Terhalang oleh sebuah masa lalu orang tuanya, Devan dan Alisa tidak bisa bersatu. Hubungan yang terjalin selama lima tahun harus kandas saat Sang Ayah menjodohkannya dengan Raisya, putri pertama Randu.
Tinggal satu rumah dengan Raisya adalah hal yang sangat mustahil bagi Devan, tapi ia tetap bertahan demi memenuhi permintaan bundanya. Meskipun Raisya adalah istrinya, faktanya Devan tak pernah menyentuhnya sedikit pun, bahkan mereka pisah kamar. hingga berputarnya mentari menyadarkan Devan jika kehadiran Raisya bagaikan Pelangi Senja.
Mampukah Devan menyembuhkan luka yang pernah ia torehkan untuk Raisya?
Ataukah Raisya memilih pergi, membiarkan Devan dan Alisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati lampu
Suara petir saling bersahutan, malam semakin larut, namun hujannya tak kunjung reda, Raisya duduk di atas ranjang dan menekuk kedua lututnya, jika biasanya ia selalu mendapat pelukan hangat disaat suasana seperti itu, kini ia harus melewatinya seorang diri.
Saking takutnya Raisya membuka pintu kamarnya dan keluar. Berharap Devan masih ada di luar. Dengan jalan yang tergesa-gesa Raisya turun ke bawah, matanya terus celingukan mencari sosok Devan. Namun nihil, sepertinya suaminya memang sudah tidur.
Akhirnya Raisya kembali ke atas dan masuk ke kamarnya, sebelum menutup pintu tiba-tiba saja lampunya mati, ruangan itu gelap gulita hingga Raisya tak bisa melihat apapun.
Aaaaaa
Raisya menjerit sekencang-kencangnya, apa yang dia takutkan terjadi juga.
Raisya duduk di lantai dengan bersandar dinding, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tak bisa berada dalam kegelapan yang menurutnya sangat menyeramkan.
"Bunda, Ayah, Mama, David, tolong! Isya takut," ucap Raisya di sela-sela tangisnya. Kepalanya terus menggeleng dan tak ingin melepas tangannya dari wajahnya.
Sementara di kamar lain, Devan terus mengumpat saat ia merasa pusing. Berbeda dengan Raisya yang merasa takut, jika berada ditempat yang gelap Devan merasa kepalanya itu terus berputar tiada arah. Ia menggerayangi ponselnya yang ada di nakas, semenjak pindah ia belum hafal sepenuhnya dengan perlengkapan rumah itu, dan sepertinya lampu otomatis pun belum berfungsi atau memang tak ada.
Hampir lima menit akhirnya benda pipih itu jatuh ke tangannya, segera Devan menyalakan senter dan keluar dari kamarnya.
"Kalau gelap begini aku kan nggak bisa tidur, mana panas lagi," gerutu Devan seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Devan duduk di kursi yang ada di depan kamarnya, untuk mengusir kebosanan akhirnya ia memilih main game.
Sudah lebih sepuluh menit di tempat sunyi yang dipenuhi kegelapan itu, samar-samar Devan mendengar suara isakan yang sukses membuat bulu halusnya berdiri.
"Suara tangis siapa itu, apa di rumah ini ada kuntilanak ya?"
Devan mengelus tengkuk lehernya, matanya terus berkeliling menyusuri setiap sudut rumahnya, hatinya semakin gelisah, kaki dan tubuhnya terasa berat. Hingga terpaksa ia tetap berada di tempat.
Suara tangis itu semakin menggema, Devan beranjak dari duduknya, ia tak mau terus dihantui rasa takut yang menjadi-jadi, dengan bantuan senter dari ponselnya, Devan terus berjalan mengendap ke arah sumber suara.
"Sepertinya dari kamar Raisya," gumamnya.
Devan menatap pintu kamar Raisya yang sedikit terbuka. Dan benar, suara itu berasal dari kamar tersebut.
"Sya, apa kamu ada di dalam?" seru Devan dengan suara lantang.
Tak ada jawaban, namun suara tangis itu semakin membuatnya panik.
Devan membuka pintu kamar Raisya dengan lebar, dan betapa terkejutnya saat ia melihat Raisya yang sedang duduk di samping pintu.
"Sya, kamu kenapa?" Devan meletakkan ponselnya dan berjongkok, merengkuh tubuh mungil Raisya yang bergetar hebat.
Raisya semakin histeris dan mencengkal tubuh Devan hingga terjatuh.
Devan kembali mendekati Raisya dan memeluknya dengan erat.
"Sya, ini aku Devan," ucap Devan berbisik, ia meyakinkan Raisya untuk tetap tenang.
