Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pagi itu, langit cerah namun tak mampu menghangatkan hati Miska. Tak lama setelah askar pergi meninggalkan rumah, ia melajukan mobilnya menuju perumahan tempat Rara tinggal. Ponselnya berdering, pesan dari Rara muncul di layar: Sudah siap, mas Aku tunggu di depan ya. Senyum tipis terukir di bibirnya, seketika suasana hati yang tadi datar berubah cerah. Sesampainya di sana, Rara sudah berdiri menunggu, mengenakan gaun kasual berwarna lembut yang pas di badan, rambut tergerai rapi, wajah berseri tanpa perlu berlebihan berdandan.
"Maaf menunggu, Ra," sapa Askar begitu wanita itu masuk ke dalam mobil, matanya tak lepas dari wajah cantik di sebelahnya.
"Tidak apa-apa, mas Aku juga baru saja keluar," jawab Rara lembut, tersenyum manis. Mobil pun melaju menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, tempat di mana mereka bisa berjalan berdua tanpa rasa takut terlihat oleh siapa pun yang mereka kenal.
Di waktu yang hampir bersamaan, Ibu Suryati juga keluar rumah. Ia mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi dan modis dari biasanya, wajahnya terlihat tebal oleh bedak dan bibirnya merah merona. Dengan langkah tegap ia berjalan menuju halte taksi, tak ada yang tahu ke mana ia pergi—dan siapa yang menunggunya di sana. Rumah itu kini benar-benar sunyi, hanya tersisa Miska sendirian di antara dinding dingin yang selama ini menjadi saksi bisu kesedihannya.
Seharian Miska sendirian. Ia membersihkan setiap sudut rumah, memasak, mencuci pakaian, lalu kembali duduk di teras depan saat sore mulai menjelang. Udara sore terasa sejuk, angin berhembus pelan menerpa wajahnya yang tanpa riasan, namun kali ini tidak ada air mata yang jatuh. Ia memandang jalan setapak di depan rumah, membiarkan pikirannya melayang—tentang masa depan, tentang hidupnya yang seakan berhenti di tempat.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berjalan lewat. Itu Bu Lina, tetangga dari sebelah kampung yang dulu pernah Miska kenal. Bu Lina berhenti saat melihat Miska sendirian di teras, lalu tersenyum ramah.
"Wah, Miska! ternyata Kamu di sini ?" sapa Bu Lina, lalu duduk di kursi rotan di sebelahnya. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu. bagaimana keadaan kamu?"
"Bu Lina! Iya, sehat, Bu. Terima kasih," jawab Miska tersenyum tipis, senyum yang tulus namun tetap menyimpan rasa lelah. "Ibu sendiri dari mana?"
"Pulang dari pasar, mau ke toko sebentar. Kebetulan lewat sini," Bu Lina menatapnya lekat, seolah melihat sesuatu yang berbeda di wajah Miska. "Miska... kamu sering di rumah saja ya? Tidak ada kegiatan lain?"
Miska mengangguk pelan, menunduk sebentar. "Iya, Bu. Urusan rumah saja sehari-hari."
"Sayang sekali. Kamu itu cerdas, rajin, teliti. Sayang kalau kemampuanmu hanya habis untuk hal itu saja," Bu Lina terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan nada antusias. "Begini, Miska. Ibu punya ide bagus. Ibu kan punya toko gimana kalau kamu mulai jualan lewat HP. Sekarang ini banyak orang belanja online, tidak perlu keluar rumah. Kalau kamu mau, Ibu bisa ajarkan kamu jualan juga lewat HP. Barangnya Ibu yang sediakan, kamu tinggal pasarkan, ambil untung sendiri. Bagaimana?"
Miska terkejut, matanya membelalak. "Jualan lewat HP? Saya... saya tidak bisa itu, Bu. HP saya saja sudah jadul, saya tidak tahu cara mengurusnya."
"Tidak apa-apa, Miska. Semua orang mulai dari tidak tahu dulu. HP jadul pun bisa, yang penting ada kemauan," Bu Lina menepuk punggung tangannya pelan. "Ibu ajarkan pelan-pelan. Mulai dari bikin akun, pasang foto barang, tulis harganya, sampai cara terima pesanan. Kamu pasti bisa. Ibu sudah lihat sifatmu—teliti dan jujur. Itu modal utama berdagang."
Kata-kata itu menembus hati Miska yang selama ini terasa mati. Ada harapan kecil mulai tumbuh, hal yang selama ini hilang—rasa berguna, rasa mandiri.
"Benar Ibu mau ngajarin saya? Padahal saya tidak punya pengalaman sama sekali..."
"Justru karena itu Ibu mau bantu. Tidak ada yang sulit kalau kita mau berusaha," Bu Lina mengeluarkan ponselnya. "Sini, kita tukar nomor WhatsApp dulu. Nanti Ibu kirimkan foto-foto barang yang bisa kamu jual. Lalu Ibu bantu buatkan akun jualan seperti Shopee juga. Pelan-pelan ya, tidak perlu terburu-buru."
