Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
Angin fajar merayap dingin melintasi lorong-lorong batu menara utama Istana Valerian. Lampu minyak di ruang kerja Putra Mahkota masih menyala redup, memancarkan pendar keemasan yang menimpa tumpukan kertas, peta wilayah, dan catatan kependudukan yang berserakan di atas meja kayu ek.
Pangeran Adrian belum memejamkan mata sepanjang malam. Pria itu berdiri di tepi jendela yang terbuka sedikit, menatap kabut tipis yang menyelimuti area perbatasan Hutan Elaris di kejauhan. Wajahnya yang tegas dipahat oleh ketegangan yang kian mengkristal.
Suara langkah kaki yang tertahan bergema di balik pintu kayu tebal. Tiga ketukan kaku menyulut keheningan.
"Masuk," ujar Adrian tanpa membalikkan badan.
Gareth melangkah masuk secara teratur. Pria berseragam perwira itu menutup pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada pelayan atau pengawal junior yang mendengarkan. Dari balik jubahnya, Gareth mengeluarkan sebuah gulungan perkamen kecil yang tersegel rapat dengan lilin tanpa lambang.
"Laporan dari Bellmare, Yang Mulia," bisik Gareth. Suaranya amat pelan, beradu dengan desir angin fajar.
Adrian berbalik cepat. Ia menerima perkamen itu, memecahkan segel lilinnya dengan gerakan cermat, lalu menyapu baris demi baris tulisan tangan agen rahasia yang dikirim Gareth ke wilayah selatan tiga hari lalu.
Isi laporan itu terstruktur dan rapi:
Alena Virelle tiba di Desa Bellmare tujuh tahun lalu bersama seorang wanita bernama Mira Lorien.
Menyewa rumah panggung kecil di tepi lembah.
Mendaftarkan kelahiran seorang bayi laki-laki—Elian—beberapa bulan setelah kepindahannya.
Tidak ada catatan pernikahan.
Tidak ada catatan kehadiran pria lain.
Penduduk lokal hanya mengenal Alena sebagai janda dari seorang pedagang biasa yang dikabarkan tewas di perbatasan barat sebelum anak itu lahir.
Adrian meremas perkamen itu di dalam genggamannya hingga kertasnya renyah. Mata abu-abu pekatnya berkilat oleh ketajaman analisis seorang komandan perang.
"Pedagang anonim," bisik Adrian, suaranya dingin dan penuh kecurigaan. "Seorang wanita bangsawan muda yang melarikan diri dalam keadaan hamil, tiba di desa terpencil tanpa uang yang cukup, dan mengarang cerita tentang suami yang tewas tanpa nama keluarga..."
"Tidak ada satu pun warga Bellmare yang pernah melihat sosok pedagang itu, Yang Mulia," tambah Gareth, mengonfirmasi dugaannya. "Agen kita mewawancarai tetangga terdekat. Mereka mengonfirmasi bahwa Lady Alena datang ke desa itu sudah dalam keadaan Mengandung. Dia hidup sangat tertutup pada tahun-tahun awal."
Adrian memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap bagian dari puzzle yang dikumpulkannya makin menegaskan kenyataan murni yang selama ini ditutupi. Waktu kelahiran Elian, ketiadaan sosok pria lain, ketakutan Alena yang berlebihan setiap kali ia mendekati anak itu, hingga liontin batu mawar perak yang masih tersimpan rapi di dasar petinya...
Semua bukti itu menunjuk pada satu arah yang mutlak.
Elian adalah darah dagingnya. Anak yang dibawa melarikan diri tujuh tahun lalu bukan hasil dari perselingkuhan atau pengkhianatan, melainkan buah dari cinta tersembunyi mereka di Taman Mawar.
"Lanjutkan penyelidikan ini, Gareth," perintah Adrian, suaranya kembali mengeras bagai baja. "Tapi perketat kerahasiaannya. Jangan gunakan agen jaringan resmi istana. Gunakan prajurit-prajurit pribadi yang hanya melapor padamu."
Gareth menunduk hormat. "Apakah Anda ingin saya memeriksa arsip pendaftaran desa di ibu kota wilayah selatan, Yang Mulia?"
"Ya. Periksa semua pergerakan kereta dan izin melintas tujuh tahun lalu," tegas Adrian. "Dan ingat... jangan sampai ada satu kata pun dari penyelidikan ini yang bocor ke Dewan Kerajaan, Ratu, atau orang-orang Duke Ardent. Jika rumor ini menyebar sebelum aku memegang bukti fisik yang tak terbantahkan, keselamatan Alena dan Elian akan berada dalam bahaya besar."
