NovelToon NovelToon
Keranjang Sayur

Keranjang Sayur

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Bepergian untuk menjadi kaya / Dan perjuangan hegemoni / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:78.9k
Nilai: 5
Nama Author: Deri saepul

kisah seorang arsitek yang mengundurkan diri demi bertani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deri saepul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERANJANG SAYUR 13

MESIN PENANAM PADI

"Ya Sudah kalau nggak boleh ikut, tapi Tolong bawa alat-alat panennya." ujar Kamal yang hendak menaikkan gebotan yang terbuat dari kayu, alat tradisional untuk merontokkan padi.

"Hahaha, buat apa itu mang?"

"Buat panen lah, Tan! buat apa lagi?" Jawab Kamal.

"Gak Perlu yang seperti itu mang, bawa karung saja sudah cukup buat menyimpan padi."

"Kok seperti itu, kan nanti padinya digebuk." Tanya Kamal sambil mengerutkan dahi dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh keponakannya.

"Percaya deh sama saya!" Jawab Fathan menunjukkan keseriusan.

Meski tidak percaya, dan merasa ragu dengan apa yang diucapkan oleh keponakannya, namun Kamal tetap menurut, dia menaikkan beberapa karung ke atas mesin pemanen padi.

"Kalau arit bawa nggak Tan?" Tanya Kamal yang takut salah lagi.

"Bawa mang! takut ada pojokan-pojokan sawah yang tidak bisa terjangkau oleh mesin ini."

Setelah semuanya dirasa siap, Fathan mulai menjalankan mesin pemanen padi, keluar dari halaman rumah bibinya. Dengan perlahan mesin padi itu melaju di jalan menuju ke area pesawahan. diikuti oleh para warga Yang penasaran, ingin melihat cara kerja mesin panen itu. Kamal melihat orang-orang yang berbondong-bondong mengikuti mesin pemanen padi, akhirnya dia memilih berjalan. hanya Fathan sama Sarah yang berada di atas mesin itu.

Sesampainya di area pesawahan, mesin itu terus melaju menuju sawah milik Kamal. Setelah sampai, dengan segera Fathan pun menurunkan mesin masuk ke sawah pamannya, yang kebetulan sawah itu berada di samping jalan.

"Mulai dari petakan sawah yang ini aja dulu ya mang? agar mudah ketika mau mengerjakan petakan sawah-sawah yang lainnya." Tanya Fathan setelah mesin pemanen padi terparkir di area sawah.

"Yang mana saja, terserah kamu Tan! yang penting kita kan mau uji coba." jawab Kamal yang sedang menurunkan alat-alat panennya, yang tadi dibawa mesin pemanen.

"Sarah Tolong Kakak ya!" Pinta Fathan sambil menatap ke arah adiknya yang sudah turun dari mesin.

"Tolong apa Kak?" Tanya Sarah menautkan alis.

"Tolong kamu videoin semua kegiatan kakak, nih hp-nya!" ujar Fathan sambil memberikan handphone ke arah adiknya.

Sarah pun mengangguk kemudian dia mulai menyalakan aplikasi video yang ada di HP kakaknya. lalu mengarahkan vidio itu ke arah fathan kemudian dia mengangkat jempol, sebagai tanda bahwa kameranya sudah siap.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Baiklah di video pertama, saya akan menguji kegunaan mesin pemanen padi." ujar Fathan mengawali videonya, kemudian dia mengambil karung, lalu memasangkan karung di  samping mesin itu untuk menampung padi yang baru dipanen.

Setelah dirasa semuanya selesai, Fathan pun kembali naik ke belakang kemudi mesin pemanen padi, kemudian dia menyalakan mesin itu. dengan mengucap kata bismillah dia mulai memanen sawah milik pamannya.

Suara deru mesin mulai terdengar, dengan perlahan mesin itu melaju memotong padi padi yang masih tumbuh, dengan pisau yang ada di depan. Lalu menariknya ke dalam untuk dipisahkan antara tangkai dan buahnya. membuat para warga yang menonton berdecak kagum, dengan kecanggihan alat yang ada sekarang. Sarah terus merekam semua kejadian itu.

