Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.
Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?
Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.
"Dua ratus juta!"
"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.
Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.
Ikuti kisahnya.
Jangan plagiat! Ingat Azab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepotong Daster
Bab 13. Daster Pink
“Eh, Khal. Mertuamu ada? Aku bawakan daster batik asli pesanan Bu Wulan minggu lalu,” sapa Wanita seumuran Khalisa bernama Windy. Setiap hari Sabtu dan Minggu, biasanya dia membuka lapak di tempat-tempat sarapan atau di tempat-tempat para wanita warga setempat ngerumpi. Profesi yang sudah digelutinya bertahun-tahun.
Windy menyapa dengan nada sama rata pada siapapun termasuk pada Khalisa. Tak terpengaruh dengan omongan warga di sini yang sering menggosipkan Khalisa. Memiliki motto bahwa dirinya adalah pebisnis yang harus tetap ramah pada siapapun supaya jualannya laris.
“Kebetulan mertuaku lagi pergi keluar kota, Win. Rencananya Baru akan pulang dua hari mendatang.”
“Yah, tapi aku ke sini lagi Minggu depan. Aku titip kamu saja deh.” Windy membuka resleting tas besar yang dijinjingnya, cukup kesusahan mencari pesanan Wulan sebab baju-baju yang dibawanya cukup banyak.
“Win, nyarinya mending di teras biar lebih gampang, masuk saja.” Khalisa membuka pagar besi tua itu lebar-lebar. Mempersilakan Windy duduk di kursi kayu yang terdapat di halaman.
“Eh, iya. Makasi, Khal. Kamu memang pengertian,” tukasnya senang. "Aku duduk di bawah aja." Windy memilih duduk di lantai ubin dan membongkar isi tasnya.
Khalisa ikut nimrung setelah mendudukkan Afkar di sebelahnya. Sementara anaknya asyik mengunyah donat, ia memperhatikan baju-baju tidur cantik juga daster batik model baru yang berserak, daster ruffle namanya, banyak digandrungi para ibu-ibu muda.
Meremat jemarinya, tak munafik Khalisa tergiur ingin mengkredit satu, tetapi ia tak berani, tidak ingin mengundang kemurkaan Wulan yang membuat hidupnya di rumah ini serba sulit.
“Nah ini, Khal. Dasternya. Batik Bali premium. Pesanan Bu Wulan harus selalu dicarikan yang paling bagus.” Windy menyodorkan dua buah daster tersebut pada Khalisa.
Windy menoleh, memerhatikan wajah Khalisa sebab barang yang diserahkannya tak kunjung diterima. Rupanya Khalisa tengah terpaku pada daster ruffle warna pink muda yang dikeluarkannya dari dalam tas. Menatap mendamba.
“Khal.” Windy menepuk pundak Khalisa.
Khalisa mengerjap sedikit tersentak. “Eh, i-iya, Win. Gimana?” ujarnya
“Kamu suka daster yang pink itu?” kata Windy.
“Mmm, iya. Dasternya bagus, cantik,” jawab Khalisa, tersenyum kecut.
“Ambil saja. Kalau buat kamu aku kasih murah deh. Biasanya aku jual di harga 80 ribu dikredit dua bulan, buat kamu 60 ribu saja."
“E-enggak usah, Win. Takut gak kebayar,” jawab Khalisa apa adanya, karena memang begitu kenyataannya. Sudah bisa berteduh dan makan di rumah ini saja ia bersyukur. Daripada dipulangkan ke panti asuhan yang pernah menyatakan tak menerima lagi anak asuh yang sudah dewasa kembali, sehingga kebanyakan dari mereka yang tak bisa hidup mandiri, ikut bekerja dengan si mucikari yang merupakan salah satu donatur tetap panti tersebut.
Windy tampak berpikir. Dia merasa kasihan pada Khalisa, tetapi Windy juga bukan sultan.
“Kenapa kamu enggak nyari kerja sampingan?” tanyanya. “Ya, suamimu memang kerja, tapi maaf, kulihat keuanganmu sulit kalau itu terkait dengan kebutuhan pribadimu.”
“Bukannya enggak mau. Tahu sendiri kan, pas aku diterima kerja sebagai buruh harian di tempat laundry dekat rumahmu waktu usia Afkar dua tahun? Kamu juga menyaksikan, ibu mertuaku menyusul dan mencak-mencak di sana. Bikin keributan. Mengatakan aku mengabaikan pekerjaanku di rumah ini. Juga mengataiku tak tahu balas budi. Aku jadi gak enak sama yang punya laundry,” ungkap Khalisa, napas yang dibuangnya berat, seberat kisah hidupnya.
“Ya, aku ingat.” Windy mengangguk-angguk sembari meringis.
“Jadinya bukannya enggak mau kerja, tapi situasiku yang serba sulit bergerak. Juga ada Afkar, aku takut anakku jadi bulan-bulanan ibu mertuaku kalau aku tak patuh, tak tahu balas budi seperti yang sering diingatkannya.”
Khalisa berbicara sembari meraba bungkus plastik daster ruffle, kentara sangat ingin. Dan hal itu tak luput dari perhatian Windy.
“Khal, mumpung mertuamu enggak ada, mau enggak setelah aku selesai dagang, kamu ikut aku ke rumah? Kubonceng pakai motorku. Afkar dibawa saja sekalian. Bantu aku kemasin dan rapiin baju-baju daganganku yang akan datang siang nanti sama sekalian rekapin pesanan konsumenku yang mau kuantar besok. Aku lumayan kewalahan ngurusinnya. Tapi bayarannya cuma daster pink itu, sama ada lah buat beli bakso, gimana? ” tawar Windy.
Khalisa termenung sejenak, lalu tak lama mengangguk cepat. Mumpung Wulan, Dania dan Dion sedang tidak di rumah, Khalisa punya banyak waktu untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan rumah.
“Aku mau.” Khalisa menjawab mantap. Rona senang tak mampu disembunyikannya, bisa mendapatkan baju baru yang diinginkannya tanpa ditukar uang merupakan kesempatan yang jarang didapatkannya. Khalisa ingin memakainya untuk menyambut kepulangan Dion, ingin mencari perhatian suami yang dicintai, tak sabar memberi surprise.
“Sip, nanti siang aku balik lagi ke sini, Siap-siap sebelum jam sebelas ya, Khal.”
Bersambung.