"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 Mama
"Ma... ma..."
Satu kata itu membuat seluruh ruang keluarga berhenti bernapas.
Guai berdiri sambil berpegangan pada sisi sofa. Kedua tangannya terulur kepada Angie. Ketika Angie mengangkatnya, bayi itu menempelkan pipi ke dadanya dan mengulang dengan lebih jelas.
"Mama."
Mainan yang tadi dipegang Celine jatuh ke karpet.
Angie merasa sesuatu menghantam bagian terdalam dadanya. Bukan hanya bahagia. Ada rasa sakit tajam, seolah satu kata dari mulut Guai membuka pintu menuju ruang yang selama ini terkunci dalam ingatannya.
"Guai..." Suaranya bergetar.
Bayi itu tertawa kecil, lalu menepuk dada Angie dengan telapak tangannya.
Air mata memenuhi mata Angie sebelum ia sempat menahannya. Tubuhnya bereaksi seolah panggilan itu memang miliknya, seolah ia sudah menunggu suara tersebut sepanjang hidup.
"Sekali lagi," bisiknya tanpa sadar.
Guai menempelkan dahi ke dagunya. "Ma... ma."
Angie memejamkan mata. Dalam satu detik yang singkat, ia membayangkan anak yang pernah hilang itu selamat, tumbuh, lalu memanggilnya dengan suara seperti ini. Bayangan tersebut begitu indah sekaligus kejam hingga lengannya memeluk Guai lebih erat.
Hansen melihat semuanya. Tidak ada perhitungan dalam wajah Angie, tidak ada upaya merebut posisi Celine. Yang ada hanya luka lama yang terbuka di depan seorang bayi yang tidak memahami apa pun.
Hansen berdiri dekat jendela. Tatapannya tertuju kepada anaknya, tetapi pikirannya kembali pada laporan William. Angie pernah melahirkan. Bayinya dinyatakan meninggal. Sekarang Guai memanggilnya Mama tanpa pernah diajari.
"Itu cuma bunyi," kata Celine cepat. Ia mengambil mainan dari lantai. "Baby sedang belajar bicara. Semua bayi mengucapkan `mama`."
Guai menoleh ketika mendengar suaranya. Alih-alih mengulurkan tangan, ia mencengkeram kemeja Angie.
Wajah Celine memucat.
Angie memeluk Guai lebih dekat. "Mungkin dia baru belajar bicara. Bukan bermaksud memanggil saya."
"Tentu bukan." Celine tersenyum, tetapi jari-jarinya meremas mainan sampai berbunyi. "Aku ibunya."
Pintu utama terbuka sebelum siapa pun menjawab.
Nyonya Liem masuk dengan langkah tenang, diikuti Nathan yang mengenakan kemeja santai dan kacamata hitam di kepala. Lina dan Sri menyambut mereka, sementara Pak Hasan mengambil tas tangan Nyonya Liem.
"Oma datang," kata Nyonya Liem sambil mengulurkan tangan kepada Guai.
Guai mau menoleh, tetapi belum mau melepaskan Angie.
Tatapan Nyonya Liem turun ke posisi pipi cucunya yang menempel di dada pengasuh. "Dia kenapa?"
Celine buru-buru maju. "Baby sedang manja, Mama. Tadi dia asal mengucapkan suara."
Nathan melepas kacamata. "Suara apa?"
Tak ada yang segera menjawab.
Guai melakukannya sendiri. Ia memandang Angie dan berkata, "Mama."
Alis Nathan terangkat. Nyonya Liem membeku sesaat. Celine tampak seperti ingin mengambil kembali kata yang sudah terlepas ke udara.
"Anak seusianya belum memahami semua panggilan," kata Nyonya Liem akhirnya. "Jangan dibesar-besarkan."
"Benar, Nyonya." Angie menunduk. "Saya tidak pernah mengajarinya memanggil begitu."
"Kamu merawatnya terlalu dekat."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Angie menangkap teguran di dalamnya.
Hansen melangkah mendekat. "Guai yang memilih siapa yang membuatnya nyaman."
Nyonya Liem mengalihkan perhatian kepada Celine. "Kapan terakhir Guai minum?"
Celine berkedip. "Tadi pagi."
