Seorang gadis yatim piatu tinggal dengan neneknya, bertemu dengan CEO tampan. Pertemuan yang tak di sengaja membuat mereka mereka terikat di sebuah pernikahan.
"Tuan Alex yang terhormat, jangan coba-coba menyentuhku atau kau harus ganti rugi." jari telunjuk Arie menegak tepat di wajah Alex, Arie merasa itu akal akalan Alex agar bisa menyentuhnya.
"Cih.. kau bahkan bukan levelku."
Alex menatap tak kalah mengintimidasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu lagi
Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi, sementara seorang wanita memakai memakai gaun pengantin duduk di tepi ranjang dengan make up dan rambut yang berantakan. duduk manis dengan sesekali menggaruk rambutnya merasa lengket lepek mukanya tak nyaman karena make up yang menempel di wajahnya semalaman.
Ceklek..
"gila.. benar benar wanita gila, aku tidak boleh mabuk lagi, kalai tidak habis semua uangku" Alex terus menggerutu sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Meskipun Alex anak orang kaya namun kakeknya mendidiknya dengan keras bahkan dia harus menjadi karyawan magang di kantor saat masih kuliah dengan gaji yang sama dengan yang lain tanpa di bedakan sama sekali, jadi Alex sangat menghargai jeri payah yang ia hasilkan selama berkerja.
"hey... ngapain masih disitu cepat mandi" Alex berjalan mendekati Arie yang masih duduk membelakanginya di tepi ranjang menghadap jendela kaca besar.
Arie menoleh memperlihatkan wajahnya yang kusut, malu tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa melakukannya sendiri, sambil mengucek ucek baju yang di pakainya Arie bangkit berjalan ke arahnya Alex.
"ada apa?". Alex berkacak pinggang rasanya masih kesal melihat wajah Arie.
"itu..anu....anu..." Arie menunduk sambil menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri.
"anu..anu..yang jelas kalau ngomong"
"bukain baju ku dong" suara Arie sangat lirih hampir tak terdengar.
"ngomong yang jelas"
"bukain bajuku" Arie berteriak tepat di telinga Alex.
"minta tolong yang benar dong jangan teriak teriak begitu, kalau telingaku sakit gimana, kalau budeg gimana, kan sayang ganteng tapi budeg" Alex terus mengomel tidak jelas sambil mengusap telinganya yang berdengung.
"ish... mau bantuin ga, kok malah ngomel ngomel sich" Arie memutar matanya.
"iya....sini aku bantuin, hadap sana" ujar Alex sambil mengibaskan tangannya.
"hadap mana" Arie menoleh ke kanan dan ke kiri.
"hah.. lemot" Alex memegangi bahu Arie lalu memutar badannya.
Alex menyibakkan rambut Arie ke bahunya, dan dia mulai mencari kepala resleting namun tangannya terhenti.
"ada apa kok ga di buka, cepetan dong"
"kena denda ga nich"
"ga, lagi diskon, kan aku minta tolong" sebenarnya Arie sangat malu, untung posisinya membelakangi Alex kalau tidak mau di tutup pake apa malunya.
Mendengar ucapan Arie, Alex pun mulai menarik resleting gaun Arie perlahan, seiring resleting yang semakin turun kulit punggung Arie semakin terlihat putih mulus di tambah leher yang terlihat dengan rambutnya yang hitam, membuat Alex menelan saliva.
Shitt kenapa mulus banget batin,
Alex , tangan nakal Alex mulai menyusup ke bahu Arie, merasakan kulit Arie yang lembut.
"hey.. cukup, lepaskan tanganmu"
"heheee.....katanya mau di bantuin" Alex menyengir.
"ga bantuin gitu juga, jangan mencari kesempatan hemh.. tidak semudah itu Ferguso" Arie tersenyum mengejek, melenggangkan kakinya ke kamar mandi.
