Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - DUA JAWABAN DARI TIGA PERTANYAAN DAN GADIS BAYANGAN 9 YIN
Dua tahun. Dua tahun yang sama yang membuat Mu Chen menguasai 7 Tapak Naga, Ling Feng menguasai separuh Taiji, Tao Yaoyao menguasai Pulau Bunga Persik dengan bakpao, Ouyang Feng menguasai 70% racun, dan Li Changsheng setara Qiu Chuji.
Tapi bagi satu orang, dua tahun itu terasa seperti 20 tahun.
Hutan bambu sudah tidak ada lagi. Pasar sudah dilewati. Rumah bordil sudah dimasuki, bukan untuk berzina, tapi untuk mendengarkan tangisan pelacur yang menjual tubuh karena lapar. Penjara sudah dimasuki, bukan sebagai tahanan, tapi sebagai tukang sapu yang mendengarkan penyesalan pembunuh. Gunung salju sudah didaki. Gurun sudah diseberangi.
Hui Chen, 20 tahun sekarang. Jubah saffron-nya yang dulu bersih kini lusuh, tambal-tambalan seperti jubah Sekte Pengemis, tapi bukan karena miskin, tapi karena ia berikan jubah barunya pada pengemis yang kedinginan di musim dingin lalu. Kepala plontosnya masih 6 titik bakaran, tapi kini ada bekas luka pedang tipis di pelipis — bekas dari duel 1 hari 1 malam melawan Jiang Yu 2 tahun lalu. Tongkat pendek Bambu Hitam 100 tahun masih di punggungnya. Dan di tangannya, masih... masih memegang mangkuk yang sama.
Mangkuk air yang dulu beku di Songshan, yang dulu hangat setelah pertarungan dengan Jiang Yu, yang kini... retak. Retak karena 2 tahun lalu, di sebuah desa yang dibantai oleh Sekte Ular Hitam, ia mencoba menampung darah anak kecil dengan mangkuk itu, tapi darah itu terlalu banyak.
Hui Chen yang malang melintang di dunia persilatan mencari jawaban, kini duduk di tepi Sungai Kuning yang keruh, tempat ia 2 tahun lalu melihat seorang ibu memberi makan anaknya dengan tanah dicampur air karena tidak ada nasi.
Ia menatap mangkuk retak itu dengan tatapan tenang. Tatapan yang dulu bingung, kini... ada cahaya. Cahaya yang sangat tenang, seperti danau yang sudah menerima bahwa ia akan keruh selamanya, tapi tetap menjadi danau.
2 tahun, 3 pertanyaan dari Gurunya Jueyuan di depan Aula Dharma:
Apa itu kosong? Apa itu benar dan salah? Apa itu keinginan?
Hari ini, di tepi Sungai Kuning, setelah melihat 1.000 orang lapar, 100 orang kaya yang membuang nasi, 10 pendekar yang membunuh karena nama, dan 1 anak kecil yang mati karena tidak ada yang menolong, ia telah menemukan 2 jawabannya.
Ia mengambil tanah kuning, memasukkannya ke dalam mangkuk retak itu.
"Apa itu kosong?"
Ia menatap tanah di dalam mangkuk.
"Dulu Guru bilang, mangkuk ini kosong makanya bisa diisi air. Jika penuh batu, tidak bisa diisi air. Jadi kosong itu baik."
"Tapi 2 tahun ini saya melihat... perut yang kosong... tidak baik. Perut kosong membuat orang mencuri. Perut kosong membuat ibu memberi anaknya tanah. Jadi kosong tidak selalu baik."
"Kemarin, saya melihat seorang pendekar Aliran Hitam, perutnya penuh emas hasil membunuh, tapi hatinya kosong. Ia membunuh lagi untuk mengisi hatinya yang kosong, tapi tidak pernah penuh. Jadi penuh tidak selalu baik."
Ia menuangkan air Sungai Kuning yang keruh ke dalam mangkuk berisi tanah itu. Air dan tanah bercampur menjadi lumpur.