"Pukul berapa?"
"Sekitar... pukul sembilan."
Angie tahu jawabannya salah. Guai menolak botol pada pukul delapan lewat dua puluh dan baru menerima sedikit formula hipoalergenik menjelang pukul sepuluh.
Nyonya Liem menatap jam dinding. "Kalau begitu seharusnya sekarang dia lapar. Siapkan botolnya."
Celine melirik meja, tidak tahu wadah mana yang sudah disterilkan.
"Botol bertanda biru untuk formula hipoalergenik," kata Angie sebelum Guai menjadi bahan ujian. "Tapi Guai baru minum satu jam lalu, Nyonya. Jadwalnya ada di buku."
Tatapan Nyonya Liem berpindah dari Angie ke Celine.
"Kenapa kamu tidak tahu?"
"Pengasuh mengambil alih semuanya, Mama. Aku tidak diberi kesempatan."
"Seorang ibu tidak menunggu diberi kesempatan untuk mengetahui kapan anaknya makan."
Celine menunduk, menahan malu. Untuk sesaat, Nyonya Liem tidak lagi memandang Angie sebagai satu-satunya masalah di rumah itu.
Nyonya Liem menatap putranya. "Pengasuh tetap pengasuh, Hansen. Anak kecil mudah melekat. Karena itu batas harus dijaga."
Celine tersenyum tipis karena merasa mendapat dukungan.
Nathan justru berjalan ke arah Angie. "Jadi ini Angie yang sering dibicarakan semua orang?"
"Om Nathan," sapa Angie sopan.
"Kamu tahu aku?"
"Foto keluarga Om ada di lorong."
"Syukurlah foto yang dipasang masih bagus." Nathan membuat wajah serius. "Hansen suka memilih foto orang ketika sedang jelek."
Angie menahan tawa. Bahkan Guai ikut mengeluarkan bunyi riang karena nada suaranya.
Hansen menyipitkan mata. "Om tidak punya urusan di sini?"
"Aku datang bersama Ci Meilin. Itu sudah urusan besar."
Nyonya Liem duduk dan menerima teh dari Sri. "Aku membawa Nathan karena dia terus menolak diperkenalkan dengan anak teman-temanku. Ada satu gadis yang cocok, tapi dia bahkan tidak mau melihat fotonya."
"Aku tidak butuh arisan berubah jadi aplikasi kencan," kata Nathan.
"Kalau begitu setidaknya bicara dengan perempuan yang tidak membuatmu bosan." Tatapan Nyonya Liem berpindah ke Angie. "Angie terlihat sabar. Mungkin dia bisa menjelaskan bagaimana perempuan biasa ingin diperlakukan. Kalian bisa minum kopi di taman sambil menunggu Guai tidur."
Angie terkejut. "Saya?"
Nathan tersenyum tertarik pada reaksi itu. "Ide yang tidak buruk."
"Tidak bisa." Hansen menjawab terlalu cepat.
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kenapa?" tanya Nathan santai.
"Angie pengasuh Guai. Dia tidak boleh mengabaikan jadwal untuk hal lain."
"Minum kopi lima belas menit bukan pindah negara."
"Tetap tidak."
Nyonya Liem meletakkan cangkir dengan sangat pelan. "Hansen, kamu cemburu?"
"Tidak."
"Jawabanmu cepat sekali." Nathan tertawa.
"Aku membayar Angie untuk bekerja."
Angie merasa wajahnya panas. Cara Hansen mengucapkannya seperti pengingat bahwa waktu dan perhatiannya memang telah dibeli.
Nathan menangkap perubahan wajah itu. "Tenang. Aku tidak akan menculik pengasuhmu."
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu apa?"
Hansen tidak menjawab.
Celine berdiri di sisi Nyonya Liem. "Ko Hansen hanya terlalu khawatir pada Baby sejak kejadian Bi Yanti. Kita semua memang harus lebih hati-hati."
Ia mencoba menyelamatkan harga dirinya sendiri, tetapi kata `kita` terdengar hampa setelah Guai memanggil perempuan lain Mama.
Nyonya Liem meminta Angie menyerahkan Guai. Bayi itu sempat merengek, tetapi akhirnya tenang di pelukan oma. Angie mundur satu langkah dan merapikan seragam.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" tanya Nyonya Liem.
