NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Bab 24: Pendaftaran Topeng Bertanduk, Jenjang Hirarki Kosmik, dan Rahasia Terlarang sang Dewa Pengrajin

​Gema gemuruh riuh ribuan penonton merambati dinding-dinding basalt hitam Koloseum Aethelgard. Sorak-sorai, taruhan uang emas yang membumbung tinggi, serta aroma darah dan keringat menguar kental di udara. Struktur raksasa bertingkat lima itu bagaikan sebuah kawah gunung berapi yang siap meletus kapan saja, menampung puluhan ribu makhluk dari berbagai penjuru benua yang haus akan hiburan brutal dan pembantaian.

​Di tengah lorong batu pendaftaran petarung yang remang-remang, sesosok pemuda berpakaian jubah pengembara hitam melangkah tenang. Wajahnya tersembunyi total di balik sebuah topeng kayu bermotif tanduk iblis purba berwarna legam dengan garis keperakan di pelipisnya. Topeng itu tidak hanya menyembunyikan paras tampannya, tetapi juga membiaskan aura energi agar pengenal jiwanya tak mudah terlacak oleh para peramal atau bangsawan kota.

​Ren mendekati meja kayu tebal tempat seorang panitia mendaftar—seorang pria Beastkin bertubuh gempal dari ras badak dengan luka parut di lengannya.

​"Nama panggung dan ras?" tanya sang panitia tanpa mendongak, jemarinya sibuk menuliskan catatannya di atas lembaran parchment tebal.

​"Darkness," jawab Ren dengan suara yang dipelintir oleh dorongan aura hingga terdengar agak berat dan bergema pelan. "Ras Manusia."

​Pria badak itu mendongak sejenak, menatap topeng bertanduk Ren dari atas ke bawah. "Manusia, huh? Jarang ada Manusia yang berani mendaftar di Mortal Blood Arena tanpa membawa pasukan pelindung. Biaya pendaftaran lima koin emas. Jika kau mati di dalam arena, seluruh barang bawaanmu menjadi hak milik panitia Koloseum. Paham?"

​Ren tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan lima koin emas murni ke atas meja dengan gerakan halus.

​CLINK!

​Pria badak itu menyapu koin-koin tersebut, lalu melemparkan sebuah plat besi bernomor #404 ke arah Ren. "Pertandingan pertamamu ada di babak eliminasi esok hari. Hari ini kau boleh menonton dari tribunal khusus petarung di tribun tingkat tiga. Jangan membuat keributan di luar arena jika tidak ingin dipenggal oleh penjaga."

​Ren mengambil plat besi tersebut, menyimpannya di balik jubah, lalu berbalik melangkah menyusuri tangga batu menuju tribunal penonton khusus petarung.

​Saat Ren melangkah keluar ke tribun tingkat tiga, pemandangan spektakuler langsung membentang di depan matanya.

​Di tengah-tengah arena berpasir raksasa yang dilapisi oleh barrier sihir pelindung tebal, dua orang petarung sedang bertarung dengan sangat brutal. Seorang raksasa bertulang besi memegang kapak ganda sedang membelah tubuh seekor monster raksasa berlapis zirah baja hingga darah menyemprot membasahi dinding arena!

​Namun, bukan adegan pembantaian itu yang menyedot perhatian Ren.

​Menggunakan Mata Persepsi Jiwa (Soul Perception) milik penempaan Demigod dan kecerdasan analisisnya, Ren menyapu pandangan ke arah para petarung lain yang duduk di sekeliling tribun VIP dan tribunal petarung elit.

​Seketika, sepasang mata kelabu di balik topeng tanduk Ren membelalak tajam!

​'Apa...?!' batin Ren berguncang hebat.

​Di tribun VIP sebelah timur, berdiri tiga orang ksatria berzirah perak yang mengawal seorang bangsawan. Fluktuasi mana yang memancar dari tubuh ketiga ksatria itu terukur sangat jelas di dalam penglihatan Ren: Level 15, Level 17, dan Level 18!

​Bahkan lebih mengerikan lagi, di balkon utama Koloseum, seorang pria tua bertopi penyihir hitam yang sedang bersedekap dada memancarkan pusaran mana yang padat dan stabil—sebuah intensitas keberadaan yang secara gamblang berada di Level 20 Murni!