Sejam berlalu akhirnya satu petak sawah pun berhasil di panen dengan sangat cepat. Kamal yang sejak dari tadi memuji kecanggihan mesin itu, dengan cepat ia menghampiri Fathan yang baru turun dari mesin.

"Sangat membantu banget ya, Tan! hebat! hebat! biasanya sawah ini paman dan bibi kami memanennya membutuhkan waktu satu hari, tapi dengan adanya mesin ini satu jam sudah selesai, tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra, hanya tinggal duduk memainkan kemudi." cerocos Kamal memuji kecanggihan mesin yang dimiliki oleh fathan.

"Yah kita tidak boleh menolak kemajuan zaman, Kita harus pandai menari di atas zaman yang serba canggih seperti sekarang." Jawab Fathan mulai memberi sedikit pengertian terhadap para warga meski secara tidak langsung.

"Iya pertanian kita sangat kulot dan ketinggalan zaman. makanya kita gagal panen terus!" Keluh Kamal yang merasa sangat menyesal.

"Terus sekarang mau bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?" Kamal balik bertanya biar mengerti apa yang dimaksud oleh Fathan.

"Maksudnya mau dilanjut apa bagaimana?"

"Lanjut lah, Tan! Kenapa kamu takut gak dibayar? tenang, nanti pembayarannya kita hitung ketika semua panen sudah terkumpul."

"Bukan begitu Mang! tapi kalau mau dilanjut tolong belikan saya solar dulu, Soalnya dari tadi kan belum diisi, ini hanya pemberian dari toko." Ujar Fathan menjelaskan.

"Hahahha. kirain manusia aja yang butuh makan, ya sudah bentar saya beli dulu ke warung." Jawab Kamal terkekeh dia baru sadar semua mesin membutuhkan bahan bakar.

"Nih uangnya!" ujar fathan sambil merogoh saku kantong celananya, namun Kamal menolak karena dia juga mempunyai uang.

Dengan segera Kamal pun pergi kembali ke rumahnya, untuk membeli bahan bakar pemanen padi. sesampainya di rumah Kamal pun bercerita tentang kecanggihan  mesin yang baru dibeli oleh Fathan. sehingga Sari yang awalnya diam di rumah, dengan cepat dia pun bersiap-siap ingin menonton pertunjukan itu. di tengah jalan dia bertemu dengan Ibu Fathan, dia pun memberitahu bahwa Fathan membawa mesin yang canggih. hingga akhirnya mereka berdua pun berjalan beriringan menuju sawah Sari. sedangkan Kamal dia membeli solar eceran di warung terdekat, sambil bercerita tentang kecanggihan mesin yang dimiliki oleh keponakannya. Akhirnya kabar itu menjadi Kabar Kabari. semua warga sekampung tumpah ruah menuju ke sawah kamal, untuk menonton kecanggihan alat yang baru mereka lihat.

Setelah mendapat apa yang dibutuhkan oleh mesin pemanen padi, Kamal pun memberikannya kepada Fathan. dengan Sigap Fathan pun menerima itu lalu memasukkan ke dalam tangki solar yang ada di mesin penanam padi.

Fathan pun mulai melanjutkan memanen padi milik pamannya. sampai adzan Ashar berkumandang, setengah dari sawah yang dimiliki oleh pamannya sudah selesai dipanen. menurut pengakuan Kamal sawah itu membutuhkan waktu lima sampai tujuh hari ketika memanen semua sawahnya, dengan jumlah orang yang lumayan banyak.

Sebelum adzan maghrib berkumandang, semua padi yang ada di sawah Kamal pun selesai dipanen. membuat Kamal merasa bahagia karena dia tidak harus susah-susah dan repot-repot mengeluarkan biaya lebih, ketika dia hendak memanen padinya.

