Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'R'
Hal yang sama terjadi kepada Raniya. Dia kehilangan bahteranya, tempat dia berlabuh dan pelitanya. Dia pikir, Nathan yang akan menemaninya hingga ia tutup usia.
Raniya menjadi pendiam dan banyak menangis semenjak meninggalnya Nathan. Tempat-tempat dia sering berada hanyalah pemakaman Nathan dan kamar pengantin mereka.
Raniya juga banyak tertawa, tapi tawa orang depresi. Sudah empat bulanan itu Raniya bolak-balik ke pemakaman Nathan, dan aziz sendiri tidak sanggup lagi mencegahnya.
Raniya dengan kaki telanjangnya menyusuri jalanan. Dia baru saja pulang dari pemakaman Nathan sore itu. Ketika ia melintasi jalanan sepi samping taman, Raniya hampir saja ditabrak mobil sedan.
Raniya hanya terpaku. Rasa terkejut membuatnya bergeming di sana.
"Hey, Kak... Kalau menyeberang hati-hati..." Polisi muda turun dari dalam mobil sedan itu. Dia yang melihat Raniya tidak beranjak, segera menghampiri. "Kakak baik-baik saja, bukan?" Tanyanya lagi seraya mendongakkan wajahnya ke hadapan Raniya.
Jilbab Raniya acak-acakan sehingga menampakkan banyak anak rambutnya berkeliaran di wajahnya.
Taufiq, polisi muda itu. Dia sedikit mengucek matanya, memastikan yang berada di hadapannya itu benarlah Raniya.
"Ra-Raniya..." Seru Taufiq lirih. Dia seakan tidak percaya kali itu. Raniya masih memejamkan matanya, air pesing itu kembali mengalir dari pangkal pahanya. Sepertinya Raniya Syok, dia trauma dengan kecelakaan yang menimpa dan merenggut nyawa Nathan.
Taufiq terkesiap. Ini seperti bukan Raniya, pikirnya.
"Raniya... Hey... Raniyaa... Ini kamu, bukan?" Panggil Taufiq berusaha membuat Raniya membuka matanya. Taufiq bahkan sedikit mengguncang bahu Raniya.
Raniya perlahan membuka matanya, berkedip sebelah mata memastikan dirinya baik-baik saja saat itu.
"Apa yang terjadi, Raniya?" Tanya Taufiq lembut.
"Suamiku... Sayang..." Seru Raniya tanpa menoleh ke wajah Taufiq. Raniya kembali histeris, dia berubah menjadi linglung. Dia seperti kehilangan akalnya.
"Raniya... Ada apa? Apa yang terjadi, Ran? Suami kamu kenapa?" Banyak pertanyaan yang terbesit di benak Taufiq, hanya pertanyaan itu yang mampu dilontarkannya saat itu kepada Raniya.
"Suamikuuuu uuuu.... Sayaaaang... Jangan pergiiii..." Teriak Raniya mulai histeris. Dia menangis sejadi-jadinya dan membuat Taufiq kalang-kabut kebingungan.
"Raniya? Ada apa denganmu? Suami pergi kemana, hmm?" Tanya Taufiq berusaha menenangkan Raniya.
"Raniya... Raniya..." Taufiq mengapit kedua pipi Raniya agar menghadap ke wajahnya.
Mata Raniya membulat, ia tersadar seketika. Wajah Taufiq membuat dia melupakan masalahnya untuk sejenak.
"Taufiq Haytham..." Gumamnya seakan tidak percaya. Dia melepas paksa tangan Taufiq yang mengapit pipinya dengan kuat.
*****
Raniya dengan seragam putih abu-abu memasuki kelasnya yang masih begitu sepi. Dia berjalan dengan sedikit mengayunkan kakinya begitu bersemangat.
Seperti biasa, Raniya akan selalu memerhatikan sebuah kepala. Kepala seseorang yang menjadi pujaan hatinya di kelas itu.
Baginya, menemukan kepala yang dicarinya lebih menyenangkan dari pada mengikuti pembelajaran. Efek cinta monyet.
Belum ada orang di kelas, akan tetapi mata Raniya telah mendapati tas pujaan hatinya tergeletak di atas meja tempat Taufiq duduk.
Raniya tersenyum kecil. Dia mendekati meja yang biasa diduduki Taufiq. Tanpa sengaja, matanya yang liar menemukan mainan kunci dari tempurung yang sudah diasah mengkilat, dan dipercantik pula. Gantungan kunci itu berbentuk hati, terdapat tulisan 'R' di tengah-tengahnya.
"R" Gumam Raniya tampak semakin tersenyum lebar. Dia ke sem-sem sendiri. "Apa artinya ini Raniya, namaku? Selama ini kan banyak yang bilang kalau Taufiq suka sama aku?" Pikir Raniya begitu senang setelah menemukan mainan kunci itu.
Raniya menggigit kuku ibu jarinya karena kesenangan. "Nanti... Aku akan memberikannya kepada Taufiq, dan pura-pura bertanya apa benar ini miliknya. Yaa Ampun... kenapa aku jadi kesenangan begini ya? Sadar, Raniya... Sadaar... Ingat Ayah..." Gumam Raniya sambil menepuk-nepuk pelan jidatnya dan tersenyum-senyum sendiri.
Setelah meletakkan tasnya ke atas meja tempat biasa ia duduki, Raniya bergegas ke luar kelas berniat mencari Taufiq. Dia menyusuri koridor sekolah dengan bersemangat dan begitu riang.
"Itu kan Taufiq..." Gumam Raniya. Dia terlihat salah tingkah dan sedikit ragu-ragu untuk mendekat. Saat itu Taufiq tengah berbincang dengan seseorang yang berpakaian sama dengannya di bangku panjang koridor sekolah.
"Ya ampun Fiq... Renima cantik banget... Cocok... Pas banget sama lo yang tampan Fiq..." Rania ke surut mundur.
"Renima? Siapa Renima?" Raniya kembali melihat mainan kunci yang ada di genggamannya. "Huh? KeGRan banget kamu Raniya. 'R' adalah Renima..." Raniya membalikkan badannya dan berlalu dengan kecewa setelah mendengar ucapan seseorang yang bersama Taufiq.
.
.
.
.
.'
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