"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Permainan Bayangan dan Restoran Hotel Bintang Lima
Mobil SUV hitam Askara berhenti tepat di depan lobi utama gedung kantor Ruella Creative.
Askara melepas sabuk pengamalnya, turun lebih dulu, lalu memutar untuk membukakan pintu penumpang depan untuk Nadira. Sambil memegang cup kopi Iced Americano, Nadira melangkah keluar dari mobil.
"Sini," kata Askara pelan, menghentikan langkah Nadira.
Jemari Askara terulur lembut, merapikan beberapa helai rambut Nadira yang berantakan di sekitar dahi dan menyelipkannya ke belakang telinga. Askara lalu mengusap sudut bibir Nadira yang sedikit terkena busa kopi dengan ibu jarinya. Tindakan posesif yang sangat natural itu membuat beberapa karyawan kantor yang baru masuk lobi berbisik-bisik.
"Sengaja banget sih lo, caper di depan umum," cetus Nadira canggung dengan wajah merona.
"Biar semua orang tahu lo udah ada yang punya," balas Askara santai, mengusap puncak kepala Nadira sebelum melepaskannya. "Kerja yang bener, jangan kepikiran gue terus."
"Dih, percaya diri banget!" sungut Nadira, walau bibirnya tak sanggup menahan senyum.
Namun, beberapa meter di dekat pintu kaca lobi, Sagara menyandarkan tubuhnya di pilar. Tangannya terlipat di dada, menatap interaksi romantis di depan mobil itu dengan senyuman misterius yang sulit diartikan. Begitu Nadira melangkah mendekati lobi, Gara langsung menegakkan tubuhnya dan menyapa dengan nada suara yang sangat renyah.
"Pagi, Mbak Nadira cantik!" seru Gara nyaring, langsung berjalan cepat menghampiri Nadira dan mengambil alih tas laptop yang ditenteng wanita itu tanpa permisi.
"Eh, Gara? Kok lo udah di lobi jam segini?" tanya Nadira terkejut.
"Nungguin Mbak Nadira lah!" sahut Gara dengan wajah tanpa dosa, memamerkan senyum manisnya. "Saya sengaja nunggu di sini biar bisa bawain tas Mbak. Wah, pagi-pagi udah dapet kopi nih? Mau dong nyicipin sedikit..."
Gara sengaja memajukan tubuhnya sangat dekat, hendak meraih cup kopi di tangan Nadira sambil tertawa lepas. Dari dekat mobilnya, Askara belum melangkah masuk ke dalam kendaraan. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Gara. Askara tahu betul, gerakan dan tawa kencang anak muda itu sengaja ditujukan kepadanya untuk memancing emosi.
Ponsel Askara bergetar hebat di saku jasnya.
Askara merogoh ponselnya. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal masuk ke layarnya.
[Nomor Tak Dikenal]: Sampai kapan kau akan menjadi anjing penurut Nadira? Wanita itu tidak pernah menganggapmu ada, Askara. Kasihan sekali.
Mata Askara memicing tajam. Tanpa membuang waktu, Askara langsung menekan tombol panggilan ke nomor tersebut.
Panggilan terhubung pada nada dering kedua. Suara tawa halus seorang wanita yang sangat familiar terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Askara... Masih cepat seperti biasa ya respons lo?"
"Rebecca," panggil Askara dingin, suaranya sangat berbisik namun menusuk. "Mau lo apa?"
"Langsung pada intinya ya? Gue cuma mau ingetin lo, Ka. Proyek baru yang bakal dipresentasiin Nadira siang ini... bakal gagal total. Dan pernikahan konyol lo sama wanita sok polos itu? Gak akan pernah terjadi."
"Lo pikir lo siapa, Rebecca?" desis Askara, mengepalkan tangannya di samping mobil. "Jangan coba-coba sentuh Nadira atau proyeknya."