"Diterima, Pangeran." Gareth membungkuk sekali lagi sebelum memutar tubuhnya dan menyusup keluar dari ruang kerja dengan senyap.
Adrian kembali menatap gulungan perkamen kusam di tangannya. Dinding kebohongan yang dibangun Alena selama tujuh tahun perlahan runtuh di matanya. Namun di saat yang sama, satu pertanyaan besar yang jauh lebih berbahaya mulai membakar benaknya: Siapa yang memaksa Alena melarikan diri? Siapa yang mengancam wanita muda berusia tujuh belas tahun hingga ia rela menanggung penderitaan di desa terpencil demi menyembunyikan pewaris takhta Aveloria?
Sementara itu, di koridor luar Paviliun Barat, suasana pagi terasa tidak tenang.
Alena melangkah perlahan menyusuri lorong batu yang dinaungi kanopi tanaman anggur. Tangan kanannya menggenggam jemari mungil Elian yang berjalan riang di sampingnya. Anak itu sedang bercerita tentang burung merpati yang dilihatnya di atap paviliun tadi pagi, namun Alena hampir tidak mendengarkan sepatah kata pun.
Indra Alena yang terlatih selama bertahun-tahun hidup dalam kewaspadaan menangkap sesuatu yang tidak beres.
Sejak keluar dari kamarnya tadi pagi, Alena merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya dari jauh. Bukan mata-mata biasa seperti pelayan Nadia atau pengawal paviliun yang bertugas di pintu depan. Ini berbeda. Langkah kaki yang terlalu halus, bayangan yang selalu menghilang setiap kali Alena membalikkan badan, dan perubahan posisi dua prajurit berseragam kusam di ujung koridor luar.
Seseorang sedang membuntutinya. Dan penyelidikan diam-diam sedang berlangsung di sekitarnya.
Alena menghentikan langkahnya di dekat kolam air mancur kecil, memotong cerita Elian. Ia pura-pura merapikan kerah kemeja biru muda putranya sembari matanya melirik tajam lewat celah pilar batu di belakangnya.
Di sana, di balik sudut bangunan arsip selatan, sesosok pria berjanggut tipis dengan pakaian penunggang kuda tanpa lambang keluarga berdiri berpura-pura memeriksa tali kekang kudanya. Namun pandangan pria itu berkali-kali tertuju pada wajah Elian.
Darah Alena serasa mendingin seketika.
Apakah itu orang-orang Adrian? Atau orang-orang Duke Ardent? batin Alena menjerit dalam ketakutan.
Jika itu orang-orang Adrian, artinya sang pangeran sedang mengumpulkan bukti untuk mengklaim Elian sebagai putranya. Namun jika itu orang-orang keluarga Ardent... artinya Seraphina dan ayahnya telah mulai bergerak untuk mengonfirmasi ancaman terhadap posisi mereka.
"Ibu?" panggil Elian polos, memiringkan kepalanya saat melihat ibunya mematung dengan raut wajah pucat. "Kenapa tangan Ibu dingin sekali?"
Alena dengan cepat menguasai dirinya. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang dipaksakan, meremas pelan jemari hangat Elian. "Ibu tidak apa-apa, Sayang. Hanya angin pagi yang agak dingin."
"Nona Alena," panggil Mira yang baru saja menyusul dari arah dapur paviliun, membawa nampan berisi roti gandum dan susu hangat.
Alena memberi isyarat mata yang amat halus ke arah sudut koridor selatan. Mira, yang sudah memahami kode bahaya di antara mereka selama bertahun-tahun, langsung menangkap pesan tersirat itu. Mata Mira menyipit tipis, langkahnya makin merapat ke sisi Alena.
"Ada pengintai baru di koridor selatan," bisik Alena sangat pelan saat berpura-pura mengambil roti dari nampan Mira. "Bukan pengawal resmi paviliun."
"Apakah kau pikir Adrian yang menyuruh mereka?" bisik Mira penuh kecemasan.
"Aku tidak tahu," jawab Alena, suaranya bergetar tipis di balik ketenangannya. "Tapi siapa pun mereka... mereka sedang menggali masa lalu kita di Bellmare. Waktu kita di sini makin sempit, Mira. Rahasia ini tidak akan bertahan sampai musim dingin tiba."
Alena menggandeng Elian lebih erat, membimbing anak itu masuk kembali ke dalam kediaman mereka yang terisolasi. Di balik dinding batu Istana Valerian yang megah, jaring-jaring penyelidikan rahasia telah ditebarkan dari dua sisi yang berbeda. Dan Alena tahu, ketika jaring itu ditarik rapat, ia harus siap mempertaruhkan segalanya untuk melindungi putra terindahnya dari badai yang bersiap meletus.