**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Kisah di Ranjang Rumah Sakit
Lampu merah di atas pintu operasi padam tiga jam kemudian.
Dokter bedah keluar sambil melepas masker. "Pelurunya sudah diangkat. Tidak mengenai organ vital, tetapi dia kehilangan banyak darah. Dua puluh empat jam pertama tetap penting."
Lututku kehilangan tenaga.
Bayu menangkap siku sebelum aku jatuh. "Kau dengar? Kana masih hidup."
Masih hidup.
Dua kata itu membuat udara kembali masuk ke paru-paruku.
***
Arkana sadar keesokan sore.
Aku duduk di kursi samping ranjang dengan gaun pinjaman dari perawat dan perban di kedua pergelangan. Ketika jari Arkana bergerak, aku langsung bangkit.
"Kana?"
Kelopak matanya terbuka perlahan. Tatapannya buram, tetapi hal pertama yang dia lakukan adalah mencari wajahku.
"Kau terluka?"
"Tidak."
"Jangan bohong."
"Hanya memar. Dokter sudah memeriksa."
Dia mencoba mengangkat tangan. Selang infus tertarik, dan monitor berbunyi lebih cepat.
"Jangan bergerak."
"Mendekat."
Aku menuruti. Ujung jarinya menyentuh perban di pergelangan tanganku.
"Codet?"
"Ditahan orangmu. Bayu sedang mencari Ojan."
Arkana mengangguk tipis, lalu menutup mata lagi. "Bagus."
"Kau hampir mati."
"Tapi tidak."
"Kau selalu menganggap semuanya sesederhana itu?"
"Kalau aku mati, kau boleh memarahiku lebih lama."
Aku seharusnya kesal. Yang keluar justru tangis.
Arkana membuka mata lagi. "Ara."
"Jangan panggil aku begitu."
"Kau menangis."
"Karena marah."
"Tentu."
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya sebelum obat membuatnya kembali tidur.
***
Aku menjaga Arkana selama berminggu-minggu.
Kampus memberiku izin karena laporan penculikan. Ibu Clara mengirim partitur dan pesan agar aku tidak memikirkan kelas. Bi Sum membawa pakaian, bubur, serta bantal Arkana dari rumah karena dia tidak bisa tidur dengan bantal rumah sakit.
Pada hari ketiga, dia sudah mencoba membaca dokumen bisnis.
Aku merampas map dari tangannya. "Dokter bilang istirahat."
"Dokter tidak mengelola enam perusahaan."
"Kalau jahitanmu terbuka, enam perusahaan itu bisa dikelola orang lain selamanya."
Arkana mengangkat alis. "Kau mengancamku dengan kematian?"
"Aku mengancammu dengan menyita semua map."
Dia membiarkanku meletakkan dokumen di lemari.
Bayu datang setiap sore membawa laporan tentang gudang, Ojan, dan bisnis yang harus ditutup sementara. Dia sengaja menyampaikan bagian berbahaya saat aku keluar membeli kopi, tetapi dinding rumah sakit tidak cukup tebal.
"Codet mengaku Ojan menyuruhnya," kata Bayu suatu hari. "Orang kita sudah memutus jalur dan membekukan uang mereka."
"Tidak ada yang mendekati kampusnya lagi," Arkana menjawab.
"Pengawalan akan ditambah."
"Tanpa membuatnya merasa dipenjara."
Aku masuk sambil membawa kopi. "Sulit dilakukan kalau kalian membicarakanku seperti paket berharga."
Bayu menyeringai. "Paket ini galak sekali."
"Keluar," kata Arkana.
"Aku baru datang."
"Laporan selesai."
Bayu mengambil kopinya dan berjalan ke pintu. Saat melewatiku, dia berbisik, "Dia mengusirku karena ingin dirawat berdua."
Bantal melayang dan nyaris mengenai kepalanya. Bayu tertawa dari lorong.
Tawa itu mengubah kamar rumah sakit menjadi sesuatu yang hampir menyerupai rumah.
Ibu Clara datang pada akhir minggu pertama membawa keyboard lipat. "Jari seorang pianis tidak boleh ikut sakit hanya karena orang lain ditembak," katanya.
Dia memeriksa tugasku, mengoreksi dua bagian, lalu pergi setelah memastikan aku berjanji berlatih.
Arkana menatap alat itu dari ranjang. "Mainkan lagu ulang tahunmu."
"Belum selesai."
"Justru itu. Aku ingin mendengar bagian yang belum kau sembunyikan."
