NovelToon NovelToon
TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:13M
Nilai: 4.9
Nama Author: meliani

IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.

Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?

Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akad Nikah Suamiku

Malam ini tidak berlalu seperti biasanya. Setelah terjadi perdebatan di belakang rumah, Yudha tidak mengizinkan Vita keluar dari kamarnya sedikit pun. Pria itu mengunci pintu dan melemparkan kuncinya ke atas lemari yang membuat Vita tidak dapat menjangkau ketinggian lemari tersebut.

Lantas untuk apalagi kalau bukan urusan hasrat?

Satu hal yang tidak pernah bisa dipahami, walaupun salah satu di antara mereka sedang merasa benci, marah, kesal atau sebagainya, tapi kalau untuk satu hal ini hampir tidak ada yang bisa menolak. Entah itu disebabkan oleh karena ikatan pernikahan—atau memang karena tuntutan alam yang mengharuskannya demikian. Sebab menjauh dari kewajiban yang satu itu adalah hal yang paling menyiksa. Selalu timbul kerinduan yang membuat semua orang menjadi uring-uringan, gelisah tak menentu.

Yudha memejamkan matanya, merasakan kepuasan yang sudah dia tuntaskan kepada wanita yang pertama kali merenggut keperjakaannya. Beberapa kenangan membayang di pikirannya, memutar kembali malam pengantin mereka di hujan malam yang deras. Di sanalah untuk pertama kalinya kelelakiannya dipancarkan. Saling menyentuh dalam balutan syahwat.

Sebuah kenikmatan yang tidak pernah ia lupakan. Namun paginya, dia masih menyiksa istrinya lagi dengan rayuan-rayuan yang membuat Vita tak kuasa menolak meski harus berulang kali meringis merasakan pedih.

Ah, andaikan dulu ia jadikan saja Vita seorang teman. Andaikan dulu ia tak tertarik pada saat mereka saling menggenggam. Pasti Vita tidak akan pernah tersiksa karenanya. Namun terlambat. Rasa sayangnya kini tumbuh semakin besar. Dan dia tidak akan sanggup ditinggalkan oleh Vita. Licik dan serakah, demikianlah sebutan yang pantas untuk Yudha.

Vita merapatkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan napas berat yang tak beraturan. Begitu juga yang tengah dilakukan pria di sebelahnya. Dalam keremangan lampu yang temaram, masih terlihat wajah tampan suaminya yang memesona. Yang sama-sama melihatnya dengan sorot mata dalam, hingga menembus ke relung hati, menunjukkan besarnya cinta yang sudah ia miliki.

“Apa yang membuatmu terpaksa melakukan hal ini?” tanya Vita. Bermaksud menanyakan tentang menikahinya dan memasukkan dirinya ke dalam hidup mereka. Karena ia merasa perdebatan di belakang rumah belum benar-benar mereka selesaikan. Jawaban Yudha selalu terdengar ambigu di telinganya.

“Aku tidak pernah terpaksa,” jawab Yudha singkat.

“Apa yang membuatmu ragu untuk memilih?” tanya Vita lagi. “Justru kehidupanku berubah jauh lebih baik pada saat aku sendiri dan Mas Yudha tahu itu.”

“Jangan bahas itu, Vita. Ini bisa merusak hubungan kita yang baru saja membaik. Aku akan berbuat adil kepada kalian berdua.”

“Adil?” Vita tersenyum miris. “Itu tidak mungkin. Memangnya kamu Tuhan yang bisa adil?”

“Lalu maumu apa? Ingin aku menyakiti Rahma demi membahagiakanmu?” tanya Yudha menyentak. “Apa yang kamu rasakan, pun sama apa yang Rahma rasakan. Bahkan mungkin jauh lebih sakit. Tidak perlu kujelaskan pun pasti kamu sudah mengetahuinya.”

“Aku tahu kau jauh mengenalnya lebih dulu daripada kau mengenalku. Tapi Rahma belum menjadi istrimu sekarang. Tidak usah kau bela sampai segitunya.”

“Sssh ... sudah malam. Beristirahatlah!” pungkas Yudha tak ingin membahas masalah ini lebih lanjut agar tak memicu perdebatan berkelanjutan.