"Belum lama, Nyonya."
"Pak Hasan bilang rumah ini berubah sejak kamu datang."
Angie tidak tahu apakah itu pujian atau tuduhan. "Saya hanya menjalankan tugas."
"Tugas pengasuh adalah menjaga bayi, bukan membuat seluruh rumah berputar mengelilinginya." Tatapan Nyonya Liem menyapu perban yang hampir sembuh di tangan Angie, kemudian berhenti pada Hansen. "Pemanas air diganti. Aturan dapur berubah. Pekerja senior dipecat."
"Bi Yanti dipecat karena hampir membunuh Guai," kata Hansen.
"Aku tidak membela dia." Nyonya Liem menahan tatapan putranya. "Aku hanya mengatakan keputusan besar tidak boleh dibuat karena emosi terhadap satu orang."
"Semua keputusan itu melindungi rumah ini."
"Termasuk memilihkan pakaian dalam untuk pengasuh?"
Angie tersentak. Rupanya berita dari mal sudah sampai ke telinga Nyonya Liem.
Nathan berdeham untuk menyembunyikan tawa. Celine menoleh tajam kepada Angie.
"Itu kebutuhan medis," jawab Hansen.
"Kamu bahkan tidak pernah menemani Celine membeli pakaian Baby."
Ruangan kembali sunyi.
Guai mengulurkan tangan kepada Angie dari pelukan oma. "Ma..."
Nyonya Liem langsung mengalihkan perhatian dengan mainan. "Tidak. Ini Oma."
Namun mata Guai tetap mengikuti Angie.
Sore itu, sebelum pulang, Nyonya Liem menghentikan Hansen di taman. Nathan sedang mengambil mobil, sementara Celine membawa Guai masuk.
Angie berdiri cukup jauh dekat teras, tetapi tetap merasakan tatapan Nyonya Liem mengarah kepadanya.
"Perempuan itu membuatmu kehilangan jarak," kata Nyonya Liem.
"Mama datang untuk melihat Guai atau mengatur hidupku?"
"Keduanya. Aku ibumu."
"Angie tidak melakukan kesalahan."
"Belum." Nyonya Liem menurunkan suara. "Kamu pewaris Liem Corporation. Setiap langkahmu menjadi urusan keluarga, media, dan pemegang saham. Dia pekerja yang tinggal di rumahmu."
Hansen mengeras. "Status tidak menentukan nilai seseorang."
"Tapi status menentukan akibat."
Nyonya Liem memegang lengan putranya, bukan dengan marah, melainkan peringatan.
"Jangan lupa siapa kamu. Dan jangan lupa siapa dia."
Malamnya, Hansen duduk sendiri di ruang kerja dengan laporan William terbuka di meja.
Catatan medis dan dokumen sipil pada bagian awal penuh lubang. Halaman terakhir memuat satu gambar buram dari kamera koridor rumah sakit setahun lalu.
Di atas gambar tercetak waktu kelahiran. Tiga hari sesudahnya, Angie tercatat sebagai korban kecelakaan tunggal di jalan menuju Bogor. Tidak ada nama ayah pada salinan catatan persalinan yang diperoleh William. Kolom saksi diisi seseorang yang tanda tangannya tidak cocok dengan identitas pada nomor kartu penduduk.
Laporan kematian bayi lebih aneh lagi. Tidak ada nomor gelang, tidak ada catatan penyerahan jenazah kepada keluarga, dan tidak ada bukti pemakaman. Hanya satu cap rumah sakit serta tanda tangan dokter yang telah pindah ke luar negeri.
Terlalu rapi pada permukaan. Terlalu kosong di bawahnya.
Seorang perempuan hamil didorong menuju ruang bersalin. Wajahnya pucat, rambutnya menempel oleh keringat, dan satu tangannya memeluk perut yang besar.
Itu Angie.
Perempuan yang kini tidur hanya beberapa lorong dari anaknya, tanpa mengetahui ke mana bayi itu benar-benar dibawa.
Hansen menyentuh tepi foto. Untuk pertama kalinya sejak memimpin perusahaan bernilai triliunan rupiah, jari-jarinya gemetar di atas selembar kertas.