"Alhamdulillah beres Mang!" ujar Fathan sambil menyeka keringat yang ada di dahi.

"Alhamdulillah ya, Tan. Mesin ini benar-benar bisa diandalkan." ujar Kamal yang masih terkagum-kagum.

"Iya itulah pentingnya teknologi untuk kehidupan manusia, untuk memudahkan manusia bertahan hidup, bukan untuk merasa disaingi." Jelas Fathan yang kembali mengeluarkan doktrin-doktrin baik kepada warganya.

"Hebatlah! Terus sekarang kita bagaimana?" tanya Kamal.

"Pulanglah Mang! kecuali kalau Mamang mau menginap di sini, itu terserah Mamang. Aku tidak akan melarang" jawab Fathan sambil tersenyum.

"Yey, malah bercanda! Ya sudah kalau begitu, ayo kamal pulang!" Setelah mendapat penjelasan dari keponakannya, Kamal mulai menaikan padi yang baru ia panen ke atas motornya. karena kalau ditinggalkan di sawah dia takut ada yang mencuri atau terkena hujan. Semua orang yang menonton merasa puas dengan hasil kinerja mesin panen yang baru mereka lihat. Merasa kasihan sama Kamal para warga itu berbondong-bondong membantu tetangganya membawa padi ke rumah kamal. Menurut mereka biar pulang Mereka tidak hampa, ada hal yang berguna bagi orang lain. sedangkan Fathan dia pulang mengendarai mesin pemanen padi, yang terus direkam oleh Sarah.

Sasempainya di rumah, dengan Cepat Kamal pun menimbang hasil panennya itu, ternyata dia mendapat hasil panen yang lumayan banyak, meski tidak seperti biasanya. Dia mendapat hasil padi hampir satu ton lima kuintal.

Setelah melakukan penimbangan padi, akhirnya azan magrib pun berkumandang. para warga pun kembali ke rumahnya masing-masing. sama halnya dengan Fathan yang pulang terlebih dahulu, untuk membersihkan tubuhnya dari keringat, sebelum dia melaksanakan kewajiban.

Sehabis melaksanakan salat magrib, Fathan pun dipanggil oleh bibi dan Pamannya, untuk makan malam bersama.

"Yang di pojok! itu padi bagian kamu." ujar Sari mengawali pembicaraan setelah mereka selesai makan.

"Padi buat apa, Bi?"

"Ya padi bagian kamu. kan kamu sudah kuli memanen, itulah bagi hasilnya." jelas Sari membuat Fathan mengeringitkan dahi.

"Iya Tan! jadi kalau upah buat orang yang kuli memanen padi, hitungannya 6 berbanding 1. yang punya 6 kilo, yang panen 1 kilo, rumusnya seperti itu."

"Oh jadi begitu ya! ya sudah Mamang dan Bibi nggak usah memikirkan hal itu, tadi kan cuma uji coba mesin doang Mang!" Jawab Fathan sedikitpun dia tidak mengharapkan imbalan dari pekerjaannya, karena dia membeli mesin itu Untuk meringankan pekerjaan para warga.

"Harus diambil Tan! dosa kalau nolak. Lagian kan kamu tadi siang sudah bilang bahwa mesin itu dapat kredit, kamu harus cepat melunasi mesin itu." Saran Kamal yang tidak mau merugikan orang lain.

"Kamu ambil tan! Kalau kamu mau kasih orang tua kamu nggak apa-apa! atau kamu jual buat nambah-nambah setoran mesin kamu itu juga nggak apa-apa! terserah kamu aja mau diapakan padi itu, yang penting kami sudah memberikannya sama kamu." Istri Kamal menambah perkataan suaminya.

"Boleh gak Fathan nitip dulu sebentar di rumah bibi, karena mungkin sebelum orang tua saya bisa menerima. saya akan sering makan di rumah bibi!"

