Bunga Qisyal wanita cantik, diusianya yang masih muda 22 tahun sudah menjadi CEO ternama di perusahaan papanya.
Mencintai teman kecilnya yang bernama Jasson Anggara Utama, keduanya begitu dekat. Suatu hari, keluarga Jasson mengalami kebangkrutan.
Bunga ingin menolongnya dengan catatan Jasson harus menikah dengannya. Tentu saja pria itu menolak dan marah besar namun keluarga Jasson memaksanya hingga membuat Jasson tidak memiliki pilihan.
Kejadian itu membuat Jasson membenci Bunga, karena Jasson sudah memiliki kekasih hati pilihannya dan berencana akan menikah.
Jasson menganggap jika Bunga adalah wanita egois yang hanya bisa mengandalkan kekuasaannya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Rasa sayangnya kepada Bunga sebagai teman berubah menjadi sebuah kebencian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihat Aku, Jasson! Bab 13
"Ma, maafin Bunga! Bunga enggak bermaksud untuk membohongi mama. Tapi Bunga juga tidak bisa mengatakan yang sebenernya ma. Bunga enggak mau mama kepikiran, semoga kesalahan Bunga ini bisa mama maafin nantinya." Bunga penuh harap didalam hatinya
"Mama percaya sama kamu, dan mama harus segera pergi. Kamu kembalilah keruangan mu, mama percaya jika anak kesayangan mama ini sudah kembali memegang perusahaan. Mama tidak perlu khawatir lagi!"
"Ma, selama ini juga ada Jasson. Selain menjadi suami yang baik, Jasson juga baik dalam mengerjakan sesuatu. Mama enggak perlu khawatir kalau pun bukan Bunga yang menghandle perusahaan. Ada suami Bunga, Ma."
Salvira tidak menjawab ucapan anaknya, ia hanya terdiam dan segera pergi dari ruangan itu.
Setelah kepergian mamanya, Bunga teduduk lemas dilantai. Air matanya berlinang, wanita itu merasa bersalah dengan mamanya.
Di luar pintu, Jasson sudah mendengarkan ucapan istri dan juga mertuanya. Jasson tersentuh melihat kebaikan hati Bunga, walau dirinya sudah bersikap buruk bahkan membawa wanita lain masuk kerumah. Bunga tidak memberitahu kepada mamanya.
Bisa saja Bunga melaporkan keburukan Jasson, namun nyatanya tidak. Wanita itu justru menutupi segala keburukan Jasson.
Bunga segera menghapus air matanya, Jasson pun berlalu pergi keruangan. Ia tidak mau jika Bunga mengetahui keberadaannya.
******
Bunga masuk kedalam ruangan, ruangan Jasson dan Bunga pun di satukan. Jasson melihat Bunga yang berjalan, lalu duduk tepat di depannya seolah tidak ada kejadian apapun.
Padahal Jasson melihat sendiri, setelah kepergian ibu mertuanya. Sang istri menangis, namun Bunga begitu pintar menutupi rasa sedihnya.
Bunga melihat berkas-berkas laporan keuangan perusahaan, sekretaris masuk dan memberikan jadwal pertemuan Bunga dengan kolega-kolega yang lain.
"Nona, sejam lagi kita akan mengadakan rapat dengan tuan Joeyce, dia klien penting buat kita."
Bunga mengangguk, Jasson mengatakan jika dirinya juga akan ikut rapat
"Maaf tuan, namun tuan Joeyce hanya ingin bertemu dengan nona Bunga saja. Menurutnya peran penting didalam rapat itu adalah nona Bunga."
Jasson terdiam, ia merasa posisinya bukan lah apa-apa semenjak Bunga kembali ke perusahaan.
"Saya atau pun suami saya tidak ada bedanya. Jika saya tidak ingin rapat atau tidak bisa, bukan kah suami saya yang menggantikan? Dan kalau tuan Joeyce keberatan dengan kehadiran suami saya. Batalkan saja kerjasama kita kepada perusahaan mereka! Suami saya akan terlibat dan selalu terlibat dalam urusan apapun mengenai pekerjaan. Apa kamu lupa jika Jasson itu juga CEO di sini.?"
"Ma-maafkan saya Nona, lain kali saya tidak akan seperti itu lagi."
"Saya memaafkan kamu, kamu bisa keluar sekarang!"
Jasson menatap Bunga, bahkan Bunga selalu membelanya dihadapan semua orang. Walau Jasson sudah menyakiti perasaannya
Jasson mendekat kepada istrinya "Mengapa kau membelaku? Bukan kah aku sudah jahat kepadamu selama ini? Kau bisa saja membiarkan mereka atau bahkan tertawa melihat mereka menghinaku!"
Bunga menatap Jasson dengan mata sendu "Kau bukan hanya suamiku, tapi kau juga sahabatku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina mu dihadapan ku. Dan jangan sama kan aku dengan dirimu Jasson! Mungkin aku tidak berarti apapun untukmu, tapi kau sangat berarti untukku! Dan aku tidak membutuhkan pembalasan itu darimu,"
Setelah mengatakan itu, Bunga kembali fokus melihat dan menandatangani berkas-berkas penting.
