Seorang istri yang dijadikan hanya sebagai pemuas nafsu oleh suaminya. Dia adalah Sinta seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta. Kesulitan ekonomi membuat dia menjadi istri simpanan
dosennya.
Hingga Sinta hamil, suaminya menolak kehamilan Sinta dan menceraikannya di saat Sinta hamil muda.
Sinta tetap mempertahankan kehamilannya. Dengan perut membuncit, Sinta harus bekerja dan kuliah. Beruntung, Sinta mempunyai sahabat yang mendukungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Kampung
Tidak terasa penghujung semester genap sudah tiba, Sebelum ujian akhir semester mahasiswa mempunyai Minggu tenang selama dua Minggu. Menjelang ujian Sinta mempersiapkan diri dengan matang. Dan benar hasilnya tidak sia sia.
Sinta sumringah melihat nilai nilainya yang di tempel di dinding depan tata usaha Fakultas ekonomi. Dari delapan mata kuliah hampir semuanya nilainya bagus.
Tanpa menunggu para sahabatnya, Sinta langsung pulang ke rumah. Sinta bersiul di atas motor matic. Libur telah tiba. Hampir dua bulan ke depan para mahasiswa libur kecuali bagi mahasiswa yang mengambil semester pendek.
Jauh jauh hari Sinta udah berencana pulang ke kampung. Mengingat ini libur panjang Sinta berencana membantu orangtuanya di kampung. Sinta juga sangat merindukan kedua orang tua dan kedua adiknya.
Sesampai di rumah, Sinta mengepak sedikit pakaiannya ke dalam ransel. Walaupun berencana Sinta lama di kampung, bajunya yang dibawanya hanya sedikit karena baju lamanya masih banyak tertinggal di kampung. Hampir satu tahun hidup di kota membuat Sinta amat merindukan kampung halamannya.
Sinta membayangkan bertemu dengan keluarga, teman teman dan tentunya dengan pemandangan desa yang asri dan sejuk. Tinggal menunggu Andre pulang, bagaimanapun Sinta harus minta izin kepada suaminya.
Sejak perlakuan Andre yang kasar, Sinta membatasi diri terhadap Andre. Mereka berkomunikasi dengan baik tetapi tidak seperti dulu penuh dengan canda dan tawa. Andre tidak mempermasalahkan sifat Sinta sebab Andre sangat bahagia dengan Cindy. Hari hari Andre hanya dengan Cindy, hanya malam Andre di rumah Sinta, itupun pulang larut malam.
Sinta benar benar memposisikan dirinya sebagai simpanan, kasarnya pemuas nafsu Andre. Sinta sudah berusaha tidak melibatkan perasaannya. Ternyata melupakan cinta pertama itu sangatlah sulit.
Malam telah tiba, Andre pulang. Sinta yang masih menonton tetap aja matanya mengarah ke tv padahal Andre sudah duduk di sampingnya. Andre mengamati wajah Sinta yang serius menonton, Andre menggerakkan tangannya di depan wajah Sinta sehingga menghalangi pandangan Sinta ke tv. Sinta kesal padahal niat Andre bercanda.
Dengan kesal, Sinta masuk ke kamar, Andre mengikuti ke kamar dan langsung ke kamar mandi. Sinta tidak langsung tidur karena dia tahu ada pekerjaannya sebelum tidur yaitu melayani suaminya di ranjang.
Andre naik ke ranjang dan memeluk Sinta. Sinta diam saja. Merasa Sinta diam Andre menggelitik pinggang, Sinta tertawa kegelian. Melihat Sinta tertawa Andre sangat senang, sudah hampir sebulan dia tidak melihat Sinta tertawa.
"Ini yang kamu mau mas, lakukanlah!" kata Sinta sambil membuka semua pakaiannya. Andre terdiam dan langsung turun dari ranjang.
"Kenakan lagi pakaianmu!, kita tidak melakukannya malam ini. Aku lelah," jawab Andre kemudian keluar dari kamar dan duduk di teras rumah. Kata kata Sinta barusan sangat menyayat hati Andre. Andre menyadari kesalahannya tidak seharusnya dia mengikat Sinta dengan pernikahan siri. Kalau niat membantu masih banyak cara lain, Sinta bukan pemalas, jadi pencuci piring di warung dia mau.
Setelah memakai pakaiannya kembali, Sinta menghampiri Andre di teras, dia duduk di bangku dan mengambil jarak dari Andre.
"Mas... Aku mau mint izin pulang ke kampung. Boleh mas?"
"Berapa hari kamu di kampung?"
