NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Sebelum turun ke lantai bawah, Aurel mengembuskan napas panjang. Ia mencoba menetralkan degup jantung dan menenangkan dirinya terlebih dahulu. Setelah merasa siap, ia pun melangkah turun menemui ibunya.

"Hai, Mom. Mom enggak apa-apa, kan, kalau Aurel ke rumah Mama Olivia buat belajar kelompok?" tanya Aurel hati-hati.

Mommy Zeline tersenyum lembut. "Tentu enggak apa-apa, Sayang. Kamu belajar yang rajin, ya."

"Siap, Mom!" jawab Aurel, seketika merasa lega.

Bang Edward kemudian melangkah maju mendampingi Aurel untuk berpamitan. "Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Mom. Salam buat Daddy," pamit Bang Edward kepada Mommy Zeline dengan sopan.

"Iya, kalian hati-hati di jalan, ya. Salam juga buat mamamu, Edward," ucap Mommy Zeline ramah.

"Siap, Mom," jawab Edward seraya mengangguk.

Anita yang berdiri di samping Edward pun ikut mengulas senyum manis. "Permisi, Tante."

Sesampainya di rumah Bang Edward, Aurel langsung melangkah masuk dan mencari keberadaan pemilik rumah. "Mama Olivia! Aurel datang!" teriaknya dengan riang.

Mendengar teriakan itu, Mama Olivia bergegas keluar dari arah dapur menuju ruang tengah. "Eh, Sayang, sudah pada datang? Mama belum selesai menyiapkan makanan, nih." Wanita paruh baya itu tersenyum hangat kepada mereka. "Kalian tunggu sebentar, ya. Sekalian kita tunggu Daddy pulang."

"Enggak apa-apa, Mam. Lagian Shirin sama Gino juga belum sampai," sahut Bang Edward santai. Sebelumnya, ia memang sudah menelepon Mama Olivia untuk mengabarkan bahwa mereka akan mengerjakan tugas kelompok di rumah.

"Ya sudah, Mama lanjut ke dapur dulu sebentar, ya," ucap Mama Olivia berpamitan.

"Baik, Tante," ucap Kak Anita dengan sopan seraya mengulas senyum manis.

Di sepanjang jalan raya yang cukup padat, klakson motor Gino berbunyi nyaring dua kali saat ia berhasil menyejajarkan posisi motornya dengan motor matik milik Shirin. Gino sengaja membuka kaca helm bogo-nya lebar-lebar demi bisa berteriak di tengah kebisingan jalanan.

"Rin! Sadis amat, sih! Masih konsisten banget jaga jarak satu meternya?!" teriak Gino dari balik kemudi motornya.

Shirin yang merasa konsentrasinya terganggu hanya melirik sekilas dari balik helm halfface-nya. Ia sedikit menurunkan kecepatan motor demi keamanan. "Harus konsisten, Gino! Buaya kalau dikasih celah sedikit, langsung nyaplok!"

"Yee, sembarangan! Gue ini buaya premium, Rin. Setia sama satu habitat!" sahut Gino tidak mau kalah. Motornya bergoyang sedikit saat ia sengaja melewati jalanan yang bergelombang, membuat Shirin refleks menjauh. "Tuh, kan! Lagian kenapa enggak mau bareng gue aja, sih? Tangan gue udah steril, siap jadi GPS manual kalau lo kesasar."

"Nggak sudi! Yang ada lo malah sengaja lewat jalan memutar biar bisa lama-lama di jalan!" tuduh Shirin tepat sasaran. Ia lalu menarik gas untuk menyalip sebuah angkot di depannya, meninggalkan Gino beberapa meter di belakang.

Namun, bukan Gino namanya kalau mudah menyerah. Cowok itu langsung memacu motornya kembali ke samping Shirin saat mereka tertahan oleh lampu merah di persimpangan jalan. Gino sengaja mematikan mesin motornya, lalu menatap Shirin dengan senyum paling menawan yang ia punya.

"Rin, lo tahu nggak bedanya lampu merah ini sama lo?" tanya Gino tiba-tiba, memulai aksi gombalan klasiknya.

Shirin menghela napas panjang, menatap lampu pengatur lalu lintas yang masih menyisakan angka empat puluh detik. "Nggak tahu dan nggak mau tahu, Gino."

"Ah, nggak asyik. Tetap gue jawab, ya," sahut Gino telanjur percaya diri. "Kalau lampu merah ini bikin motor gue berhenti berjalan. Tapi kalau lo, bikin hati gue berhenti mencari."

Tepat setelah kalimat itu selesai, seorang bapak-bapak pengendara motor tepat di sebelah mereka langsung berdehem keras sambil menahan tawa. Wajah Shirin seketika memerah menahan malu akibat ulah Gino yang urat malunya seperti sudah putus itu.

