NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Cahaya di Ujung Jalan Gelap

Cahaya fajar perlahan menyelinap masuk dari balik awan yang tersisa setelah hujan semalam, menyinari sisa-sisa kelembapan yang masih menempel di dedaunan taman. Udara pagi terasa sejuk dan segar, membawa aroma tanah basah yang menenangkan hati siapa pun yang menghirupnya. Namun di dalam kamar tidur utama yang luas itu, suasana masih terasa berat dan penuh kesunyian. Pengawal-pengawal kepercayaan Mo Han telah tiba secepat mungkin bersama tim medis yang dibawa mereka. Tubuh Paman Wu yang terbaring tak sadarkan diri telah dibawa keluar dengan hati-hati untuk mendapatkan perawatan sekaligus pengawasan ketat. Sementara itu, di sudut ruangan yang lain, Mo Han duduk di tepi tempat tidur sambil membiarkan dokter pribadi keluarga itu membersihkan dan membalut luka tebasan di bahunya dengan teliti.

Su Yi duduk di sampingnya, kedua tangannya meremas lembut ujung kain selimut yang terhampar di pangkuannya. Matanya tak beralih sedikit pun dari wajah suaminya yang tampak pucat namun tetap tenang. Setiap kali tangan dokter menyentuh luka yang dalam itu, jantung Su Yi ikut berdegup kencang seakan ikut merasakan rasa sakit yang harus ditanggung pria itu. Namun Mo Han sama sekali tidak mengerang sedikit pun. Matanya terus menatap wajah istrinya dengan pandangan lembut dan menenangkan, seakan ingin meyakinkan wanita di hadapannya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa rasa sakit itu tak berarti apa-apa baginya selama ia tahu istrinya dan calon bayi mereka selamat.

"Kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang." Dokter tua itu berucap pelan sambil mengikat simpul perban di bahu Mo Han dengan rapi. Wajahnya tampak serius dan penuh kekhawatiran. "Luka ini cukup dalam dan berada di bagian yang sering bergerak. Jika tidak dijaga dengan baik, infeksi bisa saja terjadi. Dan dengan kondisi tubuh yang tampak kelelahan seperti ini... pemulihannya bisa saja memakan waktu lebih lama dari biasanya. Kurangi aktivitas berat dan banyak beristirahat."

"Terima kasih, Dokter." Mo Han menjawab singkat sambil mengangguk pelan. Ia tidak banyak bicara, matanya tetap tertuju pada wajah Su Yi yang tampak menahan air mata di sudut matanya. "Aku akan menuruti saranmu. Tolong jaga juga kondisi istriku dengan sebaik-baiknya. Dia sedang mengandung dan butuh perhatian lebih."

Dokter itu tersenyum lembut melihat perhatian yang begitu tulus dari seorang suami. Ia beralih memeriksa kondisi Su Yi dengan teliti, memastikan bahwa kejadian mengerikan semalam tidak berdampak buruk bagi kesehatan ibu maupun calon bayi di dalam kandungannya. Setelah selesai memeriksa, dokter itu menarik napas panjang lalu tersenyum lega.

"Kondisi Nona Su Yi cukup baik. Meskipun sempat terkejut dan lelah, namun kekuatan tubuhnya cukup kuat untuk menahannya. Janin juga tampak sehat dan berkembang dengan baik. Yang terpenting adalah menjaga ketenangan batinnya. Jangan biarkan ia terlalu banyak memikirkan hal-hal yang membebani hatinya. Kebahagiaan dan ketenangan adalah obat terbaik untuk ibu hamil dan calon bayi."

Setelah dokter itu berpamitan dan pergi, suasana di dalam kamar kembali hening. Mo Han berdiri perlahan dan melangkah mendekati jendela yang kini telah dibuka lebar. Angin pagi yang sejuk menyapu masuk, menerpa wajahnya yang dingin dan lelah. Ia menatap ke arah gerbang kediaman yang kini dijaga ketat oleh pengawal-pengawal yang bertugas silih berganti. Pikirannya melayang kembali pada kejadian semalam, pada wajah kerabatnya yang penuh kebencian dan dendam yang tak pernah usai. Hatinya terasa berat dan penuh kepahitan. Namun di saat yang sama, ia juga menyadari satu hal penting — bahwa masa depan mereka berdua dan anak yang akan lahir ke dunia ini jauh lebih berharga daripada masa lalu yang kelam dan penuh luka.

Su Yi berdiri perlahan dan melangkah mendekat ke belakang punggung suaminya. Ia merentangkan kedua tangannya dan memeluk pinggang Mo Han dari belakang dengan lembut, menyandarkan pipinya di punggung bidang itu yang terasa hangat dan kokoh. Sentuhan itu begitu lembut dan menenangkan, seakan mengalirkan kekuatan baru ke dalam dada pria yang sedang termenung itu.

"Kau sedang memikirkannya lagi, bukan?" Su Yi berbisik pelan, suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga Mo Han. "Kau merasa sedih karena hal yang terjadi semalam... bukan?"

