NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: alviona27

Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia

Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Langit Marah

Happy Reading 

* * *

Adista berjalan masuk ke dalam kafe yang hampir dipenuhi para remaja yang berkumpul disana, memang kalau sore kafe ini banyak pengunjungnya yang rata-rata adalah remaja seusia Adista.

“Adis!”

Adista tersenyum dan langsung berjalan menghampiri Harris yang tengah tersenyum menatapnya, kemudian dia duduk di depan Harris dengan green tea ice yang sudah tersaji di meja. Karena green tea adalah minuman kesukaan Adista.

“Ada apa lo ngajak gue ketemu disini?”

“Kalo mau ngajak ketemu temen harus ada apanya dulu ya?” tanya Harris sambil terkekeh.

“Ya ... enggak sih,” Adista menggaruk tegkuknya. “Biasanya kan gak pernah lagi hubungi gue waktu lo udah pacaran sama Sasa.”

“Lo juga kali, udah gak vidcall gue lagi setelah pacaran sama Langit. Biasanya juga kan lo sering vidcall gue.”

Adista hanya terkekeh, kemudian mereka bercerita panjang tanpa menyangkut pautkan Langit dan Sasa, semuanya menjadi sangat nyata. Harris berada di hadapan Adista dan tertawa bersamanya, mengingat kembali masa-masa kedekatan mereka dulu.

“Lo gak bilang kalo lo mau itu,” ucap Harris sambil terkekeh.

“Percuma juga gue bilang, lo mungkin gak mau beliin buat gue.”

“Siapa tahu aja.”

Harris tersenyum, saat ini mereka sedang membicarakan boneka kartun Chanyeol yang berada di mal saat mereka jalan-jalan setelah ulangan akhir semester. Awalnya Adista ingin meminjam uang Harris tapi saat dia bilang lupa bawa dompet alhasil Adista harus merelakan boneka itu meskipun susah.

Merelakan itu susah, sama seperti Adista yang harus merelakan Harris.

“Lo kesini kasih tahu Langit ya?” tanya Harris membuat alis Adista terangkat bingung.

“Maksud lo?” tanya Adista, Harris menunjuk pintu masuk dengan dagunya membuat Adista harus memutar badannya.

Adista terdiam menatap Langit yang tengah berdiri menatap Adista dengan tatapan datarnya. Apa perlu Adista jelaskan maksud dari tatapan datar Langit itu?

Langit marah karena Adista tidak mau jalan dengannya dan sekarang malah duduk berdua dengan Harris di kafe. Astaga ... Adista tahu bagaimana Langit marah karena dirinya.

“Langit ...,” Adista bergumam masih menatap Langit yang tengah berjalan ke arahnya. Adista membeku, bagaimana bisa Langit begitu sangat tampan disaat dia marah kepada Adista saat ini? Cara berjalan bak Oppanya itu tidak bisa membuat Adista untuk tidak menatap Langit. Apa sekarang Langit sudah belajar untuk menjadi Oppanya?

“Hai By,” Langit membuat garis tipis di bibirnya, mengacak rambut Adista pelan dan duduk di samping Adista. “Kamu udah lama ngobrol sama Harris, By?”

Adista diam menatap Langit yang tidak menatapnya tetapi sedang menatap Harris dengan tatapan datarnya.

Gawat!

Entah kenapa Adista berpikir harus membawa pergi Langit dari sini saat ini juga kalau tidak entah apa yang akan dilakukan oleh Langit sekarang.

“Lumayan, Ric. Kamu kenapa tahu aku disini?”

Langit menoleh menatap Adista. “Aku tahu semua tentang kamu, By. Semua hal

yang kamu lakuin. Aku tahu By,” Langit tersenyum simpul membuat Adista menelan salivanya dengan susah payah. “Kita pergi sekarang.”

Langit berdiri, menggenggam tangan Adista dan menautkannya. “Kita pulang dulu ya, Ris. Salam buat Sasa dan bilang kalau cowoknya jangan disuruh keluar sama cewek lain, apalagi berdua. Takutnya nanti ada apa-apa.”

“Alaric ...,” Adista mengingatkan.

“Iya By,” Langit mengangguk. “Pulang dulu ya Ris.”

“Hati-hati di jalan Dis, salam buat Tante,” Harris tersenyum. “Salam juga buat Lala, Lang.”

Langit hanya mengangguk dan pergi dari sana masih dengan tangan menggenggam Adista, setelah sampai di parkiran Langit langsung memberikan helm kepada Adista tanpa mengatakan apapun.

Begitu juga dengan Adista, cewek itu lebih baik memilih diam daripada urusannya menjadi lebih rumit kalau Adista berbicara sekarang.

Motor Langit sudah melaju di komplek rumah Adista dengan kecepatan standar, tidak ada siapapun yang mulai berbicara saat mereka berada di motor. Langit sibuk mengatur kemarahan dan kecemburuannya, sedangkan Adista memikirkan apa yang harus dia katakan saat Langit bertanya kepadanya.

Karena sekarang Adista sudah merasa takut kalau Langit marah kepadanya dan beralih pergi meninggalkannya. Adista sudah sedikit terbiasa berada di dekat Langit, berada di dalam perhatian Langit. Adista tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya saat Langit pergi.

