NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Sampainya di rumah, Zilia baru saja hendak melangkah masuk ketika suara sebuah mobil yang berbelok memasuki halaman mengagetkannya.

Zilia menghentikan langkah. Sekilas ia mengira yang datang adalah ayahnya atau Rafael.

Namun, saat pintu mobil terbuka, raut wajahnya langsung berubah.

"Vio?"

"Zilia," panggil Vio sambil berjalan mendekatinya.

"Kamu ngapain ke sini?"

"Aku tidak akan pernah menyerah, Zilia. Aku akan terus memperjuangkanmu. Percayalah, aku belum pernah menyentuh Aleena. Pernikahan kami hanya sebatas status."

Zilia menatapnya datar.

"Aku tidak peduli. Itu urusanmu."

"Zilia, apa kamu lupa dengan janji kita untuk selalu setia?"

"Setia?" Zilia tersenyum getir. "Kamu saja menikah tanpa pernah jujur kepadaku."

"Itu terpaksa. Semua kulakukan demi menyelamatkan bisnis keluargaku."

"Sudahlah, semuanya sudah berakhir. Kamu sudah punya istri. Terimalah dia dan jangan pernah menyakitinya."

"Tapi perempuan yang aku cintai hanya kamu, Zilia."

Zilia menggeleng pelan.

"Lucu sekali. Kamu menyuruhku percaya, padahal kamu sendiri menyembunyikan status pernikahanmu dariku."

"Aku takut kehilanganmu. Kalau sejak awal aku mengaku siapa diriku, belum tentu kamu mau menerimaku."

"Hari ini aku hanya ingin menikmati waktu bersama Ibu. Tolong jangan ganggu ketenanganku. Sekarang, pergilah."

"Zil, aku sudah bilang. Aku tidak akan menyerah. Kamu hanya milikku."

Zilia mengembuskan napas panjang. Ia terlalu lelah untuk terus berdebat.

"Silakan kalau itu maumu. Tapi jangan berharap aku akan berubah pikiran."

Vio menatap Zilia beberapa saat, "aku tidak akan menyerah. Aku akan memperjuangkan mu." Lalu berbalik menuju mobilnya. Tak lama kemudian, mobil itu meninggalkan halaman rumah.

Setelah bayangan mobil Vio benar-benar menghilang, Zilia menghela napas lega. Ia pun masuk ke dalam rumah.

Namun baru beberapa langkah, ia langsung dikejutkan oleh sosok seseorang yang berdiri di dekat jendela ruang tamu.

"Kamu?!"

Pria itu hanya tersenyum santai.

"Kayaknya ada cowok yang lagi mati-matian memperjuangkan pujaan hatinya."

"Gak lucu! Eh, sejak kapan kamu ada di rumahku?"

"Sejak kamu keluar tadi."

Zilia menyipitkan mata.

"Jangan bilang kamu ngikutin aku?"

"Siapa yang ngikutin? Kepedean."

"Terus ngapain kamu ke sini?"

Rafael mengangkat bahu.

"Kangen."

"Masa?"

"Iya. Jadi aku nyusul. Bukan ngikutin, ya. Emangnya aku kayak si curut itu, diam-diam nguntit kamu ke mana-mana."

Zilia mendengus kesal.

"Gak usah ngegombal. Pasti Papa yang nyuruh kamu."

"Iya... eh, bukan."

Rafael terkekeh kecil.

"Papa mertua—eh, calon papa mertua—nggak nyuruh. Aku datang karena instingku bilang lagi kangen."

Zilia langsung memutar bola matanya.

"Sejak kapan kita nikah?"

Rafael menyeringai lebar.

"Sekarang juga bisa kalau kamu mau."

"Jangan mimpi."

"Aku nggak perlu mimpi. Soalnya yang nanti nikahin kamu itu aku."

Ia sengaja melirik ke arah pintu.

"Yang masih sibuk bermimpi itu mantanmu... siapa namanya? Oh iya, Vio. Dia yang masih berharap kamu kembali."

"Dasar ngaco."

Belum sempat Zilia membalas lagi, Ibu Retno keluar dari dapur sambil tersenyum melihat keduanya saling berdebat.

"Astaga, baru ketemu sudah ribut lagi?"

Zilia langsung menunjuk Rafael.

"Bu, dia yang mulai!"

Rafael mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Lho, saya cuma bercanda, Bu."

Ibu Retno menggeleng sambil terkekeh.

"Kalian ini benar-benar seperti anak kecil."

Suasana rumah yang semula tegang karena kedatangan Vio, perlahan berubah hangat oleh perdebatan ringan antara Zilia dan Rafael.

Zilia segera meletakkan kantong belanjaannya di atas meja.

"Aku masuk kamar dulu, Bu."

"Iya, Nak," sahut Ibu Retno dari dapur.

