HIATUS
"Pilihlah masa depanmu, dan yakinlah ada aku di dalamnya..."
Sekarang Luna sudah punya pacar! Bagaimana rasanya mendapatkan apa yang selama ini dia idam-idamkan?
Season 1 sudah tamat.
Luna, seorang siswi SMA biasa. Kehidupan sekolah yang biasa. Teman-teman yang biasa. Tidak ada yang spesial. Yang berbeda cuma kenyataan bahwa ia memiliki 4 orang adik laki-laki. Adik-adik usil ini selalu menggagalkan rencana kisah cinta SMA nya.
Bak cerita Cinderella yang selalu diganggu kakak tirinya, Luna selalu diisengin adik kandungnya.
"Dek,,, pleaseeeeee,, biarin kakak pacaran sekali aja!" ~Luna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewiluna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Di rumah El
El masuk ke rumah saat hari sudah larut. Suasana rumah sudah sepi dengan beberapa lampu yang sudah dimatikan. Tersisa satu ruangan yang masih menyala terang. El tahu pasti siapa yang sedang berada di sana. Cuma satu orang saja yang mungkin, maminya.
"Darimana El?" Mami El menyapanya di ruang TV. Ia tampak elegan dengan baju tidur satin berwarna maroon. Baju itu menunjukkan sedikit belahan dadanya dan sebagian paha mulusnya. El menatap mami sesaat, memuji dalam hati. Mami memiliki wajah cantik terawat dan badan seksi tidak kalah dengan wanita muda. Tapi tentu saja ia lebih tertarik pada Luna, jangan dibandingkan.
"Biasalah mi, keluar sebentar..." El duduk di sofa tepat sebelah maminya. Dia ikut memandangi TV yang menyala di hadapannya. Seperti biasa, tampilan drama kesukaan sang mami menyambut indra penglihatan miliknya. El mengambil kue di toples yang ada di atas meja, mulai memakannya. Dia sebenarnya tidak begitu berminat dengan acara di layar, tapi ia masih terlalu malas untuk kembali ke kamarnya. Ia ingin istirahat sebentar.
"Darimana?" tanya mami.
"Makan..." jawab El singkat. El menatap layar sambil ngemil, tapi pikirannya tidak tertuju kepada dua hal itu, entah sudah terbang kemana.
"Sama siapa?" tanya mami lagi.
El terdiam sejenak. "Tumben mami nanya..." El tetap mengunyah kuenya dan tak menjawab. Cukup aneh, karena mami tidak pernah menginterupsi kehidupan pribadinya selama ini.
"Sama siapa?" Rupanya mami benar-benar penasaran sampai-sampai El mendapat rentetan pertanyaan.
"Cewek," jawab El ogah-ogahan.
"Siapa?"
"Cewek..."
Mami El mulai kesal. "Iya, mami tau cewek, yang mau mami tau, cewek itu siapaaaa?" Anaknya ini memang biangnya ngeyel dan rajanya malas. Harus ekstra sabar dengan anak bungsu.
"Luna?" El menyebutkan sebuah nama yang dari tadi melekat di otaknya.
"Siapa tuh Luna?" Mami mulai tertarik dengan jawaban El. Nama asing yang tidak dikenalnya.
"Cewek...."
"Oh, God!" Mami memekik frustasi. El terpingkal melihat maminya yang mulai naik darah.
"Siapakah cewek yang namanya Luna itu?? Hubungan dia sama kamu apa??" Nada pertanyaan mami naik satu oktaf. Bicara dengan El menantang keanggunannya.
"Kenapa sih mami tanya-tanya melulu, kayak polisi aja..." El menggerutu pelan. Dia masih lelah, dan dia belum ingin cerita. Kenapa mami memutuskan untuk perduli padanya sekarang bukan kepada tayangan itu?
Melihat El yang tampaknya tidak berniat memberikan jawaban, mami mencoba membujuknya sedikit, membujuk dengan cara licik dan sedikit ancaman.
"Mami denger kamu bikin keributan di kantor," ucapan mami sangat tenang, tapi bisa membuat El tersedak. Dia buru-buru mengambil gelas air yang ada di meja, meminumnya perlahan. "Katanya kamu bikin nangis anak sekolah. Itu bener?" Mami melanjutkan pertanyaannya.
Ketahuan.
"Bener..." El mengaku, toh, sudah terlanjur. Tidak ingin mengklarifikasi lebih jauh, El menonton TV lagi. Tapi tampaknya mami belum akan menyerah menanyainya.
"Kamu bikin nangis anak orang??" Mami mencubit pipi El, membuatnya memekik karena kaget.
"AW! Sakit mi," Mami melepaskan cubitannya, menampakkan bekas merah di pipi bersih El. El mengelusnya pelan.
"Bukan begitu ceritanya. Makanya mami jangan percaya gosip. Telusuri dulu kebenarannya. Jangan langsung main hakim sendiri..."