"Lah! kamu tuh Apaan sih! makan aja sampai dihitung. selagi ada makanan di dapur Bibi kamu. Ambilah, makanlah sepuasnya. namun untuk lauknya Bibi tidak menjamin ada, karena kamu tahu kan keuangan warga Kampung kita. hanya mengandalkan anak-anaknya yang bekerja di luar kota." jelas sari menyanggah ucapan keponakannya.

"Iya terima kasih kalau begitu! namun saya nggak akan ngambil padi itu, anggap aja itu tabungan saya yang disimpan di bibi."

"Ya sudah kalau kemauan kamu seperti itu, tapi beneran Tan! kalau memakai mesin seperti yang tadi. kita bisa menghemat biaya pengeluaran, karena kalau menggunakan tenaga manusia kita harus menyiapkan makannya, kopinya, rok0knya, bahkan obatnya. kalau menggunakan mesin hanya membeli solar, tanpa harus menyediakan untuk kebutuhan lainnya." Puji Kamal yang mengalihkan pembicaraan.

"Oh begitu ya mang! makanya kenapa saya ingin bertani, karena saya sudah memikirkan semuanya dari jauh-jauh hari, meski saya tidak bisa memegang cangkul, namun saya bisa memegang kendali mesin. Ini zaman, zaman teknologi. tidak semua orang harus ahli untuk melakukan sesuatu. tinggal ada kemauan, alat sudah disiapkan." jelas Fathan.

"Assalamualaikum!" terdengar suara orang yang mengucapkan salam dari arah depan rumah. dengan segera Sari Pun bangkit untuk melihat Siapa orang yang bertamu ke rumahnya.

"Waalaikumsalam! Eh Mang Dadun! ada apa Mang tumben-tumbenan pakai bertamu ke rumah saya?"  tanya Sari menyambut kedatangan tamunya.

"Apa di sini ada Fathan?" Tanya Dadun sambil melirik ke arah dalam rumah.

"Ada! kebetulan baru selesai makan, emang ada apa Nyari keponakan saya?"

"Nggak saya ingin bertemu dengannya, kok nanyanya seperti itu, Bi! nggak boleh ya saya bertemu dengan keponakan bibi." tanya Dadun sambil tersenyum.

"Bolehlah! ya sudah ayo masuk, sebentar saya panggilkan dulu keponakannya!" Jawab Sari yang hendak menuju ke arah dapur untuk memberi tahu Fathan. Namun Fathan dan Kamal yang mendengar obrolan mereka dengan segera menghampiri, menemui tamunya.

"Kang Dadun, Ada keperluan apa Kang?" Tanya Kamal berbasa-basi, Padahal dia juga sudah mendengar pembicaraan istrinnya dengan tamunya itu.

"Mau ketemu Fathan?"

"Mau Apa Mang?" tanya Fathan sambil mengulurkan tangan mengajak tamunya bersalaman

"Begini Tan! saya tadi sudah melihat kecanggihan mesin yang kamu punya, Boleh nggak kamu bantu untuk memanen padi saya?"

"Boleh kok! boleh, Boleh banget malahan." jawab Fathan yang tersenyum karena melihat ada celah untuk memberikan edukasi di sana.

"Terus kalau boleh, kira-kira berapa dan seperti apa aturan pembayarannya."

Ditanya seperti itu, Fathan yang belum mempersiapkan kemungkinan itu terjadi, dia hanya terdiam seketika. karena sebenarnya dia membeli alat-alat itu, hanya untuk memudahkan para warga dalam bertani, namun di sisi lain dia ingat perkataan bibinya bahwa setoran juga harus mengalir.