"Jadi saya mengerti. Kosong bukan tidak ada. Kosong adalah... wadah. Mangkuk ini kosong, makanya bisa menjadi wadah air, bisa menjadi wadah tanah, bisa menjadi wadah darah. Hati manusia kosong, makanya bisa menjadi wadah cinta, bisa menjadi wadah benci, bisa menjadi wadah keinginan. Kosong itu bukan baik, bukan jahat. Kosong itu hanya... memberi kesempatan untuk diisi. Jadi jangan takut kosong. Takutlah jika wadahmu diisi dengan hal yang salah."
Satu jawaban ditemukan.
Ia mengambil lumpur itu, membentuknya menjadi dua patung kecil: satu patung biksu, satu patung pembunuh.
"Apa itu benar dan salah?"
Ia menatap dua patung lumpur itu.
"Dulu Guru bilang, benar dan salah tergantung di mana kau berdiri. Jika di Shaolin, Beijing di utara. Jika di Beijing, Shaolin di selatan."
"2 tahun ini, saya melihat pembunuh Aliran Hitam yang membunuh pengemis. Menurut Istana, itu benar, karena pengemis itu pemberontak. Menurut pengemis, itu salah, karena pengemis itu hanya lapar. Dua-duanya merasa benar."
"Kemarin, saya melihat seorang ayah mencuri roti untuk anaknya yang sakit. Menurut hukum, mencuri itu salah. Menurut ayah itu, membiarkan anaknya mati itu lebih salah. Jadi mana yang benar?"
Ia menghancurkan dua patung lumpur itu, mencampurnya kembali menjadi satu lumpur.
"Jadi saya mengerti. Benar dan salah bukan utara dan selatan. Benar dan salah adalah... lumpur yang sama. Dari lumpur yang sama, kau bisa membuat patung Buddha, kau bisa membuat patung iblis. Tergantung tanganmu. Jadi jangan sibuk menunjuk patung orang lain dan bilang itu iblis. Lihat tanganmu sendiri sedang membuat apa."
Dua jawaban ditemukan.
Tinggal satu pertanyaan terakhir, yang paling sulit: Apa itu keinginan?
Hui Chen menatap mangkuk retaknya yang berisi lumpur. Ia belum menemukan jawaban untuk yang ketiga. Karena keinginan... keinginan untuk menjawab itu sendiri adalah keinginan.
Ia menghela napas, meminum sedikit air lumpur itu — air yang kotor, tapi ia minum dengan tenang, seperti meminum teh terbaik di Shaolin — lalu berdiri, melanjutkan perjalanan. Masih 5 tahun lagi sebelum Janji 7 Tahun. Ia masih punya waktu untuk menemukan jawaban ketiga.
Sementara itu, di Jiangnan, yang selama 2 tahun tidak terdengar itu mulai keluar.
Jika Mu Chen dan kawan-kawannya adalah bintang baru yang baru mulai bersinar, maka 7 Pendekar Jiangnan adalah 7 bintang yang sudah bersinar 10 tahun, yang 2 tahun lalu sengaja meredupkan cahaya mereka untuk berlatih.
7 Pendekar Jiangnan Masa Kini, setelah pertarungan di Huashan dan setelah Lu Changan memanggil cahaya bintang Tian Shu yang sebenarnya dan mengalahkan Qin Wuyu dari Paviliun Awan Hitam di Jembatan Putus, mereka semua kembali ke 7 tempat rahasia mereka di sekitar Danau Tai: Sumur Bintang, Gua Pedang, Hutan Bambu Hujan, Pasar Malam, Puncak Kabut, Lembah Kera, dan Perahu Terbalik.
Selama 2 tahun, tidak ada yang mendengar nama mereka. Orang-orang mengira mereka takut pada 36 Aliran Hitam dan Istana.
Tapi hari ini, mereka keluar satu per satu untuk melihat dunia.
Lu Changan, Pedang Tujuh Bintang, keluar dari Sumur Bintang di Jinling, membawa 7 pedang kayunya. Ia hanya berjalan melewati pasar Jinling selama satu jam, tidak melakukan apa-apa, hanya membeli 2 bakpao. Tapi keesokan harinya, 10 pembunuh dari Sekte Ular Hitam yang bersembunyi di Jinling ditemukan pingsan di sumur, dengan dahi mereka masing-masing ada gambar bintang kecil yang menyala. Mereka tidak mati, hanya pingsan dan tidak bisa mengingat kenapa mereka di Jinling.
