NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Langkah Pertama di Kamar Kos

Doni melangkahkan kakinya pasrah keluar pintu kafe terlebih dahulu, disusul oleh Olivia di belakangnya setelah menyeruput beberapa tetes terakhir milkshake cokelat-nya. Setibanya di parkiran, Olivia menaikkan tas olahraganya terlebih dahulu ke atas jok motor Doni, sebelum dia naik. Tanpa mereka sadari, ternyata tas olahraga itu selalu ada setiap saat Doni membonceng Olivia. Mereka akhirnya berangkat dengan tas itu di antara mereka.

Deru mesin motor Doni membelah jalanan sore menuju area kosannya. Sepanjang perjalanan, angin sore yang menampar wajahnya sama sekali tak mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih oleh rasa cemas. Di jok belakang, Olivia duduk dengan santai, dengan kedua jemarinya menjepit permukaan jaket Doni tanpa beban sedikit pun.

Di dalam kepalanya, Doni terus memvisualisasikan kondisi kamar kosnya. Dia berusaha mengingat-ingat detail terakhir sebelum berangkat kuliah jam satu siang tadi: Apakah layar laptopnya sudah ditutup? Apakah tab dasbor NovelToon sudah di-logout?

Begitu motor terparkir di halaman kosan, Doni menuntun Olivia berjalan melewati koridor. Begitu sampai di depan pintu kamar kosnya, Doni merogoh kunci di saku celananya.

“Aku masuk duluan ya, Liv. Soalnya di dalam agak berantakan”, ujar Doni berusaha mencari alasan untuk masuk lebih dulu.

“Halah… santai aja kali, Kak. Namanya juga kamar cowok”, sahut Olivia acuh tak acuh.

Doni memutar kunci, mendorong pintu kayu kamar kosnya perlahan. Suasana kamar terasa sepi dan hangat oleh sisa sinar matahari sore dari celah ventilasi. Begitu pintu terbuka sepenuhnya, Doni melangkah pelan sambil memindai kamarnya dengan waspada, barangkali ada barang pribadi yang tidak ada di tempatnya. Berbeda dengan Olivia di belakangnya yang langsung melangkah cepat. Dia sudah ada di dekat meja belajar Doni sambil memegang tumbler-nya yang terletak tepat di sebelah laptop Doni yang masih menyala, menampilkan platform NovelToon yang masih terbuka.

Mata Doni yang melihat pemandangan itu, seketika membelalak kaget. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Doni bergerak cepat. Dia melangkahkan kaki panjangnya setengah melompat menuju tempat Olivia berdiri.

PLAK!

Doni menyambar bagian atas laptop dan menutupnya rapat-rapat dengan satu gerakan tegas, hingga menimbulkan suara ketukan keras yang memenuhi ruangan.

Olivia yang masih memutar-mutar tumbler di genggamannya tersentak kaget. Matanya menyipit menatap gerakan impulsif Doni yang kini berdiri tegang di depan meja belajar, telapak tangannya masih menempel di atas laptop yang sudah tertutup rapat.

“Biasa aja kali, Kak. Panik amat”, ujar Olivia seraya terkekeh pelan, alisnya terangkat sebelah. “Nonton yang aneh-aneh, ya?” tanya Olivia menggoda.

“Ng-nggak, lah! Enak aja. Ini… tugas kuliah. Proyek rahasia. Belum selesai”, jawab Doni sambil menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.

Olivia tidak bertanya lebih lanjut. Namun, saat mata tajamnya tadi sempat melirik sekilas sebelum layar itu ditutup, dia melihat kombinasi warna oranye dan susunan paragraf yang cukup asing untuk sebuah ‘tugas kuliah’. Olivia menyimpan penglihatan sekilas itu di sudut ingatannya tanpa terlalu memikirkannya saat ini.

“Gimana tumbler kamu? Masih mulus, kan?” tanya Doni mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Iya, Kak. Masih kayak yang dulu, nggak ada perubahan”, jawab Olivia bangga. “Kak Doni nggak pernah makai ini?” sambungnya penasaran.

“Ya, nggak lah. Aku kan punya sendiri, Liv”, Doni lalu mengambil tas ranselnya, membuka ritsletingnya, dan merogoh ke dalam. “Nih, punyaku”, sahutnya sambil memperlihatkan tumbler-nya.

“Wih, mirip banget sama punyaku, Kak. Warnanya, ukurannya”, ucap Olivia takjub.