​Ren berdiri terpana di balik topengnya. Tangannya tanpa sadar mengepal rapat di balik jubah hitam.

​'Bagaimana mungkin...?' batin Ren bergejolak penuh tanda tanya besar. 'Level 20?! Di Benua Eldoria—benua asalku—Level 20 adalah puncak mutlak dari seluruh tatanan kekuatan dunia! Hanya ada empat eksistensi legendaris yang sanggup menyentuh ranah Level 20, yaitu Alistair, Trigger, Solaria, dan Anya! Mereka adalah Pilar Dunia yang disembah bagaikan dewa pelindung... Tapi kenapa di kota perbatasan Benua Beastia ini... petarung Level 15 ke atas berkeliaran dengan bebas, dan bahkan seorang penyihir Level 20 hanya menjadi pengawas arena?!'

​Sensasi ketidakseimbangan itu menusuk kesadaran Ren. Selama ini, dalam benaknya, mencapai Level 20 adalah puncak dari segala pencapaian tempur mortal. Ia mengira jika seseorang telah mencapai Level 20, ia telah memegang takhta tertinggi untuk melindungi atau menghancurkan sebuah peradaban.

​Namun realita di Koloseum Aethelgard menghancurkan persepsi itu secara instan. Level 20 di sini terlihat begitu wajar, seolah-olah hanya tingkatan standar bagi para petarung papan atas di arena!

​'Apakah pemahaman kami tentang dunia selama ini salah?' bisik Ren dalam hatinya. 'Apakah Benua Eldoria sebenarnya hanyalah sebuah sudut terpencil yang terisolasi dari kebenaran dunia yang sesungguhnya...?'

​Pikiran Ren terus berputar liar sepanjang sisa pertandingan hari itu. Pertarungan demi pertarungan ia amati, namun fokus utamanya telah beralih sepenuhnya pada misteri skala kekuatan ini. Ia menyadari bahwa ia membutuhkan jawaban langsung dari sosok yang telah hidup ribuan tahun dan menyaksikan sejarah sejati alam semesta.

​Begitu pertarungan babak penyisihan hari pertama selesai dan gemuruh penonton perlahan membubar, Ren melompat turun dari tribun, membaur di balik bayang-bayang lorong kota, dan melesat cepat menuju distrik kumuh sebelah barat.

​CREAK...

​Pintu kayu lusuh gubuk Hephaestus terdorong terbuka. Ren melangkah masuk, melepas topeng bertanduknya dan menyimpannya di balik jubah.

​Di dalam ruangan bawah tanah, Hephaestus sedang duduk di samping meja kerjanya seraya meneguk secangkir anggur merah dari botol tanah liat. Sang Dewa Pengrajin mendongak, menyunggingkan senyuman tipis saat melihat kedatangan Ren.

​"Oho! Kau sudah kembali, Anak Muda," puji Hephaestus seraya meletakkan cangkirnya. "Bagaimana pendaftaranmu? Aku mendengar kabar dari burung pelacakku bahwa ada petarung misterius bertopeng tanduk bernama Darkness yang baru saja mendaftar."

​Namun, Ren tidak membalas gurauan Hephaestus. Wajah pemuda berambut perak itu tampak sangat serius, dan sepasang mata kelabu absolutnya menatap Hephaestus dengan pandangan menuntut kebenaran.

​Ren melangkah maju tanpa basa-basi, mendaratkan kedua tangannya di atas meja kayu Hephaestus.

​"Hephaestus... Jawab aku dengan jujur," tegas Ren dengan suara dalam. "Aku baru saja kembali dari Koloseum. Di sana, aku melihat puluhan orang berada di Level 15 ke atas, dan bahkan ada beberapa eksistensi yang dengan mudah menyentuh Level 20. Bukankah Level 20 adalah puncak absolut dari seluruh tingkatan kekuatan di dunia ini?!"

​Hephaestus tertegun sejenak mendengarkan pertanyaan Ren. Pria tua itu memandangi wajah serius Ren, lalu mendadak... tawa terkekeh pelan keluar dari mulut sang Dewa Pengrajin.