Zilia pun melangkah menuju kamarnya.

Namun, baru saja membuka pintu, langkahnya langsung terhenti.

"Kok..."

Di sudut kamarnya, sebuah koper berwarna hitam, tas kerja, jaket, dan beberapa barang milik seseorang tersusun dengan rapi.

Zilia mengenali semua barang itu.

"Itu... barangnya Rafael?"

Zilia langsung mendengus kesal.

"Ya ampun..."

"Ibu ini gimana sih."

Ia memijat pelipisnya.

Belum sempat mengeluarkan keluh kesahnya, terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Rafael berdiri santai di ambang pintu.

Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara senyum jahil menghiasi wajahnya.

Zilia langsung memutar badan hingga kini mereka saling berhadapan.

Ia berkacak pinggang.

Sedangkan Rafael tetap bersandar santai pada kusen pintu.

"Kamu jelasin."

"Apa?"

"Itu."

Zilia menunjuk koper dan barang-barang Rafael yang kini memenuhi salah satu sudut kamarnya.

"Kenapa barang-barang kamu ada di kamar aku?"

Rafael melirik sekilas ke arah koper miliknya, lalu kembali menatap Zilia.

"Oh... itu."

"Iya, itu!"

"Dengan santainya kamu bilang 'oh itu'?"

Rafael mengangkat bahu.

"Ibu kamu yang nyuruh tadi."

Zilia mengernyit.

"Jangan bohong."

"Bener."

"Kata beliau, kamar tamu lagi dipakai buat nyimpen barang-barang persiapan acara warga. Jadi sementara barangku ditaruh di sini dulu."

"Maksudku bukan barangnya!"

"Terus?"

"Kenapa kamu juga ikut masuk?"

Rafael tersenyum semakin lebar.

"Kalau nggak masuk, gimana caranya naro koper?"

Zilia seketika kehabisan kata-kata.

"Kamu..."

"Izin dulu sebelum masuk."

"Ibu kamu yang bukain pintu. Dan beliau juga yang nyuruh aku taruh koper di sini."

Zilia masih memasang wajah kesal.

"Tetap aja aneh."

"Aneh kenapa?"

"Ini kamar aku."

"Iya."

"Kamu laki-laki."

"Iya."

"Terus barang kamu di kamar aku."

"Iya."

Rafael mengangguk santai seolah tidak ada yang salah.

Zilia mengembuskan napas kasar.

"Kamu sengaja bikin aku emosi, ya?"

"Bisa jadi."

"Rafael!"

Rafael tertawa pelan melihat pipi Zilia mulai memerah karena kesal.

"Tenang. Aku cuma naruh barang. Bukan mau pindah kamar. Meskipun..."

Rafael sengaja menggantung ucapannya.

"Meskipun apa?"

"Kalau nanti kita sudah menikah... ya memang kamarnya sama."

Seketika Zilia mengambil bantal di atas tempat tidurnya.

"Keluar!"

"Hahaha... iya, iya. Aku keluar."

Rafael mengangkat kedua tangannya tanda menyerah sambil tetap tertawa.

Sebelum benar-benar melangkah pergi, ia sempat menoleh ke arah Zilia.

"Oh iya. Jangan usir kopernya. Soalnya pemiliknya nanti balik lagi."

"Dasar nyebelin!"

Sebuah bantal kembali melayang ke arahnya.

Untung saja Rafael lebih cepat menutup pintu.

Buk!

Bantal itu menghantam daun pintu.

Dari balik pintu terdengar suara tawa Rafael.

Sedangkan di dalam kamar, Zilia hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengomel pelan.

"Benar-benar bikin emosi."

Belum sempat perdebatan mereka berlanjut, suara seseorang terdengar dari luar rumah.

"Permisi, Bu Retno!"

"Eh, Bu Sari. Silakan masuk."

Zilia sontak menoleh ke arah ruang tamu.

"Waduh..."

Ia mengenali suara tetangganya yang terkenal paling suka bergosip.

Kalau sampai melihat ada seorang pria asing di dalam rumah, bisa dipastikan besok satu kampung akan membicarakannya.

Zilia langsung melirik Rafael.

"Kamu jangan keluar."

"Kenapa?"

"Itu Bu Sari."

"Memangnya kenapa?"

"Beliau hobi banget bergosip."

Rafael justru tersenyum jahil.

"Terus?"

"Kalau lihat kamu di sini, bisa-bisa satu kampung mikir yang aneh-aneh."

"Memangnya kita lagi ngapain?"

Zilia mendelik.

"Rafael!"

Baru saja Rafael hendak melangkah keluar, Zilia spontan meraih pergelangan tangannya.

"Eh!"

Tanpa banyak bicara, Zilia menarik Rafael masuk ke dalam kamarnya.

Brak.

Pintu kamar langsung ditutup.