"Kak, Apa ini beneran kamu?" Raisya masih belum berani membuka matanya.
"Iya, ini aku Devan." Seraya meletakkan ponsel yang menyala di samping Raisya. Kini sorot cahaya itu bisa membuktikan bahwa ia tak berbohong.
"Buka mata kamu, aku ada di sini." Entah kenapa melihat Raisya yang ketakutan hati Devan ikut tercabik-cabik. Sebagai seorang suami, ia merasa tidak berguna sudah mengabaikan istrinya.
Perlahan Raisya membuka matanya, keduanya saling pandang di antara cahaya kecil yang menyorot.
"Kak, jangan tinggalin aku sendiri." Raisya berhamburan memeluk Devan dengan erat.
"Iya, malam ini aku akan menemani kamu, jangan takut lagi." Tangan Devan terus mengelus punggung Raisya yang masih bergetar, sedangkan yang satu lagi menopang kepala gadis itu.
Devan menggiring Raisya menuju sofa, dan menurutnya tempat itu lebih aman untuk mereka melewati malam gelap.
...****************...
Devan mendesis, ia merasa ada sesuatu yang menimpa tangannya hingga terasa kram. Perlahan Devan membuka matanya dan mengedarkan pandangannya. Ini bukan kamarnya. Ia mulai sadar dengan apa yang terjadi sebelumnya. Mati lampu dan ia mengajak Raisya untuk duduk di sofa hingga keduanya ketiduran.
Dengkuran napas halus itu terdengar dengan jelas dari sisinya. Devan menoleh menatap wajah Raisya yang bertumpu di lengannya bagian kiri.
Ada senyum yang terukir dari sudut bibir Devan saat melihat wajah gadis itu dengan lekat, namun tiba-tiba senyum itu meredup saat Devan mengingat perlakuannya selama ini.
Maafkan aku, Sya. Secepatnya aku akan membuat keputusan, aku nggak bisa hidup di antara kamu dan Alisa, dan harus ada salah satu yang terluka.
Tanpa sadar jari Devan mengelus pipi Raisya dengan lembut.
Devan menatap jam yang ada di ponselnya, ternyata baru jam dua pagi, akhirnya ia ingin melanjutkan tidurnya, tanpa sadar ponsel yang ada di tangannya itu terjatuh hingga membuat Raisya terusik.
Raisya menggeliat, ia mengucek mata dan membukanya, meregangkan ototnya yang terasa kaku karena tak nyaman dengan posisinya.
Engh
Suara lenguhan itu membuat Devan tersenyum, ini kali pertama ia melihat Raisya saat bangun tidur, dan ia pikir sangat lucu. Apalagi saat Raisya memegang tangannya dan itu rasanya sangat mustahil.
Raisya menepuk dada Devan yang tertutup kaos oblong, setelah itu mendongakkan kepalanya.
"Kakak…" seru Raisya, ia mengangkat kepalanya dengan tegak. Antara malu dan takut Raisya menautkan sepuluh jemarinya kuat-kuat dan menundukkan kepalanya.
Kenapa aku bisa tidur disini bersama kak Devan? Memangnya apa yang terjadi?
Ternyata otak Raisya masih belum sepenuhnya ingat apa yang sudah terjadi.
"Sepertinya kamu sangat nyaman dengan tanganku," goda Devan seraya memijat tangannya yang terasa pegal.
"Aku minta maaf, aku nggak tahu kalau ___" Raisya menghentikan ucapannya saat Devan mendaratkan jarinya tepat di bibirnya.
Jika tadi mereka saling tatap di tempat yang gelap, saat ini keduanya saling bertukar pandangan di tempat yang sangat terang.
"Aku yang minta maaf, sebagai seorang suami aku sudah mengabaikanmu. Aku sudah membuatmu terluka dengan sikapku."
Hening sejenak, Devan mengambil ponselnya yang masih teronggok di bawah.
"Apa tangan kakak masih sakit?" tanya Raisya merasa bersalah.
"Menurut kamu?" Devan mengulurkan tangannya tepat di depan Raisya.
Gadis itu hanya menggeleng pelan.
"Nggak papa kok, sekarang kamu tidur di ranjang, biar aku yang tidur di sini, takutnya nanti mati lampu lagi."
Devan mengusap pucuk kepala Raisya lalu mengantarkannya hingga berada di atas pembaringan. Devan pun menyelimuti tubuh Raisya dan memastikan kalau gadis itu tertidur.
Setelah Devan kembali ke sofa, Raisya membuka matanya.
Aku tidak boleh besar kepala, pasti Kak Devan melakukan ini karena Bunda.
TAMAT