NovelToon NovelToon
Little Angel

Little Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:483.8k
Nilai: 5
Nama Author: LeeGo

Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.

"Gue mau mati aja, hiks."

Gendis Mahesa.

Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.

"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."

Dewa Ganesha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepunyaan Gendis

"Masih marah?“

"Gue kenal lo?” Gendis melewati Dewa begitu saja.

Ajriiit ni bocah. Dewa mengusap rambutnya kasar melihat tatapan sinis Gendi, berlari mengikutinya. Memang ya kalau ABG ngambek itu labilnya sampai ke nirwana. Ia bahkan sudah jauh-jauh ke sekolahnya tapi tidak dianggap sama sekali. Benar-benar luar biasa tuyul kecil junjungannya ini. Perjuangannya memanjat dinding mengikuti anak-anak jalur belakangpun hanya dihadiahi tatapan menyebalkan.

"Gue kan Dewanya Gendis.” Ia berusaha merayu tapi sayangnya hanya tatapan menjijikan yang dia dapatkan dari Gendis.

“DIH NGAKU-NGAKU!” Gendis melototkan mata tak terima. Mohon maaf saja, manusia jenis Dewa tak akan mudah meluluhkan seorang Gendis yang terkenal dengan gelar muka hello kitty sikap security. Tapi tak lebih baiklah buat Dewa daripada menganggapnya rak sepatu di rumah Gibran kan lebih nyesek lagi.

Dewa memelas, “Udahan dong Ndis ngambeknya. Lo tega sama gue?Gue minta maaf. Gue salah.” Kedua tangannya menangkup di depan dada. Ya, semua memang salahnya karena otaknya sumbu pendek dan tidak akurat mencari berita, salahnya karena terlalu mempercayai berita dari jaringan yang timbul tenggelam di tengah hutan manado sana dan salahnya karena tak bisa tenang hanya karena seorang gadis berdada rata marah padanya. Memang senua salahnya. HAH!

Gendis menikah? Gila. Bahkan rumput yang bergoyang pun tahu bagaimana bocah itu begitu memuja pendidikan layaknya spongebob memuja kerang ajaib. Dari mana sih kesimpulan b*go itu datang?Gendis Mahesa 11 12 dengan Maudi Ayunda mana ada memikirkan pernikahan di usia muda. Dewa B*go!

"NGGAK!” Gendis menghentakan kaki kesal lalu meninggalkan Dewa dan harga dirinya yang tercecer bergabung dengan semut merah di rerumputan. Padahal lelaki itu sudah rela-rela mengubah penampilan layaknya anak SMA yang tak lulus ujian setelah tiga kali UAS tapi gadis itu tak menganggap usahanya sama sekali.

"Kurang berkorban apalagi sih gue buat lo, Yul. Apa celana yang gue pake kurang abu-abu?” Dewa meneliti penampilannya sendiri celana abu-abu pudar dan baju kemeja putih kekecilan tak mampu menyembunyikan statusnya sebagai seorang tentara lalu tatapannya menyorot punggung Gendis yang menjauh. Entah bagaimana Gibran bisa bertahan mengurusi Nadia yang tingkat resenya lima puluh persen diatas Gendis, sepertinya ia harus berguru pada lelaki itu.

“Gue belum nyerah ya, Ndis. Hati-hati lo ama gue.” Dewa meninggalkan area sekolah Gendis sebelum satpam memergokinya.

Setelah musibah yang menimpa Gibran dan Nadia usai, Dewa memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Gendis. Ada satu sisi dalam dirinya yang tidak terima kala Gendis mengacuhkannya bahkan saat mereka berpapasan di depan pintu rumah Gibran. Lebih mengenaskan lagi saat Gendis menganggap tak terjadi apa-apa diantara mereka selama ini, tuyul kecil itu pandai sekali berpura-pura bahkan bisa dengan wajah tak berdosanya menyapa bak kenalan biasa padahal rasa bibir Gadis itu masih begitu terasa dalam indranya.

Dewa memutuskan menunggu di kafe depan sekolah Gendis. Hari ini ia akan menghabiskan waktu liburnya menghamba mengambil kembali hati tuyul manisnya itu agar malam-malamnya kembali lelap. Tidak, Dewa menolak keras pemikiran bahwa yang dirasakannya ini adalah cinta yang akan berujung bucin karena Dewa masih begitu percaya diri bahwa ia lebih menyukai semangka daripada jeruk jeju apalagi polkadot. Ini hanya untuk hubungan baik yang pernah terjalin. Iya kan, Wa?Ya, pasti seperti itu. Bodohnya Dewa tak menyadari bahwa seekor kelinci pun ada saatnya tergelincir saat melompat dari satu tempat ke tempat lain.

