Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Memanah
Ali mengajak Aisyah ke dapur istana, disana Ali menunjukkan tempat alat masak, bumbu bumbu dapur dan rempah rempah, serta bahan masakan, setelah itu Ali menunggu di ambang pintu, dia tidak ingin ada orang yang melihat dia berduaan.
setelah beberapa lama dia melihat sebuah bayangan yang semakin mendekat ke arah dapur, setelah cukup dekat dia mengetahui siapa yang datang, ternyata permaisuri.
"Ali.... sedang apa kau disini?" permaisuri heran melihat putranya sedang berdiri di pintu dapur.
"em.... begini ibunda...." melihat putranya yang tak jelas bicara, dia mengira putranya sedang kelaparan.
"apa kau lapar?" permaisuri hendak masuk kedapur, dia terkejut melihat seseorang sedang memasak. "siapa itu?".
permaisuri bingung, kenapa mereka berdua ada di dapur, lalu Ali menceritakan kejadian sebenarnya.
permaisuri merasa tidak enak hati kepada Aisyah yang datang sebagai tamu, tetapi tidak mendapatkan jamuan yang seharusnya, dia memang sedang sibuk di kliniknya, dan pulang saat malam, banyak pasien hari ini.
Aisyah juga malu karena ketahuan lapar tengah malam, dia memang tidak bisa tidur dengan perut kosong.
permaisuri meminta Ali untuk memotong Dua ekor ayam, dia meminta Aisyah membuat bumbunya, dia sendiri akan memasak hidangan lainnya.
setelah semua selesai meraka bertiga langsung menyantap hidangan tersebut, beberapa kali permaisuri memuji masakan Aisyah, Ali juga menyetujuinya, melihat Ali melahap sebagian besar masakannya, Aisyah merasa sangat bahagia.
"Aisyah, apa kau suka ilmu kedokteran?" tanya permaisuri setelah menyelesaikan makanan di piringnya.
Aisyah menoleh sambil menghabiskan sisa makanan dalam mulutnya "permaisuri... hamba sebenarnya ingin sekali belajar ilmu pengobatan, namun hamba tidak memiliki kesempatan." Aisyah mengingat cita citanya yang telah terkubur dalam.
"hm... panggil aku ibu saja, tak usah terlalu formal, bagaimana jika aku memintamu untuk membantuku di klinikku?" wanita itu merasa gadis di sampingnya sama seperti dirinya waktu muda, walaupun tidak terlahir jenius, namun memiliki semangat dan kerja keras.
"tapi.... bunda..." dia akhirnya memilih panggilan bunda untuk permaisuri sama seperti Ali, entah apa yang membuatnya memilih panggilan itu, dia sendiri tidak tahu.
"nah panggil bunda itu juga bagus...." wanita itu bahagia mendengar gadis itu memanggilnya bunda, itu artinya dia sudah merasa nyaman. "kau tidak usah khawatir, aku yang akan memintamu pada ayahmu." ucap wanita itu melihat keraguan gadis itu.
"Dia akan mengikuti lomba pendekar muda berbakat bunda." jawab Ali melihat kesalah fahaman diantara keduanya.
wanita itu terkejut "haaah, kau belajar bela diri juga?" sekarang dia sudah menghadapkan wajahnya pada gadis di sampingnya, Aisyah mengangguk. "kau mempelajari bela diri apa?" wanita itu penasaran, gadis yang terlihat sangat anggun itu ternyata salah satu jenius bela diri.
"saya mewakili asrama putri perguruan Tapak suci bunda." Aisyah memberanikan diri menatap sebentar perempuan disampingnya.
" dia sudah berada di tingkatan perdekar bintang ke 6 ibunda." Ali menambahi.
"haaaaah..." wanita itu sulit mempercayainya, dia sadar zaman sudah berubah, wanita bisa lebih berkembang, seperti dirinya.
"apa kau suka belajar memanah?" permaisuri bertanya seperti itu karena Ali ahli memanah.
"dia ahli bela diri tangan kosong ibunda...." Ali mengetahui maksud ibundanya, dia pasti ingin Ali mengajari gadis itu.
"Aisyah suka sekalu bunda, apa bunda mau mengajari Aisyah memanah?" gadis itu sangat antusias.
Ali menutupi kedua wajahnya, permaisuri tidak bisa menahan tawanya, melihat Dua ekspresi yang berbeda dari kedua teman ngobrolnya itu.