​"Puncak kekuatan...?" Hephaestus menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang penuh keheranan. "Astaga, Nak... Siapa guru sihir idiot yang mengajarimu teori konyol seperti itu? Kau tampaknya telah dibesarkan dalam sangkar emas yang sangat sempit!"

​Ren mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?"

​Hephaestus mengisyaratkan Ren untuk duduk di kursi kayu di hadapannya. Pria tua itu menuangkan secangkir air ke atas meja, lalu menggunakan jemarinya yang penuh luka bakar untuk menggoreskan lingkaran-lingkaran sihir di udara.

​"Dengar baik-baik, Ren," ujar Hephaestus dengan raut wajah yang perlahan berubah menjadi sangat agung dan penuh bobot sejarah purba. "Skala tingkatan dari Level 1 hingga Level 20 yang dikagumi oleh orang-orang di benuamu... hanyalah Tahap Bayi (Mortal Foundation)! Itu hanyalah gerbang paling dasar untuk membedakan seorang rakyat biasa dari seseorang yang baru belajar mengalirkan mana!"

​Ren tertegun, matanya membelalak kaget. 'Tahap Bayi...?! Level 20 hanyalah dasar?!'

​"Benar," lanjut Hephaestus seraya menatap mata Ren. "Level 20 bukanlah akhir, melainkan pintu masuk menuju hirarki kekuatan yang sebenarnya—sebuah ambang batas tempat seorang mortal melepaskan rantai keterbatasan fisiknya untuk melangkah menuju ranah hukum alam semesta yang jauh lebih masif. Level 20 yang kau anggap sanggup menghancurkan sebuah negara kecil... di mata eksistensi tingkat tinggi hanyalah sebutir debu yang mudah dihempaskan!"

​Ren merinding mendengar penjelasan tersebut. Otaknya berusaha mencerna kenyataan bahwa para Pilar Dunia di benuanya yang dikira adalah puncak tertinggi, ternyata baru berada di pintu masuk dunia yang sesungguhnya!

​"Lalu..." suara Ren agak gemetaran, "...setelah Level 20... tingkatan apa yang membentang di atasnya, Hephaestus?"

​Hephaestus memandu jarinya di udara, memancarkan pendar sihir emas yang membentuk tulisan-tulisan runik kuno berderet rapi di hadapan Ren.

​"Dengar dan ukir ini baik-baik di dalam jiwamu, Ren," tegas Hephaestus. "Inilah 21 Jenjang Ranah Kekuatan Sejati Alam Semesta, di mana setiap ranah terbagi lagi menjadi tiga tingkatan sub-ranah: Awal, Menengah, dan Puncak!"

​Hephaestus mulai membacakan setiap tingkatan dengan suara bergema agung:

​"1. Sparks (Awal, Menengah, Puncak) — Percikan awal penyatuan mana dengan jiwa."

"2. Novice (Awal, Menengah, Puncak) — Pemula yang mampu membentuk sihir taktis."

"3. Acolyte (Awal, Menengah, Puncak) — Penguasaan fondasi sihir dan ilmu berpedang tingkat menengah."

"4. Apprentice (Awal, Menengah, Puncak) — Pelindung elemen dasar."

"5. Adept (Awal, Menengah, Puncak) — Ahli sihir dan pertarungan jarak dekat."

"6. Vanguard (Awal, Menengah, Puncak) — Garda terdepan pemecah barisan tempur."

"7. High Mage (Awal, Menengah, Puncak) — Penyihir tinggi pemanipulasi arena."

"8. Archmage (Awal, Menengah, Puncak) — Penyihir agung penghancur benteng."

"9. War Commander (Awal, Menengah, Puncak) — Komandan perang berdaya intrik dan stamina tinggi."

"10. Master of Elements (Awal, Menengah, Puncak) — Penguasa murni elemen dasar."

"11. Grandmaster (Awal, Menengah, Puncak) — Ahli beladiri dan sihir puncak tingkat mortal."

"12. Sovereign (Awal, Menengah, Puncak) — Penguasa wilayah yang mampu mengendalikan domain mana."