"Baru pulang sekolah, Dek?”

Dewa menoleh lalu menunjuk dirinya, ”Gue?” Karena terlalu fokus memandangi gerbang sekolah, ia tidak menyadari kehadiran seorang lelaki berpenampilan necis yang kini duduk di depannya. Senyum lelaki itu terlalu ramah untuk kategori orang yang baru saling mengenal. Dari sini saja Dewa sudah menebak niatan pria itu.

"Iya. Siswa sekolah depan kan?Saya juga alumni.” Ujarnya sok akrab yang ditanggapi Dewa dengan senyuman dipaksakan. Tak aneh lagi mendapati modelan semacam ini, orang-orang sejenis Om-om kantoran mengganggu para remaja tanggung yang sedang krisis identitas diri. Ini kota besar, segala penyimpangan moral ada di tempat ini. Jenis penyakit moral seperti dirinya yang hanya berbeda selera.

"Gimana sekolahnya?Lancar?”

"Gue?” Lagi-lagi Dewa menunjuk dirinya. Dewa muak tapi terlalu malas adu otot maupun urat.

Pria itu tersenyum kecut, kentara sekali kecewa dengan tanggapan Dewa. Apa dia sejak tadi dianggap mesin kopi oleh lelaki kekar berseragam SMA ini?

"Tidak pesan minum?Saya traktir.” Kata Pria asing itu lagi membuat Dewa merasa mulai tak bisa sabar.

"Lo ada keperluan apa sama gue?Cepetan ngomong.” Ujar Dewa tak sabar. Apa tidak bisa dia menunggu dalam hening?Ada saja pengganggu.

"Maaf kalau saya mengganggu, saya hanya---”

"Iya, lo ganggu. Pindah meja lain sana!Ah elaaah, gedek gue lama-lama.” Usir Dewa terang-terangan.

"Saya hanya mau kenalan.” Ujar pria itu masih berusaha bersikap manis. Dewa mendengkus sinis. Ia terlalu berpengalaman untuk ditipu oleh modusan kaum pelangi jaman sekarang. Jelas saja pria didepannya ini mencari korban anak-anak sekolah yang butuh uang dan menjebaknya di hotel untuk kepuasan nafsu binatangnya.

"Kalau lo cari lobang ****** untuk muasin batang lo, jauh-jauh sana. Gue masih doyan cewek.” Katanya tajam membuat pria di depannya itu terkesiap lalu tanpa kata meninggalkan Dewa. Si*lan. “Buruan Ndis, ngenes bangat gue sampe digangguin kaum bengkok.” Dewa berujar tak berdaya. Minuman di depannya bahkan sudah tandas lima gelas. Hebat bangat seorang Gendis menyiksa seekor buaya amazon.

***

"Gendis gak suka ya abang maksa-maksa gini. Ini namanya penculikan.” Gendis menuding wajah Dewa dengan telunjuknya yang sedang memegang sendok es krim. Dia terlihat lucu saat mengomel tapi sesekali masih bisa memuji rasa dari es krim di mulutnya.

Dewa menangkap telunjuk Gendis lalu dengan tangannya yang lain mengusap sudut bibir gadis itu yang belepotan krim stroberi. Kalau bisa dan kalau saja tidak khawatir Gendis melemparnya dengan kursi, rasanya ia ingin membersihkan ujung bibir pink itu dengan mulutnya, pasti lebih bersih dan tentu saja lebih nikmat. Tapi Dewa tak mau mengambil resiko, Gendis tidak berteriak saat ia culik tadi sudah kesyukuran untuknya. Bukankah itu berarti gadis polkadot ini memberinya kesempatan.

“Nanti dulu marah-marahnya. Tuh es krimnya meleleh.” Ujar Dewa mengusap lembut pipi Gendis. Manis bangat anak kecil ini.

Gendis memutar bola matanya tapi tak menolak saat Dewa menambahkan es krim miliknya kedalam mangkok es krimnya, ”Gendis belum maafin ya. Ingat!“ Ujar Gadis itu galak yang diangguki oleh Dewa. Saat ini Dewa akan menjadi laki-laki paling baik di dunia jadi tak masalah sekalipun Gendis memintanya menari barongsai sekarang juga.

Keduanya larut dalam diam. Dewa diam-diam memupuk sabarnya sedangkan Gendis diam-diam melirik Dewa yang tampak menggemaskan dengan seragam putih abu-abunya.