Lu Changan kembali ke Sumur Bintang dan melanjutkan berlatih lagi di hari berikutnya, untuk memanggil bintang kedua, Tian Xuan.
Li Qingzhou, Kipas Besi Hujan, keluar dari Gua Pedang, membuka kipas besinya di atas Danau Tai, dan hujan turun di Danau Tai selama sehari semalam tanpa awan. Ikan-ikan melompat-lompat. Lalu ia kembali masuk gua lagi.
Satu per satu, 7 bintang itu muncul sehari, lalu menghilang lagi, seperti mengecek apakah dunia masih ada, lalu kembali berlatih. Karena mereka tahu, 5 tahun lagi di Huashan, yang akan mereka lawan bukan lagi Paviliun Awan Hitam peringkat 3, tapi mungkin Paviliun Awan Hitam peringkat 1 yang asli, atau bahkan Tian Long, Naga Langit, peringkat 1 dari 8 Pendekar Langit Istana.
Dan di tempat yang tidak ada yang menyangka, di sebuah desa kecil di perbatasan Jiangnan dan Jiangbei, yang bahkan tidak ada di peta Sekte Pengemis.
Malam bulan purnama. Desa itu diserang oleh 20 orang dari Gunung Bela Diri Hitam yang tersisa, yang ingin membalas dendam karena 5 anggota mereka dikalahkan Shi Potian 2 tahun lalu. Mereka membakar rumah, membunuh ayam, dan menangkap 5 gadis desa untuk dijual.
Kepala desa sudah pasrah, berlutut memohon.
Tiba-tiba, dari dalam bayangan salah satu rumah yang terbakar, keluar seorang gadis.
Umur 16 tahun, jubah hitam sederhana, tapi jubah itu bukan hitam biasa, hitamnya seperti bayangan itu sendiri. Wajahnya sangat cantik, tapi pucat seperti bulan, matanya hitam pekat tanpa putih, persis seperti Qin Ye dan Qin Wuyu, tapi lebih jernih, lebih dingin. Rambut hitam panjangnya terurai, di dahinya ada tanda bulan sabit hitam kecil, sama persis seperti tanda di dahi Qin Ye.
Gadis itu tidak membawa senjata. Tangannya kosong, kukunya tidak panjang.
20 orang Gunung Bela Diri Hitam tertawa.
"Gadis kecil, mau jadi pahlawan?"
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya, dan bayangannya di tanah yang terkena api... bergerak sendiri. Bayangan itu memanjang, memanjang, memisah dari tubuh gadis itu, dan menjadi... 20 bayangan.
Qin Ruyan, 16 tahun, putri dari Qin Ye, Ketua Paviliun Awan Hitam, anak perempuan yang darahnya adalah Kitab 9 Yin itu sendiri. Gadis yang diburu Istana dengan harga 30.000 tael emas, yang selama 2 tahun disembunyikan ayahnya di Shaolin bersama Hui Chen tanpa diketahui siapa pun — karena tidak ada yang menyangka putri Ketua Paviliun Awan Hitam disembunyikan di tempat paling suci Wulin Putih.
Qin Ruyan yang sangat misterius mulai memunculkan diri dengan jurus Kitab 9 Yin sempurnanya.
"9 Yin... bukan untuk membunuh," bisiknya pelan, suaranya seperti bisikan dari dalam bayangan, suara yang sama seperti yang didengar Qin Ye saat menggunakan Cakar Tulang Putih. "Ayah bilang, 9 Yin adalah untuk... membuat orang melihat bayangannya sendiri."
Ia mengepalkan tangannya.
20 bayangan yang memisah dari tubuhnya langsung masuk ke dalam bayangan 20 orang Gunung Bela Diri Hitam itu.