Aku meletakkan keyboard di meja dekat jendela. Nada dari speaker kecil terdengar tipis, jauh dari grand piano Restoran Lumière, tetapi dua tema itu tetap hidup. Melodi terang bergerak cepat. Melodi gelap mengejar dari nada rendah.
Saat aku selesai, Arkana sudah tertidur.
Itu pertama kalinya dia tidur lebih dari satu jam tanpa obat penahan sakit.
Sejak itu aku memainkan lagu yang sama setiap malam. Kadang dia menutup mata sejak nada pertama. Kadang dia mengawasi tanganku sampai aku salah menekan tuts.
"Jangan menatap," protesku.
"Pianis di panggung tidak boleh takut ditatap."
"Penonton biasanya tidak berbaring tanpa baju dan penuh perban."
Arkana melihat dadanya yang dibalut. "Mengganggu konsentrasimu?"
"Lukanya yang mengganggu."
"Tentu."
Aku melempar gulungan kaus kaki kepadanya. Dia menangkapnya dengan tangan kanan, lalu meringis karena bahu tertarik.
Aku langsung berdiri. "Sakit?"
"Sedikit."
"Itu akibat suka mengganggu orang."
Meski mengomel, aku memeriksa perbannya dan memanggil perawat. Pada saat-saat seperti itu aku lupa bahwa dia pernah menjadi tujuan pisaunya sendiri. Yang kulihat hanya seorang pria keras kepala yang harus dipaksa minum obat tepat waktu.
***
Pada minggu kedua, demam Arkana naik setelah fisioterapi.
Dia menolak memanggil perawat. Aku membasahi handuk, menempelkannya di dahi, lalu duduk di tepi ranjang sampai napasnya kembali teratur.
"Kau tidak harus di sini setiap malam," katanya.
"Aku tahu."
"Kuliahmu?"
"Masih ada setelah kau sembuh."
"Kalau aku tidak sembuh?"
Tanganku berhenti di atas handuk. "Jangan mengatakannya."
Arkana memandang langit-langit. "Ada seorang perempuan yang pernah mengatakan hal sama."
Aku menunggu.
"Namanya May," lanjutnya. "Setidaknya itu nama yang dia berikan kepadaku."
"Dia siapa?"
"Pianis. Jauh lebih berbakat daripada semua orang yang pernah kutemui."
Ada kelembutan dalam suaranya yang belum pernah kudengar. Bukan kelembutan yang dia gunakan untuk menenangkanku, melainkan nada orang yang sedang menyentuh benda rapuh di dalam ingatan.
"Kau mencintainya?"
"Dia mencintaiku."
Jawabannya menghindar.
"Itu bukan pertanyaanku."
Arkana menoleh. "Saat itu aku terlalu sibuk bertahan hidup untuk memahami perasaan siapa pun."
Dia bercerita tentang seorang gadis yang bermain piano di tempat kecil dekat markas Om Guntur. May tidak takut melihat darah di kemejanya. Dia hanya menyuruh Arkana duduk, memainkan lagu yang tenang, lalu membersihkan luka di tangannya.
"Dia selalu meninggalkan bunga merah di atas piano," katanya.
"Spider lily?"
Arkana menatapku. "Bagaimana kau tahu?"
Aku teringat bunga kering di kotak ketika dia memberiku nama. "Pernah melihatnya di rumah."
Wajahnya kembali menghadap jendela.
"May bilang bunga itu tidak selalu berarti kematian. Kadang artinya dua orang akan bertemu lagi setelah perpisahan panjang."
"Apa kalian bertemu lagi?"
Arkana diam cukup lama hingga kupikir dia tertidur.
"Tidak dalam hidup ini."
Hujan memukul kaca kamar rumah sakit. Aku mengganti handuk di dahinya dan mencoba mengabaikan rasa aneh yang muncul saat membayangkan Arkana duduk mendengarkan perempuan lain bermain piano.
"Sebelum pergi," katanya dengan mata tetap tertutup, "dia pernah berjanji, kalau ada kehidupan berikutnya, dia akan kembali mencariku."
Tanganku membeku di atas wajahnya.
Di luar, kilat memutihkan langit. Namun malam itu aku tidak teringat loteng atau gudang. Yang memenuhi kepalaku justru seorang pianis tanpa wajah dan bunga merah yang disimpan Arkana bertahun-tahun.
Untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya apakah Arkana memberiku piano karena melihat bakatku, atau karena dia sedang menunggu seseorang yang telah lama hilang.