Mo Han menatap ke luar jendela dalam diam sejenak sebelum perlahan membalikkan tubuhnya menghadap istrinya. Ia menangkup wajah Su Yi dengan kedua tangannya yang hangat, menatap mata jernih itu lekat-lekat dengan pandangan yang penuh kasih sayang sekaligus kepahitan yang tak sepenuhnya hilang.

"Aku tidak sedih untuk diriku sendiri." Mo Han berucap pelan, suaranya terdengar berat dan rendah. "Aku sedih karena hubungan darah yang seharusnya menjadi ikatan kasih sayang justru berakhir dengan pertumpahan darah dan kebencian yang begitu dalam. Aku sedih karena ada kerabat dekat yang ternyata menyimpan dendam dan niat jahat selama puluhan tahun di balik senyum ramahnya. Namun yang paling aku sesalkan... adalah kenyataan bahwa kau dan anakku harus ikut merasakan ketakutan dan bahaya itu karena kesalahanku dalam menilai orang lain."

Su Yi menggeleng pelan, lalu mengangkat tangannya menyentuh bibir suaminya dengan lembut seakan ingin menyuruhnya berhenti menyalahkan diri sendiri. Matanya menatap lurus ke manik mata pria itu dengan tatapan yang begitu teguh dan tulus.

"Jangan menyalahkan dirimu atas kejahatan yang dilakukan orang lain, Mo Han. Kau tidak pernah berbuat salah. Kau hanya terlalu baik dan terlalu mempercayai orang yang seharusnya tidak kau percayai. Itu bukan kelemahanmu. Itu justru kelebihan hatimu yang begitu lembut dan tulus. Dan jangan pernah merasa bersalah karena aku dan anakku ikut terkena dampaknya. Karena di mana pun kau berada... di situ pula tempatku berada. Jika kau menghadapi bahaya... maka aku pun ikut menghadapinya. Jika kau terluka... maka hatiku pun ikut terluka. Kita adalah satu, Mo Han. Dalam suka maupun duka. Dalam bahaya maupun keamanan. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Bahkan bukan pun kebencian dan kejahatan orang lain."

Kata-kata itu bagaikan air jernih yang menyapu bersih segala kepahitan dan kegelisahan yang memenuhi hati Mo Han. Ia menatap wajah istrinya yang tampak begitu tulus dan teguh di hadapannya, dan perlahan senyum tipis namun hangat merekah di bibirnya. Ia menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukan erat, membiarkan kepala Su Yi bersandar nyaman di dadanya sambil mengusap rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.

"Kau benar... kita adalah satu. Dan selama kita berdiri berdampingan... tidak ada bahaya yang terlalu besar untuk kita hadapi. Terima kasih... terima kasih telah menguatkanku kembali, sayangku."

Hari-hari berikutnya berlalu dengan penuh ketenangan dan kehati-hatian yang luar biasa. Mo Han benar-benar menuruti saran dokter untuk beristirahat dan menjaga kesehatannya. Namun yang lebih dijaganya adalah keselamatan dan kenyamanan Su Yi. Ia tidak membiarkan istrinya melakukan pekerjaan berat atau berjalan jauh tanpa ditemani. Setiap pagi ia menyiapkan makanan bergizi untuknya, setiap siang ia menemani istrinya beristirahat, dan setiap malam sebelum terlelap ia selalu duduk di samping tempat tidur sambil meletakkan tangannya lembut di atas perut Su Yi, berbicara pelan kepada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana.

Luka di bahu Mo Han perlahan mulai mengering dan sembuh, meninggalkan bekas yang akan tetap ada seumur hidupnya — sebagai pengingat sekaligus bukti cinta pengorbanannya demi orang-orang yang paling ia cintai. Dan di saat yang sama, tanda-tanda kehamilan Su Yi pun semakin terlihat jelas. Wajahnya yang cantik bersinar terang, kulitnya tampak lebih halus dan segar, dan senyum yang selalu tersungging di bibirnya tampak begitu lembut dan penuh kebahagiaan. Setiap kali melihat perubahan itu, hati Mo Han terasa penuh hingga meluap-luap rasa syukurnya kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kebahagiaan yang begitu besar kepadanya.

Sementara itu, berita tentang Paman Wu dan keterlibatannya dalam berbagai kejahatan yang telah dilakukan selama ini perlahan tersebar dan ditangani sesuai jalur hukum yang berlaku. Segala bukti yang dikumpulkan menunjukkan bahwa pria tua itu memang telah merencanakan semuanya dengan sangat licik dan kejam demi memenuhi ambisinya yang tak pernah terpuaskan. Mo Han memutuskan untuk tidak menuntutnya lebih jauh atas dasar belas kasihan dan sisa ikatan darah yang pernah ada di antara mereka. Namun ia juga memastikan bahwa pria itu tidak akan pernah bisa lagi mengganggu kedamaian hidup mereka berdua dan anak yang akan lahir. Paman Wu diasingkan ke tempat yang jauh dan dijaga ketat hingga akhir hayatnya, di mana ia dapat merenungi segala kesalahannya tanpa dapat lagi menyakiti siapa pun.

