan mencari keadilan untukmu.'

"Eh, Kak Gugun!" seru laki-laki yang baru saja melangkah menghampiri. Suaranya terdengar familiar dan pria itu pun langsung menoleh.

"Arya ...."

Benar, dia adalah Arya Erlangga. Pacar Sisil yang berusia 23 tahun. Dia tampan, putih dan tinggi.

"Siapa yang sakit? Apa Sisil?" tebaknya.

"Iya. Sisil sakit." Gugun mengangguk sembari mengusap matanya yang berair.

Arya sontak membulatkan matanya. "Sakit apa dia, Kak? Dan kenapa nomornya nggak pernah aktif dari kemarin?" tanyanya dengan wajah cemas.

Bukan hanya tidak aktif saja, baru tadi dia datang ke apartemen Gugun untuk mengetahui kabar Sisil. Tetapi pas ke sana Arya tidak dapat menemukan pacarnya.

Kemudian Arya ditelepon oleh salah satu temannya yang kebetulan dirawat di sana. Meminta untuk dirinya menjengkuk. Dan siapa sangka, dia justru bisa ketemu Sisil di sini.

"Sebenarnya dia ...."

...Vote dan hadiahnya ditunggu 😌...

1
bhunshin
🤣🤣🤣🤣 emng special cucu Mbah dukun mah,bisa terbang😅
bhunshin
modus janda gatel si fuji
bhunshin
wah jangan jangan ada yg ngintip 😅🤣
Nami chan
lg tester elemen udara 🤣
Nami chan
mama nya ditinggalin??? 🤣🤣🤣
Nami chan
Marah oke wajar, bijak perlu. Masih untung gugun pny etika. nemuin ortunya dipulangin baik2. ga asal mutusin sepihak ke risma doank
Nami chan
utu gara2 semua disekitar gugun tuh tll maksain gugun yg ga enakan..
move on mah move on, tp bairkan dia berproses jg, lagian putus ama tuti blom lama
Nami chan
Apa kalo cowo yg hirup aromanya bau kambing ya? tp kalo cewe ga kecium
Nami chan
Karna td dia terbang mom 🤣🤣🤣
Nami chan
minta duit buat jajan 😂
Nami chan
masih kayanya, makanya kesakitan dia
Nami chan
wahh murce kali gisel
visi Sembiring
thor saya fokusnya bkn bayinya terbang tapi fokus ke mba yahya yg cari cucunya ke kolong tempat tidur emang bayi yg baru lahir sdh bergerak smpe jàtuh dr tempat tidurnyà 😁😁😁😁
IG: @rossy_dildara: namanya orang panik 🤣
total 1 replies
fee2
cus yuk liat... kak rossy ceritanya uinik2...
Bunda silvia
Walah sisil jangan sampe kena sindrom baby blouse
Bunda silvia
Cukup pak rama buat aq juga cukup banget 🤭🤭🤭
Bunda silvia
Sebenarnya dalam masalah ini tidak sepenuhnya salah gugun, risma juga salah sudah memaksa gugun menjalin hubungan di saat gugun patah hati karena tuti putusin secara sepihak. Salah gugun cuman kurang tegas menyikapi risma
Nur Adam
smgt untyk krya mu thoor
IG: @rossy_dildara: makasih kak. jgn lupa mampir yaa🙏
total 1 replies
Fri5
selamat ya Om Gugun & Tuti, akhirnya kalian bisa bersatu 😍.....

Terima kasih Author atas karyanya. Semoga tambah sukses selalu 🙏🥰😍🤗
IG: @rossy_dildara: Amin, kak. Jangan lupa mampir di novel baru yaa
total 1 replies
Pisces97
males deh akhirnya menikah ada kdrt gk tuh kedepannya hahahahha 🤣🤣🤣🤣
tapi seenggaknya Tuti gk lebih cantik dari citra 🤪🤪🤪
secara citra paling cantik dan om ganteng paling hot tak ada tandingannya 🙈😂😂😂😂
IG: @rossy_dildara: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!