Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Pak Yasir mengamati Tiara, wajahnya tampak pucat.
"Biarkan Tiara istirahat bu, dia benar-benar sakit wajahnya pucat begitu"
"Lalu siapa yang mau mengerjakan semua itu? " Menunjuk ke arah tumpukan piring kotor
"Ibu yang akan mengerjakannya"
"Tidak! Aku bukan pembantu di rumah ini"
"Wajahnya memang seperti itu , gak usah di manjain lagi pula cuma pusing doang itu biasa" Tambah bu Nani
"Ibu ini benar-benar kelewatan"
"Ayah gak usah belain Tiara terus nanti dia besar kepala"
"Ayah tidak membela siapa-siapa ayah cuma melihat mana yang benar, kalo Tiara salah apa ayah pernah membelanya?"
"Sudahlah yah, ibu tidak mau debat sama ayah lebih baik ayah diam saja. ibu tau apa yang harus ibu lakukan"
"Terserah ibu, kalo terjadi sesuatu pada Tiara jangan salahkan ayah"
Pak Yasir berlalu meninggalkan anak & istrinya itu sementara Tiara bergegas melaksanakan perintah ibunya.
Malam hari...
Tiara merebahkan tubuhnya sembarang di atas tempat tidur, tidak butuh waktu lama ia langsung tidur karena tubuhnya sangat lelah di tambah kepalanya masih pusing.
Tiara tidur lebih dulu dari anggota keluarga lainnya.
Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam semua anggota keluarga sudah terlelap kecuali pak yasir yang masih menonton acara televisi di ruang tengah.
Bu nani terbangun, tenggorokannya terasa kering lalu ia melangkah ke dapur untuk menghilangkan dahaganya.
Melihat suaminya belum tidur, bu Nani menghampirinya.
"Belum tidur yah"
"Seperti yang ibu lihat" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Seharusnya ibu bisa bersikap lebih baik kepada Tiara sama seperti Chika & Chaca" Tambahnya
"Jadi menurut ayah ibu jahat? "
"Ayah tidak bilang seperti itu, ibu sendiri yang berpikir begitu"
"Tiara juga anak kita bu, yang lahir dari rahimmu"
"Aduh ayah tolong jangan ceramah di tengah malam begini"
"Dia yang pertama mengisi rahimmu, dia juga yang pertama membawa kebahagian di keluarga kita" pak Yasir melanjutkan perkataannya.
"Ayah yang menginginkan anak itu, ibu tidak karena ibu belum siap secara lahir maupun batin waktu itu"
"Ibu tu harusnya bersyukur di kasih anugerah cepat oleh Allah, lihat di luar sana banyak orang yang belum di beri keturunan padahal mereka sudah lama menanti-nanti"
"Apa bedanya Chika, Chaca & Tiara?
Sama saja sama-sama anak kita"
"Ini masalah waktu" batin bu Nani.
"lagi pula apa yang harus di syukuri dari semua ini? kesengsaraan? kemiskinam?, ini yang harus di syukuri. sudah gila!" batin bu Nani.
Bu Nani memutar bola matanya & berlalu ke kamarnya meninggalkan suaminya yang masih setia dengan televisinya.
Di dalam kamarnya bu nani belum bisa kembali tidur, ia memikirkan perkataan suaminya tadi yang membuat memory otaknya memutar kisah 16 tahun yang lalu.
FLASH BACK ON
Nani Safitri gadis berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Ia akan melanjutkan kuliah demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter tapi mimpinya itu seakan suram di saat orang tuanya menjodohkannya dengan pemuda yang bernama Lukman Yasir yang berusia 8 tahun lebih tua darinya.
Awalnya ia menolak perjodohan tersebut terlebih ia juga tidak mencintainya, namun dengan terpaksa ia harus menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya karena itu merupakan permintaan terakhir sang ayah sebelum beliau meninggal.
menikah tidak seburuk yang ia pikirkan, Yasir tetap mengizinkan Nani untuk kuliah, mereka sepakat menunda memiliki anak sebelum ia lulus kuliah walaupun sebenarnya Yasir ingin segera memiliki keturunan tapi ia menghargai keinginan istrinya.
Namun takdir berkata lain, setelah 3 bulan pernikahan bu Nani di nyatakan hamil oleh dokter, itu membuatnya frustasi karena semua berjalan tidak sesuai rencana, ia takut kehamilannya menjadi penghalang langkahnya depan.
Karena kehamilannya Yasir & mertuanya jadi sangat over protektif hingga melarangnya untuk kuliah sementara waktu.
Ketakutannya selama ini menjelma menjadi nyata di saat Tiara lahir ke dunia, Yasir & mertuanya tidak mengizinkannya kuliah lagi agar fokus mengurus anak & suami.
Dengan terpaksa bu Nani berhenti kuliah, yang baru menginjak semester satu itu.
Ia kecewa & putus asa
mimpi indahnya sudah sirna oleh kenyataan buruk.
Kebahagiannya terenggut oleh waktu yang begitu cepat memaksa dirinya menjadi ibu di usia mudanya yang membuat langkahnya mengejar cita-citanya terhenti sampai di situ.
FLASH BACK OFF
Bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya, ia sungguh sedih mengingat semua itu. Tangannya meremas sprei kuat seraya rahangnya mengeras sampai giginya gemeretak.
Hatinya berteriak
Bantinnya meronta-ronta
Ingin marah tapi tidak tahu siapa yang harus di salahkan.
Ia benci tapi tidak tahu pada siapa.
Bu Nani akhirnya tertidur membawa serta penyesalan & kesedihan di hatinya.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