Rafael menatap tangan Zilia yang masih menggenggam tangannya.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Wah..."

Zilia baru sadar.

Ia buru-buru melepaskan genggamannya.

"Jangan salah paham."

"Aku cuma nggak mau kamu jadi bahan gosip."

Rafael mengangguk pelan.

"Tapi..."

"Apa?"

"Baru kali ini kamu narik tanganku duluan."

Zilia memutar bola matanya.

"Itu karena terpaksa."

"Iya, iya."

Rafael menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat kedua tangan di dada.

"Tapi kalau dipikir-pikir..."

"Apa lagi?"

"Kamu kayak nggak sabar ya."

Zilia mengernyit.

"Nggak sabar apa?"

"Nikah."

"Hah?"

"Soalnya baru juga jadi calon istri, udah narik aku masuk kamar."

Mata Zilia langsung membulat.

"Kamu jangan ngaco!"

Rafael tertawa kecil.

"Terus nanti setelah nikah... masa kita masih sembunyi-sembunyi begini? Kan tidurnya juga satu kamar."

"RAFAEL!"

Wajah Zilia langsung memerah karena kesal.

Ia mengambil bantal di atas tempat tidur lalu memukul lengan Rafael berkali-kali.

"Dasar nyebelin! Pikiranmu ke mana-mana terus!"

Rafael hanya tertawa sambil menahan pukulan bantal itu.

"Aduh... sakit."

"Biarin!"

"Itu hukuman buat kamu. Dengerin ya."

Zilia menunjuk wajah Rafael.

"Aku narik kamu ke sini bukan karena yang kamu pikirin. Aku cuma nggak mau Ibuku digosipin tetangga."

"Iya, Bu Guru."

"Jangan panggil aku Bu Guru!"

"Terus panggil apa?"

"Panggil Zilia."

"Hmm... calon istriku?"

Zilia kembali mengangkat bantal.

"Kamu mau kena lagi?"

Rafael buru-buru mengangkat kedua tangannya.

"Oke, oke... menyerah."

Di luar kamar, suara Bu Sari masih terdengar mengobrol dengan Ibu Retno.

Sedangkan di dalam kamar, Zilia masih menatap Rafael dengan wajah sebal.

Entah mengapa, semakin ia berusaha menjaga jarak, semakin sering Rafael berhasil membuatnya kehilangan kesabaran.

Sementara Rafael justru menikmati setiap ekspresi kesal yang ditunjukkan calon istrinya itu. Baginya, melihat Zilia mengomel jauh lebih menyenangkan daripada melihatnya terus larut dalam kesedihan karena masa lalu.

Di dapur, Ibu Sari mulai membuka obrolan setelah beberapa saat berbasa-basi dengan Ibu Retno.

"Bu Retno, sudah dengar kabar belum?"

"Kabar apa, Bu Sari?"

"Daerah kita bakal kedatangan orang penting."

Ibu Retno tampak penasaran.

"Orang penting?"

"Iya. Katanya ada pengusaha besar yang mau survei sekaligus membahas proyek pembangunan di daerah sini. Kalau benar jadi, pasti bakal banyak lowongan kerja."

"Wah, syukurlah kalau begitu."

"Iya, Bu. Lumayan buat anak-anak kita yang baru lulus kuliah."

Ibu Sari lalu tersenyum bangga.

"Kata putriku, perusahaan itu juga yang kemarin membuka lowongan kerja di kampus mereka. Bukankah Zilia juga diterima di perusahaan itu?"

"Iya, benar. Zilia memang diterima."

"Nah, makanya aku sudah bilang sama putriku. Kesempatan seperti itu jangan disia-siakan."

"Maksudnya?"

"Ya, siapa tahu nanti dia jadi pusat perhatian di kantor."

Ibu Retno hanya tersenyum tipis.

Ibu Sari kembali melanjutkan dengan nada penuh antusias.

"Syukur-syukur bisa berjodoh dengan orang berada. Soalnya aku dengar, pemilik perusahaan itu punya tiga anak laki-laki. Katanya sih semuanya tampan, mapan, dan belum punya istri."

Ibu Retno hanya mengangguk pelan sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.

"Kalau soal jodoh, semua sudah ada yang mengatur, Bu."

Ibu Sari terkekeh.

"Ya memang benar. Tapi kalau bisa dapat menantu dari keluarga konglomerat, siapa juga yang nolak?"

Ibu Retno hanya tersenyum tanpa menanggapi lebih jauh.

Di balik senyumnya, ia teringat pada Rafael yang saat itu sedang bersembunyi di kamar Zilia.

Tanpa disadari Ibu Sari...

Salah satu putra pemilik perusahaan yang sedang ia bicarakan justru berada di rumah sederhana itu, hanya terhalang beberapa langkah dari tempat mereka mengobrol.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!