"13. Mythic (Awal, Menengah, Puncak) — Makhluk mitos berdaya tempur meruntuhkan gunung."

"14. Disaster Class (Awal, Menengah, Puncak) — Ancaman bencana berjalan penghancur benua."

"15. Overlord (Awal, Menengah, Puncak) — Raja dominator penguasa hukum lokal."

"16. Demi God (Awal, Menengah, Puncak) — Setengah Dewa yang menyatu dengan esensi keabadian."

"17. Godlike (Awal, Menengah, Puncak) — Memiliki manifestasi otoritas keilahian."

"18. Supreme Being — Makhluk Mahakuasa pengubah takdir alam semesta."

"19. Half Transcendental — Setengah Melampaui Batas Realitas Kosmik."

"20. Transcendental — Penguasa Mutlak Pencipta dan Penghancur Realitas."

"21. Supreme Transcendental — Puncak Absolut Keberadaan yang Tak Terjangkau oleh Konsep Waktu dan Ruang!"

​BOOM!

​Nama-nama tingkatan itu bergema di dalam kepala Ren bagaikan dentuman guntur! Setiap nama memancarkan tekanan konsep yang teramat sangat luas hingga membuat dada Ren terasa sesak.

​"B-Banyak sekali...?" bisik Ren terpana. "Level 1 sampai 20 yang kuketahui... ternyata hanya setara dengan tahapan Sparks hingga Apprentice?!"

​"Tepat sekali!" sahut Hephaestus. "Empat pilar di benuamu yang ber-Level 20 itu baru saja menyentuh ambang ranah Acolyte Puncak atau Apprentice Awal! Mereka tampak kuat di mata rakyat miskin benuamu karena benuamu terisolasi dari persediaan mana murni alam semesta!"

​Ren mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kenyataan ini tidak meruntuhkan mentalnya, melainkan menyalakan kobaran api tekad yang teramat sangat dahsyat di dalam jiwanya! Jalan penempaannya masih teramat sangat panjang!

​"Lalu... bagaimana dengan para Dewa Olympus?" tanya Ren penasaran. "Dewa-dewa yang dulu memfitnahmu... ada di tingkatan mana mereka?"

​Mata Hephaestus berkilat oleh rasa benci dan dingin yang mendalam.

​"Para Dewa Olympus serakah itu... mayoritas dari mereka—termasuk Zeus dan Poseidon—berada di ranah Godlike (Awal hingga Puncak)!" desis Hephaestus. "Mereka memiliki otoritas hukum alam dan keabadian palsu, namun mereka belum pernah menyentuh ranah Supreme Being, apalagi melangkah menuju ranah Transendental!"

​Hephaestus meneguk anggurnya lagi, meluruskan pandangannya ke arah kegelapan ruangan.

​"Sedangkan makhluk yang berhasil mencapai ranah Transcendental atau Supreme Transcendental..." bisik Hephaestus dengan nada suara yang bergetar ketakutan, "...jumlah mereka di seluruh eksistensi ini bisa dihitung dengan jari satu tangan. Mereka tidak lagi terikat pada satu benua atau satu planet. Mereka disebut sebagai Outer Gods atau Penguasa Masa Depan dan Kehampaan!"

​Ren terdiam lama, memproses seluruh informasi kosmologis yang membakar otaknya. Namun, naluri analitisnya menangkap misteri lain yang jauh lebih besar.

​"Tunggu, Hephaestus..." panggil Ren seraya menatap map runik di udara. "Kau menyebutkan tentang planet, benua yang terisolasi, dan keberadaan luar... Apakah benua yang kutinggali dan Benua Beastia ini... sebenarnya berada di tempat yang sama?"

​Sebuah plot twist besar yang meruntuhkan batasan dunia siap dibongkar oleh sang Dewa Pengrajin.

​Hephaestus tersenyum misterius. Ia mengibaskan tangannya, mendisosiasikan peta runik tadi dan menggantinya dengan gambaran proyeksi sihir berbentuk bola-bola raksasa yang melayang di udara.

​"Ini adalah kebenaran rahasia yang disembunyikan oleh para penguasa benua dari rakyat awam, Ren..." kata Hephaestus pelan.