"Satu jam lagi kita akan ada rapat dengan Tuan Joeyce, bersiaplah!" Bunga mengatakan itu kepada Jasson, Jasson menolak "Tidak! Aku tidak akan mengikuti rapat, kau tidak mendengar apa yang sektaris mu katakan? Aku ini bukan lah siapa-siapa. Aku disini hanyalah menggantikan mu saja, sekarang kau sudah ada disini. Dan mereka tidak membutuhkan aku!"
Bunga merasa tidak enak dengan Jasson, semenjak kehadirannya di perusahaan membuat Jasson terasingkan.
Namun jika dirinya terus berada dirumah, hatinya sangat sesak sekali.
"Kau ikutlah rapat nanti!"
Jasson mengangguk, bagaimana pun Bunga memiliki kekuasaan yang lebih daripada dirinya.
Mungkin di rumah Bunga hanya lah seorang istri yang harus patuh kepadanya, namun di kantor. Jasson bukan lah apa-apa.
Sudah waktunya untuk mereka mengadakan rapat.
Terlihat Jasson merasa risih dengan kehadiran Joeyce. Pria yang terlihat sangat tampan dan berkarakter. Apalagi mata Joeyce tidak berhenti menatap istrinya
Apakah ini yang di namakan cemburu? Entahlah! Jasson tidak mengerti, mengapa ia harus cemburu. Namun jika memang benar, untuk apa Jasson cemburu kepada Bunga?
Ia pun merasa cemburu melihat Joeyce yang tiada henti memandangi wajah cantik Bunga saat Bunga menjelaskan dengan detail kerja sama mereka. Jasson beranjak pergi meninggalkan ruang rapat tersebut.
Bunga ingin menghampiri suaminya, namun demi professional kerja. Ia pun mengabaikan Jasson dan masih menjelaskan detail demi detail kerjasama perusahaan mereka kepada Joeyce.
Setelah rapat selesai, Bunga dan Joeyce pun berjabat tangan. Keduanya setuju untuk bekerjasama.
Bunga keluar dari ruang rapat, mencari keberadaan suaminya "Mengapa kau pergi begitu aja dari meeting?" Bunga bertanya dengan nada yang sedikit kesal, ia pun tidak tahu alasan suaminya melakukan itu.
"Aku mengantuk!"
Bunga tidak habis pikir dengan suaminya, apa selama ini Jasson bekerja seburuk ini di kantor sehingga karyawan tidak akan yang menghargainya?
"Jasson, ini itu kantor. Mengapa kamu seperti ini?"
Jasson tidak menjawab, bahkan menaikan kakinya di atas meja. Bunga hanya bisa menghela nafas panjang.
Jasson bertingkah seperti anak-anak, padahal dirinya tidak mengantuk. Namun tiba-tiba saja Jasson merasa kesal saat pria lain menatap Bunga seperti itu.
"Jangan dekar-dekat dengan pria itu!" Ucapan Jasson yang tiba-tiba membuat Bunga menghentikan aktifitasnya.
"Enggak mungkin! Dia itu teman bisnis ku, pasti lah akan dekat-dekat!"
"Kalau aku bilang enggak, ya berarti enggak Bunga!"
"Iya apa alasannya? Dan enggak bisa menjauh, aku sudah menandatangani surat kerja sama itu, pasti banyak menghabiskan waktu dengannya. Kan kamu sendiri yang mengatakan tidak mau terlibat dengannya, ya sudah. Aku yang akan turun tangan sendiri menghandle segalanya."
"Enggak bisa! Aku ikut!"
"Ikut kemana? Kan aku disini!"
Perdebatan tidak penting diantara keduanya pun terjadi, namun itu membuat keduanya kembali dekat seperti dulu. Jasson sudah mulai bertingkah seperti anak-anak di hadapan Bunga. Bahkan ia tidak mengingat kekasihnya yang sedang menunggu di rumah, keduanya juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Bahkan pulang lebih lama untuk mengurus proyek yang akan dikerjakan.
Tidak ada lagi jarak diantara keduanya, bahkan Jasson dan Bunga bercanda. Layaknya pasangan yang bahagia di kantor.
Sudah pukul delapan malam, namun keduanya masih di ruangan kerja. Bunga fokus mengetik dan menyiapkan proyek untuk di referensi.
Jasson menatap Bunga, memandangi wajahnya yang sangat cantik. Kontak keduanya lebih dekat dari biasanya.
Ponsel Jasson terus berbunyi, tentu saja Ade yang tiada henti menelpon Jasson "Angkat saja, atau kau bisa pulang terlebih dahulu." Bunga mengatakan itu tanpa menatap Jasson.
Jasson tetap kekeh mengatakan jika dirinya akan menemani Bunga sampai pekerjaan itu selesai.
Bunga pun hanya diam, dan tidak banyak berkata apapun.