"Kurang lebih dua bulan mas."
"Selama itu? bagaimana kalau aku tidak mengijinkan mu pulang kampung?. Apa kamu akan tetap pergi?"
"Tidak mas, kamu adalah suamiku. Aku tidak akan pergi tanpa izin mu," jawab Sinta sedih.
"Bagus, jadi jangan pergi!. Tetap di sini karena aku membutuhkanmu." Sinta kesal, tanpa permisi Sinta langsung masuk ke kamar. Kerinduan kepada kedua orangtuanya dan kedua adiknya membuat Sinta menangis dan ia tertidur.
Andre masuk kamar melihat Sinta yang sudah tidur, Andre merebahkan dirinya di samping Sinta. Andre menghapus sisa air mata yang masih tersisa di wajah Sinta.
" Maaf," kata Andre sambil membelai wajah Sinta dan mengecup keningnya. Andre kemudian memeluk pinggang Sinta dan kemudian tertidur.
Besok paginya jam 5 Andre sudah bangun. Sesudah membersihkan diri Andre membangunkan Sinta. Sinta pun segera bangun dan membersihkan diri sedangkan Andre pergi ke dapur membuatkan mereka sarapan.
Mereka sarapan dalam diam. Sinta membawa piring kotor mereka berdua ke wastafel dan mencucinya. Sinta bermaksud ke halaman rumah untuk merawat bunga tetapi Andre memanggilnya dari kamar.
"Ada mas?"
"Berkemas lah! aku akan mengantarmu ke stasiun."
"Maksud mas?"
"Kamu mau pulang kampung kan?. Cepatlah jangan sampai aku berubah pikiran."
"Iya mas, ini tinggal ganti baju kog. Tuh dah ku siapkan tadi malam," kata Sinta senang sambil menunjuk ransel dekat meja. Sinta mengambil pakaiannya dari lemari dan segera menggantinya.
"Mas, udah siap. Mas tidak usah mengantar aku ke stasiun. Aku bisa kog naik angkutan umum," kata Sinta sambil melirik jam di dinding.
"Ini, pergunakan dengan baik," kata Andre menyodorkan beberapa uang pecahan seratus ribu.
"Ga usah mas, yang kemarin kamu kasih masih ada kog."
"Ambillah!. Aku tidak mau kamu kekurangan uang selama jauh dariku. Kamu di kampung hanya seminggu tidak boleh lebih."
"Mas kog seminggu sih, libur kampus kan hampir dua bulan. Satu bulan aja ya mas." Sinta meraih uang dari tangan Andre dan memasukkannya ke dalam ransel.
"Tidak boleh."
"Tiga Minggu ya mas," kata Sinta sambil mengacungkan tiga jarinya.
"Tidak boleh."
"Dua Minggu ya mas," kata Sinta lagi sambil mengacungkan dua jarinya.
"Ya udah dua Minggu, tidak boleh lebih."
"Yeh,, Oke mas. Terima kasih banyak," kata Sinta bersorak kegirangan dan refleks hendak memeluk Andre tetapi Sinta menurunkan tangannya yang sudah bersiap mau memeluk.
Sinta dan Andre keluar dari rumah. Setelah mengunci pintu Andre mengeluarkan mobil dari garasi.
"Masuk!" kata Andre yang sudah siap keluar dari gerbang. Sinta menurut.
"Mas, aku naik angkutan umum saja. Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Udah, kamu masuk aja. Tidak akan ada yang lihat." Dengan terpaksa Sinta masuk ke dalam mobil Andre. Lagi lagi Sinta tersenyum kecut melihat pigura kecil di dashboard mobil Andre. Pigura itu berisi foto Andre dan Cindy yang berpelukan mesra.
Sepanjang perjalanan Sinta diam, begitu juga dengan Andre. Setelah menempuh tiga puluh menit mobil Andre sampai di stasiun.
"Aku pamit ya mas," kata Sinta dan membuka pintu mobil.
"Iya, hati hati. Ingat!. Hanya dua Minggu, kalau boleh dipercepat pulang. Salim dulu," kata Andre sambil menyodorkan tangannya. Sinta menerima tangan Andre kemudian mencium punggung tangan Andre. Andre hendak mencium kening Sinta tetapi dengan cepat Sinta menghindar dan membuka pintu mobil.
"Tidak ada cium kening dengan simpanan mas," kata Sinta kemudian menutup pintu mobil. Andre menghela nafas, lagi lagi perkataan Sinta menyayat hatinya.
.huuuuu dasar pellet lele