NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:177
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Nama Baik yang Retak

"Maaf, aku belum bisa datang malam ini."

Suara Bagas di telepon terdengar pendek dan serak. Di belakangnya, peluit latihan bersahut-sahutan dengan suara orang memberi aba-aba.

Kirana duduk di tepi ranjang sambil memutar tutup botol vitamin.

"Kamu sudah bilang begitu tiga hari berturut-turut."

Hening sebentar.

"Latihan sedang padat. Setelah itu aku harus belajar untuk seleksi."

"Aku tahu."

"Kalau ada apa-apa, telepon."

Kirana memandang dinding kamar nomor enam yang pucat. "Kalau cuma bosan?"

Kali ini Bagas diam lebih lama.

"Besok aku usahakan datang. Makan malam jangan terlambat."

Sambungan berakhir sebelum Kirana sempat menjawab.

Ia meletakkan telepon di samping bantal. Kata usahakan rupanya tidak sama dengan janji. Namun ia juga tahu Bagas tidak sedang bersenang-senang. Kesempatan seleksi itu penting, dan Bagas telah memilih mengejarnya tanpa meninggalkan tanggung jawab atas dirinya dan bayi-bayi mereka.

Tetap saja, kamar itu terasa semakin sempit setiap malam.

Menjelang sore, Kirana keluar membawa cangkir kosong. Bu Marni sedang melipat kain bersih di meja dekat ruang administrasi.

"Mbak Kirana sudah tidak mual?" tanyanya.

"Kadang masih. Tapi hari ini lebih baik."

"Duduklah. Saya baru buat teh jahe, tidak terlalu manis."

Kirana menerima tawaran itu. Dua penghuni lain sedang memilah sayur di ujung meja. Percakapan mereka berpindah dari harga telur, jadwal air, lalu ke keluarga-keluarga yang sering terlihat di lingkungan perwira.

"Rumah yang dekat jalan besar itu milik keluarga Adiningrat, ya?" Kirana bertanya seolah sekadar penasaran.

Seorang perempuan berbaju hijau langsung menoleh. "Yang ditempati Mas Rangga dan istrinya? Besar sekali. Katanya baru ruang tamunya saja lebih luas daripada wisma ini."

"Istrinya Mbak Melati," sambung perempuan lain. "Dia sering ikut acara keluarga besar. Pakaiannya selalu rapi, mobilnya juga berganti-ganti."

Kirana menunduk pada teh jahenya. Uap hangat menyentuh wajah, tetapi dadanya terasa dingin.

"Orang-orang bilang dia berani," kata perempuan berbaju hijau. "Waktu keluarga Prawira bermasalah, dia tidak menutup-nutupi. Malah membantu membuka kesalahan keluarganya sendiri."

"Ada yang memujinya karena bisa membedakan keluarga dan kebenaran," sahut yang lain.

Jari Kirana mengencang di sekeliling cangkir.

Melati tinggal nyaman, dipuji karena keberanian yang dibangun dari kehancuran rumah mereka. Sementara Ratna harus berpindah tempat agar para penagih tidak menemukannya. Tidak seorang pun di meja itu tahu siapa yang kehilangan rumah, tabungan, dan tidur malam demi citra baik seorang Melati.

"Mbak Kirana kenal dia?" Bu Marni bertanya.

Kirana mengangkat kepala. "Pernah bertemu."

Itu bukan kebohongan, hanya kebenaran yang dipotong sangat pendek.

Ia menghabiskan teh lalu berdiri. Saat kembali dari dapur setelah mencuci cangkir, langkahnya terhenti di tikungan lorong. Tiga perempuan berdiri dekat jendela terbuka. Mereka tidak melihatnya karena terhalang lemari linen.

"Yang tinggal di kamar enam itu kerabat Letda Bagas, kan?"

"Katanya mantan istrinya."

"Mantan istri yang itu? Astaga."

Kirana membeku.

Suara mereka mengecil, tetapi lorong sempit membuat setiap kata tetap sampai kepadanya.

"Saya dengar dulu dia suka merendahkan Bagas. Bilang dia cuma tentara kampung, tidak pantas berdiri di samping perempuan keluarga kaya."

"Bukan cuma itu. Ada rekaman tulisan dan pesan yang disebarkan. Dia menuduh Bagas menikah demi uang Prawira, lalu membuat keributan sampai atasannya ikut tahu."

"Pantas bercerai. Perempuan seperti itu datang lagi untuk apa?"

Telapak tangan Kirana mendadak basah.

Ia memang pernah melontarkan kata-kata kejam kepada Bagas. Saat itu ia marah, malu, dan merasa seluruh hidupnya diputuskan orang lain. Ia pernah menyebut pernikahan mereka sebagai kesalahan. Ia pernah menuduh Bagas tidak akan memahami dunianya.

Namun ia tidak pernah membuat rekaman. Tidak pernah menulis pesan untuk diedarkan. Tidak pernah menghubungi atasan Bagas. Bahkan ketika meminta cerai, ia melakukannya langsung di hadapan Bagas, bukan melalui bahan hinaan yang disebarkan kepada orang lain.

Seseorang telah mengambil serpihan pertengkaran mereka, menambah kebohongan, lalu meletakkan namanya di atas semua itu.

Kirana mundur sebelum mereka melihatnya. Punggungnya membentur dinding. Dingin cat merambat menembus blusnya.

Siapa yang tahu kata-kata asli itu?

Jawabannya muncul terlalu cepat.

Bagas.

Hanya Bagas yang berdiri di kamar mereka malam itu. Hanya Bagas yang mendengar setiap kalimat tajam darinya.

Tidak. Bagas tidak suka banyak bicara. Ia bahkan menahan kabar kehamilannya dari Gunawan dan orang-orang di kantin. Laki-laki itu tidak tampak seperti seseorang yang akan mengubah pertengkaran pribadi menjadi bahan gunjingan.

Tetapi kalau bukan dia, bagaimana orang lain tahu bagian yang mirip dengan ucapan Kirana?

"Mbak Kirana?"

Bu Marni muncul dari ujung lorong. Tiga perempuan di dekat jendela segera terdiam.

Kirana memaksa bahunya tegak. "Saya agak pusing. Mau istirahat."

"Wajah Mbak pucat. Saya panggilkan dokter?"

"Tidak perlu. Saya hanya kurang tidur."

Ia berjalan ke kamar tanpa menoleh. Pintu ditutup pelan, lalu dikunci.

Begitu sendiri, tenaga yang menahan punggungnya tegak lenyap. Kirana naik ke ranjang dan menarik selimut hingga ke dada. Matanya panas, tetapi ia menolak menangis.

Ratna masih bersembunyi dari orang-orang yang memburu utang keluarga. Dua nyawa kecil tumbuh di dalam tubuhnya. Kalau nama Kirana terus dikotori, kelak kebohongan itu juga akan menempel pada anak-anaknya.

Tangannya turun ke perut yang belum terlihat membesar.

"Mama tidak boleh hancur," bisiknya. "Belum."

Ia meraih telepon, membuka nama Bagas, lalu menutupnya lagi. Tiga kali ia melakukan hal yang sama. Ia ingin menuntut jawaban, tetapi takut mendengar jawaban yang salah.

Malam turun. Lampu lorong menyusup dari celah bawah pintu.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras.

"Kirana."

Tubuhnya menegang. Suara Bagas terdengar dari luar.

Ketukan kedua mengguncang daun pintu.

"Buka. Aku tahu kamu belum tidur."

Kirana menggenggam sudut selimut, menahan seluruh luka dan kecurigaan yang berdesakan di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!