"kenapa kau tidak belajar memanah, jika memang dirimu lebih menyukai bela diri memanah?"
"bela diri memanah hanya ada di perguruaaaa...." gadis itu tidak melanjutkan ucapannya, dia menoleh pada Ali. 'apa pemuda ini juga bisa memanah?' Aisyah membatin.
"ya.... Ali akan mengajarimu memanah, dia sudah mendapatkan lencana bintang Delapan dari gurunya, kau tak perlu khawatir." wanita itu seolah bisa membaca pikiran lawan bicaranya.
" ti... tidak perlu bunda, saya akan meminta Abi untuk mendaftarkan saya di perguruan Singa Langit."Aisyah merasa tidak enak jika harus belajar dari orang yang seusianya, apalagi Ali, pemuda yang sudah menyita separuh waktunya.
"apa kau benar benar tidak menyukai putraku?" wanita itu menatap Aisyah begitu intim, seolah ingin membaca sorot mata gadis itu.
gadis itu hanya terdiam, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"sudahlah ibunda, jangan mendesaknya seperti itu." Ali merasa tidak enak jika ibundanya sampai memberikan pertanyaan pertanyaan seperti itu.
"iya bunda, Aisyah ikut apa kata bunda saja." Aisyah menundukkan pandangannya, dia tidak mau calon mertuanya itu melihat wajahnya yang sedang memerah, karena malu mengakuinya.
*********
Satu bulan telah berlalu dari malam yang begitu indah itu, karena permaisuri sendiri yang meminta kepada mentri pertahanan agar putrinya tinggal di istana untuk belajar ilmu kedokteran maka dia tidak bisa menolaknya, dia sangat bersyukur karena apa yang dia pikirkan tidak terjadi.
Dia pikir pangeran mahkota akan menceritakan kejadian pertemuan pertama putrinya memutuskan pertunangan itu, kepada keluarganya, namun melihat situasi yang terjadi dia yakin apa yang dia khawatirkan tidak akan terjadi.
Aisyah sudah terbiasa menjalani aktifitasnya, di pagi hari dia akan ikut permaisuri ke klinik untuk belajar ilmu kedokteran, sore harinya dia belajar memanah dengan pangeran mahkota.
Ali sering mengatakan "jadikan busurmu sebagai bagian dari anggota tubuhmu." kata kata itu setiap hari dia katakan pada Aisyah, tak pernah bosan.
sampai sore ini dia baru merasakan maksud dari kata kata itu. dia tidak merasakan beban di busurnya, seolah olah busur itu adalah anghota badannya sendiri dia bisa menyalurkan tenaga dalamnya pada busur itu, sehingga busurnya mampu menangkis pedang lawannya tanpa tergores sedikitpun, tentu saja pedang yang di gunakan lawannya bukanlah pedang Tiga pusaka tanpa tanding.
"kak...." Aisyah memanggil Ali yang sedang berjalan di depannya, saat selesai latihan.
"hm.... ada apa dik?"
"berapa lama kakak belajar di perguruan Singa Langit?"
"sekitar Sepuluh tahun, kenapa dik?"
"emm... ah tidak apa apa"
gadis itu tidak melanjutkan pertanyaannya, Ali menghentikan langkahnya dia berbalik badan, gadis itu kaget karena Ali berhenti.
"kenapa dik?" tanya Ali.
gadis itu menunduk tidak berani mengangkat mukanya. "apa disana ada gadis yang perhatian sama kakak?" dia bertanya dengan hati hati.
"disana tidak ada asrama wanita, jadi tidak ada gadis yang perhatian seperti yang kau pikirkan." jawab Ali santai.
"satupun?" gadis itu memaksanya berfikir kembali.
Ali akhirnya teringat Shafia, putri bungsu ketua perguruannya itu. "entahlah... mungkin hanya putri bungsu Guru Abu Hamzah" Ali lalu menceritakan tentang dirinya yang menolong gadis itu, dan melatih pedang gadis itu atas permintaan gurunya juga.
Aisyah merasakan hangat di sudut matanya, dia memalingkan wajahnya dari Ali. "apa kakak menyukainya?" gadis itu benar benar sudah tidak bisa berpikir jernih, sampai sampai pertanyaan seperti itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Ali juga tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari gadis yang telah menolak pertunangannya, 'apa dia berubah pikiran?'. Ali tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak bisa memahami perasaan seorang wanita, dia takut salah bicara, namun dengan diam dia juga takut gadis itu akan salah sangka terhadapnya.
~1072kata.