"Oke, jadi gimana cerita yang sebenarnya?" mami menunggu jawaban. Ditatapnya El setengah menghakimi, seolah anaknya itu sekarang sudah masuk dalam status tersangka.
"Jadi, tadi ada anak SMA...." El memulai ceritanya perlahan. "Dia nabrak El, terus malah dia yang nangis..." El menjawab jujur. Memang itu yang terjadi.
"Terus, mami juga dengar gosip ada cium-ciuman ada peluk-pelukan. Itu maksudnya apa?" tanya mami. Gosip yang tadi didengarnya di kantor memang betul-betul membuat telinganya gatal. Dia sudah cukup sabar dengan menunggu El pulang ke rumah lalu menanyakannya, tidak ingin membuat berita panas itu tersebar lebih luas.
El diam.
"El......." Mami menunggu jawaban.
"Oke." El menarik napas, tatapan tajam dari maminya memiliki kekuatan tak kasat mata untuk menusuknya dari segala arah.
"Jadi gini ceritanya... Jadi kan pas nabrak itu, bibirnya nabrak juga..." El menjelaskan dengan sangat hati-hati.
"Maksud kamu?" Mami tampak bingung.
El melengos. Masa yang seperti ini harus dijelaskan juga?
"Gini nih mi, gini..." El menguncupkan kedua tangannya lalu mendekatkan dan menjauhkannya sambil bilang "Muach, Muach..."
Mami terperanjat kaget. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. "Kamu ciuman di depan umum?" tanyanya tak percaya.
"Ish! Tadi kan udah dibilang nabrak..." El mendecak kesal. Ia tidak sudi mami mengecapnya sebagai lelaki yang bertindak mes*m di kantor.
"Oh..." Mami mengangguk mengerti. Dia mulai paham kalau itu semua hanyalah ketidak sengajaan.
"Lagian, memang El enggak boleh ciuman? Kan El juga udah besar mi..." El tersenyum miring meledek mamanya. Dia bukan anak kecil lagi, dan ia yakin maminya tau hal itu dengan baik.
"Ya... Tapi enggak di depan umum juga..." Mami memutar bola matanya jengah.
"Kalau di depan mami boleh?" tanya El. Sengaja memancing kesabaran mami.
Tuk!
Mami menjitak dahi El. "Kamu mulai ngaco!"
El tergelak.
"Terus habis itu gimana?" Mami masih penasaran dengan cerita lanjutan El. Dia memang mendengar beberapa rumor, tapi berbeda-beda. Persamaannya cuma satu, membuatnya sakit kepala.
"Habis itu, Luna nangis. El kasian, habis nangisnya sedih banget. Jadi El peluk aja sampai dia tenang." Penjelasan El membuat mami mengangguk.
"Terus El bawa dia ke ruangan El, karena mulai ramai. Pas El bilang kalau El manager, dia langsung panik dia bilang 'Pak, jangan pecat ayah saya Pak!' Lucu banget deh mukanya, mi..." Sebuah senyuman mulai terbit di wajah El.
Mami masih serius mendengarkan.
"Terus El anterin dia pulang karena udah gelap, sekalian makan aja karena udah laper. Dia terus ketakutan sepanjang jalan, takut ayahnya diapa-apain. Hehehe..." lanjut El.
"Mami harus lihat mukanya dia. Dia ketakutan banget, gugup terus, ngegemesin gitu mi, pingin bawa pulang..." El mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang makin lebar. Bahkan kedua tangannya sudah bergerak semangat.
"Kamu suka sama dia?" Mami bertanya spontan.
"Suka dong, dia lucu banget. El paksa dia manggil kakak, dia udah mau nangis. Tapi akhirnya mau juga setelah diancem." Bayangan Luna mulai muncul di otaknya, untuk kesekian kali. "Gak sabar deh, mau ketemu dia lagi..."
"Memangnya dia mau ketemu lagi sama kamu?" tanya mami sinis.
"Mau dong mi... Kan tadi hujan, El paksa aja dia bawa jas El. Biar nanti pas kembaliin kita bisa ketemu lagi..." ucap El.
"Kamu yakin dia bakal anterin sendiri? Enggak dikirim pakai paket?"
Muka El langsung pias. Dia tidak kepikiran sampai situ.
Harusnya minta nomor teleponnya, bukannya kasih kartu nama!
El merutuki kebodohannya.
Interogasi mami berakhir dengan muka El yang berlipat. Ia kesal dengan mami yang merusak kesenangannya hari ini. Akhirnya ia berucap asal.
"Mi, El mau punya adik lagi mi. Mami ga mau bikin satu apa?" tanyanya.
Bersambung
krn el th, luna pgn kuliah ambil jurusan psikologi.
el mah aneh, smpe g kpikiran bln madu😒😒