Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - Penganiayaan
Isabela Smith
Tak pernah kusangka hal seperti ini bakal terjadi padaku. Kukira aku harus memakai jurus pura-pura hamil untuk menikahi pria sekaya Salvatore. Mungkin pria tua yang cepat mati, atau yang bisa kubekap bantal waktu malam tanpa ada yang curiga. Tapi tidak. Semua itu tidak perlu. Aku cantik, dan itu selalu jadi siksaan sekaligus keuntungan besar. Aku menarik perhatian seorang pria yang sangat menarik. Miliarder dari perusahaan multinasional raksasa. Pria berbahaya dan arogan, kata orang. Tapi itu tidak penting, aku akan melakukan apa pun untuk menjadi kaya dan berkuasa, seperti yang seharusnya sejak aku lahir. Seperti yang selalu kutahu hidupku seharusnya.
"Sebentar lagi kamu akan terbebas dariku," kataku, sengaja menggantung kalimat pada adikku yang berbaring membaca buku sialan.
"Kenapa bilang begitu? Aku tidak akan pernah membuangmu." Dia tampak cemas mendengarnya. Dia menyingkirkan bukunya untuk menatapku dengan mata anjing sekarat di balik kacamata konyol yang kubelikan sendiri.
Aku berusaha tampak sedingin mungkin. Sekeras apa pun kata-kataku penuh keangkuhan dan sarkasme, kepolosannya membuatnya tak menangkap apa-apa. Aku suka itu. Seperti permainan.
"Kau membuangku? Jangan membuatku tertawa. Aku bilang akulah yang akan membuangmu, dan dengan begitu kau tak perlu lagi menanggungku."
"Tapi aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak bisa. Kamu tahu aku tidak sanggup sendirian." Dia menunduk, dan kulihat bibirnya bergetar. "Sejak orangtua kita meninggal, aku cuma punya kamu, tidak ada yang lain."
"Kau harus belajar, sayang. Dan ketahuilah, aku akan menikahi pria yang sangat kaya. Aku ingin melupakan hidup melarat ini dan melupakan bahwa kau pernah ada. Seharusnya aku tidak pernah membesarkan bocah ingusan sepertimu. Seharusnya kubiarkan kau mati terbakar bersama bangsat-bangsat itu."
"Kenapa kamu menyerangku? Aku hidup untuk menyenangkanmu. Semua uang yang kudapat kuberikan padamu, bahkan aku berhenti sekolah untuk mengurusmu waktu kamu mabuk."
"Dan kau pikir itu berarti aku berutang sesuatu padamu? Siapa yang menyelamatkanmu dari mati terbakar? Siapa yang merawatmu bertahun-tahun? Sayang, semua pukulanku itu supaya kau belajar disiplin dan patuh. Aku mengajarimu menjadi manusia. Jangan kira aku berutang apa pun, justru sebaliknya, dan aku selalu tahu cara menagih utangku."
Adik kecilku menangis sekarang. Itu selalu memberiku kepuasan, aku merasa tenagaku pulih melihat si itik buruk rupa ini terus bercucuran air mata. Ah, andai dia tahu sudah berapa banyak yang kurenggut darinya. Berapa banyak lagi yang masih bisa kurenggut... "Teleponnya berdering, kau tuli? Angkat sekarang juga."
"Halo? Tu-Tuan Salvatore? Ya, saya sambungkan."
Dia menyerahkan telepon itu padaku, tatapannya penuh ketakutan, ketakutan yang luar biasa. Kenapa? Dia bahkan tidak mengenal pria itu. Konyol. Aku merasa dia berbuat salah, sesuatu yang tak dia ceritakan padaku. Kalau bocah itu sampai membocorkan rahasiaku pada calon suamiku, akan kupukuli dia sampai mati.
"Halo." Kataku. Kudengar napasnya terengah dari seberang. Aku tahu kegiatan macam apa yang bisa membuat seorang pria kelelahan begitu. Kukerutkan alis sempurnaku. "Kamu sedang bersama seseorang? Kamu baru saja melamarku."
"Jaga nada bicaramu!" Dia menggeram dari seberang. "Jangan pernah bicara begitu lagi padaku, atau kusuruh orang memotong lidahmu. Kau harus terbiasa tidak menjadi satu-satunya dalam hidupku. Aku tahu kau menerima lamaran ini terlalu mudah, Nona Isabela, kau pasti wanita ambisius. Patuhi aku dan kau akan mendapat semua yang kauinginkan."
"Baiklah." Itu satu-satunya yang bisa kujawab. Kebencianku membakar seluruh tubuh, dan yang bisa kulakukan hanya melirik tajam adikku yang tak berguna.
"Pernikahan akan diadakan seminggu lagi. Semuanya sudah diatur. Kau hanya perlu memilih gaun pengantin. Detailnya kukirim lewat e-mail. Selamat malam." Kudengar dia menarik napas dalam-dalam untuk terakhir kalinya, tampak tidak sabaran.
"Selamat mal..." Kutatap telepon beberapa saat. Bajingan itu berani menutup telepon di depan mukaku? Sialan, ini akan kutagih. Kuletakkan telepon kembali di tempatnya dan menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Aku harus dingin sekarang. Aku tidak boleh kehilangan pria ini.
"Dan kau, apa yang kauperbuat? Jangan bohong atau akan jauh lebih buruk."
"Aku tidak berbuat apa-apa, tolong, jangan pukul aku. Lihat, aku pergi membersihkan gedung itu seperti katamu, hanya saja ternyata itu miliknya. Dia marah karena aku masuk tanpa izin, tapi hanya itu, aku bersumpah."
"Adik kecilku sayang, jangan pernah bersumpah padaku. Aku tahu kapan kau menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi tidak apa-apa, kau selalu membuat semuanya lebih seru..."
Meski dia merengek dan membosankan, kumasukkan dia ke sumur supaya dia belajar tidak berbohong padaku. Kita lihat berapa lama dia sanggup bertahan di dalam sana...
Ini bukan pertama kalinya aku menaruhnya di tempat itu. Itu mungkin satu-satunya hal bagus yang kupelajari dari orangtuaku yang bajingan.
Ane sepertinya sudah terbiasa setelah bertahun-tahun dikurung di sana, mungkin dia lebih memilih dikurung daripada dipukuli lagi. Dulu pernah kukirim dia ke rumah sakit. Aku harus memberi keterangan di kantor polisi, mengaku kami dirampok, setelah rahangnya dan salah satu lengannya patah, sampai dia butuh operasi yang sangat mahal. Dan tentu saja, karena biaya kesehatan di negara ini mahal, tak perlu jadi jenius untuk menebak aku tidak membayar sialan itu, lengannya yang retak sembuh sendiri. Sejak itu dia sering kesakitan, yang bagiku justru jadi hiburan. Karena itulah aku menjadikannya senjata setiap kali ingin menyakitinya... Memuntir pergelangan tangannya itu favoritku. Dan bagian paling lucunya, dia bahkan tidak melawan.