Miska mengangguk pelan, namun kali ini senyumnya terasa lebih ringan. Mereka bertukar kontak, dan Bu Lina bahkan sempat membantunya mengunduh aplikasi serta mengajarkan cara mengunggah foto dan menulis deskripsi barang—semuanya diajarkan dengan sabar hingga Miska mulai paham. Saat Bu Lina pulang, Miska masih duduk di teras, menatap ponsel jadulnya dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa ada sesuatu yang miliknya sendiri, sesuatu yang tidak bergantung pada belas kasihan siapa pun.
Sementara itu, di pusat perbelanjaan yang sama, Ibu Suryati tidak sendirian. Ia duduk di kafe lantai atas, berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang berpakaian rapi dan tampak berduit. Mereka tertawa bersama, tangan pria itu sesekali menyentuh punggung tangan Ibu Suryati dengan akrab. Tidak ada yang menyangka bahwa wanita yang setiap hari memaki dan menuntut kesetiaan dari anak menantunya, justru menjalani kehidupan ganda sendiri dengan begitu santai.
Di tempat lain, hari mulai gelap, Askar dan Rara sudah meninggal mall, namun bukan menuju rumah Askar. Mobil berbelok ke arah perumahan kost Rara. Sesampainya di sana, mereka masuk ke dalam kamar kost yang tertata rapi dan wangi. Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi hangat dan penuh gairah.
Rara berbalik, dan sebelum sempat berkata apa-apa, Askar sudah menariknya ke dalam pelukan erat. Tubuh mereka saling menempel, merasakan detak jantung yang sama berpacu kencangnya.
"mas belum mau pulang ?" bisik Rara, meski tangannya melingkar erat di pinggang pria itu, seolah tak ingin melepaskan.
"Belum. Di sini rasanya lebih tenang... lebih seperti rumah," jawab Askar berbisik tepat di telinga Rara, napasnya hangat menyentuh kulit leher wanita itu. Bibirnya segera menemukan bibir Rara, menciumnya dalam dan penuh kerinduan yang tak tersampaikan. Ciuman itu bermula lembut, lalu semakin dalam dan mendesak, seolah dunia di luar sana tidak ada artinya.
Tangan Askar perlahan membuka kancing baju Rara satu per satu, jari-jarinya menyentuh kulit lembut yang terbuka, membuat Rara mendesah pelan di sela-sela ciuman mereka.
"mas aaaah..." desis Rara lembut, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan, tubuhnya merinding saat tangan pria itu menjelajahi punggung dan pinggangnya dengan penuh keinginan.
"Jangan bicara... biarkan saja kita seperti ini sebentar lagi," bisik Askar, lalu kembali menciumnya, kali ini lebih dalam dan penuh hasrat. Tangannya merambat naik ke pinggang, menyentuh bagian sensitif yang membuat Rara tersentuh dan mendesah lebih keras, tubuhnya lemas di pelukan Askar.
Askar membaringkannya perlahan di atas tempat tidur, lalu ikut berbaring di sampingnya, tangan keduanya saling menyentuh, meraba, menjelajahi setiap inci tubuh yang haus akan sentuhan. Suara desahan lembut dan napas yang memburu saling bersahutan di dalam kamar yang remang itu. Mereka lupa waktu, lupa janji, lupa bahwa di rumah lain ada hati yang sedang berjuang membangun harapan baru. Di sana, di antara pelukan dan ciuman yang membara, mereka membiarkan hasrat mengambil alih sepenuhnya, tenggelam dalam kehangatan yang semu itu.
"Ah mas,, ummm enak sekali mas aaaah!!! " desahan rara begitu menggoda ditelinga askar
"yah sayang,, Rasanya nikmat sekali. sudah lama sekali mas tidak pernah melakukan nya aaah milikku benar-benar bikin aku gila ra"
"yaaah Maas. uhhhh teruskan mas. gatal sekali nas. kayak nya aku sudah mau keluar aaaah aaaah.. maaaas.. aku sudah nggak tahan. aaaaaaaaaaakkkkh"
"ouhhh aaaah aaahh aaaaaaggggggghhhhhh"
keduanya pun akhirnya keluar bersama
Saat akhirnya mereka berhenti, tubuh mereka berpelukan erat, berkeringat dan masih terengah-engah. Rara menyandarkan kepalanya di dada bidang Askar, mendengarkan detak jantungnya yang perlahan kembali tenang.
"mas... besok mas datang lagi ya?" tanyanya pelan.
"Pasti. Selama aku bisa, aku pasti akan selalu ke sini," jawab Askar lembut, mencium kening wanita itu tanpa sedikit pun merasa bersalah pada wanita yang sah menjadi istrinya di rumah.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