“Aku membencimu!” isak Vita disela ucapannya. “Mas Yudha selalu begitu kalau aku membahas masalah ini. Aku seperti anak kecil yang merengek meminta sesuatu tapi tidak dipedulikan orang tuanya. Kamu benar-benar jahat.”

Yudha menggeleng. “Maaf, Vita ... maaf. Tolong jangan menangis lagi.”

Pria itu mendekap tubuh Vita ke dalam dadanya. Menunjukkan penyesalannya, menciumi telapak tangannya dan mengatakan permohonan maafnya berkali-kali. Hingga mengingatkan Vita pada kenangan manis mereka di dapur rumahnya di hari yang telah lalu. Saat itu, wajah Yudha berlumuran ampas kelapa sehingga membuatnya tergelak tawa.

***

Keesokan hari, Yudha dan Vita sudah jauh lebih akur daripada sebelumnya. Mereka saling membangunkan, ibadah bersama, kemudian Vita menyiapkan pakaiannya.

Merasa diperhatikan seperti itu lantas membuat Yudha memperlakukannya serupa.

“Tumben manis sekali istriku,” ujar Yudha menyatakan perbedaannya.

“Biasa saja!” cebik Vita pura-pura.

Selagi libur, pria itu menghabiskan waktunya di dalam kamar Vita untuk memanjakannya, memangkunya dan membercandainya hingga perempuan itu berulang kali tersipu.

Tentu tidak bisa ia lakukan di luar sana lantaran banyak orang yang berlalu lalang dan tidak mungkin memperlihatkan keintiman ini di hadapan banyak orang.

“Mas Yudha tidak turun untuk sarapan?” tanya Vita yang tak bisa lepas dari dekapan suaminya.

“Tidak, istriku ingin suaminya tetap di sini.” Yudha tersenyum.

“Itu keinginanmu. Bukan keinginanku.”

“Yakin?” godanya mengerling nakal. “Berarti sudah boleh ke kamar sebelah?”

Vita menggeleng sedih. Meskipun dia tahu itu hanya bercanda, tetapi tetap saja rasanya menyayat hati. “Jangan.”

“Ya sudah, kita di sini saja. Tidak usah makan, tidak usah minum.”

“Kalau lapar?”

“Aku akan memakanmu lagi.”

“Lagakmu membuatku mual.”

“Aku sungguh-sungguh. Tidak sedang membual,” Yudha berbisik di telinganya. “Aku memang menginginkanmu lagi.”

“Bisakah kita tetap seperti ini, Mas?” Vita menatap penuh harap. Sungguh dia tidak sanggup berbagi suami yang sangat perhatian dan luar biasa ini. Yudha adalah cinta pertamanya. Pria yang pertama kali menyentuhnya, dan mungkin akan menjadi yang terakhir. Vita tidak yakin bisa mencintai sedalam ini lagi.

“Tentu,” jawab Yudha pasti.

“Tanpa ada ....”

“Kamu akan terbiasa, percayalah.”

‘Aku tidak akan pernah terbiasa.’

Vita terdiam. Dalam hatinya memberontak ingin meluapkan, tetapi tak kuasa melawannya. Meminta bercerai sebenarnya juga bukan hal yang menguntungkan. Sebab ia sudah tidak suci lagi. Yudha telah mengambilnya, tepat di malam ke empat pernikahan.

Tok tok tok!

Kebersamaan mereka langsung terusik manakala mendengar pintu diketuk.

“Ada tamu,” kata Vita menoleh ke suaminya.

“Biar aku saja,” jawabnya kemudian membenahi pakaiannya dan beranjak dari tempat tidur menuju ke pintu. “Ya, Bi?” ujarnya ketika melihat sosok paruh baya tersebut di depannya.

“Maaf, Mas. Ganggu. Ada tamu untuk Mas Yudha.”

“Oh, iya sebentar.” Yudha turun meninggalkan Vita di kamarnya. Tepat di ruang tengah dia mendapati Ibu Nely serta Rahma dan juga Uminya sedang berbicara.

“Kak?” ucap Rahma ketika melihat pria itu muncul dari arah tangga.

Umi Ros langsung menyahut. “Ya ampun, jam segini masih pakai sarung. Ada tamu, Nak. Malu.”