Berbeda dengan perasaannya kepada Oppa. Meskipun Adista mencintai Oppanya dia pasti mendukung kalau Oppanya memiliki pacar dan setelah itu menikah. Meskipun awalnya dia bisa saja sampai nangis darah kalau tahu Oppanya benar-benar seperti itu.

Rumah Adista sudah lewat tadi, bahkan Kakeknya menatap bingung saat Adista melewati rumahnya. Adista hanya tersenyum dan memberikan kode bahwa dia akan menelepon Kakeknya nanti.

Motor Langit berhenti di sebuah taman komplek yang memang jarang sekali dijamah oleh orang-orang karena taman itu sudah tidak terurus lagi. Adista pernah kesini sendirian tapi kemudian dia tidak mau lagi pergi kesini karena dia merasakan hal berbau horor saat berada disana.

Percayalah, sebenarnya Adista itu penakut meskipun dia selalu menjadi tameng dari Mikko dan Dinda yang sama-sama takut hal yang berbau mistis.

Langit turun dari motornya dan berjalan duluan meninggalkan Adista yang tergesa-gesa melepaskan pengait helm, melepaskannya, Adista berlari kecil menghampiri Langit yang tengah duduk di kursi taman yang tidak jauh dari tempat motor Langit terparkir.

Adista duduk sambil sesekali melirik Langit, meneliti sikap Langit apakah dia sudah berhenti marah atau belum. Tapi sepertinya kemarahannya terus berlanjut melihat Langit yang hanya diam saja dan menunggu Adista yang harus mulai berbicara.

“Alaric ...,” panggil Adista dengan suara lembutnya. “Aku minta maaf.”

Langit menoleh dan terkekeh. “Minta maaf buat apa, Dis?”

Dan Langit kembali memanggilnya Adis! Ini seratus persen gawat!

“Alaric, masalah hari ini. Aku minta maaf,” ucapnya sesal.

Memang benar, Adista merasa bersalah karena sudah berbohong kepada Langit dan menolak ajakan jalannya dan dia malah pergi bertemu dengan Harris.

“Aku terkadang juga bisa capek, Dis.”

“Ha? Maksud kamu?” tanya Adista mengernyit bingung.

“Memang aku bukan cowok yang seperfect Oppa kamu.”

Oke! Adista menyesal mengatakan kalau Oppanya perfect.

“Aku memang bukan apa-apa kalo dibandingkan dengan Oppa kamu itu,” Adista terdiam menatap kosong di depannya. “Terkadang aku bingung, Dis. Kamu itu pernah capek atau enggak saat suka Oppa kamu yang bahkan gak tahu kamu bernapas atau enggak?”

Adista menggeleng, tapi memang benar. Seberapa capek pun Adista menyukai Oppanya, Adista tetap mencintainya dengan sepenuh hatinya. Memang ada salahnya kalau dia tidak pernah merasa capek suka dengan Oppanya serta mengetahui bahwa Oppanya itu tidak bakal tahu kalau Adista itu bernapas atau tidak? Adista rasa jawabannya tidak, tapi untuk saat ini Adista tidak akan mengatakan apapun dan membiarkan Langit berbicara semaunya.

“Aku capek, Dis,” lirih Langit. “Suka kamu yang jelas-jelas ada di hadapan aku dan aku sama sekali gak tahu kamu suka aku atau gak.”

Adista terdiam menolehkan kepalanya untuk menatap Langit lekat-lekat. Jelas saja, Adista tahu bagaimana perasaan itu, menyukai sendiri tidaklah enak.

“Kamu pernah ngerasa gak sih kalo aku itu udah terlalu banyak bilang okay ke kamu?” Adista diam tanpa mengatakan apapun. “Aku gak tahu sekarang ini kamu masih suka Harris atau enggak, aku gak tahu gimana perasaan kamu Dis.”

Menghembuskan napasnya, Langit menetralkan rasa sesak yang ada di dalam hatinya. Bukan cewek saja yang bisa merasakan sakit hati dan ingin menangis, cowok juga bisa dan contohnya Langit. Cowok itu sedang menahan segala gemuruh di dalam hatinya.

Adista diam, dirinya sendiri pun tidaktahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia sudah nyaman berada dekat dengan Langit, apakah itu yang disebut namanya suka? Kalau iya, Adista sudah suka dengan Langit.

“Dan juga Dis, pernah kamu mikirin aku di otak kamu? Aku pikir di otak kamu cuman Oppa kamu sama Harris, gak bakal ada aku di dalam sana, kan?”

“Alaric ....”

“Bahkan di hati kamu Dis, gak mungkin ada aku disana, kan?” tanya Langit membuat Adista menatap Langit.

Ini salah! Adista menanamkan nama Langit di dalam hatinya meskipun dia selalu menutupinya dengan perasaan sukanya yang besar kepada Oppa, dan lagi. Harris, Adista tidak pernah memikirkan dan merindukan cowok itu lagi setelah dia dekat dan berpacaran dengan Langit.

“Dis ...,” Langit menoleh menatap Adista. “Kamu bisa bilang berhenti kalau kamu memang mau aku berhenti.”

 

 

TBC

1
CandycaneMissy
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
Alya_Kalyarha
semangat nulisnya kk, udah aku like ya
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Alfi Nurdiana
semangat kak 😊

Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!