Detik berikutnya, 20 orang itu berteriak histeris, bukan karena sakit, tapi karena ketakutan. Mereka melihat bayangan mereka sendiri di tanah berubah menjadi iblis, iblis yang memegang leher mereka sendiri. Mereka menggaruk-garuk leher mereka sendiri, mencoba melepas tangan iblis bayangan itu, sampai mereka menggaruk leher mereka sendiri sampai berdarah dan pingsan.
Tidak ada yang mati. Tapi semua pingsan dengan mata terbuka, melihat mimpi buruk mereka sendiri.
Qin Ruyan menurunkan tangannya. Bayangan-bayangannya kembali menjadi satu bayangan di bawah kakinya.
Ia menatap 5 gadis desa yang ketakutan, tersenyum. Senyumnya pucat, tapi hangat.
"Pulanglah. Jangan keluar malam lagi."
Ia berbalik, ingin masuk kembali ke dalam bayangan rumah yang terbakar dan menghilang, seperti yang ia lakukan selama 2 tahun.
Tapi tiba-tiba, dari atas atap rumah yang tidak terbakar, ada suara tepuk tangan pelan.
Plok... plok... plok...
Seorang pria berjubah sarjana biru tua dengan pedang bambu hitam retak di pinggang, duduk di atas atap, tangan kirinya bertepuk tangan, tangan kanannya... sedang menggaruk-garuk kepala dengan bingung.
Jiang Yu, mantan peringkat 4 dari 8 Pendekar Langit, murid tidak langsung Zhou Botong, putra Keluarga Jiang tersembunyi, yang 2 tahun lalu menghilang setelah keluar dari Balai Naga.
"Bagus! Bagus! Jurus 9 Yin yang sempurna! Fu Ying Sui Xing — Bayangan Mengikuti Bentuk! Lebih sempurna daripada ayahmu, Qin Ye! Ayahmu masih butuh kabut putih dingin untuk Cakar Tulang Putih, kau sudah bisa hanya dengan bayangan!"
Qin Ruyan membelalak, untuk pertama kalinya dalam 2 tahun, ada orang yang bisa melihatnya keluar dari bayangan dan tidak pingsan.
"Siapa kau?"
Jiang Yu melompat turun dari atap, dengan gerakan aneh, kaki kiri melompat dulu, kaki kanan kemudian, seperti orang yang kedua kakinya berantem.
"Aku? Aku adalah... tukang pos! Tukang pos yang disuruh oleh seorang biksu kecil bernama Hui Chen yang sekarang ada di tepi Sungai Kuning untuk menyampaikan pesan pada seorang gadis bayangan bernama Qin Ruyan!"
Ia mengeluarkan secarik kertas lusuh dari jubahnya, kertas itu penuh tulisan terbalik dan coretan dua tangan yang berkelahi.
"Hui Chen bilang, ia sudah menemukan 2 jawaban, tapi belum menemukan jawaban ketiga. Dan ia bilang, jika bertemu gadis 9 Yin yang bisa menghilang di dalam bayangan, tanyakan padanya: Apakah bayangan itu ada karena ada cahaya, atau cahaya itu ada karena ada bayangan? Jika kau bisa menjawabnya, mungkin dia akan menemukan jawaban ketiga tentang apa itu keinginan."
Qin Ruyan menatap kertas itu, lalu menatap Jiang Yu yang senyumnya nakal seperti bocah tua.
Di tepi Sungai Kuning yang jauh, Hui Chen yang baru saja menemukan 2 jawaban, bersin lagi.
"Hacim! Sepertinya... jawaban ketigaku... akan datang dari bayangan..."
Dan di langit malam desa kecil itu, 7 bintang Biduk yang selama 2 tahun tidak terlihat jelas karena polusi asap dari pembakaran desa oleh Aliran Hitam, malam ini bersinar sangat terang, seolah-olah Lu Changan dan 6 saudaranya sedang melihat dari Sumur Bintang mereka.
5 tahun lagi menuju Janji 7 Tahun. Bintang lama keluar untuk melihat dunia sehari. Bintang baru mulai menemukan jawabannya. Dan bintang paling misterius, gadis 9 Yin, akhirnya memunculkan diri dengan sempurna.