Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
Atmosfer SMA Garuda Bangsa di awal pekan ini mendadak berubah sibuk luar biasa. Banner spanduk raksasa bertuliskan GARUDA BANGSA ART FESTIVAL 35 sudah membentang gagah di atas gapura gerbang utama. Panggung teater luar ruangan yang cukup megah mulai dirakit di tengah lapangan, diiringi lalu lalang siswa yang membawa bermacam peralatan dekorasi, cat air, serta peralatan musik.
Sebagai Ketua OSIS sekaligus Ketua Pelaksana Utama Festival, Arka berada di puncak kesibukannya. Jas OSIS biru gelapnya tergulung rapi hingga siku, sementara tangan kirinya tak pernah lepas dari papan jalan berisi jadwal dan lembar anggaran kegiatan.
Di sisi lain, Naya yang merupakan anggota divisi dekorasi perwakilan kelas 12 IPS 2 terpaksa harus bersinggungan langsung dengan jajaran pengurus OSIS. Wali kelasnya secara khusus menunjuk Naya untuk bertanggung jawab atas stand pameran dan estetika panggung kecil di sudut aula.
"Naya! Ini posisi kain background-nya miring dua sentimeter ke kiri!" panggil Arka tegas, berdiri dua meter di belakang Naya yang sedang memegang stapler tembak di atas tangga kayu.
Naya yang sedang berjinjit memutar kepalanya galak. "Dua sentimeter doang, Arka! Nggak bakal ada yang bawa penggaris ke sini cuma buat ngukur kerapian kain background!"
"Dua sentimeter itu kelihatan sangat mencolok kalau disorot lampu panggung, Naya," balas Arka tenang tanpa kompromi, melangkah mendekati tangga. "Pekerjaan estetika itu menuntut presisi. Jangan asal cepat selesai."
"Ih! Bawel banget sih lo!" omel Naya sengit, tetapi tangannya tetap menggeser lipatan kain merah marun itu ke kanan sedikit. "Nih! Udah lurus belum, Pak Ketua yang paling sempurna se-kabupaten?!"
Arka menatap ikatan kain itu teliti, lalu mengangguk tipis. "Kurang naik lima mili—"
"ARKA PRADIPTA!" pekik Naya tertahan, hampir saja menjatuhkan stapler di tangannya.
Dito yang sedang berjalan melintas sambil membawa segulung kabel listrik bersama Saskia hanya bisa terkekeh geli melihat pemandangan di depan mereka.
"Gila ya, mereka berdua..." bisik Saskia pada Dito sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tiap lima menit sekali pasti ada aja yang diributin. Dari soal panjang tali, warna cat, sampai posisi paku."
Dito menyunggingkan senyum jahil khasnya. "Tapi lo perhatiin deh, Sas. Walaupun mereka berantem terus kayak tom and jerry, dekorasi area aula yang dipegang Naya sama Arka itu malah yang paling cepat selesai dibanding divisi lain."
Saskia mengerutkan keningnya, lalu matanya menyapu sekeliling aula. Apa yang dikatakan Dito benar seratus persen. Sementara divisi lain masih ribet berdebat soal konsep atau kebingungan membagi tugas, area aula yang dikerjakan Naya dan Arka sudah delapan puluh persen rampung.
Sebabnya simpel: Naya sangat cepat dan spontan dalam mengeksekusi ide-ide kreatif, sedangkan Arka dengan sangat presisi dan efisien menyiapkan segala kebutuhan teknis, tangga, cat, dan kerapian tanpa perlu diminta dua kali.
"Iya juga ya..." gumam Saskia heran. "Mereka tuh kayak udah hafal ritme kerja masing-masing. Padahal kalau di depan umum kelihatannya saling benci setengah mati."
"Benci sama terlalu paham itu bedanya tipis, Sas," kekeh Dito bermakna ganda.
Saat matahari mulai tenggelam di balik gedung sekolah dan menyisakan warna oranye keemasan di langit, sebagian besar siswa panitia sudah memisahkan diri untuk istirahat atau pulang.