"Gino, sumpah! Kalau lampu hijaunya menyala, lo duluan yang jalan atau gue tabrak dari belakang!" ancam Shirin dengan suara tertahan, sementara Gino justru tertawa puas melihat respons menggemaskan dari partner tugasnya itu.

Begitu angka di papan hitung mundur lampu lalu lintas menyentuh angka nol, warna hijau seketika menyala. Shirin langsung memutar tuas gas motor matiknya dengan sentakan penuh, menciptakan raungan mesin yang cukup agresif.

"Eh, buset! Rin, santai, Rin! Gue jalan ini, gue jalan!" pekik Gino panik.

Melihat motor Shirin yang benar-benar melesat maju seolah siap menyeruduknya dari belakang, Gino buru-buru menancap gas motornya dalam-dalam. Saking tergesa-gesanya, ban belakang motor Gino sempat sedikit slip di atas marka jalan sebelum akhirnya melesat ke depan bagai anak panah lepas dari busur.

Shirin yang melihat kepanikan Gino tidak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Rasa kesal dan malu akibat gombalan maut di depan bapak-bapak tadi mendadak menguap, digantikan oleh kepuasan batin setelah berhasil membuat si buaya premium itu ketakutan.

Gino memacu motornya beberapa meter di depan sambil sesekali melirik kaca spion, memastikan sang "kucing garong" tidak benar-benar nekat menabraknya. Setelah merasa jarak mereka sudah berada di zona aman, ia kembali memperlambat kecepatan dan membiarkan Shirin kembali menyejajarkan posisi.

Dari balik kaca helmnya yang terbuka, Gino menyengir lebar, sama sekali tidak kapok. "Sadis bener sih, Partner. Untung refleks gue secepat kilat. Kalau enggak, bisa-bisa draf tugas dari Bang Edward berubah jadi surat wasiat buat kita berdua."

Shirin hanya membalas dengan dengusan remeh. "Makanya, punya mulut jangan lemes banget di jalanan umum, Gino. Anggap aja itu simulasi kalau lo berani macam-macam lagi selama kerja kelompok nanti."

"Siap, Bos! Mulai sekarang gue bakal jadi partner yang penurut. Tapi kalau masalah suka sama lo, sori ya, itu di luar kendali kemudi," sahut Gino telanjur asyik menggoda, sebelum akhirnya ia kembali memacu motornya lebih cepat begitu melihat papan penunjuk jalan menuju perumahan Bang Edward sudah dekat di depan mata.

Dua motor mereka akhirnya berbelok secara bergantian dan berhenti tepat di depan pagar hitam rumah Bang Edward. Begitu mesin motor mati, Shirin langsung melepas helmnya dengan sentakan napas yang masih sedikit memburu akibat aksi kejar-kejaran di jalan tadi.

Belum sempat Shirin turun dari motor, suara pekikan cempreng yang sangat familier sudah menggema dari arah teras rumah.

"Priiittt! Pelanggaran! Ini duo sejoli baru sampai jam segini habis kencan di lampu merah mana dulu, hah?" sorak Aurel heboh. Ia sudah berdiri di dekat pagar sambil bersedekap dada, memasang wajah menggoda yang paling menyebalkan.

Shirin langsung melayangkan tatapan membunuh andalannya. "Aurel, demi apa pun, mending lo diam sebelum helm gue melayang ke muka lo."

Gino yang baru selesai menurunkan standar motornya justru tertawa lepas. Cowok itu dengan santai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat angin jalanan. "Santai, Rel. Teman lo ini tadi hampir mau bikin gue masuk berita utama koran lokal dengan judul 'Seorang Mahasiswa Tewas Diseruduk Partner Kelompoknya Sendiri'."

"Wah, parah lo, Rin! Sadis amat sama calon masa depan!" timpal Aurel kompor, tawanya pecah bersamaan dengan munculnya Kak Anita dari balik pintu utama.

"Heh, berisik banget ini di depan pagar, sampai kedengaran ke dapur," sela Kak Anita sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Wanita itu tersenyum renyah, lalu melambaikan tangan. "Sudah, jangan pada ribut di luar. Yuk, langsung masuk ke dalam. Mama Olivia sudah selesai menyiapkan makan siang di ruang tengah. Keburu dingin nanti lauknya."

Shirin tidak membuang waktu. Ia segera menyampirkan tas ranselnya ke bahu dan melangkah cepat melewati Gino dan Aurel, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya yang masih tersisa akibat godaan mereka berdua.

Aurel melangkah masuk duluan ke dalam rumah setelah puas menyoraki temannya di depan pagar. Ia segera bergabung dengan Bang Edward dan Kak Anita yang sudah menunggu di ruang tengah.

