Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Nyonya Besar
Tiga hari masa percobaan.
Kalimat itu terus menempel di kepala Keira bahkan setelah aula mulai kosong. Pelamar yang gagal berjalan keluar dengan wajah kusut. Beberapa masih menoleh ke arahnya, membawa tatapan tidak rela, seolah keberhasilan Keira adalah kesalahan sistem yang belum sempat diperbaiki.
Keira tidak punya tenaga untuk peduli.
Ia hanya menatap map di tangannya, lalu mengingat wajah Kiara di layar ponsel. Tiga hari berarti tiga malam. Tiga malam berarti ia harus cukup kuat untuk tidak membuat satu pun kesalahan.
"Suster Keira."
Keira mengangkat wajah.
Bi Sari berdiri di sampingnya. Sikapnya tetap rapi seperti tadi, tetapi nada suaranya tidak setajam saat seleksi. "Ikut saya. Nyonya Besar ingin bertemu."
Nama itu membuat beberapa pelamar yang tersisa langsung berhenti berbisik.
Nyonya Besar.
Di rumah sebesar Kediaman Ciu, gelar itu tidak terdengar seperti panggilan istri. Lebih seperti kunci yang menentukan pintu mana boleh dibuka dan pintu mana bisa menelan orang hidup-hidup.
Keira menggenggam kopernya. "Baik, Bi."
Mereka meninggalkan aula utama. Langkah Bi Sari cepat, tetapi tidak terburu-buru. Keira mengikutinya melewati koridor panjang dengan lantai marmer yang lebih dingin dari aula. Di dinding, lukisan keluarga tergantung dalam bingkai emas, namun tidak ada satu pun foto yang terlihat hangat. Semua wajah tertata, semua senyum seperti sudah dilatih.
Koper Keira kembali berbunyi pelan.
Di tempat seperti ini, bahkan suara roda koper tua bisa terasa kurang ajar.
Bi Sari membawanya ke sebuah ruang duduk di sisi timur. Tirai tinggi setengah terbuka, membiarkan cahaya siang jatuh di atas meja kayu gelap. Aroma teh melati dan parfum mahal bercampur tipis di udara.
Seorang perempuan duduk di sofa.
Usianya mungkin mendekati lima puluh, tetapi tubuhnya tegak dan wajahnya terawat seperti tidak pernah disentuh tergesa-gesa. Ia memakai blouse sutra warna gading, kalung mutiara kecil, dan senyum yang cukup lembut untuk menenangkan orang yang tidak paham bahaya.
Bi Sari menunduk. "Nyonya Besar, ini Keira Lo."
Perempuan itu mengangkat mata. "Keira."
"Nyonya Besar," sapa Keira.
"Duduk."
Keira duduk di tepi kursi. Ia meletakkan map di pangkuan, tidak bersandar, tidak juga terlalu kaku. Di hadapan orang seperti Vivienne Sim, salah sedikit bisa dibaca sebagai kurang ajar atau terlalu takut.
Vivienne tidak langsung bertanya. Ia menatap Keira dari wajah, bahu, tangan, lalu berhenti pada bekas luka di punggung tangan kanannya.
"Tanganmu sering bekerja," ucapnya.
"Iya, Nyonya Besar."
"Bukan hanya dari pelatihan."
Keira tidak menjawab terlalu cepat. "Sejak kecil saya terbiasa mengurus banyak hal sendiri."
Vivienne mengulurkan tangan. "Boleh?"
Keira ragu setengah detik, lalu meletakkan tangan kanannya di atas telapak Vivienne.
Jari perempuan itu dingin. Sentuhannya ringan, tetapi Keira merasa seperti sedang diperiksa lebih dalam dari sekadar kulit. Vivienne melihat bekas luka bakar, kapalan kecil di pangkal jari, dan garis tipis yang muncul dari pekerjaan berulang.
"Kau pernah merawat keluarga sendiri?"
Pertanyaan itu lembut.
Justru karena lembut, Keira hampir lengah.
Ia menarik tangannya pelan. "Pernah, Nyonya."
"Siapa?"
"Orang yang perlu saya rawat."
Senyum Vivienne tidak berubah, tetapi matanya bergerak sedikit. "Kau pandai menyimpan batas."
"Saya hanya tidak ingin membawa urusan rumah ke pekerjaan."
"Ko Ethan tidak suka orang menyembunyikan sesuatu."
"Kalau itu memengaruhi pekerjaan, saya akan lapor. Kalau tidak, saya akan bekerja sebaik mungkin."
Ruang duduk menjadi hening.
Bi Sari berdiri di dekat pintu, wajahnya tetap datar, tetapi matanya sempat turun ke map di tangan Keira.
Vivienne akhirnya menarik napas pelan. "Gaji lima puluh juta rupiah per bulan. Selama masa percobaan, kau tinggal di paviliun belakang. Setelah tiga hari, kalau tidak ada masalah, kontrak resmi akan disiapkan."