​"Benua Eldoria, Benua Beastia, dan benua-benua lain yang kau ketahui... bukanlah seluruh dunia ini! Setiap 'Benua' yang kalian tinggali sebenarnya hanyalah sebuah Wilayah Kecil (Domain/Realm) di dalam satu Planet Mortal!"

​Ren terbelalak. "Apa?!"

​"Benar!" seru Hephaestus. "Dan planet tempat kita berdiri ini... hanyalah satu dari miliaran planet yang berada di dalam Satu Universe (Alam Semesta)! Dan tahu apa yang lebih gila dari itu? Di luar Universe tempat kita berada saat ini... membentang jutaan Universe lain yang membentuk sebuah Multiverse, dan di atas Multiverse membentang Mega Multiverse yang tak terbatas!"

​RUMBLE!

​Pikiran Ren meledak seketika!

​Dunia yang selama ini ia ketaasnya—petualangan di benua manusia, konflik antar ras Beastkin—semuanya hanyalah sebutir pasir di dalam samudera Mega Multiverse yang tak bertepi!

​"Jadi..." bisik Ren dengan suara parau, "...perjalananku... keberadaanku..."

​"Keberadaanmu adalah wadah potensial yang tak terbatas, Ren," potong Hephaestus tegas. "Terutama karena di dalam tubuhmu terpatri Hati Iblis (Demon Heart)!"

​Mendengar kata Hati Iblis, Ren teringat akan sesuatu. "Hephaestus, bagaimana hirarki kekuatan di ranah Iblis? Apakah Hati Iblis milikku ini memiliki keterikatan dengan para Raja Iblis?"

​Hephaestus mengangguk serius. "Tentu saja. Hirarki bangsa Iblis di Mega Multiverse sangat ketat dan mematikan. Di tingkat bawah ada Iblis Biasa, lalu Prajurit Iblis, dan Jenderal Iblis."

​"Di atas Jenderal Iblis," lanjut Hephaestus, "terdapat para Raja Iblis (Demon Kings) yang menguasai benua-benua kegelapan. Namun... Raja Iblis bukanlah puncak! Di atas puluhan Raja Iblis, berdiri para Dewa Iblis (Demon Gods) yang berkuasa di ranah Godlike! Dan di puncak tertinggi seluruh bangsa Iblis di Mega Multiverse... hanya ada satu gelar mutlak bagi eksistensi yang telah menyentuh ranah Transendental..."

​Hephaestus menatap mata Ren lurus-lurus.

​"...dialah Kaisar Iblis (Demon Emperor)! Sosok Transendental purba yang sanggup menciptakan atau menghancurkan ribuan Mega Multiverse hanya dengan niat dan kibasan tangannya!"

​Ren terpana. Di dalam dadanya, Demon Heart mendadak berdenyut sangat kencang, memancarkan resonansi hangat yang seolah-olah merespons nama 'Kaisar Iblis' yang diucapkan oleh Hephaestus!

​Hephaestus tersenyum melihat reaksi tubuh Ren.

​"Anak Muda..." bisik Hephaestus penuh makna. "Pedang Pandora’s Eclipse yang kubuatkan untukmu... dan Hati Iblis di dalam dadamu... adalah kuncimu untuk melangkah keluar dari benua kecil ini. Turnamen di Koloseum esok hari hanyalah batu pijakan pertamamu untuk menunjukkan pada dunia ini bahwa sesosok Penguasa Baru telah bangkit!"

​Ren berdiri tegak. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam gagang pedang Pandora’s Eclipse di pinggangnya, lalu perlahan-lahan memasang kembali Topeng Bertanduk Iblis ke wajahnya.

​Sepasang mata kelabu di balik topeng itu kini tidak lagi memancarkan keraguan sedikit pun. Pandangannya menembus dinding gubuk, menatap lurus ke arah langit malam Aethelgard yang dipenuhi bintang-bintang kosmik.

​"Terima kasih atas kebenaran ini, Hephaestus..." ucap Ren di balik topeng bertanduknya dengan suara yang bergema mantap. "Esok hari... nama Darkness akan bergema di Koloseum ini... dan perjalananku menuju puncak alam semesta baru saja dimulai!"

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!