“Yudha pikir tadi bukan Ibu sama Rahma,” Yudha menjawab seraya menghempaskan tubuhnya ke kursi.

“Mungkin dia habis dhuha, Jeng,” sela Ibu Nely. Kenyataan itu tidaklah benar. Sebagai wanita tua yang sudah kenyang makan manis asin garam pertempuran ranjang—sudah jelas beliau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di perkuat dengan bukti rambut Yudha yang berantakan. Namun beliau juga tak mungkin mengatakannya lantaran tidak sepantasnya dikatakan, apalagi ada putrinya yang harus ia jaga perasaannya.

“Ada apa, Bu?” tanya Yudha.

“Oh, iya, sebentar.” Ibu Nely mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang dibawanya. “Ini katanya bajumu sedikit kekecilan kemarin. Kalau baju Rahma sih sudah pas.” Ada jeda beberapa lama sebelum beliau melanjutkan lagi, “Harus segera di coba untuk diketahui seberapa kekurangannya, soalnya waktunya sudah sangat mepet sekali. Takut tidak keburu karena perbaikan butuh waktu yang cukup lama.”

Itu adalah baju akad yang sengaja Nely rancang sendiri untuk pernikahan putrinya. Kebetulan, memang sudah menjadi profesinya menjadi perancang busana.

“Coba dulu,” Nely menoleh ke samping. “Ayo, bantu pakaikan ke calon suamimu!” titahnya kepada putrinya.

Rahma mengangguk mengiyakan walau dia agak terlihat ragu-ragu. Sementara Yudha membiarkan saja apa yang sedang Rahma lakukan padanya. Mengancing baju yang sedang dipakaikan kepadanya tanpa berkomentar sama sekali.

Pikirannya tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam. Untuk sesaat, dia merasa dirinya sedang diperdaya. Hal ini sudah disadarinya sejak lama. Kurang lebih, pada saat calon mertuanya ini bertindak sangat cepat sekali dan terkesan terburu-buru. Bahkan tidak ada dalam rencananya menikah dengan menggunakan resepsi besar-besaran—yang jelas-jelas menyalahi akidah.

“Oh, iya. Sedikit kekecilan di bagian bahu. Ya sudah, nanti Ibu perbaiki lagi,” kata Nely yang tidak terlalu ditanggapi oleh Yudha.

Namun mata pria itu tak sengaja menangkap sosok Vita yang batal turun. Kemungkinan karena melihat Rahma di sini.

“Sebentar, saya ada urusan.” Sontak Yudha melepas pakaian itu dan menyerahkannya kembali. Dia menyusul Vita ke kamarnya dan kembali mendapati Vita sedang menunduk sedih walau kali ini tidak mengeluarkan air mata.

Keluar sejenak, dia kembali ke kamarnya sendiri untuk mengambil sesuatu di lacinya. Box berbentuk hati yang terisi berbagai perhiasan dengan cincin terpisah. Dia berpikir, akan lebih baik jika ia menyerahkan kepada Vita dulu sebelum ia menikahi Rahma nantinya.

“Aku punya sesuatu untukmu,” katanya setelah kembali kepada Vita.

Vita tersenyum. “Apa itu?”

“Aku belum memberikanmu ini,” jawab Yudha. “Kemarikan tanganmu,” katanya lagi sambil menarik tangan istrinya. Kemudian memasukkan cincin yang dihiasi satu permata di tengahnya. Lagi-lagi Vita tersenyum. Menatap jarinya sendiri yang sudah terisi sebuah cincin. Lantas menerima lagi satu paket perhiasan lain yang Yudha berikan tersebut.

“Aku akan tetap menikahimu secara sah nanti begitu semua pernikahan ini selesai.”

Vita hanya menatap sekilas. Baginya, itu sudah tidak penting lagi. Bahkan dengan tanpa menikah lagi secara negara pun tidak akan bisa mengubah semua yang ada pada dirinya.

***

Tak terasa hari pernikahan itu telah tiba. Vita sekarang sudah berada di sebuah gedung tempat suami dan calon istri keduanya melangsungkan pernikahan.

Tampak dekorasi berdiri begitu indah dan megah. Tempat raja dan ratu sehari nanti bersanding di sana. Tidak pernah Vita melihat secara langsung pernikahan semewah ini.