“Iya, cuman logonya agak beda dikit. Punyamu kan limited edition”, ujar Doni sedikit iri. “Makanya aku waktu itu salah ambil, aku kira punyaku. Ternyata punyaku udah ada di dalam tas”, sambungnya terkekeh.

“Oh, itu alesannya, Kak. Kirain karena Kak Doni pengen punya yang limited edition juga”, ucap Olivia yang ikut terkekeh juga.

“Nggak lah, Liv. Ya… aku emang pengen punya, sih. Tapi, ya nggak sampe nyuri juga kali. Aku waktu itu beneran salah ambil. Sumpah!” ujar Doni mencoba meyakinkan Olivia.

“Iya, iya. Percaya kok, Kak. Nggak perlu sampe sumpah-sumpah segala, kali”, ucap Olivia yang masih tertawa lepas. “Ya udah, aku ambil ya, Kak”, sambungnya seraya memasukkan tumbler itu ke dalam tas sekolahnya. Pandangannya sempat menyapu sekeliling kamar kos Doni yang sederhana, kasur dengan sprei biru tua, lemari pakaian kayu, dan sinar matahari yang masuk melalui jendelanya, membentuk garis-garis bayangan di lantai kamar.

“Baju Papa beneran nggak mau diambil?” tanya Doni memastikan sekali lagi.

“Ya elah, Kak Doni. Masih aja dibahas. Kan udah aku jelasin panjang lebar, masa masih nggak ngerti juga”, jawab Olivia sedikit ketus.

“Iya, iya. Ngerti, kok”, ucap Doni mengangguk dan tersenyum. “Mastiin aja”, sambungnya.

“Ya udah, deh. Aku balik sekarang ya, Kak. Di luar udah mulai gelap, tuh”, kata Olivia sambil melihat ke luar jendela.

“Mau aku anter?” tanya Doni menawarkan diri.

“Nggak usah, Kak. Kak Doni kan udah nyampe di kosan. Masa mau bolak-balik lagi?” balas Olivia menolak.

“Trus, mau naik apa kalau gitu?” tanya Doni khawatir.

“Biasa. Pakai ojol aja. Gampang”, jawab Olivia santai.

“Mau aku pesenin?” tanya Doni menawarkan lagi.

“Nggak usah, Kak. Saldo aku masih ada, kok”, jawab Olivia. “Cie… perhatian banget”, sambungnya menggoda Doni.

“Ya… kamu kan udah aku anggep adik aku sendiri”, ucap Doni tersipu malu. “Udah, balik sana!” sambungnya bercanda seolah mengusir Olivia. Gadis itu tidak tahu kalau jantung Doni berdebar tak karuan sampai membuat Doni salah tingkah saat dia memuji Doni ‘perhatian’.

Olivia hanya terkekeh santai seraya berbalik melangkah keluar. Sebelum benar-benar pergi, dia menoleh sedikit dan melemparkan senyum tipis.

“Makasih ya buat hari ini, Kak Doni. Bye”, ucap Olivia yang sudah berada di luar pintu sambil melambaikan tangan.

“Iya, sama-sama. Hati-hati, Liv”, balas Doni yang refleks melambaikan tangan juga.

Doni memperhatikan langkah Olivia sampai gadis itu hilang di belokan koridor kosan. Begitu menyadari dia kembali sendirian, Doni segera menutup pintu kamar kosnya dan menguncinya dari dalam. Dia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu itu, lalu meluncur turun hingga terduduk di lantai dingin. Doni menghembuskan napas panjang yang terengah-engah, seolah baru saja lolos dari kejaran bahaya besar. Matanya tertuju pada laptop hitam yang tertutup rapat di atas meja belajar.

‘Apa si Oliv tadi melihat laptopnya? Apa dia melihat dasbor NovelToon disitu? Apa dia melihat tulisanku disana? Apa aku sudah cukup cepat menutup laptop itu?’ Pikiran-pikiran meragukan ini memenuhi isi kepala Doni. Cukup lama dia ragu, namun akhirnya dia bangkit dan berdiri meyakinkan dirinya sendiri.

‘Nggak. Aku pasti sudah cukup cepat menutup laptopnya. Si Oliv pasti nggak lihat apa-apa’, gumamnya seraya mengambil handuk untuk mandi. Dia berharap guyuran air dingin dapat menyegarkan kepalanya dan mengusir jauh-jauh pikiran-pikiran tadi.

1
Aisyah Utami
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!