Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Rindu
Della ....
Di kota ini tak pernah ada seorangpun memanggilku dengan nama itu. Bila bukan seseorang dari masa laluku, kemungkinan adalah keluarga dekatku saja.
Kudongakkan kepalaku untuk mencari tahu perihal siapa yang memanggil nama itu. Untuk sejenak aku masih mengumpulkan seluruh kesadaran serta logika yang kupunya.
"Kamu Della, benar 'kan?" Seorang wanita berpenampilan menarik mengulangi kalimat yang menyebutkan bahwa aku ini Della.
Kedua teman makan siangku saling pandang dan berdiri menghadap wanita itu seraya memberikan sebuah anggukan kepala seperti seolah sedang memberikan hormat pada wanita yang masih berdiri dengan senyum menawan di hadapanku.
Aku mulai menyipitkan kedua manikku dan mengingat-ingat siapa gerangan wanita yang telah menyebutkan namaku tadi. Selama ini aku tak memiliki teman satu alumni baik itu di sekolah menengah atau kuliah di kota ini. Tapi mengapa wanita itu begitu yakin bahwa aku adalah Della. Dan ia mengulangi lagi guna menekankan pendapatnya.
Wanita yang hingga kini masih tak bisa ku kenali itupun duduk bersanding denganku, bersamaan dengan itu kedua partner kerjaku kembali duduk dan melanjutkan kegiatan makan mereka.
Aku berbalik menghadap wanita yang sejak tadi sibuk mengamati diriku. Ku yakini arah pandangnya mulai menelisik dari ujung kepala hingga kakiku. Siapa sebenarnya wanita ini? Mengapa ia sangat yakin mengenal diriku di masa lalu?
"Maaf, sejujurnya saya tidak mengenal Anda!" Aku memberanikan diri bertanya perihal siapa sesungguhnya dia. Dan pernah ada hubungan apa denganku.
"Kita pernah bertemu satu kali waktu itu? Apa kamu tak ingat aku?"
Sumpah demi apapun, bahkan aku berani bersumpah pada langit dan bumi serta isinya bahwa aku tidak mengenal dirinya. Pernahkah aku bertemu dengan sosoknya? Di mana? Mengapa aku sama sekali tak mengingatnya?
Kugelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Hingga detik ini aku memang tidak pernah merasa kenal pada orang asing itu. Pikiranku sadar, sangat sadar malah! bukan karena terpengaruh oleh penyakit yang kuderita, tapi aku memang tidak mengenalnya.
"Tumben sekali Bu Nety makan siang di kantin perusahaan?" tegur pemuda bagian keuangan sedikit malu-malu pada wanita yang menyapaku tadi.
Bila dilihat dari gelagat hormatnya kedua partnerku, kuyakin bila orang yang mereka panggil Bu Nety merupakan orang penting di perusahaan ini.
"Sesekali boleh dong makan siang bareng?" sahut wanita asing yang kini duduk bersebelahan denganku.
"Kita pernah saling kenal?" naluri ingin tahuku semakin besar karena baik sadar atau tidak, aku tak pernah mengenal wanita itu sama sekali.
"Iya, kita pernah bertemu sekali! saat itu kamu bersama Syadam."
Seketika makanan yang telah kukunyah sungguh sulit untuk kutelan. Rawon itu kini cukup tak menyenangkan untuk segera masuk ke dalam tenggorokanku, hingga memerlukan segelas air putih untuk membantunya masuk ke dalam organ pencernaan lainnya.
Syadam lagi ... mengapa pria itu bergentayangan bagai hantu yang bisa muncul kapan saja baik itu wajah menyebalkan serta namanya? Perlukan aku memasang sign dilarang mendekat untuk nama itu?
Nama itu seperti gelombang yang bisa menghantam karang, nama itu bagai bait-bait mantera yang mampu menghujam dada. Nama itu lembut, tetapi panas karena mampu menyulut bara api. Nama itu adalah nama orang yang sangat ingin aku hindari di kehidupan yang fana ini.
"Oh ..." Hanya itu saja jawabku, aku tak ingin melanjutkan pembicaraan tak berarti ini. Bagiku masa lalu apapun bila menyangkut dengan Syadam telah padam. Temaram bagai malam tanpa nyala dari pelita sedikitpun.
Kulirik jam tangan buatan negara sakura di pergelangan tangan kiriku, sudah lebih dari cukup kami bertiga break untuk makan siang.
Dari obrolan selama makan siang ini aku bisa menyimpulkan bahwa wanita yang sejak tadi mencoba untuk dekat denganku merupakan salah satu orang penting di PT Arga Mulia Textile.
Bu Nety, pemilik rambut lurus serta sedikit kecoklatan itu juga pamit pada kami bertiga. Sikap ramahnya serta perhatian yang ia tujukan pada pegawainya seperti Bu Monic serta pemuda bagian keuangan itu patut menjadi contoh seorang atasan.
"Bu Nety adalah direktur pemasaran kami!" Bu Monic mengenalkan atasannya padaku ketika wanita yang bernama Nety itu setelah punggungnya menghilang di balik dinding kokoh kafetaria.
"Oya, masih sangat muda ya?" pujiku pada wanita muda yang merupakan direktur pemasaran tersebut.
"Tentu saja, karena perusahaan ini milik keluarganya. Jarang sekali Bu Nety makan siang bersama para pegawai, mungkin karena ada Anda temannya?" Bu Monic mencoba memujiku, ia berkata Nety datang ke kantin karena kehadiranku.
"Ah mana mungkin, memangnya siapa aku?" Aku menekan pada kedua orang ini bahwa kau berkedudukan setara seperti mereka berdua. Hanya seorang pegawai biasa yang mengabdi pada perusahaan yang menggaji kami. Meksi jenjang kaririku bukan lagi junior tax consultant lagi, tapi tetap saja.
Mungkin kau bisa mengubah mimpiku,
Mungkin juga kau bisa menghapus ingatanmu.
Mungkin kau bisa hentikan langkahku,
Mungkin juga kau bisa melenyapkan jejakku di hatimu.
Tapi kau tak 'kan mampu membunuh suara hatiku, suara yang selalu melantunkan syair indah menyejukkan jiwa hingga membuatmu terlena.
Kau tak mampu pula menghancurkan jiwaku, karena aku tahu, aku adalah separuh hidupmu.
Lewat nyanyian ini ingin ku ungkapkan betapa aku merindukanmu. Lewat sajak indah ini, ingin ku bisikan kasih tanpa balasan ini. Lewat puisi ini, ingin ku belai lembut jiwamu.
🍁🍁🍁
NB : Hari ini merupakan hari terakhir batas Giveaway bulan ini. Nantikan pengumumannya eksklusif hanya di chapter-chapter selanjutnya.
Am so proud of u all, u are my big suport for me. Thanks you so much for always with me.
Another love
Pacar Ooh Sehun
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