“Kalian benar-benar luar biasa,” gumamnya tersenyum miris.

Vita datang dengan memakai hijab. Dan sudah ia putuskan untuk selalu memakai penutup kepala mulai hari ini. Untuk memantaskan diri sebagaimana seorang menantu dari keluarga yang katanya agamis.

Meski Vita sendiri merasa belum siap untuk berhijab secara batin, tetapi harapannya, ia bisa berubah menjadi lebih baik, menyesuaikan dengan apa yang ia pakai di kepalanya. Pemuka agama mengatakan, hidayah itu di jemput bukan ditunggu kapan datang.

“Hei, kenapa kau tidak memakai baju seragamnya?” tanya Ibu Nely ketika mendapatinya memakai baju yang berbeda. “Biar serasi, loh sama yang lain. Biar selaras.”

“Aku tidak nyaman, maaf Bu,” jawab Vita dan segera meninggalkannya. Karena memakai seragam itu berarti ia sama saja mendukung pernikahan ini. Padahal sudah jelas-jelas dia tahu bahwa Vita menolak dengan tegas.

“Lebih baik aku tidak masuk ke sana,” gumamnya. Kedatangannya hanyalah sebuah formalitas atau sekadar menyetorkan wajah saja. Karena begitu akad selesai, dia berniat akan segera kembali ke rumah.

Tamu sudah mulai berdatangan. Keluarga dari mempelai lelaki mau pun perempuan sudah memadati aula pernikahan. Berikut dengan penghulu dan calon pengantin pria yang sudah duduk di tempat yang seharusnya.

Yudha, pria itu sangat gagah memakai balutan pakaian berwarna putih. Dikepalanya di pasang peci dengan warna yang sama. Pun dengan Rahma. Oh tidak, Vita tidak munafik. Dia membenci wanita itu beserta keluarganya. Dan Vita tidak ingin memuji dari mulutnya sendiri bahwa wanita itu memang cantik.

Tidak ada yang terlihat miskin di sana. Semua yang datang adalah orang-orang terpandang. Vita benar-benar malu mengaku sebagai menantu dari keluarga Al Fatir.

Beberapa menit yang lalu, sebelum berangkat, Yudha memang sempat menemui Vita. Dia memeluknya sangat erat. Dalam isaknya dia kembali mengucapkan permohonan maaf.

Lantas kalau dia tahu ini perbuatan yang salah dan menyakitinya, kenapa Yudha tetap melakukannya?

Ini aneh sekali dan tidak bisa Vita mengerti.

Beberapa hari yang lalu, hubungan mereka juga sangat membaik dan selalu mesra. Apalagi saat malam-malamnya—karena Yudha mempunyai waktu saat malam saja. Sebab, siangnya dia harus bekerja.

Vita tidak tahu pada saat-saat mendekati pernikahan, kenapa hubungan mereka malah semakin lengket? Ataukah dirinya yang sudah mulai lelah menentang keadaan yang tidak mungkin berpihak kepadanya? Sehingga dengan sendirinya dia pelan-pelan dapat menerima?

Lututnya semakin lemas manakala mendengar penghulu membacakan doa-doa penyambutan. Bagaikan teraduk-aduk hatinya. Dadanya seperti dihimpit sebongkah batu tajam, lantas rasa sakitnya merambat ke pelipis sehingga membuat mata menjadi perih.

Hingga tiba saatnya, suara orang yang ia cintai terdengar menyebut nama wanita lain.

“Saya terima nikahnya Nur Rahma binti Bapak Ilyas, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”

Tes. Air mata wanita itu meluncur deras tanpa aba-aba. Dia berpegangan pada dinding gedung agar tubuhnya tidak sampai roboh.

Terhuyung-huyung Vita berjalan untuk mencari tempat duduk. Dia tidak dapat membedakan lagi antara sadar atau pingsankah dirinya saat ini.

Beruntung dia tidak sedang berada di dalam aula pernikahan itu. Kalau tidak, dia akan menjadi tontonan banyak orang yang menatapnya begitu iba.

Sementara itu, Alif yang tidak melihat keberadaan kakak iparnya berusaha mencari sampai keluar aula pernikahan. Apa yang dipikirkan olehnya saat ini tidak lebih dari sekadar rasa kasihan.