Keira mendengar angka itu dengan jelas.
Tetap saja, dadanya bergetar.
Lima puluh juta bukan lagi tulisan di pesan yayasan. Bukan janji yang bisa hilang begitu saja. Angka itu baru saja keluar dari mulut Nyonya Besar Keluarga Ciu.
Ia menunduk sedikit agar wajahnya tidak terlalu banyak bicara. "Terima kasih, Nyonya Besar."
"Jangan berterima kasih terlalu cepat." Vivienne mengambil cangkir teh. "Rumah ini membayar mahal karena pekerjaan di sini juga mahal risikonya."
"Saya mengerti."
"Belum," jawab Vivienne tenang. "Tapi kau akan segera mengerti."
Setelah itu, Bi Sari membawa Keira keluar.
Kali ini mereka melewati bagian belakang rumah utama. Karpet tebal berganti lantai keramik bersih. Aroma parfum mahal memudar, digantikan bau sabun lantai dan masakan dari dapur besar. Suara langkah staf lebih cepat di area ini. Orang-orang tidak berjalan, mereka bergerak seperti jarum jam.
"Ini jalur staf," kata Bi Sari. "Jangan sembarang lewat koridor depan kecuali dipanggil."
"Baik, Bi."
"Kamar pengasuh ada di paviliun belakang. Kecil, tapi bersih. Kau makan di ruang makan staf. Jadwalmu akan berubah sesuai kebutuhan bayi dan Nyonya Stephanie."
Nama baru itu membuat Keira menoleh. "Nyonya Stephanie?"
Bi Sari hanya berkata, "Kau akan tahu."
Kamar pengasuh berada di bangunan belakang yang lebih sederhana. Ada ranjang sempit, lemari satu pintu, meja kecil, dan jendela menghadap taman samping. Tidak mewah. Tapi kering, bersih, dan tidak berbau lembap.
Keira menyentuh ujung kasur.
Di Sriwedari, ranjangnya dan Kiara bahkan harus diberi papan tambahan agar tidak melengkung. Di sini, kamar seorang pengasuh saja punya seprai putih dan lampu baca kecil.
"Taruh barangmu. Setelah makan siang, ikut saya lagi," kata Bi Sari.
Makan siang staf disajikan di ruangan panjang dekat dapur. Keira mengambil nasi, sayur bening, ayam kecap, tumis buncis, dan semangkuk sup kecil. Porsinya sederhana untuk Kediaman Ciu, tetapi bagi Keira, itu seperti makanan hari raya.
Ia menyuap pelan.
Rasa hangat sup turun ke perutnya, dan matanya tiba-tiba perih.
Ia teringat Kiara yang sering menyisihkan lauk terbaik untuknya, padahal lauk itu hanya sepotong tempe goreng. Kakaknya akan berkata, "Kei kerja pakai otak, makan yang banyak."
Keira menelan cepat sebelum air matanya jatuh.
Bi Sari pura-pura tidak melihat. "Di rumah ini ada aturan yang tidak tertulis di kontrak."
Keira meletakkan sendok. "Saya dengarkan, Bi."
"Lantai tiga adalah wilayah Ko Ethan. Kau tidak naik kecuali dipanggil."
"Baik."
"Lantai empat lebih terlarang lagi. Itu wilayah Ko Reynard. Bahkan staf lama tidak naik tanpa izin langsung."
Ko Reynard.
Nama itu diucapkan Bi Sari lebih pelan daripada nama Ethan, seolah lantai empat punya udara sendiri.
"Kalau ada yang menyuruhmu mengambil sesuatu ke sana?"
"Saya konfirmasi dulu ke Bi Sari."
"Pintar."
Untuk pertama kalinya, Bi Sari memberi sesuatu yang hampir mirip persetujuan.
Sore mulai turun ketika mereka kembali ke bagian utama rumah. Kali ini Bi Sari membawa Keira ke koridor yang lebih sepi. Karpetnya tebal, pintu-pintunya tinggi, dan di ujung lorong ada dua staf berdiri dengan wajah tegang.
Dari balik salah satu pintu, terdengar suara benda pecah.
Keira berhenti.
Jeritan perempuan menyusul, parau dan penuh amarah.
"Keluar! Aku bilang keluar!"
Tangis bayi terdengar setelahnya, kecil, tersendat, lalu semakin keras.
Bi Sari menatap Keira. "Itu Nyonya Stephanie. Sembilan pengasuh sebelum kau tidak bertahan."
Keira memandang pintu itu.
Tangannya masih lelah dari membawa koper. Perutnya masih hangat oleh sup. Tetapi suara bayi di balik pintu membuat seluruh tubuhnya langsung siaga.
"Tugas pertamamu," kata Bi Sari, "buat dia mengizinkanmu masuk."
Di dalam, sesuatu kembali terbanting.
Keira menarik napas dalam, mengangkat tangan, lalu mendorong pintu.