1
gami 77
itulah indonesia ...cukup dgn maaf semua selesai
Rainbow Scorpion Venom
bukannya kalau belum muhrim nggak boleh jamaah ya Thor, catatan kalau cuma berdua tapi kalau ada makmum lain boleh, misalnya yang makmumnya ada dua orang cewek atau satu cewek dan satu laki-laki, jadi kalau untuk cewek minimal dua tapi kalau ceweknya satu setidaknya ada makmum lakinya satu,
itu seingat saya sih kalau ada salah bisa dikoreksi
Jasreena
menu nya apa ya warung mkn Sumatra Utara...
Hafidz Rivandra
Suami qu org ci kembar... Kk ipar qu org sagaranten..tpi hor ko ga ad sunda2 gtu d sisipin🙏
saepul dalari
gg ada maaf dah mentok kalau d lanjutkan takut ceritanya semakin ngawur
Mak ino Seroha
semoga ada kelanjutan yg berikutnya.
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Nah lho... istri yang dibilang tidak berguna,
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Ah.. gak seru nih, harusnya kelompok dadun dibuat kocar-kacir sedikit lebih nelangsa lagi, buat mereka kapok dan menyalahkan Ujang dan penyesalan karena sertifikat tanah mereka kembali tergadaikan.
saepul dalari: blh bales kak, solanya novelnya bukan novel julid ini novel perjuangana hehhee mmaf kalau kecewa
total 1 replies
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Jadi kesimpulan dari part ini adalah "semuanya keras kepala" Fathan yang dengan keras kepala nya ingin menjadi petani, ingin memajukan warga desa nya tapi melalaikan hati yang sedang menantinya dan sifat ini fix udah turunan dari bapak nya yang juga keras kepala, sudah tau lagi pandemi dimana2 dilarang mengumpulkan massa tapi tetap keukeh ingin mengadakan pesta, pdhal pihak besan pun sdh mengatakan kalau menunda pernikahan. Dan satu juga yg keras kepala adalah Kirana, sudah tau Fathan belum ada niat untuk mempersunting nya, tapi tetap saja menunggu tinggal di kampung. Cinta boleh tapi jual mahal dikit coba Ran.. . kamu itu perempuan, cantik, pintar, kaya, baik hati.. hargai diri sendiri dong. Mikir dong, lagi sukses aja Fathan masih menunda2 tentang lamaran, apalagi saat ini, saat dimana pertanian benar2 memerlukan pemikiran yg extra, gak yakin kalau Fathan memikirkan tentang lamaran apalagi pernikahan. Paman nya saja merasa kasian sama. Kirana, tapi fathan nya sendiri cuek, dibilangin cuma iya - iya .. saja, tanpa ada realisasi. Apa gak keras kepala tuh namanya ??? .
Asih Merta
duh gimana ya nasib dadung dan trman trmanya yg keluar dari kerajang sayur....uda minjem uang lagi sama ujang...nannti klo hasil panennya gagal dan harga pasar anjlok...rugi dong trus byk hutang....kasian kasian...gara2 hasutan jadi mendrita...
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Semangat Fathan..
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Pak Farhan, salah satu gambaran manusia yang tidak bersyukur
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Jadi geregetan sama Fathan, gak menghargai sama sekali dengan Kirana. Malah nyuruh Kirana nyari laki2 lain. Kiran.. buka mata dong !! cinta boleh, tapi jangan juga sampai jadi pengemis cinta seperti itu. benar kata bapakmu.. pulang Kiran, kalau memang Fathan jodohmu, pasti akan ketemu koq !! Iih... jadi geregetan sama Fathan dan Kiran
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Menjadi istrinya Fathan pak
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
ini bukannya Ujang si pembuat masalah ya, dasar propokator, MUNAFIK kamu !!!
May Dery
😍😍😍😍😍
Teh Maey Urangsukabumitea
ini suka darma sbelah mana ya? aku orang sagaranten soalnya😁😄alhamdulillah novel ada jg tentang daerahku bawa nama daerahku. ya Allah sampe bangga💓
Teh Maey Urangsukabumitea: iya semoga sukses ya..👍
total 2 replies
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Hati2 sama "hama pengganggu, hama kepala Ireng"
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Selamat berjuang kang Fathan, semoga nanti dapat restu dari orang tua Kirana ya..
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Bakalan dilunasin tuh sama Kirana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!