Di dalam aula yang mulai sepi, Naya duduk selonjoran di atas lantai kayu panggung yang beralaskan koran bekas. Wajahnya yang belepotan noda cat kuas warna kuning di pipi kirinya tampak sangat lelah. Tangannya memegang botol air mineral yang tinggal separuh.
Arka berjalan mendekat, meletakkan papan jalannya di atas meja panitia. Laki-laki itu berlutut di tepi panggung dekat posisi Naya duduk, lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan selembar tisu basah.
"Pipi kamu belepotan cat," ujar Arka datar, menyodorkan tisu basah itu ke hadapan Naya.
Naya meraih tisu itu tanpa protes, lalu mengusap pipinya asal-asalan. "Di sebelah mana?"
"Bukan di situ. Di dekat telinga," kata Arka, menggeser duduknya sedikit lebih dekat.
"Sini?" Naya mengusap dahi.
"Bukan. Di bawahnya lagi."
"Di sini?" Naya mengusap dagu.
Arka menghembuskan napas pelan. "Sini, biar saya saja."
Sebelum Naya sempat menolak atau memprotes, Arka sudah meraih tisu basah baru, lalu mengulurkan tangannya. Jemari Arka yang hangat dan kokoh menahan lembut dagu Naya, sementara tangan satunya mengusap sisa noda cat kuning di pipi cewek itu dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati.
Naya membeku seketika di tempatnya.
Jarak wajah mereka begitu dekat—hanya terpisah belasan sentimeter. Naya bisa melihat dengan teramat jelas pantulan bayangan dirinya di dalam manik mata hitam Arka yang jernih. Hidung mancung Arka, helai rambut depan cowok itu yang sedikit berantakan gara-gara lelah, serta deru napas hangatnya yang teratur menerpa kulit pipi Naya.
Jantung Naya mendadak berdebar dalam ritme yang teramat kacau dan liar.
"Selesai," bisik Arka pelan, matanya turun menatap bibir Naya sejenak sebelum kembali bertatapan langsung dengan mata bulat cewek itu.
Arka menyadari betapa dekatnya posisi mereka dan betapa lamanya tangannya menahan dagu Naya. Laki-laki itu mendadak menegang kaku, buru-buru menarik tangannya kembali dan berdeham keras untuk mengusir canggung yang membumbung tinggi di udara.
"Ehem... noda catnya sudah bersih," kata Arka datar, berusaha keras menata suara baritonnya agar tidak terdengar bergetar.
Naya memegang pipinya yang terasa seperti disiram air panas, memalingkan wajahnya cepat ke arah spanduk aula. "I—iya... makasih."
Keheningan yang amat manis sekaligus penuh ketegangan merayap di antara mereka berdua di tengah aula yang remang.
"Kerja kamu hari ini... tidak buruk," tambah Arka pelan, memecah keheningan seraya menatap panggung buatan mereka yang berdiri megah dan rapi. "Konsep warna yang kamu pilih ternyata cocok."
Naya menoleh kaget, menyunggingkan senyum mengejek yang dibuat-buat untuk menutupi rasa bahagianya yang mendadak meletup. "Wah... Ketua OSIS yang panutan semua orang baru aja muji gue?! Catat Sejarah! Bumi mau kiamat!"
Arka melirik Naya dari sudut matanya. Sebuah sunggingan senyum tipis yang amat halus terbit di bibirnya. "Saya cuma menyampaikan fakta. Jangan kegeeran."
"Biarin! Pokoknya gue anggap itu pujian tertinggi!" sahut Naya riang, menghentakkan kakinya santai di tepi panggung.
Di balik pertengkaran kecil dan adu argumen yang selalu mewarnai hari-hari mereka, sore itu Naya dan Arka sama-sama menyadari satu hal: di tengah riuh dan lelahnya persiapan festival sekolah, bekerja bersama satu sama lain ternyata terasa jauh lebih menyenangkan daripada yang pernah mereka bayangkan.