Suatu sore yang cerah, saat matahari mulai merunduk ke arah barat dan menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh permukaan bumi, Mo Han mengajak Su Yi duduk di beranda belakang kediaman yang menghadap ke arah lembah hijau yang luas dan indah. Angin sore berhembus lembut menerpa wajah mereka berdua, membawa aroma bunga dan rumput yang segar menenangkan hati. Su Yi duduk di kursi empuk sambil bersandar nyaman di dada Mo Han yang menjadi sandaran paling aman baginya di dunia ini. Tangan kanannya terbaring lembut di atas perutnya yang mulai sedikit membuncit, sementara tangan kiri Mo Han menindihnya dari atas dengan penuh kasih sayang.

"Kau tahu..." Su Yi berucap pelan sambil menatap matahari yang perlahan terbenam di kejauhan, suaranya terdengar lembut namun penuh makna yang dalam. "Dulu aku sering merasa takut saat malam tiba. Aku takut pada kegelapan, takut pada kesepian, takut pada ketidakpastian masa depan. Namun sejak bersamamu... sejak kau datang ke dalam hidupku... aku tidak lagi merasa takut. Karena di mana pun kau berada... di situ pula ada cahaya yang menerangi jalanku. Cahaya cintamu yang tak pernah padam walau badai datang menerpa."

Mo Han menunduk menatap wajah istrinya yang bersinar cantik diterpa cahaya matahari sore. Ia mencium puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu berbisik lembut di telinganya.

"Kaulah cahayaku, Su Yi. Kaulah alasan mengapa aku terus berjuang dan terus melangkah maju. Sebelum mengenalmu... hidupku terasa gelap dan hampa. Aku bekerja dan berjuang tanpa tahu untuk siapa semua itu kulakukan. Namun kemudian kau datang... membawa cahaya terang yang menyinari seluruh gelapnya hatiku. Dan kini... ada cahaya kecil yang akan segera lahir ke dunia ini sebagai perpanjangan cinta kita. Cahaya itu akan tumbuh dalam kebahagiaan dan kedamaian. Karena kita akan melindunginya dengan segenap jiwa raga kita."

Su Yi tersenyum bahagia mendengar itu, lalu mendongak menatap wajah suaminya lekat-lekat. "Kau pikir anak kita akan seperti apa? Apakah akan memiliki matamu yang teguh dan tenang? Atau senyumku yang lembut dan ceria?"

Mo Han tertawa pelan mendengar pertanyaan itu, lalu menatap mata istrinya yang berbinar penuh harapan. "Siapa pun yang menyerupainya... aku hanya berharap anak kita tumbuh menjadi orang yang baik hati, tulus, dan pemberani. Seperti ibunya. Dan semoga... ia tidak perlu merasakan penderitaan dan kesulitan yang pernah kita rasakan. Semoga jalannya selalu terang dan penuh kebahagiaan."

Su Yi mengangguk pelan, lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil menatap langit yang perlahan berubah warna menjadi ungu kemerahan yang indah. Di dalam hatinya, ia berdoa agar janji itu terwujud. Agar masa depan anak mereka terang benderang. Agar cinta mereka terus menyala menjadi pelita yang menuntun langkah anak itu kelak.

"Kita akan membawanya ke kebun bunga matahari itu suatu hari nanti, bukan?" Su Yi berbisik pelan tiba-tiba teringat tempat yang menjadi saksi awal mula cinta mereka bersemi. "Kita akan bercerita padanya... tentang bagaimana kita bertemu... tentang bagaimana kita saling menunggu... dan tentang bagaimana cinta kita mampu menembus segala rintangan dan kegelapan."

Mo Han tersenyum lembut mendengar itu. Ia mengusap lembut rambut hitam panjang istrinya yang terurai indah tertiup angin sore. "Ya. Kita akan membawanya ke sana. Dan kita akan bercerita padanya... bahwa di dunia ini ada cinta yang begitu kuat sehingga mampu mengalahkan segala kejahatan dan kebencian. Bahwa selama ada cinta di hati... maka selalu akan ada cahaya di ujung jalan yang gelap. Cahaya yang tak akan pernah padam selamanya."

Langit perlahan berubah menjadi gelap pekat, namun bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu menyinari malam yang damai itu. Di beranda belakang kediaman itu, dua jiwa yang telah bersatu dalam cinta sejati itu masih duduk berdampingan, saling berpelukan hangat di bawah sinar rembulan yang bersinar lembut. Mereka memandang masa depan dengan penuh harapan dan keyakinan. Karena mereka tahu... selama cinta mereka tetap menyala dan tak pernah padam... maka tidak ada jalan yang terlalu gelap untuk dilalui. Karena di ujung jalan itu... selalu ada cahaya yang menanti mereka — cahaya kebahagiaan, cahaya kedamaian, dan cahaya cinta abadi yang akan menyertai mereka selamanya, hingga ke ujung waktu.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!