“Mau nambah?” Dewa menawarkan Gendis es krimnya saat melihat isi mangkok gadis itu habis.

Gendis menggeleng, ”Gak boleh sama mami. Nanti amandel.” Ujarnya sembari menyeka bibirnya dengan tissue, ”So, Abang mau apa?Terus terang aja Gendis nggak mempan di sogok.” katanya dengan harga dirinya yang selangit padahal jelas-jelas dua mangkok es krim sudah ia habiskan.

"Maafin abang. Abang b*doh, abang brengs*k, Gendis layak marah sama abang tapi--” Dewa menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, ”Abang layak juga kan dapat maaf dari Gendis?” Ucapnya hati-hati, mengukur level kemarahan gadis itu padanya. Semoga saja es krim tadi bisa menurunkan sedikit level kemarahannya walaupun si manis itu terang-terangan menolak menerima bahwa dua mangkok es krim tadi adalah sogokan.

"Emang!Abang tuh nyebelin. Ngilang, trus dateng-dateng langsung nuduh, marah gak jelas. Gendis nggak suka. Emang Gendis salah apa sama abang?Sampe mau nidurin gendis gitu. Gendis bisa tidur sendiri, Gendis bukan anak kecil lagi.” Ucapnya marah dan cepat persis kereta api. Dewa mengaku, dia salah. Dari tadi memang dia sedang mengakui kesalahannya bahkan tak terhitung lagi ia menyebutkan dirinya brengs*k dan b*doh tapi dari sekian panjang kalimat Gendis, ia dibuat cengok oleh kalimat terakhir gadis manis itu. Dewa tidak tau apakah harus bersyukur atau menangis akan kepolosan Gendis. Bagaimana mungkin gadis itu menyimpulkan bahwa meniduri versinya sama dengan meniduri versi Dewa?!Astagaaaa kekhawatirannya akhir-akhir ini tak berasalan. Dewa pikir kemarahan Gendis padanya karena ia sudah kurang ajar berkata ingin menidurinya tapi ternyata gadis manis itu marah karena ia menghilang dan menuduhnya sebagai anak kecil. Haruskah Dewa koprol belakang sekarang atau lebih baik menelan dua mangkok es krim dihadapannya biar tenggorokannya tidak tersedak tawa.

Dewa mencoba meraih tangan Gendis namun langsung ditepis oleh tuyul yang sedang kesurupan genderuwo itu.

"NGGAK USAH PEGANG-PEGANG!“ Ujarnya melotot, bukannya seram malah sangat menggemaskan.

Dewa berdehem, lalu menjauhkan tangannya. Terlalu beresiko melakukan hal-hal yang tak perlu meskipun sejak tadi tangannya gatal ingin menyusup diantara sela jemari mungil itu, "Gendis tidak salah. Gu--mmm abang yang salah. Iya, abang salah karena sudah salah paham. Abang nggak sengaja ngilang. Di tempat tugas abang susah dapat sinyal.“ Sekalinya dapat sinyal malah dapat kabar lo nikah, kurang mengenaskan apalagi hidup gue. Lanjutnya dalam hati. ”Abang marah karena Gendis nggak ada kabar. Abang pikir gendis lupa sama abang.” Ujarnya lagi memutuskan menyembunyikan kesalahpahamannya mengenai kabar Gendis menikah yang ia dengar. Gendis akan menertawainya jika tahu semua hal menyebalkan yang terjadi akhir-akhir disebabkan oleh info setengah-setengah itu.

"Lupa gimana sih, nggak jelas bangat. Gendis belum tua, kenapa harus lupa. Trus itu maksudnya yang tempo hari nuduh-nuduh Gendis bareng laki-laki apa?Gendis kan punya abang, mana bisa sama laki-laki lain?!” Cerca Gendis benar-benar lancar dengan argumennya. Tak salah jika ia menempati posisi lima besar di kelasnya. Jago ngomong.

Tapi tunggu--- Dewa seperti mendengar sesuatu yang manis tadi, Gendis kan punya abang?Itu maksdunya--- Dewa tak bisa menyembunyikan cengirannya, ”Jadi Gendis mau jadi punya Abang?”

"NGGAK LAGI!“ Semprot Gendis membuat Dewa terkejut, mengelus dadanya.

"Tapi tadi lo bilang---”

"Itu kan kemarin-kemarin. Sekarang Gendis nggak mau.“

Dewa memelas. Ah elah, gara-gara mulut lemes gue nih. Dewa memaki dirinya sendiri. Jadi selama ini Gendis tak menolak menjadi kepunyaannya?Dan dia dengan hebatnya mengacaukan semuanya.