Tidak lama kemudian, Shirin menyusul masuk ke dalam.

"Udah nyampe, Rin? Si Gino mana?" tanya Bang Edward begitu melihat Shirin berjalan sendirian.

"Masih di luar, Bang," jawab Shirin sambil meletakkan tas ranselnya di kursi.

Mendengar suara gaduh di ruang tengah, Mama Olivia—ibu dari Bang Edward—keluar dari arah dapur. "Eh, Nak Shirin udah datang? Temannya mana?" tanya Mama Olivia ramah.

"Masih di luar, Tante," jawab Shirin sopan.

Tepat saat itu juga, terdengar suara langkah kaki mendekat. Kak Anita dan Aurel yang rupanya sempat melangkah keluar lagi untuk menyusul Gino, kini menuntun cowok itu masuk ke dalam rumah.

"Assalamualaikum, Tante," sapa Gino dengan senyum sopan yang mengembang di wajahnya.

"Waalaikumussalam," jawab Mama Olivia hangat.

Gino segera maju dan menyalami tangan Mama Olivia dengan takzim. Wanita paruh baya itu memperhatikan wajah Gino sejenak sebelum menyunggingkan senyum penuh arti.

"Oh, jadi ini yang namanya Gino, ya?" tanya Mama Olivia sambil melirik ke arah Shirin. "Ganteng juga, Rin."

Gino langsung tertegun, mendadak bingung dengan arah pembicaraan ibu temannya itu. Sementara di sampingnya, Shirin langsung salah tingkah dengan wajah yang seketika memerah padam. Melihat pemandangan itu, tawa Aurel langsung pecah terbahak-bahak menikmati momen langka tersebut.

"Kok Tante tahu nama saya?" tanya Gino bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Mama Olivia terkekeh pelan melihat ekspresi polos cowok itu. "Iya, Nak. Kamu pernah dibahas sama Aurel dan Shirin waktu kami BBQ-an di sini. Katanya kamu suka ngejar-ngejar Shirin, ya?" jawab Mama Olivia blak-blakan tanpa beban.

Seketika itu juga, Shirin langsung mati kutu. Wajahnya memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa, sementara matanya melotot panik ke arah ibu dari seniornya itu. Di sebelahnya, tawa Aurel langsung pecah sampai terpingkal-pingkal dan harus memegangi perutnya yang kram, merasa sangat puas melihat kepanikan sahabatnya.

Bang Edward dan Kak Anita yang menyaksikan pemandangan heboh di ruang tengah itu hanya bisa geleng-geleng kepala, terhibur melihat tingkah ajaib junior-junior mereka.

Mendengar penuturan jujur dari Mama Olivia, mata Gino seketika berbinar cerah. Senyumnya merekah lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi. Rasa bingungnya tadi langsung menguap, berganti dengan rasa percaya diri yang melonjak drastis hingga ke ubun-ubun.

Gino langsung menoleh ke arah Shirin yang masih menunduk sedalam-dalamnya demi menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

"Wah, serius, Tante?" tanya Gino dengan nada suara yang dibuat se-dramatis mungkin, sengaja memancing reaksi. "Aduh, saya terharu banget. Ternyata diam-diam nama saya selalu tertulis di hati Shirin, sampai-sampai dibawa ke acara BBQ-an keluarga."

"Gino, diam nggak!" desis Shirin dengan suara tertahan, tangannya diam-diam mencubit kuat pinggang Gino hingga cowok itu refleks mengaduh sambil meloncat kecil.

"Aduh! Sakit, Rin! Tapi nggak apa-apa, dicubit partner masa depan rasanya kayak digigit semut asmara," ringis Gino, masih sempat-sempatnya mengedipkan sebelah mata ke arah Shirin. Ia kemudian kembali menghadap Mama Olivia dengan sikap sopan yang dibuat-buat. "Tante Olivia tenang aja. Mulai hari ini, intensitas saya ngejar Shirin bakal saya naikkan jadi dua kali lipat. Biar nanti kalau BBQ-an lagi, menunya udah berubah jadi syukuran kita berdua."

Tawa Aurel yang tadinya sempat mereda kini kembali meledak mendengarnya. "Sumpah ya, Gin! Nyali lo segede gaban! Lanjutkan, gue dukung lahir batin!"

Bang Edward langsung merangkul pundak Gino sambil tertawa lepas. "Gila ya, si Gino. Di depan nyokap gue pun jurus buayanya tetap keluar. Boleh juga mental lo, Dek."

Sementara Kak Anita hanya bisa mengelus dada sambil tersenyum geli melihat Shirin yang tampak pasrah dan sudah kehabisan kata-kata untuk membalas godaan Gino yang tingkat percaya dirinya sudah menembus langit.

Tiba-tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!