"cih ... jual mahal, akan ku buat kau yang memintanya" Alex mengumpat pada hembusan angin yang keluar dari AC.
setelah selesai membersihkan dirinya Arie di landa gegana kedua handuk ada di luar, keduanya di pake Alex tadi, haduh tak ada selembar kain pun yang bisa di pake untuk menutupi tubuhnya, malu lagi.
Arie membuka pintu kamar mandi perlahan mengeluarkan kepalanya.
"Alex... " lirih Arie, namun Alex sibuk dengan ponselnya. "Alex" suara Arie langsung naik empat oktaf.
Alex langsung terjingkat, mengusap dadanya.
"apa sich, hobby bener bikin telinga orang sakit"
"handuknya tolong" muka Arie sudah memerah seperti udang rebus.
Alex menyeringai nakal, otak nakalnya mulai berkerja.
"oo.... handuk, dimana ya aku ga inget" Alex pura pura amnesia.
"itu di kasur" Arie menunjuk ke atas tempat tidur dimana dua handuk tergeletak di sana.
"iya.. hehehe" Alex mengambil satu handuk dan berjalan mendekati kamar mandi.
"apa cepat sini handuknya" Arie mulai sewot karena sedari tadi Alex tak kunjung memberikan handuk dia hanya cengar-cengir berdiri di depan pintu kamar mandi.
"kalau ga aku kasih gimana"
"CK... mau kamu apa sich" Arie sudah mulai kedinginan berdiri tanpa mengenakan sehelai benang pun dengan kepala dan tangan yang menyembul di sela pintu kamar mandi.
"tolonglah aku mohon" Arie mulai memohon.
"apa imbalannya"
"berikan dulu handuknya"
"janji dulu"
" janji apa,ga jelas kamu"
"akan ada masanya aku mengambil imbalan ku tapi tidak sekarang, kau harus berjanji akan memberikan saat aku memintanya"
"hah.. ok ok aku berjanji akan memberikan imbalan saat kau meminta, asal tidak menyalahi aturan kesepakatan yang kita buat"
"tidak bisa begitulah" Alex kesal kenapa wanita ini begitu susah di ajak kompromi.
"iya atau tidak, atau kau tidak akan mendapatkan imbalan sama sekali dan aku akan melaporkan mu pada kakek"
"jangan bawa kakek" dengan kesal Alex menyodorkan handuknya pada Arie.
"terima kasih, Tuan Alex"
cih aku ga goblok Ferguso gumam Arie dalam hati.
Arie pun keluar dengan melilitkan handuk di tubuhnya, membiarkan rambutnya yang basah tergerai dengan air yang masih menetes, pemandangan yang indah, wajahnya nampak segar dengan bibirnya yang tipis, sepertinya junior sudah mulai bereaksi,Alex menelan ludah dengan kasar melihat pemandangan itu.
sabar.. sabar .. junior ini ujian aku harus membuat meminta padaku, lihat saja nanti , gumam Alex dalam hati.
Arie kelimpungan di lupa dia tidak membawa baju ganti tidak mungkin juga dia memakai gaunnya tadi, apa dia harus meminjam baju Alex. Alex yang melihat Arie gelisah hanya tersenyum, melihat ekspresi wajah Arie menjadi hiburan tersendiri baginya.
"ini bajumu cepat pakai" lama lama Alex tak tega juga,dia menyodorkan paper bag pada Arie.
Arie mengerutkan keningnya, walaupun bingung tapi dia menerimanya.
"pak Darwis yang mengantarkan waktu kau mandi tadi" Alex menjelaskan.
Arie hanya ber "O" ria, dengan berlari kecil Arie menuju kamar mandi dan memakai baju baru lengkap dengan pengamannya.
Setelah Arie dan Alex siap mereka pun pergi untuk sarapan, dan bersiap untuk pulang, Arie tak mau berlama-lama di hotel, dia terus meminta untuk pulang. Alex sudah pusing di buatnya dan akhirnya mengiyakan permintaan Arie
cewek lain km perhatikan sedangkan istri sendiri km abaikan dasar gob**k