"Sekarang gantian, Abang kepunyaan Gendis. Nggak ada penolakan. Titik.”

Eh,Gimana? Dewa melongok. Dia tidak salah dengar kan, ”Maksud kamu apa?Saya jadi kepunyaan kamu?” Tanyanya memastikan pendengarannya tidak salah.

Gendis mengangguk mantap. Ia menunjuk wajah Dewa, ”Abang kepunyaan Gendis sekarang.” ulangnya tegas.

Dewa mau tak mau menyunggingkan senyum. Dia jadi kepunyaan tuyul manis ini?Kok manis ya kedengarannya?Eh tapi tunggu dulu-- Gendis kan suka aneh mengartikan sesuatu jadi sebelum ia terlalu terlena dan terbang ke lapisan awan teratas yang ujung-ujungnya di jatuhin ke inti bumi, ia harus memastikan bahwa definisi Abang Dewa Kepunyaan Gendis mereka sama. ”Ini maksudnya Abang kepunyaan Gendis gimana?”

Gendis duduk bersandar sembari melipat tangan di dada, ”Artinya Abang gak boleh bantah kemauan Gendis. Abang kepunyaan Gendis jadi selain Gendis nggak ada yang boleh milikin abang. Cuma Gendis seorang yang boleh.”

Kalimat posesif itu, seharusnya Dewa sebagai lelaki bebas kesal atau tak terima dengan klaim sepihak itu. Harusnya ia menolak mentah-mentah rantai tak kasat mata itu, harusnya ia membenci gagasan itu tapi kenapa hal-hal yang seharusnya itu malah tak terjadi?!Sebab yang ada malah sebaliknya, Dewa menyukai kalimat posesif itu. Dewa suka klaim sepihak yang tuyul kecil itu layangkan. Rasanya begitu manis ketika ia menjadi kepunyaan Gendis. Ini tidak wajar tapi anehnya seorang Dewa malah tak bisa menahan gebukan kebahagiaan di dadanya. Ada perasaan mengembang yang siap membuat langitnya tampak sangat cerah sekarang.

Dewa mengulurkan tangannya menunggu Gendis menyambutnya, “Deal. Abang kepunyaan Gendis sekarang.” katanya saat tangan mereka bertaut.

Well well well ternyata menjadi kepunyaan seseorang tak buruk juga. Apalagi kalau seseorang itu adalah tuyul manis penyuka polkadot seperti Gendis. Nanti malam Dewa sudah bisa kembali tidur nyenyak.

***

Maaf lama ya geeesss...

Happy reading.

1
Munji Atun
Kak Lee 🥰 akhirnya bisa ketemu lagi sama Gendis and the genks 😍 uuh senengnya jgn lama" lagi ya upnya 🥰
makasih banyak ya ❤🥰💪
Miamia
ya salam ndissss bengek aku🤣🤣🤣, kocak , rajin up ya kak Thor 😍
Tita
yaaa habis,kapan lagi ini ketemu gendhis❤️
Tita
habis sedih,terharu sekarang nyengir dah😁
Tita
❤️❤️❤️❤️❤️
Tita
ayo bang dewa mendekat lagi sama Tuhan,gendis bukti sayang Tuhan sama kamu wa❤️
Opi Irbah Salma
lanjut Thor 😍
Deva Santi
bang dewa belum ngumpul sama bang GI sesama bucin bikin mual..., the Genk ngumpul seruhhh banget si Sandra dan leksis Lom dpt jodoh pa g laku si thorrr
Rahayu Kurniasari
maaciihhh kak othoorrr.. 😍😍
Sri Gunarti
waah rami kalau kalian kumpul seru 🥰🥰🥰
Turwaty suketi
Aduuuh om dewa makin ugal ugalan🤣
stnk
thoooor moga rutiiiinnnn....tak tungguuu loooh...
stnk
Om Gi juara berapa Nad...🤣🤣🤣
stnk
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
stnk
Lebaaayyyyyyy....🤣🤣🤣🤣
tintiin21
kumpulan om² bucin parah.... 😆😆😆😆😆
Deva Santi
kebucinan para tentara, seneng liat cerita gendis, Nadia lalu apa kabar aleksis dan sandraaa kak
Iwin Soviyatiningsih
makasih UP nya thor 🙏 next ditunggu
Sri Gunarti
jadi kangen gibdan
Rahayu Kurniasari
pertama..
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!