"Gue cuma mau apa yang harusnya jadi milik gue dari dulu, Ka!" suara Rebecca mendadak menegang di seberang sana. "Lo harusnya sama gue, bukan sama wanita yang cuma bisa manfaatin lo itu! Kalau lo mau proyek Nadira aman siang ini, temui gue di Restoran Hotel Grand Hyatt jam satu siang. Kalau lo gak datang... siap-siap lihat karir Nadira hancur."
Teeet.
Sambungan terputus sepihak. Askara menatap layar ponselnya dengan senyuman miring yang mengerikan. Rebecca mengira obsesi gila yang dimilikinya bisa menakut-nakuti Askara. Wanita itu tidak tahu saja, jika ada seseorang yang berani menyentuh atau merusak kebahagiaan Nadira, Askara bisa menjadi jauh lebih gila dan tak tersentuh hukum.
"Lo salah pilih lawan, Becca," gumam Askara pelan, lalu melangkah masuk ke mobilnya.
...****************...
Pukul satu siang. Restoran bernuansa luxury classic di dalam Hotel Grand Hyatt tampak tenang dan eksklusif.
Di sebuah meja bundar dekat jendela besar, Nadira bersama Odelia dan Gara baru saja selesai melakukan rapat penting dengan pihak klien investor baru. Presentasi berjalan sangat lancar dan penuh apresiasi.
"Mbak Nadira keren banget tadi!" puji Gara bersemangat sambil merapikan dokumen di meja. "Klien sampai takjub gitu lihat konsep yang Mbak tawarin."
"Ini kerja tim, Gara," sahut Nadira tersenyum lega. "Yaudah, yuk kita balik ke kantor. Gue mau rapihin berkasnya dulu."
Mereka bertiga berdiri dan melangkah keluar dari area private dining room menuju area lobi restoran yang lebih terbuka. Namun, baru berjalan beberapa langkah, langkah kaki Nadira mendadak terhenti kaku.
Di sudut restoran yang agak terpencil, di dekat tatanan bunga anggrek mahal, duduk seorang pria dengan kemeja abu-abu gelap yang sangat dihafalnya.
Askara.
Di hadapan Askara, duduk seorang wanita berambut gelombang pirang dengan gaun merah menyala yang sangat elegan. Wanita itu sedang menatap Askara dengan binar mata yang penuh tuntutan, bahkan tangannya terulur di atas meja mencoba menyentuh jemari Askara.
Mata Nadira membelalak lebar. Tangannya yang memegang map berkas gemetar hebat. "Askara? Sama... Rebecca?"
Odelia yang berdiri di samping Nadira ikut menoleh dan menelan ludahnya kasar. "Astaga... itu kan Kak Rebecca? Kating kita yang dulu ngejar-ngejar Pak Askara pas kuliah?!"
Rasa sesak yang mendadak luar biasa menghantam dada Nadira. Bayangan percakapan dingin Askara kemarin sore dan pesan-pesan misterius yang selalu menyudutkannya mendadak berputar di kepalanya. Hatinya seperti diremas keras.
Di sebelah Nadira, Sagara melirik raut wajah Nadira yang pucat pasi dan hampir menangis. Senyuman tipis terukir di bibir anak muda itu. Tanpa membuang kesempatan emas untuk memperkeruh suasana, Gara memajukan tubuhnya, merangkul bahu Nadira dari samping dengan nada suara yang penuh keprihatinan yang dibuat-buat.
"Wah... jadi itu alasannya Mas Calon Suami sibuk banget dan gak bisa nemenin Mbak Nadira makan siang?" bisik Gara tepat di dekat telinga Nadira, suaranya cukup nyaring untuk memancing emosi. "Mbak Nadira... ternyata di belakang Mbak, Mas Askara masih berhubungan sama cewek glamor kayak gitu ya? Kasihan banget Mbak Nadira..."
Kalimat Gara bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api di dada Nadira. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipinya.
semangat terus thor...
/Heart/