Sudah pasti Vita akan menyendiri dan tidak mungkin kuat berada di dalam sana. Menyaksikan suaminya tengah berbahagia, bersanding dengan perempuan lain.

Dan nyata adanya. Pada saat Alif menemukan wanita itu, dia sedang duduk seorang diri di samping aula pernikahan. Wajahnya sangat kacau sekali. Sedih, melamun dan menatap kosong ke sekeliling seperti orang yang tengah kebingungan.

Hingga sampai posisi sedekat ini pun, Vita masih juga tak menyadari keberadaannya. Hati Alif ikut nyeri melihat Vita demikian. Betapa teganya Yudha berbuat seperti itu!?

“Aku bisa mengantarkanmu pulang kalau kau mau,” kata Alif tanpa perlu menyapa terlebih dahulu.

Tak lama kemudian, Vita mengangguk walau tanpa jawaban yang keluar dari mulutnya.

Sesampainya di rumah, Bi Retno langsung menyambut dan memeluknya sebagai penenang. Pun dengan Umi Ros yang memilih pulang lebih awal demi mendatangi menantu pertamanya. Beliau masuk ke dalam kamar Vita untuk memberikannya dukungan atau support agar Vita tak merasa sendirian.

“Sabar, ya, Nak. Urusan hati memang tidak bisa dipaksakan. Karena itu ada di dalam jiwa masing-masing dan hanya mereka sendiri yang dapat mengendalikannya. Tapi percayalah, putraku pasti bisa berbuat adil dengan kalian berdua,” ujar Umi setelah banyaknya rentetan kalimat yang diucapkan kepadanya. Namun sayangnya, tidak ada satu pun yang dapat Vita tangkap dan tersangkut di dalam pikirannya kecuali sebuah fakta yang menyakitkan.

“Oh Ya Allah ... apakah dosaku?” Vita merintih setengah bersujud di lantai pada saat malam hari mulai menjelang. “Aku terjepit di antara takdir yang tidak mengerti sedikit pun keadaanku. Dan celakanya aku tidak berdaya apalagi melawan selain menerima dan menunjukkan diri, bahwa aku baik-baik saja. Salahkah jika aku meminta keadilan?”

Di dalam kamar seorang diri, Vita menangis seharian sampai larut malam. Tidak ada henti-hentinya mata itu mengalir, mengingat sedang apa suami dan istri barunya saat ini.

“Duniaku telah berakhir!”

***

To be continued.

1
Ara Dhani
begitulah yg dirasakan Vita saat MLM pertama mereka . Yudha menyebutkan nama rahma
Ara Dhani
sakitnya sampai sini ya allah😭
Lina Astika Sari
jangan terlalu kamu sanjung yuda
Lina Astika Sari
sakit sekali di banding²kan😥
Lina Astika Sari
woopppss.. sakitnya
Lina Astika Sari
jadinya huruf hijaiyah ya vita😂😂😂
Lina Astika Sari
sejenis anggora mas alif😂😂
Lina Astika Sari
katanya yudha tempat trrnyaman dan tenang hanya rahma.. ini kok malah vita memng dah aneh ni yudha
Lina Astika Sari
setelah vitanya pergi baru sadar.. bahwa dy mencintai vita begtu dalam
sutiasih kasih
kmana aja km yud.... baru tau klo vita itu jauh lbh unggul dri istri ksayanganmu si rahma....
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...
Ara Dhani
ngakak di part ini😆😆
Ara Dhani
ya allah.. part ini ngakak aku😂😂
Ara Dhani
spesies langkah betina ini mah😂
sutiasih kasih
kasih paham yudha lif..... biar abangmu itu waras dikit otaknya🤣🤣
Komariyah
Buruk
Khairul Azam
meskipun klo km dipaksa, klo km tegas dan punya pendirian gak bakalan jg nikahin rahma yuda, tp ya gimana lgi emang emang ceritanya dibikin begini sama othornya
Khairul Azam
disininyg perlu disalahkan yuda
Khairul Azam
aku gak ada kasihannya tu sama ini kluarga yuda karma itu
Khairul Azam
aku gak sukanya begini terkesan vita cuman jd cadangan
Khairul Azam
laki laki tak berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!